Petang tadi, saya dan saudara lelaki saya menonton siaran ulang acara debat kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat, kami berdua memang rekan diskusi politik lokal. Kami berdua menganalisa jawaban, tertawa terpingkal – pingkal, kadang mengiyakan jawaban beberapa calon, kadang – kadang mencemooh jawaban mereka dan kadang merenung dengan fakta statistik terbaru populasi jumlah orang Papua dan non- Papua (49% & 52 %). Mulai dari isu kesehatan, pendidikan, kesetaraan jender hingga ekonomi daerah dikulik abis. Tiba – tiba saya terkesima dengan jawaban seorang kandidat yang sangat optimis ingin dikenal sebagai “gubernur pertama yang membuat kereta api pertama di tanah Papua ada”. Saya terpesona pada pertanyaan dan jawaban itu terlepas dari realistis atau tidak. Tiba – tiba saya pun terlempar dalam momen ‘tukang mimpi’ saya.
Kalau seandainya saya menang lotre bertrilyun Rupiah, menikah dengan milyarder dunia, ataupun mungkin saja bekerja sebagai pengambil kebijakan di sebuah lembaga donor internasional ataupun katakan secara sederhana punya akses uang yang tak terbatas, kira – kira saya ingin dikenang sebagai ‘siapa’ terkait program kesehatan di kota saya, Manokwari? Ini pertanyaan bagi pemimpi seperti saya, dan dalam edisi ‘Tukang Mimpi’ kali ini, saya akan membagikan mimpi – mimpi saya. Anggap saja ini hanya catatan lepas pengangguran banyak acara yang penyakitan seperti saya. Tak usah terlalu dianggap serius walau bagi saya pribadi I took it too personal HAHAHA.
PERTAMA, saya ingin membuat sebuah yayasan kesehatan yang bertugas menyediakan layanan fasilitas peminjaman mobility service seperti yang ada di Canberra dulu. Untung – untung yayasan ini bisa juga punya unit relawan kesehatan yang bersedia paruh waktu mengurusi urusan mobilitas ini semisal mengecek kebutuhan tiap orang sakit dan juga mungkin mengajari orang sakit khususnya kaum marjinal terkait perawatan dan penggunaan alat bantu gerak ini. Saya ingin layanan yayasan saya bergerak di dua bidang yaitu pengadaan alat bantu gerak permanen dan juga bagian penyewaan kruk, tongkat jalan dan alat bantu gerak lainnya. Saya rindu di Manokwari, suatu hari nanti akan seperti di Canberra dulu. Di sana, apotek – apotek (chemist) menyewakan kruk jalan dengan berbagai bentuk dan variasi tinggi. Biaya sewanya sangat murah per bulan, hanya dengan memfotokopi ID dan uang jaminan yang akan dikembalikan, maka kita sudah dapat menyewa kruk dan tongkat jalan. Bahkan di kampus saya di ANU dulu, saya bisa menyewa sejenis alat mobil mini untuk orang cacat ataupun yang punya masalah dengan organ gerak untuk mobilitas dalam kampus dengan cukup mendaftarkan diri di unit khususnya. Jadi tak perlu repot bergerak apalagi bergantung pada orang lain.
Bila suatu hari yayasan itu hadir, saya ingin menerapkan konsep yang saya lihat dan alami dengan sistem yang baik semasa tinggal di Australia dulu. Setidaknya yayasan saya harus bisa menyediakan penyewaan ataupun peminjaman gratis kruk berbahan dasar logam ringan maupun kayu untuk orang yang membutuhkan. Tak perlu banyak. Cukup 20 pasang dulu untuk langkah awal. Saya ingin jenis kruk ini yang bisa disetel tinggi – rendahnya persis seperti yang saya lihat di Australia dulu. Selain itu, saya ingin juga bisa membuat pengadaan entah untuk dijual ataupun disewakan ataupun bisa juga untuk dihibahkan untuk kaum marjinal yang tak mampu berupa tongkat jalan, setidaknya seperti yang saya miliki. Tongkat jalan dengan pegangan lengkung dari sebuah logam ringan berlandasan karet namun kuat dan bisa diatur tinggi rendahnya dan sangat fleksibel dibawa – bawa karena bisa dilepas menjadi potongan yang lebih kecil. Harganya pun hanya $40 (tahun 2009). Bila tak memungkinkan, maka saya masih bisa menyediakan tongkat jalan dari rotan yang kuat dengan harga $5 seperti yang saya lihat dulu saat membeli tongkat saya.
Pemikiran ini juga bergerak dari pengalaman melihat wajah lelaki muda yang harus berjalan dengan setonggak ‘kayu buah’ sebagai tongkat penuntun pada saat hujan deras di daerah Pasar Tingkat Sanggeng Manokwari beberapa bulan lalu. Salah satu kakinya dibungkus perban besar. Saya juga masih ingat bagaimana rupa tetangga saya yang harus berjalan dengan kruk besar dan sekarang terpincang – pincang pergi ke kantor usai tabrakan dasyat yang mematahkan beberapa ruas tulang kaki dan tempurung lututnya. Saya sendiri pun punya masalah dengan persendian dan organ gerak sejak kecil dan sampai hari ini kadang – kadang masih memakai tongkat jalan bila kondisi kesehatan sedang drop. Saya tahu rasanya bagaimana depresinya saat tidak bisa bergerak karena masalah cacat tubuh, tabrakan, dislokasi sendi ataupun sakit parah. Bagi saya, bergerak alias mobilitas adalah hak asasi manusia dan anugerah tak terkira dari Tuhan sehingga patut disyukuri.
KEDUA, setiap tahun saya akan mengadakan acara bagi – bagi kacamata baca gratis untuk anak – anak SD – SMA dari keluarga tak mampu. Demi mimpi saya ini, bila saya punya yayasan ini pada suatu masa di hidup saya, tentu saja untuk mendapatkan data murid yang punya masalah daya akomodasi perlu konsolidasi dari berbagai pihak semisal sekolah, gereja dan Masjid Lokal dan juga badan – badan lainnya. Saya tak mau muluk – muluk, setidaknya setiap tahun ada 50 tangkai kacamata baru yang saya bagikan gratis. Bila saat ini, dengan harga Rp. 300,000 kita sudah bisa mendapatkan satu tangkai kacamata baru lengkap dengan lensanya dengan kualitas baik, maka setidaknya setahun hanya untuk pengadaan kacamata ini kita hanya perlu Rp. 15.000.000,-. Yang harus dipikirkan hanyalah biaya mendatangkan dan konsultasi dokter mata dari Sorong untuk memeriksa 50 calon penerima kacamata tersebut. Tentu saja saya juga akan berpikir untuk mencarikan orang tua asuh donatur lensa untuk tiap anak jadi bila ada masalah dengan lensa mereka semisal pecah atau ukurannya harus diganti, maka anak – anak tak mampu ini tak harus terlalu pusing memikirkan biayanya.
Ah memang ini hanya mimpi saya, yet I really wish that someday there will be a program like this in my hometown. Ini semua juga terinspirasi dari kondisi saya juga yang punya masalah dengan penglihatan dan berkacamata plus pernah terkena trakom alias radang mata pada waktu kelas 5 SD dan pernah harus tinggal dalam kondisi gelap selama sebulan (sensitif pada cahaya yang lebih besar dari nyala lilin maupun pada bunyi yang lebih besar daripada suara bisikan = tak heran pada masa kini, bila stress, migrain saya kumat HAHAHA)
KETIGA, kalau saya punya akses dana yang tak terbatas, saya akan mendirikan rumah sakit anak di kota saya yang dilengkapi dengan ruang bermain sebesar areal ‘Fun Station’, satu perpustakaan anak – anak, satu restoran makanan sehat yang termasuk menunya makanan khas Papua, satu kebun anak – anak (pasien) dan juga taman bunga. Saya ingin juga di rumah sakit anak ini, ada satu areal bioskop mini untuk pasien rawat inap yang memutar film kartun ^_^.
Rumah sakit ini tentu saja punya ruang gawat darurat yang dinding – dindingnya ada kertas wallpaper maupun tempelan dinding bergambar princesses-nya Disney, ada gambar kartun semisal Winnie the pooh, gambar hewan animasi, gambar suasana bawah laut lengkap dengan ikan badut dll. Pokoknya, saya ingin saat anak – anak sakit masuk ruangan ini, mereka tidak ketakutan atau setidaknya bisa meredakan rasa sakit mereka. Sebisa mungkin, ruang UGD ini di sudut ruangan bergantungan balon – balon warna – warni dan lantainya beraroma apel, melon ataupun bubble gum HAHAHA. Kalau memungkinkan dengan pendanaannya, saya ingin ada petugas rumah sakit penyambut tamu yang berpakaian a la badut ataupun peri ataupun malaikat. Plus, ada musik lembut yang diputar di ruang ini, mungkin suara deburan ombak lembut seperti yang saya punya. Plus di waktu malam, ada lagu lullaby alias nina-bobo yang diputar lembut, tak hanya di ruang UGD tapi juga di sudut – sudut ruangan anak.
Untuk rumah sakit ini, tentu saja pasien yang kami terima adalah pasien bayi (non- neonatal alias bukan yang baru lahir ya hehehe) hingga berusia 12 tahun. Saya ingin tiap ruang anak, tiap bangsal, tiap gedung bernuansa dunia anak. Anggap saja ini sebuah ‘taman kanak – kanak penyembuhan’. Saya ingin anak – anak kecil yang masuk RS ini, saat keluar, akan mengingat bahwa mereka baru saja selesai berlibur di rumah kesembuhan. Seperti biasa, akan ada unit – unit seperti untuk penyakit dalam, ortopedi traumatologi misalnya untuk tabrakan dan kelainan sendi, unit pasien operasi dll. Bahkan, saya bermimpi unit – unit pendukungnya seperti klinik gigi, fisioterapi, X-ray, laboratoriumnya didesain seperti ruang anak lengkap dengan warna ceria.
Tentu saja saya sangat berharap para staf dan paramedis yang bekerja di rumah sakit ini sama – sama punya passion yang sama tentang anak dan rela berbagi senyum dan layanan terbaik mereka bagi para pasien anak di rumah sakit ini kelak. Selain itu, saya ingin ada satu unit konseling di rumah sakit ini, ya untuk keluarga pasien yang mungkin butuh teman cerita, ataupun konseling untuk pasien anak yang dalam kondisi kritis, berat ataupun tak tertolong. Setidaknya, menjadi sebuah tempat cerita dan berbagi beban.
Bagaimana dengan kamar jenazah di rumah sakit ini? Mmmh, saya ingin ruangannya biasa saja, dengan cat oranye muda atau mauve ataupun coklat muda dengan gambar daun – daun musim gugur. Tak ingin bergambar muram.
Satu hal yang sempat hinggap di kepala saya adalah saya ingin rumah sakit ini dilengkapi unit pengolahan limbah rumah sakit yang baik dan tentu saja ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar areal rumah sakit. Sangat berharap gedungnya dirancang anti gempa dan termasuk ‘gedung hijau’ plus satu yang pasti, saya tak ingin popok disposable dibuang sembarangan tapi langsung ke unit pengolahan HAHAHA.
Ah ini hanya mimpi seorang pemimpi seperti saya di tengah malam seperti ini. Tak perlu dianggap serius! Namanya juga mimpi. Anggap saja ini edisi ‘tukang mimpi’ HEHEHE.
Never stop dreaming!
(Manokwari, 301011; inilah kalo ‘a fislem for a fislem business)
0 comments:
Post a Comment