Search This Blog

Loading...

Sunday, 9 October 2011

Suatu Sore Penuh Cinta

Entahlah … beberapa hari aku bahkan kehilangan waktu menulis. Tepatnya mengendapkan semua rasa yang ada. Tak tahu.

Minggu ini emosiku naik turun, bahkan bisa dibilang campur aduk tapi entahlah … minggu ini aku juga sedang merasa jatuh cinta. Sangat jatuh cinta pada hidupku.

Awal minggu diawali dengan diomeli oleh pemilik rumah yang kujaga. Mana pesanan tiketnya juga bermasalah karena miskomunikasi dan sayangnya, aku mendapat ‘ceramah satu bab’. Jangan tanya reaksiku. Yang ada menangis Bombay on-the-spot pas ditelpon di depan sebuah agen perjalanan. Malam itu, aku belajar betul bagaimana arti persahabatan. Untung ada sahabat lamaku sejak kanak – kanak. Ia menjadi tempat curahan hatiku usai mata Bangka – Bangka karena menangis, walaupun sebelum ke rumahnya aku balap – balap dulu ke pinggiran pantai dan nongkrong sendiri di tepi pantai yang gelap. Benar – benar kalut. Untungnya, bertemu dengan sahabatku dan adiknya, plus curhat tengah malam dengan miss gaul via SMS, urusanku pun beres. Aku belajar dan berjanji satu hal: SUDAH SAATNYA BERHENTI JADI ‘MALAIKAT’.

Selasa kemarin banyak hal yang terjadi. Aku bisa bilang hari itu salah satu hari terbaik dalam hidupku. Hari itu pemilik rumah tiba. Jangan tanya bagaimana gugupnya diriku. Untunglah laporan keuangan berhasil kugeber abis dan sempat terkaget – kaget kalau ternyata ada duitku yang terpakai di dalam pembiayaan rumah itu (tak sadar karena pernah sekali duitnya ditransfer dalam rekeningku dan kupikir masih ada dan pas ada kebutuhan rumah, e ternyata kupakai dari rekeningku sendiri. )Yet, I don’t wanna discuss it anymore. Tak mau lagi berurusan. Mungkin sedikit trauma dengan kejadian kemarin. Entahlah … selama 9 bulan aku membantu urusan ini – itu dan kadang – kadang mengorbankan kepentingan pribadi. Entahlah … hanya lelah dan baru sadar kalau entahlah … ada bagian kecil di hati yang baru sadar tentang sesuatu … entahlah … salah satu sisi lemahku. Bila tak membantu orang, kadang merasa bersalah pada diri sendiri. Tapi kalo su bantu, ternyata kadang salah diartikan, salah dipersepsikan. Entahlah …

Sore itu, karna terlalu lelah secara mental dan tak siap bertemu pemilik rumah dan butuh ‘sesuatu’ untuk membuatku berani. Aku memilih pergi ke pantai Utara, ke sebuah tempat di Muara Pami dan memilih menanti senja. Hampir jam 5 sore. Itu saat terbaik dalam minggu ini. Berjalan sendiri di tepian pantai, melepaskan emosi dengan berlari kecil, mengumpulkan batu - batu kerikil yang tersaput ombak dan melemparnya sekuat tenaga ke laut, hilir mudik mengangkat batang kayu kecil dan dipakai sebagai tongkat dalam olahraga kendo, bermain dan berkejaran dengan riak ombak kecil, tertawa dan bahagia melihat senja di kejauhan sana, dengan lembayung yang mulai menjilat pasir dan air. Sangat cantik. Warna keemasan muncul berpendar kala semburat senja menyapa pasir hitam kuarsa itu, ibarat melihat sapuan blush on perungguku di kulit. Sangcat cantik. Apalagi bunyi ombak sahut menyahut membuatku tenang, lega dan nyaman. Aku bahagia!!!

Bermain dengan diri sendiri bersama alam di pinggir pantai itu, entahlah … tiba – tiba aku merindukan seseorang yang kelak dan semoga menjadi pasangan hidupku. Sore itu, aku bilang sama Tuhan, “sa ingin dapat cowok yang bisa menghargai apa yang sa lihat sore ini, yang bisa memahami keindahan dari hal – hal kecil seperti ini dan bisa mengerti apa yang sa rasakan saat ini.” Entahlah, perasaan untuk berbagi yang sangat besar yang aku rasakan sore itu. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada hidupku, pada alam, pada Tuhan .. dan juga mungkin pada lelaki yang akan kelak menjadi suamiku suatu hari nanti. Yang mungkin di saat yang sama itu merasakan apa yang kurasakan untuk dirinya. Someday, someway, somehow …. Entahlah, sebuah ketenangan besar. Tentu saja.

Seminggu ini aku juga mendapat kerjaan tiap pagi dari jam 10 pagi – 12 siang. Mengajar anak – anak muda Papua yang mendapat kursus gratis perhotelan dari Disnaker Manokwari. Mendapat banyak kenalan baru. Benar – benar melegakan. Aku melihat bagaimana Yesus memeliharaku akhir – akhir ini, semakin baik. Kala aku keluar dari satu pekerjaan, Ia memberikanku kerjaan yang lain. Seperti itulah. Ia sangat baik untukku.

Hari Rabu pun seperti itu. Pulang mengajar, aku sempatkan bergabung dengan teman – teman di ‘unit kerja lama’. Tertawa, berbagi gosip. Sorenya, entah bagaimana, mungkin terpengaruh sensasi jatuh cinta. Pas pulang dan cuaca Manokwari sangat panas, e ada Echi (4 tahun 4 bulan) dan Muel (3 tahun 11 bulan) ; para keponakanku di depan rumah. Cuek saja kubilang, “e tong pi pantai.” Wah reaksi mereka gila banget, segera kabur pulang ke rumah mereka masing – masing. Berkemas. Sayangnya, karena Muel lagi sakit jadinya ya tak jadi. Yang ada, diganti sama Ochil kakak perempuannya yang berumur hampir lima tahun. Seperti biasa, si Muel yang sensitif pasti menangis heboh. Rupanya si Monia yang baru 1 tahun 11 bulan pun heboh ingin ikut. Yang ada ia menangis meraung – raung. Sayangnya, karna hanya punya motor jadinya yang bisa diangkut cuma 2 orang keponakan dengan peralatan tempur lengkap HAHAHA.

Kami bertiga heboh skali. Mencari bekal, mencari perlengkapan mandi, memakai kacamata hitam, heboh membahas gaya kami. Pokoknya girl talk banget deh dengan para keponakan perempuanku ini. Menyanyi sepanjang jalan, bercerita tentang nama – nama tempat di pinggir pantai, perahu hingga banyak hal. Apalagi saat di pantai, kami adalah kerumunan anak – anak perempuan yang terperangkap dalam berbagai tubuh. Kami berseksi ria di pantai HAHAHA. Kuhamparkan kain pantaiku, ibarat mau piknik. Semua bekal ringan disiapkan. Kami bermain pasir, tidur – tiduran ibarat putri duyung (idenya sa ^_^) dan kepiting (idenya Ochil) dibujuk deburan ombak yang menyaput badan – badan kami, berimajinasi tentang banyak hal. Tertawa, bermain kejar – kejaran, mengembat kerupuk yang kami beli dari penjual bakso, dan juga keripik keladi buatan Ma Bet. Sangat lucu. Kami gerombolan anak – anak perempuan. Ya, anak perempuan. Aku tak peduli berkamisol putih dan berseksi ria bersama keponakanku padahal lemak perut sudah kemana – mana HAHAHA.

Sore itu, salah satu sore terbaik dalam hidupku. Hari itu, Q juga ulang tahun, iya 5 Oktober kan?. Entahlah, di sela – sela acaraku di pantai, aku mengingatnya (walau memang malamnya aku mengirimkan SMS ucapan ulang tahun) … yang aku tahu, aku menikmati momen bersama 2 keponakan perempuanku. Kami mencari kerang, menemani Ochil dan Echi latihan melompat dari sebuah bekas ujung kapal karam, tertawa riang bercerita, dan tentu saja berjalan menyusuri pantai. Gayaku tentu saja seperti biasa, rambut keriting yang sekarang berwarna tembaga – hitam, kamisol putih seksi dengan cetakan bra hitam yang jelas sekali. Ah aku benar – benar merindukan momen seperti ini lagi.

Pulangnya, kami heboh sekali ‘spul’ badan. Dasar balita, tentu saja acaranya kan cuma berpantie dan bra di kamar mandi. Mereka cekikikan melihatku yang half naked. Tertawa – tawa. Cuek saja kubilang, “kaka – kaka, nanti kalo besar kan kaka – kaka juga sama dengan mama, badannya kaka – kaka nan membesar. Jadi itu normal” *sambil memainkan mataku dengan ekspresi seperti foto TKku di FB. Mereka memanggilku Mama May, walaupun mereka anak –anak dari para saudara laki – lakiku. Mereka benar – benar menggemaskan. Pulangnya, kami lebih heboh lagi. Tertawa dan menyanyi terus. Aku selalu mengajarkan mereka tentang alam dengan cara yang mudah. Tiap kali melewati pohon, aku akan menjelaskan nama pohon itu. Ya, sejenis identifikasi nama pohon. Jadi, berkendara perlahan, kami bersorak menyebut ‘pohon mangga’, ‘pohon pinang’, ‘pohon pisang’ dan lain – lain. Belum lagi suara cempreng kami menyanyi lagu anak – anak. Tak peduli dengan pandangan pengendara motor yang lain. hanya serombongan anak perempuan yang sangat ekspresif HAHAHAHA.

Damn, I really love my nieces and nephew. They’re my reasons to stay alive. Apalagi miss gaul dan pacarnya ternyata memantau dan mengerjain kami saat pulang ke rumah dari pantai, dengan klakson berulang kali tapi enggan ‘lambung’ tong (sampai – sampai sa su siap maki ^__^). Usai beberapa hari, miss Gaul bilang, ‘tampaknya ko su siap pu anak, May. Ko ‘keibuan’ skali, that’s why I saw from the way you treat your nieces. Mentally prepared!’ Dasar Sahabat, tahu saja rahasia-nya sa HAHAHA. Iyalah, dari dulu sa memang su bilang ‘ingin pu anak’ (apalagi ke Lelaki Hujan dulu eeee)tapi kalo untuk suami dan ikatan pernikahan … mmmh mungkin sa pikir2 dulu ka eee’. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya sa pu anak kelak kalo sa latih dengan caranya sa yang ‘kaco’. Sa cuma ingin sa kelak bisa jadi sapu anak pu sahabat, bisa cerita apa saja, bisa berbagi mimpi dan gila2an dan juga sama – sama cinta alam sejak kecil. Entahlah, dan semoga ia juga ENFJ dan multiple intelegence. Itulah sebabnya, sapu mama juga berharap sa ada pu anak besok (terserah mo pu laki atau tidak). Mace pu kata – kata ini juga ‘kaco’, “sayang saja kalo ko pu kepintaran macam begini tra diwariskan dalam garis keturunan, May. Harus pu anak dulu, biar tra hilang”. HAHAHA.

Mungkin karena dua hari diisi dengan energi ceria, moodku selama beberapa hari ini sangat baik. Ditambah lagi dengan acara ngobrol dengan beberapa teman di dunia maya yang sungguh mati belum pernah bertemu. Sangat mencerahkan, apalagi saat ngobrol dengan sahabat baiknya mantan pacarku yang kebetulan seorang konselor (psikolog). Benar – benar mencerahkan. Intisari pembicaraan kami hanya satu, “Don’t let other people control your self-‘remote control’. It is yours. Control it. Act not react, for you can’t control other’s behavior.” Belum lagi seorang teman di Jakarta bilang, “May, ko pu kemampuan tuh banyak, bisa apa saja. Ko harus bisa kontrol itu, May. Kalo tidak malah jadi boomerang bagi ko sendiri. Sa lihat ko, macam sa jadi ingat film X-Man, orang dengan banyak kemampuan yang kalo tidak dikontrol, malah membahayakan diri sendiri dan orang lain.” Ah si mbak ini memang benar, karena aku memang menyadari kalau aku cenderung ‘multiple intelegence’. Sayangnya, masih belum bisa kukontrol dengan baik.

Anyway, entahlah … minggu ini aku bahagia. Itu saja. Masih tetap merindukan Q. Mungkin karena saudara jauhku bilang kemarin malam kalau beberapa hari lalu, si Q menanyakan kabarku lewat dia, ‘dek, gimana kabar mbak May-mu?’ tapi sodaraku dengan cuek bilang, “tanya langsung aja sama mbakku’. Ya iyalah, acara wanti – wanti mah sudah didelegasikan ke sodara jauhku ini, pokoknya gak usah ngungkit – ngungkit diriku ke si Q. Ntar dipikir sa yang ‘kejar – kejar’ dia lagi. Apalagi tanggal 5 kemarin juga saat sodaraku ini bertanya apa benar si Q ultah, ‘abang, hari ini ultah ya, cuz di stat BBMx kok b’day’, e si Q malah bilang, ‘tanya mbak-mu dek, dia tw kok’. Aneh lah … wong ngomong gak ada kaitannya dengan diriku, tapi tetap saja diriku kebawa – bawa. Lelaki yang aneh =D Yet, aku sudah pada tahap, ‘kalo rindu, ya sudah rindu saja, tra usah paksa ka lawan perasaan. Yang penting abis itu, normal lagi. Nikmati saja ka ini …………..’

Aku hanya jatuh cinta pada hidupku, pada diriku, pada Yesus.

Terima kasih Yesus untuk kebaikan-Mu di dalam hidupku.

Entahlah … Aku percaya Yesus tetap cinta terbaikku. Itu saja.

Selebihnya, hanyalah bonus

(Manokwari, 071011)

0 comments: