Sore ini saya mengunjungi pasar Sanggeng Manokwari khususnya Pasar Sayuran. Hendak membeli ‘daun gatal’ (Laportea Indica L./ Laportea decumana (roxb.) chew?) dan juga melihat konsep penjualannya serta beberapa informasi awal yang saya perlukan demi tulisan saya di topik ‘investigasi’ berikutnya (masih dalam tahap riset pustaka). Kebetulan sudah lebih dari dua minggu cedera bahu saya masih belum sembuh juga akibat mengetik berjam – jam plus mengendarai motor berlama – lama. Demi sebuah solusi, saya pun pergi ke pasar ini. Walau harus saya akui sejak setahun ini volume kunjungan saya ke pasar menurun. Dalam sebulan, mungkin hanya 1 – 2 kali saya menginjakkan kaki untuk belanja sore di pasar ini. Anggap saja ini catatan lepas pengunjung pasar non-reguler.
Pasar Sanggeng khususnya pasar sayuran adalah salah satu pasar utama di kota saya yang beroperasi dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 malam. Merupakan bagian integral dengan kompleks pasar Tingkat Sanggeng yang menjual barang dagangan non sayuran seperti pakaian sepatu dan unit layanan lainnya seperti jasa penjahit, pengetikan dan salon. Letak Pasar sayur tentu saja di Sanggeng dan sangat strategis karena berada di pusat kota sehingga mudah dijangkau, namun masih kurang ramai dibandingkan pasar Wosi (Mustamu, 2008). Letaknya tepat di belakang deretan pasar Tingkat (pasar berupa kios, gerai pedagang pakaian, kelontong, sembako dan berbagai jenis dagangan lainnya) dan bersebelahan dengan Terminal Sanggeng yang juga menjadi terminal penghubung menuju Pantai Utara dimana banyak kampung – kampung pemasok hasil kebun dan sayur - mayur. Itu batas daratnya. Batas lautnya adalah pinggiran pantai teluk Doreri. Luasan asli areal pasar sayur berada di dalam areal pasar yang berbatasan dengan pasar tingkat.
Bila ingin mencapai pasar sayur ini, naiklah ojek ataupun taksi dan bilang saja ‘Pasar Sanggeng’ atau kalau anda orang baru, katakan saya pasar sayur Sanggeng. Anda punya tiga pilihan untuk masuk ke dalam areal pasar ini: dari jalan masuk lewat ‘kali konto’ (dari ruas jalan Jenderal Sudirman), dari arah pasar Ikan, ataupun dari arah samping terminal Sanggeng. Apapun jalan masuk yang anda pilih, saya menjamin anda akan berhadapan dengan hiruk pikuk penjual – pengunjung khususnya sore hari. Apalagi tak dapat disangkal, sore hari menjadi saat tepat untuk berbelanja karena adanya variasi barang jualan dibandingkan pada pagi atau siang hari dan harga barang dagangan yang lebih murah. Hal ini karena beberapa faktor, antara lain karena jam berjualan yang terbatas, khususnya bagi penjual yang hendak pulang ke luar kota sehingga mereka mengharapkan barang dagangan mereka cepat terjual sebelum gelap. Selain itu, karena sore hari adanya kecenderungan banyaknya penjual yang menjual barang dagangan yang sama sehingga kompetisi membuat adanya harga dan variasi tambahan barang dagangan (bonus) yang lebih baik. Intinya, tak seorangpun mau bertahan hingga gelap demi barang jualan. Toh tak bisa disangkal, pencahayaan di tempat ini lumayan buruk. Belum lagi ditambah bila hari hujan sehingga areal jualan tak lebih dari kubangan lumpur.
Meskipun pasar ini terletak di tengah kota, ada saja masalah yang menghinggapi para penjual, salah satunya adalah keterbatasan tempat penjualan semisal meja jual yang layak. Iya, karena ketersediaan areal jualan yang beratap seng itu terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah penjual yang melebihi kapasitas tempat jualan, maka banyak juga penjual yang terpaksa menjajakan jualan mereka dengan hanya beralaskan belahan karung plastik dan juga perlak ataupun karpet plastik. Hal ini umumnya dijumpai di pinggiran ruas jalan alias di pelataran parkir deretan rumah makan ‘Kentaki’ (Kentara Kaki); sejenis rumah makan penjual nasi campur dan juga dari jalan masuk samping terminal. Banyaknya penjual yang jongkok, menggunakan kursi pendek (dingklik; bahasa Jawa) dan menghamparkan dagangan mereka langsung di atas tanah atau pelataran parkir juga disebabkan faktor al. karena adanya penjual musiman yang kadang berjualan tergantung dari hasil kebun mereka sehingga jumlah dan kepadatan penjual di pasar ini cukup fluktuatif saat hendak didata guna masukan pembangunan pasar.
Selain itu, masih ada masalah lain yang timbul saat hujan. Pasar Sanggeng tak mempunyai tempat yang layak untuk para penjual walaupun penjual dalam los pasar yang beratap maupun yang di pinggiran jalan ataupun yang menghamparkan dagangan, semuanya membayar retribusi harian yang sama. Jadinya bila turun hujan di areal pasar, maka muncul banyak comberan dan lumpur khususnya di areal depan kentaki. Tak heran, banyak mama – mama Papua khususnya yang dari Pantura yang tak mendapat tempat di areal yang beratap seng yang terpaksa menghamparkan dagangan mereka di sela – sela jalan yang berlumpur ataupun membajak parkiran semen depan warung. Tak heran, ada beberapa mama yang berinisitif menyemen sendiri lahan parkiran agar dapat tetap berjualan. Bahkan bila melhat ujung deretan penjual ikan ‘asar’ n dan juga penjual sayur yang dekat jembatan ‘Kali Konto’ kadang harus menjajakan ikan dagangan mereka hanya sekian meter dari kontainer sampah pasar yang menggunung. Saya sering trenyuh melihat bagaimana perhatian pemerintah atas masalah ini. Bahkan secara pribadi, saya masih bisa bilang areal pasar mama Papua di depan Supermarket Gelael di pusat kota Jayapura masih lebih baik daripada areal lahan di pasar Sanggeng Manokwari. Apalagi kota Manokwari mempunyai curah hujan yang cukup tinggi.
Sore tadi saya berbelanja beberapa barang dagangan selain ‘daun gatal’ yang dijual setumpuk Rp. 3.000. Saya juga melihat melimpahnya satu item barang dagangan yang menurut saya ‘jarang – jarang jatuh harga’ seperti sore ini; kerang atau dalam Melayu Papua disebut ‘bia’. Apa lagi sore ini satu jenis kerang disebut ‘bia kodok’ alias ‘bia licin’ (Corbiculidae Batissa violacea) sedang bertaburan dijajakan. Iya, kerang setumpuk besar ini dijual seharga Rp. 10.000,- berisi sekitar 17 – 20 biji. Selain itu dijual juga kerang jenis lain dengan harga sama; ‘Bia kulit Tipis’. Tak ayal saya memborong masing – masing bia setumpuk besar. Bila ‘bia kodok’ didapatkan dari distrik Masni (saat saya iseng bertanya pada penjualnya) dan diambil dari kali dengan cara ‘molo’ (menyelam), maka bia kulit tipis sedikit berbeda. Penjualnya yang saya taksir berusia 20an tahun dengan entengnya menjawab bahwa bia ini diperoleh dari pulau Numfoor. “Kaka, tong ambil dari dalam lolaro, dari dalam pecek, jadi tong cari.” ‘Lolaro’ adalah nama lain dari hutan bakau (Manggrove) ataupun’manggewa’ dalam leksem Melayu Papua lainnya. Sore tadi, seingat saya ada sekitar 5 penjual bia kodok dan bia kulit tipis. Sebenarnya bila disuruh memilih, saya lebih suka bila bia – bia ini sudah direbus, seperti sejenis kerang laut yang kadang – kadang dijual dalam bentuk rebusan. Bukannya apa, jadi lebih banyak ka ini dan tra repot lagi untuk olah HAHAHA.
Saya juga masih sempat membeli beberapa potong sagu gula kelapa bercampur gula merah, anggap saja ‘sagu karamel’ dan juga beberapa potong ‘ambal’ alias ‘sagu kasbi’ yang dicampur gula merah; ambal karamel. Hidangan ini tentu saja untuk menemani saya minum teh kala mengetik seperti sekarang ini. Sagu kelapa maupun ambal gula merah ini dipanggang dengan cetakan sagu forno dan dijual per tiga keping seharga Rp. 5.000,- Jangan tanya bagaimana hidangan seperti ini menghilang dengan cepat dari atas meja makan, dilahap keluarga saya yang memang sejak tahun ini program ‘konsumsi hasil kebun’ meningkat tajam. Saya saja hanya kebagian satu potong. Iya, sejak mama saya positif diabetes, ada ‘revolusi pangan’ di rumah saya HAHAHA.
Anyway, urusan pasar Sanggeng ternyata pernah diteliti beberapa mahasiswa UNIPA dan salah satunya seperti yang saya tampilkan di bawah ini. Ini kesimpulan dari penelitian Skripsi Astrid Grace Mustamu (2008), seorang alumni Fakultas Biologi FMIPA UNIPA yang menulis dari segi pemanfaatan etnobotani “Kajian tumbuhan yang dijual di pasar Borobudur, Sanggeng, dan Wosi di kota Manokwari”. Ada dua kesimpulan penting yang bisa saya dapatkan yaitu:
#Terkait jumlah pedagang
Dalam penelitiannya selama sebulan di pasar Sanggeng, Mustamu mencatat dari 140 pedagang yang ia teliti, pedagang Papua terdiri atas 107 orang, dan non-Papua sebanyak 33 orang. Perlu diingat bahwa jumlah pedagang Papua umumnya berfluktuatif karena tidak setiap hari berjualan; tergantung dari hasil meramu di hutan dan kebun. Dari jumlah ini terbagi lagi menjadi 73,75% sebagai petani pedagang alias mereka yang menanam sendiri hasil dagangan atau meramu hasil hutan dan kemudian menjualnya sendiri. Umumnya didominasi oleh pedagang asli Papua. Lalu ada juga petani pedagang/pedagang pengumpul yaitu mereka yang dagangannya sebagian dari hasil kebun plus dari membeli di pasar sentral Wosi dan menjualnya kembali. Sisanya ada 26,24 % yang rata – rata didominasi oleh pedagang etnis non-Papua sebagai pedagang pengumpul dan mereka adalah pedagang tetap. Dapat dikatakan, di Pasar Sanggeng, jumlah petani pedagang lebih banyak dibandingkan di Pasar Borobudur namun lebih sedikit dibandingkan di Pasar Sentral Wosi.
#Terkait Komoditas Dagangan
Mustamu mencatat bahwa komoditas dagangan yang dijual umumnya di tiga pasar di kota Manokwari termasuk pasar Sanggeng adalah sayur – sayuran, buah – buahan, umbi – umbian, tumbuhan obat, bumbu, biji – bijian dan kacang – kacangan. Dalam penelitiannya, Mustamu menyimpulkan bahwa komoditas terbanyak yang dijual adalah komoditas ‘daun – daunan’. Ia juga menambahkan bahwa yang biasanya dijual oleh etnis Papua adalah tumbuhan yang tidak membutuhkan perawatan intensif seperti daun katuk, daun pepaya, bunga pepaya, daun singkong, hasil kebun (umbi – umbian) serta beberapa tumbuhan obat seperti ‘daun gatal’. Asal komoditas ini umumnya berasal dari amban, pantura, mandopi, asai dan juga beberapa daerah sekitar Manokwari seperti distrik anggi, oransbari, ransiki, prafi, dan distrik Manokwari timur. Hal ini cukup berbeda untuk para pedagang non-Papua yang utamanya bekerja sebagai pedagang pengumpul. Komoditas dagangan mereka umumnya komoditas baik sayuran maupun biji – bijian serta bahan bumbu yang membutuhkan perawatan intensif dan dijual dalam hitungan ‘kiloan’ serta yang membutuhkan modal besar karena berasal dari luar daerah seperti dari Nabire, Manado dan Surabaya. Yang mereka jual antara lain bawang, kentang, kol, wortel, biji - bijian, kacang - kacangan, kacang tanah, bumbu, rempah – rempah (ketumbar, kemiri, kayu manis dll).
Tampaknya catatan saya tentang pasar Sanggeng harus saya akhiri dulu.
Saatnya mengonsumsi bia kodok yang tadi saya masak a la kuah asam. Hajar ahhhhh!!!
(Manokwari, 271011; wisata belanja ternyata mengasyikan juga hehehe)
0 comments:
Post a Comment