Search This Blog

Loading...

Saturday, 22 October 2011

Refleksi Kematian dan Penyakitan

Pagi ini saya bangun dengan kondisi yang sedikit drop. Tampaknya memang jingga tidak muncul pagi ini di luar sana. Sejam lalu saat tepat bangun, guruh dan petir berlarian, bersahut – sahutan di langit Manokwari. Tampaknya ada sesi pemotretan! HAHAHA. Seperti biasa, tampaknya memang mood saya berkorelasi dengan rasa sakit. Pagi ini giliran nyeri sendi dan otot gerak saya. Toh saya masih berpikir untuk mengambil pereda nyeri dan bengkak (paracetamol + ibuprofen) seperti biasa, toh saya sudah sangat biasa tergantung pada kedua jenis obat ini. Tak ada pilihan lain. Plus semoga sebentar siang atau sore, saya masih punya waktu ‘stretching’ di pantai. Semoga masih punya waktu juga untuk ‘small yoga’.

Mood saya memang lagi melankolis beberapa hari terakhir, makanya saya juga jadi banyak mengirimkan pesan – pesan singkat pada seorang teman di kota lain: Q. Entahlah, saya benci perasaan ketergantungan ini, benci perasaan kecanduan ini. Entahlah, tapi saya juga tidak bisa menahan hati untuk tidak mengirimkan pesan padanya. Damn, I hate this feeling!

Sejak kemarin pagi, saya tahu mood saya sudah berubah. Sangat berubah. Ada beban pikiran yang tiba – tiba masuk. Iya, apalagi kalau bukan tentang kematian. Kali ini entahlah, saya sudah tak memikirkan tentang bunuh diri, tetapi pada kematian itu sendiri. Ternyata, dalam kunjungan saya ke unit kerja lama saya di Amban sana, ah kami semua pada siang hari pergi melayat seorang dosen yang meninggal karena diabetes. Kisah hidupnya sangat tragis karena di masa akhir hidupnya, malah ada masalah dengan urusan penguburan. Entahlah, saat datang ke sana, saya masih bisa tertawa. Belum terasa efeknya masuk ke dalam alam bawah sadar saya. Ini yang paling saya benci dari acara melayat. Saya biasanya depresi usai pulang dari ritual ini. Benar sekali. Belum lagi pulangnya saya sudah disambut dengan sebuah berita kalau seorang pangkat keponakan jauh yang masih bertetangga dengan saya meninggal dunia usai sakit parah. Iya, saya cukup tahu ia sakit parah karena sejak 3 bulan lalu mama saya dan rombongan majelisnya selalu pergi mengunjungi dan berdoa untuk adik ini dan biasanya pulang malam.

Untuk acara melayat adik ini, saya tampaknya memutuskan untuk tidak pergi. Orang tua saya memang tidak akan pernah memaksa saya untuk pergi melayat apalagi pada upacara penguburan di kuburan kecuali mereka melihat saya sangat siap atau kondisinya memang ‘tak ada pilihan’ . Hanya sesekali saya pergi bila memang relasi pribadi saya sangat dekat dengan yang berpulang. Walaupun saya tak melayat, saya masih tetap memikirkan tentang kematian itu dan juga mereka yang berpulang. Entahlah. Untuk hal ini, saya cukup salut dengan pengertian keluarga saya. Semuanya memang berawal sejak tahun 2001 dulu, ada beberapa kejadian yang memang bermula sejak masa 10 tahun lalu, terkait dengan acara melayat saya. Apalagi terkait mood saya.

Kadang – kadang, Saya hanya merasa ‘bagaimana eee’. Entahlah … saya merasa saya tidak bisa memahami jalan pikiran Tuhan kadang – kadang khususnya terkait kematian. Khususnya untuk si adik kecil ini. Dua kematian ini semuanya karena yang berpulang tak bisa menahan lebih lama penyakit yang menggerogoti mereka. Malam kemarin, saya bertanya pada teman saya, kenapa Tuhan harus mengijinkan adanya sakit penyakit kalau ia memang membuat manusia menjadi makhluk terindah dan termulia? Mengapa Tuhan mengijinkan ada orang – orang yang lahir dengan kondisi tubuh dan imunitas lemah sedangkan ada yang selalu baik – baik saja, kebal dan punya imunitas tinggi padahal gaya hidupnya jauh dari Tuhan, suka mabuk- mabukan? Entahlah. Yang saya tahu, teman saya bilang itu semuanya demi ‘keseimbangan’ dalam hidup. Ada yang terlahir seperti itu, ada yang memang harus begitu. Entahlah.

Pagi ini, saya masih sangat melankolis. Jadi saya putuskan mengirimkan beberapa pesan ke teman saya dan juga menuliskan apa yang saya pikirkan. Seperti biasa, ada ritual saat teduh saya dan pagi ini saya mendapatkan panggilan di hati saya untuk berdoa karena perasaan melankolis ini mulai melahap saya perlahan. Bila saya tak menyadarinya maka saya tahu selama beberapa hari ke depan, saya bisa saja melakukan hal – hal yang tak ingin saya lakukan. Dalam saat teduh, saya mendapatkan sebuah bacaan yang ternyata sangat pas dengan apa yang saya rasakan dua hari terakhir, khususnya terkait kematian. Saya lalu teringat pendapat teman saya tentang ‘ajal’; untuk selalu siap.

Bacaan saya pagi ini dalam I Tesalonika 5: 1 – 28. Ada beberapa hal yang saya dapatkan, yang harus saya tuliskan sebagai sebuah bentuk dokumentasi perjalanan hidup saya. Saya bersyukur pagi ini ternyata Yesus melihat apa yang saya tanyakan dan rasakan terkait kematian. Entahlah.

#1. BE READY (ayat 1 – 8).
Jadi kematian itu ibarat juga kedatangan Tuhan, tak pernah kita tahu. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita untuk selalu menabur kebaikan selama masa hidup jadi kalau memang tiba – tiba meninggal; ya sudah tak ada masalah.

#2. ALLAH MERANCANGKAN KEBAIKAN, jadi saling menolonglah (Ayat 9 – 11)
Iya, jadi bukan masalah apakah kita hidup atau mati saat kedatangan Tuhan, itu bukan persoalan utama karena yang terpenting Tuhan memilih kita untuk keselamatan dari-Nya. Yang ia mau hanyalah selama masih hidup, kita harus saling menolong dan saling menyemangati alias ‘encourage’.

#3. BERSUKACITA SELALU,TERUS BERDOA & MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA KEADAAN (Ayat 16)
Ini ayat – ayat kunci untuk apa yang saya rasakan hari ini. Jadi dalam hal kematian ini, memang kita bersedih sebagai respon alamiah kita dan penghargaan terakhir pada yang berpulang, tapi lewat ayat ini saya diingatkan tadi untuk mengucap syukur karena bagaimanapun yang berpulang itu telah selangkah lebih dekat dengan Tuhan. Saya harus belajar mengucap syukur untuk keadaan saya juga.

Mungkin itu yang bisa saya tulis saat ini. Entahlah, yang saya tahu, usai membaca Firman ini, saya merasa baikan, sangat baikan. Entahlah, padahal dari kemarin saya sempat merasa Tuhan tidak adil bagi adik kecil itu. Maksud saya, saya penyakitan, berfisik lemah sejak kecil, terbiasa dengan nyeri dan koleksi ‘penyakit baru’ tiap tahun. Kelemahan fisik lah. Tapi saya belum mati – mati juga. Sempat bertanya pada Tuhan kemarin, kenapa bukan saya saja yang dipanggil. Sampai – sampai saya sempat merasa iri pada mereka yang berpulang. Sempat berpikir dan bilang, “God, I’m ready to back home”. Sangat siap sejak dulu. Yang saya tak suka hanyalah rasa nyeri itu. Sempat kemarin merasa ‘Tuhan, adik ini masih kecil, masih punya banyak hal yang bisa dia lakukan dalam menikmati hidup. Masih sangat panjang perjalanannya’. Kenapa bukan saya, toh saya sudah cukup puas dengan hidup saya, sudah cukup melihat dunia. Setidaknya saya jujur pada Tuhan tentang hal ini. Rasa yang sebenarnya enggan saya tuliskan.

Saya memang terobsesi dengan kematian sejak dulu, sejak 10 -11 tahun lalu. Mungkin karena di kepala saya sudah ada satu pikiran instan; satu – satunya cara untuk tidak merasa sakit lagi, tidak tergantung pada obat (kadang – kadang), untuk ‘lepas’ selamanya. Tapi pagi ini usai membaca Firman ini, saya merasa Yesus sedang menegur saya dengan sangat sopan. Iya, sangat sopan. Saya percaya Ia punya rencana besar dalam diri saya makanya saya belum mati – mati juga. Tampaknya saya sudah harus mengabsen penyakit – penyakit saya, tampaknya memang perlu membuat ‘paspor penyakit’.

Saya ingin mengabsen kebaikan Tuhan dalam hidup saya, yang bisa saya ingat. Umur <1 bulan kalau tak salah, selamat dari kematian usai diintervensi injeksi dobol – dobol (emergency case) di RSUD (ini cerita dari orang tua saya dan seorang tetangga komplek yang kebetulan mantri di UGD sana). Semasa balita terkena sejenis ‘kaskado anjing’, entah apa nama penyakit kulit itu. Nangkringnya juga di telapak kaki dan membuat saya kesakitan berjalan dan sangat gatal. Diobatinya pun denan herbal dan pengobatan tradisional oleh seorang tetangga saya, sampai – sampai hingga sekarang keluarga yang mengobati saya itu selalu mengingat saya dengan baik hanya karena kasus ‘kaskado anjing’ itu HAHAHA.

Masa SD saya mengoleksi penyakit berturut – turut selama 1 catur wulan: trakom (radang mata), iritasi cahaya dan saraf (tinggal sebulan dalam kamar gelap ditemani nyala lilin dan minus suara apapun, semua orang rumah harus berbisik, karena frekuensi suara yang tinggi membuat saya kesakitan dan nyeri seperti ditusuk jarum, rasanya jadi orang gila), rematik anak – anak (lumpuh selama 1 bulan, gangguan mobilitas, dislokasi dan anggota tubuh yang ‘cacat’, harus belajar di rumah dengan mengopi semua catatan teman, belum nyerinya yang sangat ‘membunuh’ dan ‘mematikan mental’ serta jadwal konsumsi obat yang sangat ketat dan banyak itu. Saya bahkan masih ingat salah satu nama obat masa itu, “Irgapan” HAHAHA), plus juga sakit mata merah. Masa SD pun saya isi juga dengan cacar air sungguh mati yang merusak semua penampakan kulit, belum lagi serangan sejenis panu yang sangat keras sehingga badan saya jadi loreng semua. Iya, beneran loreng seperti batik getho. Sampai – sampai saudara laki – laki saya memanggil saya ‘loreng’ pada masa itu. Saya lupa kenanya dari mana, apa karena memakai handuk bekas kerabatnya mama, saya lupa. Yang saya tahu, diobati pakai obat panu biasa tak mempan juga. Saya lupa bagaimana persis dan seberapa lama panu gila itu bisa hilang. Sialnya hanya saya yang kena di rumah. Berbulan – bulan tertekan melihat panu itu nangkring di tubuh saya. Jangan tanya bagaimana bapak saya mengikis kulit saya sampai luka dan diberi tumbukan belerang asli. Iya, saya baru ingat, panu gila itu hilang usai digosok dengan irisan lemon bertabur tumbukan belerang. Tentu saja dengan kulit yang hangus di sana – sini. Untungnya, sekarang sampai dunia ini hanya jerawat sialan yang tak pernah bisa lepas dari wajah saya sejak masa remaja (gila kan, I’m 28th years old *sigh).

Saya melihat Tuhan masih memelihara saya. Masa SMP mungkin masa paling bahagia dalam hidup saya. Paling banter saya hanya sakit malaria dan flu. Tak lebih. Masa SMA juga baik – baik saja hingga di akhir masa sekolah, pas kelas 3, itulah masa panen penyakit. Tapi saya memang melihat Tuhan ingin menunjukan pada saya bahwa “hidup untuk perjuangan. Iya, perjuangan untuk hidup”. Kelas 3 SMA dihajar Juvenil Artritis sampai babak – belur. Kata dokter, penyakit saya adalah penyakit rentetan yang akan muncul dalam sekian tahun, dan tampaknya saya percaya itu, karna sewaktu di Australia, ternyata kumat lagi (tiap 7 – 8 tahun). Dalam waktu 1 minggu hidup saya berubah total; dari remaja aktif jadi lumpuh total dan nginap 1 bulan di RSUD dan hanya leher yang bisa digerakkan. Saya masih ingat bagaimana bermacam judgement atau ‘penghakiman’ dari beragam orang untuk diri saya terkait kondisi saya. Tapi saya belajar banyak tentang para sahabat sejati lewat sakit saya. Para sahabat sejati adalah mereka yang tidak pernah peduli tentang kondisi anda dan tetap menyemangati.

Saat itu, selain lumpuh, belum lagi diikuti dengan komplikasi syaraf karena sensor saraf khususnya rasa sakit saya sangat sensitif. Siapa bilang saraf itu tidak penting? Tahu kan rasanya sakit gigi yang sudah kena di syaraf? Nah yang saya rasakan itu lebih gila dari itu, karena kalau sakit gigi hanya di giginya doang kalau diutak – atik. Yang saya rasakan satu tubuh. Iya, bahkan selama pemeriksaan di dokter, dokter pun kadang tak bisa menyentuh saya karena saya pasti akan menjerit terus, satu bangsal sampai mendengar lolongan saya terus menerus. Satu sentuhan kecil di badan saya khususnya di kaki rasanya digigit ratusan lebah. Nyeri sekali. Belum lagi di saat bersamaan, saya juga sampai mengalami infeksi di organ internal saya yang tidak perlu saya tuliskan di sini.

Bagaimana tidak, saya tidak pernah mandi selama 1 bulan lebih, hanya bisa terbaring dengan badan yang ditutupi kain, semua kulit punggung saya mengelupas, tidak pernah bisa keramas, dan tidak bisa buang air besar selama berminggu – minggu (3 minggu), perut saya tentu saja kembung sungguh mati dan sangat keras. Aktivitas ‘BAK dan BAB’ semuanya di atas tempat tidur. Tapi yang saya lihat waktu itu, keluarga saya tidak pernah menyerah untuk saya, untuk terus mendoakan saya, untuk tetap menyemangati saya untuk bertahan hidup. I owe them so much. Sesuatu yang masih belum bisa saya bayar hingga saat ini, karena toh mereka punya banyak pilihan untuk menelantarkan saya. Walau saya akui bahwa sambil menjaga saya, mereka masih tetap juga ‘marah – marah’ dan ‘bersungut – sungut’ sometimes. Tapi setidaknya saya tidak dibiarkan mati di rumah.

Dampak dari serangan akhir SMA itu benar – benar mengubah hidup saya. Saya jadi lebih ‘dalam’ melihat hidup, lebih bisa menghargai apa yang saya miliki dan tentu saja menikmati tiap proses yang saya punya dan jadi terobsesi pada kematian HAHAHA. Saya juga melihat kala Tuhan mengambil sesuatu dari kita, Ia mengembalikan atau pun mengggantikan apa yang ia ambil berlipat ganda. Satu hal yang saya dapatkan usai sakit berat adalah kemampuan menulis, menggambar dan mensintesakan apa yang saya lihat dengan ‘kehidupan’ serta semangat dan nyali melakukan apapun yang tidak pernah saya pikirkan dulu; kesempatan untuk enjoy small things.

Saya belajar banyak karena usai keluar dari rumah sakit, saya butuh waktu hampir 1 – 2 bulan hanya untuk berdiri di atas kaki saya dengan bantuan kruk (berdiri dan berjalan adalah ANUGERAH), masih latihan fisioterapi (berjalan, menggenggam, menulis, menggunakan anggota gerak tubuh saya), terus mengonsumsi obat – obatan dosis tinggi (sekali minum 10 – 15 tablet, ada yang besarnya seperti ½ jempol saya dan harus 3 x sehari, belum lagi ada suntikan – suntikan; pernah sakaw sekali kala obat dihentikan total 2 hari, rasanya mau mati saja, akhirnya diturunkan dosisnya perlahan *pheew). Saya masih ingat juga tekanan mental saya untuk kuat dipanggil ‘orang cacat’, ‘pincang’. Itu masa remaja saya. Saya baru 17 tahun lewat saat sakit. Pada usia 18, saya benar – benar merasakan tahun anugerah pertama saya untuk hidup. Itulah sebabnya, saya berjanji satu hari nanti, saya akan punya sebuah yayasan yang menyediakan fasilitas mobility service, mungkin menyangkut ketersediaan alat bantu jalan dan bergerak untuk orang – orang seperti saya, karena hingga saat ini, di samping tempat tidur saya masih ada tongkat jalan, karena kadang – kadang, seperti pagi ini, saya harus berjalan menggunakan tongkat untuk menopang tubuh saya, karena serangan nyeri yang muncul dan tak tertahankan.

Masa kuliah saya, saya baik – baik saja. Tak terlalu masalah, paling parah hanya maag yang sempat membuat saya tiarap menyerah dan ditolong beberapa teman saat makan di sebuah kantin kampus (terpaksa pulang dengan ojek atau taksi saat itu, dan meninggalkan motor di kampus). Juga hanya serangan angina pectoris yang kadang – kadang membuat saya terkaget bangun di kala tidur ataupun saat – saat tertentu karena jantung saya terasa sangat sakit dengan nyeri yang menyebar ke tangan bagian kiri. Syukurnya saat itu saya masih ‘berpacaran’ dengan mantan saya yang anak kedokteran itu jadi ya sering konsultasi gratis.*blessing in disguise, isn’t it? Mungkin tak ada sakit parah sekali karena saya bahagia dengan masa kuliah S1 yang benar – benar gila itu. Ternyata benar Firman Tuhan, “Hati yang gembira adalah obat yang sangat mujarab”. Sayangnya, selama masa kuliah adalah masa dimana saya jatuh cinta babak belur berulang kali, dikhianati terus – menerus. Saya melihat proses ini sebagai proses menjadi ‘dewasa’ dan menjadi seorang ‘perempuan’ HAHAHA. Walau saya harus akui, selama masa kuliah S1, itulah masa terberat secara psikologis, karena saya berulang kali berencana dan mencoba bunuh diri, depresi tingkat tinggi dan juga mania super gila. Bipolar saya sungguh gila. Saya bersyukur Yesus masih sayang saya sehingga saya tak sampai sukses bunuh diri.

Usai tamat kuliah, saya hanya mengoleksi dua penyakit yang membuat saya sempat down, hanya pada saat itu, saya sudah pada tahap “OK, this is my life. This is my body. Terima saja suda. Nikmati saja suda. Mo bagaimana lagi.” Saya ingat tahun 2008. Lagi – lagi urusan syaraf. Tapi kali ini syaraf gigi. Iya, saya sampai abses dan gusi saya bengkak dan bernanah, hanya bisa membuka mulut sedikit saja. Kerjaan saya bulak – balik dokter gigi. Dari Manokwari sampai Jakarta. Sewaktu di Jakarta, saat training, mo pikir patah hati ditinggal kawin mantan pacar ka mo tambah stress ngurusin gigi. Macam mo gila saja kalo tiap kunjungan 250 ribu melayang hanya untuk merawat gigi HAHAHA. Akhirnya karena sudah benar – benar muak dengan urusan gigi, saya memilih mencabut geraham belakang itu. Rasanya lebih sakit daripada kehilangan keperawanan HAHAHA. Iya, that’s true. I didn’t even cry or feel whatever hingga sekarang for ‘these thing’ tapi untuk gigi saya? Gosh, kalau dipikir – pikir, saya menyesal mencabutnya (apalagi melihat bagaimana gigi saya melawan dengan akarnya yang melengkung itu plus dokter yang harus menyuntikan bius dua kali dan bantuan suster yang terpaksa menekan dagu saya keras dan juga dokter dengan kekuatan sumo itu, akhirnya baru lepas HAHAHA).

Sakit gigi juga ternyata bersamaan dengan TB yang saya derita. Itu pun kata spesialis paru yang menangani saya sudah ‘old active’, sudah ada lama di paru saya cuma karena obat – obatan saya selama ini untuk arthritis rematoid saya kan jenisnya steroid semua jadinya menekan penyakit ini untuk berkembang biak. Walau saya akui efek nyatanya ya pada berat badan saya yang hanya 45 KG dari tahun 2002 – 2008 itu. Langsing banget. Plus juga suka demam tak jelas dan mudah lelah. Untungnya satu hal yang saya perlu catat tentang kebaikan Tuhan, saya tahu mengidap TB sebelum saya kuliah Master jadi bisa berobat.

Masa S2 saya di Australia saya isi dengan penyakit lama saya dan beberapa koleksi penyakit baru HAHAHA. Artritis saya masih ada bahkan bergabung dengan nyeri otot. Sempat masuk UGD dan tipe musim gugur saya pasti sakit berat dan memakai tongkat. Jangan tanya bagaimana nyerinya HAHAHA. Yang pasti, tiap serangan, yang sakit selalu berpindah, mau di lutut, sendi pinggul, tangan, ataupun bahu. Pokoknya sesuka hati. Saya jadi sadar saya makhluk tropis yang hanya cocok dengan 2 musim. Selain itu saya juga mendapat (lagi) infeksi dalam organ internal saya. Mungkin karena terlalu stress atau apalah, tapi kali ini sampai parah banget. Saya jadi khawatir kelak juga akan mempengaruhi kehamilan saya kalau saya menikah.

Di Australia pula, saya tahu saya punya gangguan pernafasan rongga hidung saya terkait sinus. Mungkin belum parah karena hanya terjadi saat dingin saja. Jadi hidung saya sangat gemar berdarah (jadi ingat pertama kali berdarah saat suhu drop dan gumpalan – gumpalan darah beku sebesar kacang yang menyumbat hidung; that’s my first bleeding experience, setelah itu ya menjadi biasa kehilangan darah saat musim gugur – dingin, kadang – kadang semasa spring masih juga mengalami hal yang sama). Apalagi sering diikuti dengan rasa sakit yang menjalar di wajah saya yang naik ke jidat. Yang sering menjengkelkan, biasanya sakit ini kompakan dengan arthritis HAHAHA *bisa ketawa karna su jarang jadi.

Saya juga mendapat Reflux Oseofagitis (GERD); sejenis sakit lambung dimana cairan asam lambung naik menuju tenggorokan dan mengganggu pernafasan. Iya, karena saat itu yang saya rasakan adalah panas menyengat di dada saya dan nyeri khususnya di bagian kanan dada. Hampir tak bisa bernafas dan membuat saya kesakitan terus. Tak ada cara lain selain ke dokter. Karna ada riwayat TB, saya tetap harus pergi ke Patologi memeriksa darah dan juga menjalani proses X-Ray 4 kali (di salah satu klinik X-ray terbesar di Canberra, iya ini pusat layanan X-ray Nasional). Tahu tidak, saya akhirnya jadi tahu perbedaan layanan dan juga menjalani berbagai prosedur X-ray dan mengoleksi ‘foto – foto’ paru – paru saya (belum lagi koleksi ‘foto’ gigi dan ‘tangan’ serta ‘sendi kaki’ semasa dulu HAHAHA *sudah kemana tuh foto – foto hitam itu). X-Ray dengan gambar dan layanan terbaik tentulah semasa di Australia, sangat cantik dan canggih plus layanan prima. Lalu di sebuah klinik canggih di daerah Kuningan Jakarta sana, yang tentu saja pasien – pasiennya kebanyakan ekspatriat itu, sekali X-Ray saja sudah 300 ribuan saat itu, belum termasuk tes Mantoux, LED dan lain – lain itu (lupa habis berapa juta bolak – balik sana dulu HAHAHA *demi kesehatan, apa sih yang tidak?). Mungkin 2 – 3 kali pernah X-Ray di sana. Trus juga 2 X-ray di Manokwari. Ini fotonya kabur skali, sering berpikir, dana Otsus banyak – banyak itu kenapa tak investasi untuk beli alat canggih ya?

Pulang dari Australia saya masih mengoleksi migraine. Ini penyakit baru tahun ini, sering kumat kalau saya lagi stress berat, saya juga tahu gejala serangannya, biasanya kalau pandangan mata saya mulai kabur atau ada gangguan visual seperti sedang berada dalam air, pasti 20 – 30 menit lagi kepala saya mulai sakit dan saya sangat sensitif pada cahaya dan bunyi. Jadi ya segera mengambil obat dan menutup diri dalam kamar gelap dan mencoba berpikir untuk relaks, ‘Take it easy, May’)

Tampaknya minggu depan saya sudah harus kembali lagi ke dokter, untuk mengecek nyeri dada saya. Apakah ini memang hanya saluran bronki saya yang bermasalah (kata dokter di Jakarta dan di OZ waktu melihat hasil X-Ray saya, ia memprediksi tentang masalah ‘bronki’ karena tampaknya ada perubahan fisiologis yang tampak; I collected my x-ray pics so, that’s it)? Atau memang ada masalah dengan jantung saya, atau hanya Reflux (GERD) saya, atau hanya masalah otot dada kiri? Ah mendingan saya menguatkan hati untuk tes EKG jantung saya walau resikonya memang ‘topless’ *yikes membayangkan petugas lelaki itu menempelkan kabel – kabel pengukur detak jantung di dada saya yang kosong. Owww NOOOO!!! (masih trauma dengan pengalaman dipijat oleh si tukang pijat ganteng di OZ demi terapi otot dulu ‘n I just wear nothing but undie HAHAHA)

Kesehatan memang mahal, itu yang saya tahu. Tapi saya bersyukur Yesus masih sangat sayang saya. Buktinya, saya belum mati – mati juga padahal saya punya banyak masalah dengan tubuh saya sejak kecil. Btw, jangan heran saya mengoleksi banyak penyakit dan menderita penyakit gado – gado sejak kecil. Alasannya pun baru saya ketahui saat di Australia. Saya punya masalah dengan sistem kekebalan tubuh saya, atau “SELF-IMMUNE DISEASE” alias penyakit yang timbul karena sistem kekebalan tubuh saya salah mempersepsikan mana yang musuh, mana yang bukan. Jadi kecenderungannya adalah sistem kekebalan tubuh saya sendiri atau salah satu komponen sel darah putih saya yang ‘membunuh’ beberapa jaringan tubuh saya yang sehat. Makanya tak heran saya suka mendapat lebam – lebam alias ‘darah mati’ di beberapa bagian tubuh tanpa ada alasan yang jelas. Minggu ini malah lumayan besar sebesar bola pingpong di bawah lutut kanan. Jadinya karena adanya ‘self-immuno disease’ dalam darah saya, saya menjadi semakin rentan pada penyakit lain yang masuk. Belum lagi semasa batita, saya tidak vaksin lengkap, ada tahapan yang dilewatkan orang tua saya. Tak heran, dalam keluarga saya, saya paling juara sakit parah. Tak heran mereka memproteksi saya *padahal di dalam tubuh penyakitan ini ada ‘tukang bajalan sungguh mati’. HAHAHA

Saya tak tahu sampai kapan tubuh saya mengkhianati saya. Tak tahu. Yang saya tahu, saya mau percaya dan bersukacita dan bersyukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup saya. Anggap saja ini memang jalan hidup saya untuk lahir dengan sistem kekebalan tubuh saya yang tak biasa ini. Lagipula, saya masih punya banyak mimpi di kepala saya, yang harus saya lakukan. Saya akan punya layanan mobility service untuk orang – orang seperti saya, khususnya anak – anak yang sakit. Kalau saya milyader, saya ingin punya rumah sakit anak, yang khusus hanya untuk anak lengkap dengan taman bermain dan perpustakaan serta taman. Memang ini hanya mimpi, tapi saya rindu satu hari nanti di tanah saya ada hal seperti ini. Saya rindu melihat anak – anak sakit itu tertawa. Ya, ini hanya satu mimpi kecil saya. Saya pemimpi, itu yang saya tahu.

Tampaknya saya sudah harus menutup catatan ini dengan satu pernyataan: GOD IS GOOD ALL THE TIME. Itu yang saya tahu. Itu saja.

(Manokwari, 221011; I did it, I kick my depression with Words of God)

1 comments:

Heart Diseases said...

Angina Pectoris and Types checkout here
Ischemic Heart Disease Details here
Symptoms of Left Heart Failure and Signs click here