Search This Blog

Loading...

Tuesday, 11 October 2011

Our Family Wedding

Sore ini aku baru saja selesai menonton sebuah film drama berjudul ‘Our family wedding’ yang dibintangi Forest Whitaker, America Ferrera dan pemain lainnya. Inti filmnya sebenarnya hanyalah pernikahan antara dua budaya yang penuh dengan pertentangan, salah paham budaya plus generalisasi dan stereotip. Tapi toh, pada akhirnya berakhir dengan bahagia saat kedua keluarga dari budaya yang berbeda sama – sama belajar untuk memahami. Ceritanya sih, ada sepasang anak muda, sebut saja si Marcus yang Afro-American yang ingin menikah dengan Lucia yang keturunan Meksiko. Film ini tentu saja direkomendasikan bagi pelajaran seperti ‘cross-culture understanding’.

Berangkat dari film itu, aku teringat pada perkataan sahabat baikku, Si Mimi kala bercerita tentang ucapan seorang seniornya di kantornya yang pernah menikah dengan pasangan yang beda budaya, “Kadang menikah dengan pasangan yang beda budaya dengan kita itu butuh banyak sabar dan pengertian yang tinggi, dan semuanya harus dimulai dari awal di dalam memahami budaya mereka.” Perkataan mereka dan juga melihat kembali ke dalam hidupku, aku melihat hal – hal yang serupa dengan yang kulihat di dalam film tadi.

Bagiku, pernikahan yang beda budaya memang sedikit rumit dan tentu saja membutuhkan banyak kesabaran dan pengertian serta keterbukaan yang sangat tinggi yang tentu saja tidak bebas masalah dan tantangan. Melihat ke dalam keluargaku sendiri yang lahir dari pernikahan beda budaya dan agama, aku cukup belajar banyak hal. Komunikasi dan tingkat kepercayaan yang buruk dan pemahaman lintas budaya yag kurang di awal – awal masa kecilku cukup membuat kedua orang tuaku hampir bercerai dua kali dan itu cukup traumatis bagiku. Apalagi pada masa itu, aku yang selalu menjadi penengah dan sejenis jembatan yang menjadi alasan mereka menikah. Aku belajar banyak hal.

Tetapi, aku belajar juga bahwa pada akhirnya Tuhan masih sayang pada keluarga kami dan dalam 5 tahun terakhir, hubungan bapa dan mama baik – baik saja, sudah jarang ada pertengkaran apalagi ucapan cerai seperti sewaktu masa remaja dulu. Aku melihat dengan kehadiran keponakan juga turut membentuk dinamika hidup kami.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya awal pernikahan kedua orang tuaku. Bapak yang asli Jawa – Sunda dan dibesarkan di komunitas Jawa di Abepura sana tetapi bermain juga dengan orang – orang Papua, bertemu dengan mama yang asli Arfak dengan keturunan Biak tetapi sejak bayi dibesarkan oleh pasangan Maluku (Seram – Saparua). Ditambah lagi mama lebih tua 7 tahun dari bapa dan sudah mempunyai seorang batita dari pernikahan sebelumnya. Mereka berdua tentu membutuhkan kesungguhan yang sangat dalam untuk bertahan dalam pernikahan hingga saat ini.

Menonton film drama tadi, aku merenung sejenak. Ah tampaknya pemahaman multibudaya sudah kami anut sejak lama di keluargaku, untuk belajar melihat bahwa perbedaan itu ada dan wajar serta harus dihargai. Hingga tamat SD, aku belajar untuk mengambil nilai – nilai yang kuanggap perlu dari tiap budaya yang mengalir di rumah kami, memilih bahasa yang kami mau, mengadopsi gaya hidup dan filosofi yang ingin kuterapkan dan tentu saja kepercayaan. Aku belajar banyak dari keluargaku.

Sewaktu kecil, aku tahu keluarga kami tak benar – benar mengadopsi satu elemen budaya tertentu. Kami tak benar – benar Papua, tak benar – benar Jawa, tak benar – benar Maluku. Bahkan tiap anggota keluarga mengadopsi gaya dan elemen yang mereka mau, tergantung bagaimana ‘nature’ dan ‘nurture’ mengasuh mereka.

Dalam diriku, aku sadar sekali dengan percampuran elemen budayaku. Tampang dan fisikku ‘right in the middle’ antara Jawa - Sunda – Biak - Arfak, sangat campuran Melayu – Melanesia. Aku bisa mengabsen mataku yang cokelat (I love when the lights shine on my eyes … coklat banget HAHAHA) dan bibir yang cenderung tipis khas milik Bapak, satu – satunya dalam keluargaku yang bermata coklat dan berbibir tipis ya hanya aku. Hidungku dan tampilan fisik lainnya (including my height n boobs HAHAHA) sangat khas suku Meyah, Arfak dari keluarga mama. Tetapi rahangku cenderung mirip dengan papa. Jadi berat badanku sangat berpengaruh pada tampilan wajahku. Bandingkan dengan kedua adikku, Si Nyongke dan Noke yang hidungnya benar- benar khas Sunda seperti milik bapak dan nenek (when I was a kid, I do jealous for this HAHAHA). Belum lagi tinggi mereka yang ikut bapak (more than >160 cm tentu saja hehehe). Apalagi kalau melihat bulu mata dan jari – jemari mereka yang lentik – lentik itu, serasa iri beneran HAHAHA. Belum lagi rambut mereka yang cenderung berombak. Untungnya, Tuhan juga rada adil lah …. Yang otaknya paling ‘brilliant’ yang tentu saja aku WKKWKKWKKW.

Wah bicara urusan fisik memang hal yang wajar dari hasil ‘persilangan’ dua etnis. Kalau filosofi hidup sih, kami beda – beda di rumah. Aku sudah jelas gaya ngomong dan ‘bagaya-nya’ sangat mirip seperti opa – oma Maluku-ku. Bahkan percaya tidak percaya, tampangku tuh kalau gemuk seperti sekarang, mukaku persis sama dengan tampang Oma Mia yang orang Saparua itu, makanya aku kerap disalah sangka sebagai orang Maluku (kalau tidak ya orang Maumere, NTT, orang Biak atau orang Serui). Filosofiku sejak kecil malah lebih cenderung sangat Jawa, sampai – sampai seorang sahabatku yang asli Jawa tapi karena bapaknya sejak kecil diadopsi orang Papua (sifatnya malah sangat Papua) sering protes padaku, “May, jang talalu ‘tempe’ ka … ko nih cuma tampang yang macam Papua, tapi kelakuan talalu Jawa. Melawan sedikit kenapa sih? Jang talalu ‘lombo’ dan mengalah trus, apalagi simpan2 barang, skali2 fight back macam ko pu sodara2 tooo. Ko pu komen kemana ka?”. Iyalah, ia yang suka membelaku dan pernah ‘melabrak’ mantan pacarku si Lelaki Hujan di tempat umum saking jengkelnya.

Gaya hidupku dan mind-set-ku malah lebih Anglo-Saxon, ini jauh sebelum aku pergi ke Australia. Sangat individualistis, kata teman – teman lamaku dulu. Bahkan dulu sempat dibilang ‘sangat egois’ dan ‘ambisius’ kala kuliah dulu. Iya, bagiku ini pengaruh dari bacaan – bacaanku sejak kecil. Alam bawah sadarku secara tak sengaja mengadopsi hal itu, dan semakin menjadi sejak pulang dari OZ. Tak heran, dari jaman pacaran dengan kekasihku yang pertama hingga sekarang, tak ada seorangpun yang benar – benar bisa mengerti diriku, bahkan selalu bingung dan menyebutku aneh, apalagi kala bicara tentang impian. HAHAHA. Mungkin kemandirianku membuat mereka takut karena aku benci bergantung pada orang lain.

Anyway, pembicaraanku kayaknya mulai melantur kemana – mana. Tapi aku bersyukur dengan tabrakan budaya dalam diriku. Membuatku menjadi manusia yang sangat kaya.

Kelak kala kubertemu lelaki yang akan menjadi pasangan hidupku kelak, aku hanya ingin bilang, “Thanx su mo mengerti sa.” Dan kembali lagi perkataan di film ‘Our Family Wedding’ bergema, “What you need in a marriage is trust and commitment’” dan aku harus menambahkan lagi satu hal, ‘Understanding’.

Terima kasih Bapa, Yesus, dan Roh Kudus untuk hidupku. Itu saja.

(Manokwari, 111011, usai hujan sore)

0 comments: