Masih ingat novel pertama Harry potter yang judulnya “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone”, yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama? Kalau anda masih ingat, dalam sebuah adegan filmnya, kala itu Harry Potter dihadapkan pada sebuah cermin dimana ia bisa melihat impian ataupun harapannya dan dipaksa oleh Voldemort yang ‘tatempel’ di tubuh seorang guru Harry untuk melihat pantulan pantulan batu itu dalam cermin. Dalam potongan adegan itu, kita melihat bagaimana Harry melihat bayangannya mencomot sebuah batu berwarna merah dari dalam sakunya dan dipercaya mempunyai kekuatan ajaib. Nah catatan kali ini juga membahas tentang fenomena seperti ini, tentang benda padat sejenis batu ataupun katakan saja ‘mutiara’ yang dipercaya dalam konsep pemahaman tradisional mempunyai manfaat dan ‘kekuatan’ tertentu. Tapi tentu saja ini bukan tentang sihir, mistis ataupun seperti dalam cerita karangan J.K. Rowling itu. Tapi hanyalah sebuah catatan yang bertolak dari sebuah kunjungan ke rumah sahabat saya dua minggu lalu.
Dua minggu lalu, saat berkunjung ke rumah seorang sahabat sejak kecil di Fanindi ST, Manokwari. Saya mendapat sebuah cerita yang cukup menarik tentang sebuah benda yang berasal dari hewan ataupun tanaman; mutiara. Mutiara yang saya bahas ini tentu saja bukanlah mutiara yang dari kerang laut sejenis Pinctada Sp itu, tetapi lebih pada konsep ‘Mustika’ atau benda ‘keramat’ ataupun ‘batu bertuah’ ibarat dalam novel Harry Potter yang diperoleh dari hewan atau tumbuhan tertentu atau kadang dari fenomena alam lainnya. Saat itu, ibu teman saya yang sebut saja Mama Betty Rumayomi bercerita tentang seorang lelaki yang datang berkunjung ke rumahnya dan menawarkan ‘mutiara kelapa’ yang masih tercantel pada sebatok kelapa yang dibelah plus sebuah mutiara lainnya yang telah lepas. Pembicaraan kami pun berkembang hingga merembet pada mutiara – mutiara lainnya dan menjadi titik tolak terbentuknya catatan ini.
Catatan ini hanya berusaha memotret pendapat dan pengalaman beberapa orang Manokwari yang pernah bersentuhan, mengoleksi ataupun mendengar kisah tentang jenis benda ini. Pada catatan ini, saya tak lagi membahas pengertian mutiara, mustika ataupun batu bertuah lagi. Asumsi saya, anda setidaknya mengetahui garis besarnya sebagai ‘benda padat’ yang dipercayai mempunyai manfaat atau kekuatan tertentu yang mendatangkan hal tertentu bagi pemilik atau pemakainya. Kisah ini boleh dipercaya, boleh tidak karena merupakan pilihan tiap individu. Hanya saya ingin mengutip perkataan yang saya dapatkan kala mengingat kembali bukaan tulisan Jan Knappert dalam bukunya “Pacific Mythology: An Encyclopedia of Myth dan Legend” (Aquarian/Thorson 1992) yang saya beli semasa kuliah di ANU: “As soon as a scholar (we) begins his research, it is like excavating a palace full of treasures. The language, the folktales, proverbs, songs, myths, and legends of every single people in the Pacific is well-worth studying, collecting, and publishing.” Dan bagi saya sebagai seorang mantan ‘scholar’ (HAHAHA mode:ON) proses belajar dan mendokumentasikan hal seperti ini ibarat sebuah proses belajar kembali pada ‘root’ atau akar budaya saya sebagai ‘perempuan (setengah) Papua dan dapat dibagikan kelak pada para keponakan saya. Anggap saja sebagai proses ‘learning’ atau pembelajaran karena toh mengutip kata temannya Jan Knappert, “Learning is like an ocean without beaches.”
Guna mendapatkan catatan jenis – jenis mutiara ataupun mustika ataupun batu bertuah ini, saya mengandalkan sejumlah metode sederhana pencarian informasi berupa wawancara dan metode pencarian data pengembangan informasi dengan mengandalkan ‘peer –respond’. Jadi, satu informan kunci akan mengarahkan pada informan lain selain pengambilan sampel random khususnya di kalangan orang Papua asli ataupun non-Papua yang besar di tanah ini. Pencarian responden dilakukan secara langsung dengan melemparkan ‘kata kunci’ dan pertanyaan dasar (open-question) seperti, “Pernah dengar tentang benda X? Bila responden menjawab ‘pernah’, maka pertanyaan pun dikembangkan dalam obrolan kasual dengan mengeksplorasi pertanyaan berjenis 5WH dan ramifikasinya beserta dengan ‘analisa sikap’ responden tentang benda X. Toh ini bukan sebuah analisa ilmiah tetapi hanya sebuah tulisan ber-genre popular yang ditulis dalam gaya naratif deskriptif.
Akhirnya, Selamat berkelana dalam kisah “Orang Manokwari dan Batu Bertuah: bukan kisah Harry Potter and the Sorcerer’s stone” ^_^ Berikut rangkuman goresan pena saya:
JENIS – JENIS MUTIARA
Singkatnya, adapun hasil ‘buruan’ informasi saya dapat disimpulkan di bagian berikut:
Mutiara Kelapa
Benda berwarna putih susu dan keras ‘seperti batu’ dengan bentuk sama persis dengan ‘tombong’ kelapa kecil alias bakal tanaman (lembaga) ini konon ditemukan pada lokasi terpancangnya tombong. Bentuknya tentu saja tidak bulat utuh tetapi dengan bentuk sedikit lonjong di bagian pangkal. Menurut penuturan Mama Betty Rumayomi (50an tahun) di rumahnya, seorang lelaki Buton datang menawarkan dua butir mutiara itu dua minggu yang lalu. Ia berkata bahwa kelapa – kelapa itu dibelinya dari pulau Numfoor untuk usaha ‘parutan kelapa’. Saat ia membelah kelapa itu, ternyata bukan tombong yang berada di dalamnya, tetapi sebuah ‘batu putih’ keras yang dipercaya sebagai mutiara kelapa. Ia mendapatkan dua buah dan berinisiatif menjualnya karena tak tahu mau diapakan dan tak tahu juga fungsi sesungguhnya. Tak jelas bagaimana ia memilih rumah Mama Bet, tapi yang pasti ia berniat menjualnya seharga Rp. 150, 000. Sayangnya, saat itu Mama Bet sedang tak punya uang sehingga menyarankan pada lelaki itu untuk menjual pada orang lain.
Lain lagi kisah Mama Fenny Doirebo (30an tahun), seorang sepupu mama Betty yang kebetulan datang berkunjung di saat kunjungan saya. Mama Fenny berujar kalau ia pernah melihat sebutir mutiara kelapa yang dibawa kerabatnya yang lain, sebut saja ‘oom Sepi’. Kata mama Fen, konon umumnya mutiara kelapa berasal dari buah – buah kelapa yang berasal dari pulau Wundi di kabupaten Biak Numfoor sana, yang saat hanyut terbawa ke beberapa bagian pulau Biak dan ada pula yang nyasar ke Numfoor. Tetapi ia juga menambahkan bahwa ada pula yang ditemukan dari buah kelapa asal pulau Numfoor. Terlepas dari mana asalnya, perdagangan buah kelapa di Manokwari umumnya memang berasal dari pulau Numfoor.
Selain mama Betty dan Mama Fenny, saya juga mendapat konfirmasi dari beberapa teman dan kenalan tentang mutiara jenis ini. Marlon Huwae (28 tahun) bercerita bahwa pada tahun 2002 sewaktu ia masih berkuliah di Uncen Jayapura, ia ditawarkan mutiara kelapa berwarna putih susu sebesar kelereng. Saat itu mutiara tersebut dijual seharga Rp. 30.000 tapi ia enggan membelinya karena tak tahu fungsinya. Setali tiga uang pula dengan Oki Sahetapy (20an tahun) yang dihubungi via layanan pesan pendek. Ia juga membenarkan tentang fenomena penjualan mutiara kelapa ini. Sekitar tahun 2004 atau 2005, kala ia berada di depan rumahnya di daerah Wosi, seorang ibu asli Papua (asumsinya orang Biak atau Serui) menawarkan 3 butir mutiara kelapa yang diletakan dalam sebuah kotak korek api dengan harga jual Rp. 25.000,-/butir. Tapi saat itu ia bertutur bahwa karena ia juga masih awam dengan hal seperti ini apalagi baru lulus SMA dan memilih tak membelinya karena tak tahu fungsinya. Apalagi menurutnya, menurut cerita yang didengarnya, biasanya kalau memang ‘berjodoh’ dengan benda seperti ini, kita harus menemukannya sendiri dan bukan dengan membelinya.
Hal ini tentu saja sedikit berbeda dengan sikap keluarga teman saya, Shella Ariks. Ibunya memilih membeli sebutir mutiara kelapa berwarna putih susu sebesar telur cicak dari seorang Papua di tahun 2006. Hanya karena faktor ‘unik’nya. Harganya sekitar Rp. 200.000an saat itu. Mutiara ini kemudian dijadikan hiasan cincin dan dihadiahkan untuk neneknya di Surabaya.
Kisah mutiara kelapa ini rupanya diamini juga oleh beberapa teman yang berhasil saya ‘tangkap’ untuk diwawancara. Seorang teman lama semasa kuliah dulu di Unipa, sebut saja Falen Baransano (27 tahun) berkisah bahwa pada tahun 2009, seorang kerabatnya dari pulau Numfoor datang padanya dan membawa sepasang mutiara kelapa berwarna putih susu dan besarnya tak lebih besar dari sebutir kelereng. Kerabatnya ini sedang butuh uang dan bertanya padanya tentang pasaran. “Kira – kira barang ini tong bisa jual di mana eee. Ko tahu pasarannya ka trada eee.?” Seperti itulah pertanyaan kerabatnya. Sayangnya, saat itu Falen memang tak tahu pasaran benda ini.
Pengetahuan tentang eksistensi benda ini rupanya tak hanya pada kalangan mereka yang melihat atau ditawari tetapi juga pada mereka yang pernah mendengar ceritanya. Sebut saja tuturan Ibu Novi Taroreh (akhir 30an tahun), senior saya yang tumbuh besar di Manokwari. Ia pernah mendengar kisah tentang mutiara seperti ini tetapi tak begitu jelas. Bahkan rekan kerja saya yang lain, Denny Sianturi (30 tahun) berujar bahwa sewaktu ia tinggal di Bekasi, sekitar tahun 1996, ia pernah diceritakan kisah ini. Namun, saat itu ia tidak terlalu ‘mengerti’ konsep mutiara ini.
Mutiara Mambruk
Kesepahaman tentang mutiara kelapa rupanya banyak diamini beberapa teman. Lain lagi dengan cerita tentang mutiara yang satu ini. Mutiara mambruk dipercaya sebagai batu atau permata bernilai tinggi yang ditemukan pada saat seekor burung Mambruk disembelih. Konon, batu ini biasanya ditemukan di dalam tembolok atau organ pencernaan burung yang dilabel ‘crowned pigeon’ ini. Lewat perbincangan dengan beberapa orang, dipercaya ukuran mutiara Mambruk bervariasi, mulai dari sebesar kelereng ukuran besar hingga sebesar telur ayam kampung. Warnanya biru tua seperti warna langit. Harga jualnya pun bervariasi namun umumnya di atas 1 juta rupiah.
Seorang mama lain, yang enggan menyebutkan namanya, sebut saja FDW (30an tahun) yang tinggal di Reremi bahkan berkisah kalau ia memiliki mutiara ini. Beberapa tahun lalu, saat ia berjalan di pasar Sanggeng Manokwari, seorang perempuan Papua mengikutinya dan menawarkan mutiara itu. Katanya, “anak, bantu mama beli mama dong pu barang nih ka, sa butuh uang jadi.” Saat itu, ia ditawari mutiara seharga Rp. 500, 000. Tawar menawar pun terjadi, dan saat itu rupanya mama Fen berhasil mendapatkan mutiara itu seharga Rp. 100, 000,- karena kebetulan ia hanya mempunyai uang segitu.
Lain lagi cerita Mama Ondi (50an tahun) yang tinggal di Wosi saat saya berkunjung ke rumahnya, mama yang berprofesi sebagai guru SD ini berkisah tentang kejadian 2 tahun lalu di luar pagar sekolah SD yang diajarnya. Saat itu, ia dan beberapa rekan gurunya ditawarkan seorang perempuan dari Bintuni untuk membeli sebuah batu atau ‘permata’ yang dikatakan berasal dari burung Mambruk. Saat itu, perempuan tersebut menawarkan batu bulat berwarna biru tua berkilap seperti batu berharga sebesar telur ayam kampung seharga 3 juta rupiah. Namun, tak seorang pun dari rekan mama Ondy dan juga mama Ondy yang membelinya. Bukan hanya karena faktor harga yang lumayan besar, tetapi juga pertanyaan yang menggantung di benak mama Ondy, “Anak, nan tong beli barang itu juga, tong tra tahu de pu fungsi untuk apa juga jadi mama pilih tra beli.”
Mama Ondy yang dibesarkan di Serui ini berkisah bahwa semasa kecilnya di Serui sana, beberapa saudara dan kerabat lelakinya suka memasang jerat di hutan guna menangkap burung Mambruk. Saat itu, ia hanya sering mendengar ucapan orang – orang tua, “kalo su tangkap dan bunuh Mambruk tuh, bela baik – baik eee, jang sampe ada de pu ‘batu’ di dalam de badan eee.” Namun, saat itu tak mengerti apa maksud perkataan itu.
Mutiara Cenderawasih
Konon, selain mutiara kelapa dan mutiara Mambruk, ada pula yang namanya Mutiara Cenderawasih. Informasi ini didapatkan dari mama Fen Doirebo namun sangat terbatas. Konon, diperoleh dengan cara yang sama dengan burung Mambruk, yaitu dalam organ cernanya. Mutiara dari burung ini dipercaya berwarna cokelat tua. Namun dalam perkembangan wawancara dengan beberapa teman dan kenalan, mutiara jenis ini masih belum dapat ditelusuri baik dari segi persinggungan mereka, manfaat ataupun pengalaman empiris dengan benda ini. Jadi, dapat dikatakan saya belum mendapatkan titik terang tentang benda ini.
Mutiara Kasuari
Selain mutiara – mutiara yang sudah dibahas di atas, konon masih ada lagi yang disebut mutiara cenderawasih. Konon, mutiara ini berwarna mirip dengan mutiara Mambruk dan berwarna Biru Tua dengan ukuran relatif seperti telur ayam. Seorang kenalan lama, Zakeus Duwiri (27 tahun) yang tinggal di Fanindi Maskeri berkisah bahwa sekitar tahun 2010 kala sedang berbelanja di pasar tingkat Manokwari, ia diikuti oleh seorang lelaki Papua beretnis Biak. Ia menawarkan mutiara berwarna biru langit yang diakunya berasal dari Kasuari. Mutiara ini berdiameter kecil dan dijual dengan harga Rp. 50.000,- dengan alasan membutuhkan uang. Karena merasa kasihan, Zakeus membelinya walau ia tak tahu fungsinya. “Jadi ya sa simpan saja, kaka,” ujarnya.
Hal senada pun diungkapkan seorang dosen Unipa berinisial YN yang saya temui di ruang kerjanya. Pak YN bertutur bahwa ia memiliki jenis mutiara ini. Mutiara yang berwarna biru langit ini diperolehnya tahun 2008 saat sedang berada di depan toko Tengah Manokwari. Saat itu, ia sedang menunggu istrinya belanja. Tiba – tiba datanglah seorang lelaki Papua yang menawarkan batu tersebut seharga beberapa ratus ribu. Usai tawar menawar yang alot plus mendapat beberapa keterangan tentang fungsi mutiara atau batu ini serta rasa ketertarikan dengan benda unik ini akhirnya mutiara sebesar kelereng ini resmi berpindah tangan dengan harga jual Rp.200.000,-. Namun, pak YN berkisah bahwa ia merasa sedikit aneh karena penjualnya menghilang dengan cepat saat transaksi baru saja selesai dan ia merasa aneh mengapa penjual tersebut hanya menawarkan pada dirinya saat itu.
‘Batu’ Buaya
Pak YN yang telah memiliki mutiara Kasuari ternyata juga masih punya pengalaman unik lainnya yang mirip. Pada tahun 2009, di tempat yang sama dengan transaksi sebelumnya, datanglah seorang Papua lain yang juga memilihnya dan menawarkan sebuah batu sebesar telur puyuh berwarna biru laut bercampur abu – abu. Kata penjual, “ini batu buaya yang diambil dari dalam tubuh buaya”. Saat itu, batu ini pun berpindah kepemilikan seharga Rp. 250.000, usai pak YN mendapat penjelasan tentang fungsi batu ini. Bagaimana batu ini bekerja dan manfaat apa saja yang ternyata didapatkan oleh pak YN dan keluarga, akan saya bahas di bagian”Fungsi dan manfaat”. Yang pasti, menurut penjualnya, batu buaya dan juga mutiara kasuari yang dibeli pak YN tak boleh dalam keadaan kering tetapi harus direndam dalam cairan, misalnya minyak kelapa asli, minyak gosok cap tawon ataupun dalam air. Itulah sebabnya, kedua benda ini direndam pak YN dalam minyak kelapa asli.
‘Batu’ belut
Selain, mutiara – mutiara yang disebutkan di atas, masih ada jenis mutiara lain tetapi lebih dianggap sebagai ‘batu’ dibanding mutiara. Emanuel Tuturop (23 tahun) berkisah bahwa saudara laki- lakinya pernah mendapatkan sejenis batu dari dalam tubuh seekor belut. Kejadian itu terjadi pada tahun 2010 silam. Saat itu, saudaranya dan beberapa teman pergi survey di kawasan hutan kampung Sipatnanam, Distrik Fak – fak Barat. Waktu itu, saat belut tersebut ditangkap dan hendak ‘dieksekusi’ untuk dimakan, sangat sulit membunuh belut tersebut. Saat kepalanya di’toki’, terasa sangat keras. “Parang saja tra ‘makan’, kaka, “ tutur Manu; panggilan akrab Emanuel. Usut punya usur, ternyata, di dalamnya ada sebuah batu berwarna putih yang mengkilap bila terkena cahaya. Sayangnya, karena saudaranya tak tahu apa fungsi dari batu itu, jadi hanya diletakan di sembarang tempat di rumah. “Sekarang su tra tau batu itu ada di mana jadi su hilang juga,” tambahnya sebelum menutup percakapan kami.
Mutiara Bambu
Seorang senior di unit kerja saya yang juga dosen Fakultas Sastra UNIPA, Ibu Novie Taroreh pun menambahkan cerita yang lain. Ibu yang asli Sulawesi Utara ini berkisah bahwa ia memang tak tahu jenis mutiara yang berasal dari burung - burung di Papua, tetapi di daerah asalnya di Sulawesi Utara sana, mereka juga mempunyai sejenis ‘mutiara’ yang berasal dari tanaman. Tetapi disebut dengan nama ‘mestika’; yaitu sejenis batu ‘mulia’ yang berada di dalam tubuh tanaman atau makhluk hidup dan dipercaya membawa rezeki tertentu pada pemiliknya. Ia bercerita tentang ‘Mestika Buluh’ yang biasanya didapatkan di dalam batang bambu tertentu. Jadi, konsepnya sedikit unik, sama seperti yang terdapat pada buah kelapa. Jadi, bila anda beruntung meskipun hal ini sangat langka terjadi, akan anda temukan sebutir batu berbentuk rapi, kadang bulat dan lonjong yang terdapat di dalam rongga bambu. Meskipun demikian, Ibu Novie tidak merinci warna dan harga jual ‘mutiara bambu’ ini. Tetapi senior saya ini berjanji merujukku pada seorang kenalan jauhnya yang ternyata adalah ‘kolektor mestika’. “Nan sa kas kenal ko eee, ada di sa pu Facebook, sa cari de dulu eee. Jadi kan kalo ko tertarik, ko bisa wawancara,” kata ibu Novie di akhir percakapan kami.
Mutiara Naga
Teman saya yang lain lagi punya cerita yang berbeda. Ani Malawat (26 tahun) bertutur bahwa seorang oom-nya mempunyai sebuah ‘mutiara’ berwarna putih sebesar bola pingpong yang didapuk sebagai ‘mutiara naga’. Bentuknya seperti batu giok. Yang ia tahu, oom-nya harus menebus mutiara itu jutaan rupiah. Konon, kata Ani, mutiara itu membawa rezeki dalam keluarga oom-nya. Tak heran mutiara ini disimpan dengan baik di dalam sebuah kantong serut kain agar permukaannya tak cacat tergores.
Mutiara ‘hijau – hitam’
Ada lagi ‘mutiara’ jenis lain yang beredar. Marlon Huwae (28 tahun) dan Olivia Waren (27 tahun) berkisah bahwa di tahun ini, mereka pernah ditawari sejenis mutiara saat berbelanja di pasar Sanggeng Manokwari. Mutiara yang ditawarkan berwarna hijau – hitam. Kala itu, dua lelaki Papua mengikuti mereka dan menawarkan benda ini. Katanya, ‘tolong beli tong pu mutiara ini ka, Tong mo pulang ke Biak tapi trada uang jadi’. Saat itu kedua teman saya ini berinisiatif untuk memberi bantuan uang sekedarnya karena mungkin memang kedua orang tersebut membutuhkan tetapi kedua teman saya ini menolak membawa benda tersebut.
Batu Guntur
Kisah tentang batu jenis ini didapatkan pak YN (yang telah dibahas sebelumnya) kala ia melakukan penelitian di sebuah kawasan di Wasior, kabupaten Teluk Wondama beberapa tahun lalu, tepatnya di kampung Sendrawoi. Saat itu ia didatangi seseorang yang menawarkan batu yang diakuinya diambil dari tebangan pohon kelapa yang kena petir dan hangus. Konon, batu berwarna hitam dan berbentuk runcing ini tertancap di dalam batang kelapa. Kala saya menanyakan apakah batu ini sejenis pecahan meteorit ataupun benda angkasa, pak YN tak tahu pasti. Tapi yang pasti, saat itu pak YN tak membelinya.
FUNGSI SOSIAL ‘MUTIARA’
Dari hasil wawancara singkat saya dengan beberapa narasumber yang membagikan kisah mereka, konon mereka percaya bahwa mutiara ini merupakan sebuah benda yang berharga. Mama Fenny sempat mengutip perkataan seorang mama lain (Mama Hegemur) bahwa mutiara yang didapatkan dari tanaman ataupun hewan di Papua adalah benda yang lumayan langka. Hal ini karena tak semua buah kelapa, burung Mambruk, Cenderawasih dan juga Kasuari memilikinya. Mereka percaya bahwa Mutiara dari burung endemik ini biasanya hanya menyebar di kalangan orang Papua sendiri dan merupakan harta keluarga yang dijaga karena konon mendatangkan rezeki bagi yang memilikinya. Mama Fen bahkan sempat berujar bahwa sejak ia memiliki mutiara mambruk, ia memang tidak berlimpah rezeki atau mendadak kaya, tapi setidaknya ia tak pernah kekurangan uang dari dalam dompet. Selalu saja ada uang walau hanya 50 – 100 ribu Rupiah. Beberapa dari mama ini pun berujar bahwa ini adalah mutiara yang ditujukan untuk orang Papua sehingga sayang saja bila dijual ke luar Papua karena bagaimanapun burung – burung tersebut khas Papua.
Sedangkan menurut Ibu Novie Taroreh, sepengetahuan dia, umumnya mutiara (mestika)ini disimpan sebagai pusaka ataupun dikoleksi dan kadang - kadang mendapat perlakuan khusus karena dipercaya membawa rezeki. Hal senada juga disampaikan oleh pak YN, walau kisahnya ini lebih pada pengalaman pribadi keluarganya dan bukan dalam bentuk ‘professional comment’ karena tentu saja membutuhkan kajian lebih dalam. Pak YN bertutur bahwa saat ia membeli dua buah ‘batu’ (buaya dan kasuari), penjual yang berbeda itu berkisah bahwa batu itu membawa rezeki, kesehatan dan juga hal – hal baik lainnya, dengan syarat harus direndam dalam cairan. Hal ini rupanya dipraktekkan oleh pak YN. Minyak rendaman kemudian dipakai untuk berbagai manfaat misalnya untuk minyak gosok bila terkilir, sakit ataupun kebutuhan penyembuhan lainnya.
Pak YN menambahkan sebuah kisah tambahan yang cukup menarik. Putranya yang masih SD dan juga atlet Tae Kwon Do dan juga mengetahui kisah batu ini sejak memakai minyak gosok sebelum latihan dan kompetisi merasakan manfaat yang cukup besar. Dalam tahun ini, baik dalam pertandingan di tingkat regional, maupun di Kejurnas di Jakarta, ia berhasil menyabet juara I dan II pada tingkat kelas yang berbeda. Apakah hal ini hanya merupakan sugesti seperti efek placebo ataupun bukan, pilihan anda untuk mempercayainya ditambah butuh kajian mendalam tentang hal ini.
Kisah pak YN dan pendapat lainnya ini pada satu sisi mengingatkan saya pada konsep keping kaca pembias untuk air RO (Biodisc) dan Kristal berharga jutaan rupiah temuan seorang ilmuwan Jerman yang diperdagangkan sebuah jejaring penjualan di Manokwari yang didapuk mengubah energi sebuah benda khususnya cairan menjadi lebih berenergi. Pada satu sisi, mungkin saya juga harus mengusut rumus si opa Albert Einstein tentang hukum kekekalan energi bahwa “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, tetapi dapat dipindahkan”. Pertanyaannya, apakah hal perpindahan energi yang merujuk pada konsep kekekalan energi ini juga termanifestasi dan bekerja dengan cara yang sama pada ‘mutiara’ atau ‘batu bertuah’ terhadap manusia pemiliknya? Hanya sedikit penasaran melihat fakta bahwa tubuh manusia bagaimanapun terdiri atas banyak subtansi dan juga adanya ion – ion positif dan negatif belum lagi ditambah dengan medan magnet bumi di sekitar kita, apalagi bila dikaitkan dengan pemakaian benda – benda ini (dalam cairan, hiasan tubuh), saya hanya penasaran dengan konsep perpindahan energi. Ini hanya asumsi asal – asalan saya karena saya tak begitu tahu. Bagaimanapun membutuhkan sebuah kajian ilmiah mendalam pada konsep ‘mutiara’ dan ‘batu bertuah’ seperti ini (ini urusan orang sains khususnya fisika hehehe). Meskipun demikian, pertanyaan ini menjadi layak untuk dipikirkan bersama. Anggap saja ini pertanyaan dari seseorang yang mempunyai rasa ingin tahu sangat besar seperti saya plus cenderung skeptis.
Ditilik dari fungsi dan kepercayaan serta harga jual mutiara – mutiara ini memang beragam. Menurut seorang teman yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas di Amban, sebut saja pak YR (35 tahun), faktor harga dan fungsi sosial mutiara jenis ini berkaitan juga dengan prestise atau gengsi yang disandang oleh pemiliknya plus faktor kelangkaannya di alam. Tetapi semuanya berpulang pada bagaimana sebuah komunitas atau individu ‘menilai’ sesuatu itu. Jadi lebih pada pilihan pribadi untuk menganut konsep nilai tertentu terkait ‘mutiara’ jenis ini. Toh dari bincang – bincang dengan beberapa teman saya dan juga pemikiran pribadi. Ada beberapa hal yang mengganjal bagi saya hingga kini dan saya bahas pada bagian ‘kesimpulan’ dalam catatan ini.
USUT – ASAL MUTIARA
Menurut orang – orang yang pernah bersentuhan, memiliki ataupun mengetahui kisah mutiara ini, mereka percaya bahwa mutiara atau sebut saja batu bertuah dalam tubuh hewan dan tanaman ini mungkin berasal dari makanan ataupun asupan makanan hewan maupun tumbuhan tersebut. Untuk mutiara yang berasal dari burung, mereka percaya bahwa mungkin saat mencari makanan di tanah, ada mineral ataupun batu – batuan tertentu yang ditelan dan membentuk kristalisasi dalam organ pencernaan burung – burung tersebut. Tiba – tiba ada pertanyaan yang berkelebat di dalam pikiran saya, “Apa mungkin proses kristalisasi mineral seperti pada kasus ‘batu ginjal’ di dalam tubuh manusia bisa juga terjadi pada hewan?” Ah saya jadi penasaran *mata berbinar – binar dan radar ‘ingin tahu’ 100 % aktif ^_^
Kata para ‘ahli’ …
Guna membunuh rasa penasaran saya, saya putuskan mencari beberapa narasumber tambahan lainnya di luar pendapat beberapa narasumber yang saya catat di atas. Saya tak menghakimi pendapat narasumber awam saya karena bagaimanapun itu merupakan pengalaman empiris dan kepercayaan mereka. Namun, saya juga ingin tahu bagaimana sih pendapat dan ‘pengetahuan’ dari para ‘ahli’ yang berkenaan dengan asal – usul benda ini khususnya yang berada pada tanaman dan juga pada burung endemik Papua. Jadi, saya memutuskan bertanya pada beberapa dosen UNIPA yang dapat saya temui, baik dosen jurusan kehutanan maupun biologi. Rangkumannya saya catat sebagai berikut:
Menurut seorang teman dosen Fakultas Kehutanan berinisial YR (35 tahun), ia memang pernah mendengar tentang kisah mutiara kelapa, sewaktu masih bersekolah di sebuah SMA di Garut Jawa Barat, hampir 20an tahun silam. Yang ia tahu, mutiara jenis ini bila dijual sangat mahal dan biasanya disimpan sebagai koleksi pribadi.Tetapi kala saya bertanya bila melihat fenomena ini dari kajian ilmiah, ia berusaha untuk menjawabnya dengan sebuah asumsi. Walau ia sendiri bilang, “masih butuh pembuktian dan penelian mendalam juga, May. Anggap saja ini pendapat pribadi saya dan bukan ‘my professional comment’ ya.” Ia berasumsi bahwa ada dua hal yang dapat menjadi faktor terbentuknya lapisan keras dalam lembaga buah kelapa sebagai cikal bakal tanaman kelapa baru. Pertama, karena faktor Lignin dan kedua karena adanya mineral tertentu.
Secara singkat, Lignin adalah salah satu zat kimia dalam kayu (selain empat unsur lainnya seperti selulosa, hemi selulosa) dan bertugas membuat sifat kayu menjadi lentur dan kuat. Jadi setahunya, tingkat konsentrasi lignin dalam tanaman kelapa memang lumayan tinggi karena melihat respon pohon kelapa yang bisa meliuk tertiup angin, jadi menandakan kelenturan pohon ini . Mineral adalah faktor kedua yang dibahas pak YR ini. Katanya, Mineral memang salah satu unsur kimia kayu namun hanyalah unsur terkecil dari empat unsur lainnya dan umumnya berfungsi sebagai katalis. Namun untuk unsur ini, teman saya ini menambahkan bahwa faktor konsentrasi, jenis mineral dan jenis kelapa juga sangat menentukan proses terbentuknya ‘mutiara’ ini, termasuk melihat bagaimana ‘bonita’ (lokasi tumbuh sebuah tumbuhan) dari pohon kelapa tersebut. Bila dilihat lebih jauh, bisa dikatakan bahwa terbentuknya ‘mutiara’ di dalam tanaman ini bisa dikategorikan sebagai ‘disfungsi fisiologis’. Namun YR menambahkan, untuk jelasnya bagaimana terbentuknya dan juga perihal lainnya, ia masih belum tahu. Terkait dengan hal itu, saya sempat berpikir, tampaknya dari beberapa narasumber yang saya wawancara, saya melihat sebuah garis merah tentang asal ‘mutiara kelapa’ yang umumnya berasal dari pulau Numfoor atau dari kabupaten Biak Numfoor. Saya jadi berpikir sendiri, apa memang ada unsur tertentu dalam tanah di daerah ini yang bisa mempengaruhi terbentuknya lapisan keras dalam lembaga buah kelapa? *pemikiran asal.
Mendapat penjelasan teman saya ini, iseng – iseng saya bertanya, “dari hasil kumpul pendapat saya selama ini, kok hanya pada kelapa dan bambu ya ada ‘mutiara’ ini. Kayaknya saya belum mendapat informasi tentang mutiara dari tanaman berkayu seperti katakan saya ‘pohon matoa’. Apa karena faktor lignin ya? Kan dua – duanya kayu-nya lentur tapi kuat?”. Pak YR menambahkan sebuah kisah yang cukup menarik untuk disimak, “Mungkin juga May,karena sampai sekarang memang masih ada perdebatan antara para ahli kehutanan tentang kelapa apalagi bambu.” Ada yang berpendapat bahwa kedua tanaman itu bukan masuk kategori ‘kayu’ karena susunan anatomi fisiologi yang berbeda dengan jenis kayu lainnya.” Namun, seperti kata teman saya, “butuh penelitian mendalam, May guna membuktikan faktor konsentrasi Lignin ataupun mineral ini. Biasanya, malah berujung pada hal berbau mistis yang tidak bisa dijelaskan karena keterbatasan pengujian.” *perlu masuk acara Myth Buster nih hehehe.
Itu pendapat dari teman saya yang menamatkan Masternya di Belanda tentang mutiara dari tanaman. Tak puas dengan penjelasannya, saya putuskan mencari keterangan tambahan dari kenalan di jurusan biologi. Siang itu saya disambut pak YN, seorang dosen Biologi yang mendalami urusan tumbuhan. Menurutnya, pada beberapa tumbuhan tertentu memang mempunyai mekanisme pembentukan zat padat yang keras bila mendapat perlakuan tertentu benda asing (bandingkan dengan mekanisme kerang Pinctada Margaritafera Sp menghasilkan lapisan mutiara pada intervensi pasir di tubuhnya - red). Misalnya pada tanaman Damar (Agathis Sp) yang menghasilkan resin dari getahnya kala mendapat iritasi kulit (baca: disayat). Sekedar informasi, Resin adalah sejenis pengerasan getah damar yang keras dan padat serta dipakai hingga masa kini sebagai pengganti lilin di beberapa daerah pedalaman di Papua. Biasanya proses pemakaiannya dengan meletakannya sebagai pengganti sumbu pada wadah berisi minyak kelapa dan dibakar. Pada dunia modern, umumnya digunakan dalam bahan baku industri aromaterapi.
Meskipun demikian, tutur pak YN, dalam kasus mutiara kelapa ataupun bambu, bisa diasumsikan sebagai sebuah bentuk ‘kelainan genetis’ organisme tersebut. Namun bagaimana hal ini terjadi ataupun seberapa besar kelainan ini, dibutuhkan penelitian mendalam yang sayangnya belum ada di tanah Papua saat ini, karena dekatnya kaitan kehadiran benda ini dengan kepercayaan masyarakat (folk religion) terkait hal mistik.
Saya juga masih tetap penasaran dalam mencari jawaban atas pertanyaan ‘kristalisasi’ pada tubuh hewan, jadi saya putuskan sekali lagi bertemu dengan seorang kenalan saya yang mendalami tentang hewan. Dosen biologi yang menamatkan Masternya di IPB ini, sebut saya AY (32 tahun) bercerita sedikit tentang beberapa jenis burung yang ditengarai menyimpan ‘mutiara’ dalam organ cernanya. Sepengetahuan ibu YN, lewat literatur Biologi yang dibacanya, bangsa burung (Aves) mempunyai sebuah pola hidup yang berbeda di dalam meningkatkan daya cerna mereka. Aves umumnya akan menelan beberapa batuan kecil tergantung pada besaran paruh dan tubuhnya guna membantu proses pencernaannya. Katakan saja batu- batuan yang ditelan itu membantu menjadi semacam ‘grinder’ atau ‘mesin giling’ yang membantu penghalusan makanan. Perlu diingat, hewan semacam cenderawasih umumnya memang mengonsumsi biji – bijian dan bukan buah – buahan, sehingga batuan – batuan kecil ini sangat dibutuhkan di dalam temboloknya. Hal yang sama pun dialami oleh burung Mambruk yang lebih banyak mencari makanan di permukaan tanah sehingga kemungkinan menelan batu – batuan kecil pun terjadi.
Meskipun demikian, saat saya bertanya tentang perbedaan warna yang ditengarai terdapat pada batu – batuan yang diperoleh dalam tubuh – tubuh hewan ini, ibu AY mencoba memberi gambaran kemungkinan. Bagaimanapun, kata ibu AY, faktor jenis makanan, nutrisi dan habitat dari burung tersebut sangat berpengaruh. Belum lagi ditambah dengan jenis batuan apa yang ditelan burung tersebut sebagai ‘grinder’ di dalam organ pencernaan mereka. Meskipun demikian, saat saya bertanya tentang kemungkinan adanya proses endapan mineral, batuan ataupun kristalisasi, ibu AY tidak dapat memastikan. “Kan belum ada kajian ilmiah tentang itu, May. Jadi sa juga tra bisa bikin asumsi apa – apa untuk barang ini. Apalagi sa baru dengar juga tentang barang ini. Tapi yang sa tahu, kristalisasi ‘batu ginjal’ kan pada organ ekskresi manusia, sedangkan yang ko bilang pada burung ini cenderung pada organ cerna-nya too. Tapi semuanya sekali lagi butuh kajian mendalam.”
KOMENTAR PRIBADI
Akhirnya catatan ini harus segera saya akhiri juga. Tapi ada beberapa pertanyaan dan komentar saya yang masih mengganjal dalam benak saya. Saya mencoba untuk menuliskannya, walau saya tahu, sekali lagi, ini semua dilandasi oleh rasa ingin tahu saya yang sangat besar (seperti biasa, sampai – sampai kadang saya dijuluki ‘miss Google’ oleh salah seorang sahabat saya).
#1. Adakah konsensus bersama misalnya dari dewan adat atau petinggi budaya yang membuat standarisasi harga dari jenis – jenis mutiara seperti ini? Ataukah harga jual diserahkan pada mekanisme pasar, sehingga harga menjadi beragam dan tampaknya ‘suka – suka’?
#2. Adakah sebuah tempat atau komunitas untuk melakukan pengujian tentang asli tidaknya jenis mutiara atau batu bertuah seperti ini sehingga melindungi dari upaya penipuan pada konsumen yang memang berminat membeli atau mengoleksi benda – benda unik seperti ini? Siapa yang memberikan otorisasi penuh tentang siapa yang ‘berhak’ menentukan bahwa benda X itu asli atau palsu?
#3. Dengan modus operandi penjualan di tempat jual tradisional dan dengan target konsumen yang umumnya warga asli Papua dan keterbatasan informasi tentang ‘komoditas’ seperti ini, apakah tidak adanya kemungkinan upaya penjualan ini di’sabotase’ untuk kepentingan lain semisal penipuan? Apalagi bukan rahasia umum kalau masyarakat asli Papua paling gampang terbit ‘kasih’nya bila diminta membantu kesusahan orang lain, sehingga bila tak ada mekanisme penyebaran informasi dan ‘lembaga perlindungan konsumen’ untuk hal seperti ini, dikhawatirkan ada pihak – pihak tertentu yang memanfaatkan kebaikan hati konsumen.
#4. Sebuah pikiran sempat berkelebat dalam pikiran saya terkait relasi temuan benda dalam hewan tertentu khususnya burung endemik Papua dan faktor ekonomi dan bagaimana hubungan reprositas antara dua hal ini. Saat mencoba berlogika dalam menilik tentang ‘cara penemuan’ benda – benda ajaib itu dalam tubuh hewan khususnya burung endemik Papua. Saya melihat sebuah kenyataan yang cukup membuat saya menahan napas. Bukankah mutiara ini biasanya ditemukan dalam organ cerna (tembolok) yang notabene adalah organ viseral dari aves, dari aves yang telah dibunuh? Saya pun langsung berpikiran tentang teknik penjualan burung endemik Papua di kota saya. Kalau tidak dalam keadaan hidup, biasanya dalam bentuk yang sudah diawetkan. Penasaran dengan proses pengawetan, saya pun mengonfirmasikannya pada ibu AY (dosen biologi Unipa) terkait proses pengawetan burung kuning dan burung lainnya. Ibu AY membenarkan bahwa dalam proses pengawetan Cenderawasih dan burung lainnya, semua organ viseral harus dikeluarkan dari tubuh karena komoditas yang diperlukan hanyalah bagian luar hewan tersebut.
Saya jadi sedikit berimajinasi, apakah dengan ditemukannya benda – benda asing di dalam tanaman dan tumbuhan khususnya pada unggas khas Papua dengan nilai jual yang sangat tinggi seperti saat ini, apakah hal ini pada satu sisi tidak berpengaruh pada kelangsungan hidup burung - burung endemik yang dilindungi ini di tanah Papua? Maksud saya menimbulkan sebuah mekanisme pasar dimana kecenderungan pemburu untuk meningkatkan kuantitas buruan burung endemik Papua karena keuntungan ganda yang akan didapatkan; burung awetan plus kemungkinan mendapatkan ‘batu berharga’. Mungkin ini sejenis teori ‘konspirasi’ atau apalah, namun saya masih mengingat pengalaman serupa dalam hal lain, bagaimana reaksi masyarakat yang terkena euforia ‘Keris Papua’ beberapa tahun silam di Manokwari yang hingga satu pot bunga ini dilabel Rp. 50 – 75 juta rupiah di ruas jalan protokol Manokwari dan ternyata bukan merupakan bunga hasil pembibitan tetapi rambahan spesimen hutan dari hutan alam.
Meskipun demikian, semoga hal yang saya pikirkan dalam melihat jalinan kemungkinan relasi antara temuan batu berharga dalam organ viseral burung endemik ini dengan peningkatan pemburuan dan pengawetan burung hanyalah hipotesa semu saya dan bukannya realita. Karena sangat sayang bila burung – burung cantik ini harus mati sia – sia diburu demi batu bernilai mahal di dalam tubuh mereka yang mungkin khasiatnya sangat relatif pada tiap orang.
KESIMPULAN
Jadi, pada akhirnya, bila ditanya tentang kesimpulan dari catatan ini, terlepas apakah fenomena batu bertuah ini dan juga ramifikasi ekonomi dan kemungkinan – kemungkinan peran sosial budayanya, toh semuanya berpulang pada anda untuk mempercayainya. ‘Mutiara’: kelainan genetis, disfungsi fisiologis ataupun ‘benda bertuah’ konventor energi? Hanya anda yang bisa menentukannya sendiri. Seperti kata pepatah bahasa Inggris, “beauty is in the eyes of its beholder(s)”. Satu yang pasti, di tempat saya bernama Manokwari, fenomena benda ini memang ada dan menjadi sebuah ‘kepercayaan lokal’ yang layak bersaing dengan kisah Harry Potter & the Sorcerer’s Stone.
(Manokwari, 11 – 17 Oktober 201; Terima kasih untuk semua narasumber dalam tulisan ini)
0 comments:
Post a Comment