Hari aku bangun sangat kesiangan; jam 1 siang. Padahal aku sudah tidur dari jam 1 pagi. Usai mengetik semalam, usai semua prosesi dan ritual harian. Walau kuakui beberapa hari ini kesehatanku drop kembali. Bukan lagi nyeri di dadaku tetapi penyakit lamaku yang kembali menyapa; nyeri otot dan artritisku. Aku curiga ini ada hubungannya juga dengan fibromyalgia. Terasa nyeri dobol – dobol. Rasanya kadang ingin menangis pada Tuhan dan bertanya kenapa aku bisa punya ‘auto-immune disease’ seperti ini sejak umur 10 tahun. Jadi secara umum, sudah 18 tahun aku harus hidup dengan rasa sakit dan nyeri yang menggigit ini. Tak heran, tongkat jalanku dan pil – pil analgesik dan anti-inflamasi terus kuminum. Bila tidak, saat tidur bahkan saat bergerak dan menggeser bagian tubuhku rasanya semua saraf mengirimkan rasa sakit. Sakit gigi tak ada apa – apanya, saudara – saudara.
Dalam tidur 12 jamku itu, aku bertemu dia lagi; lelaki dalam mimpiku. Mungkin ini reaksi alam bawah sadarku bila aku sangat kesakitan dan menjadi mekanisme pertahanan tubuh untuk menghilangkan rasa sakit. Dia muncul lagi. Lelaki yang selalu membuatku merasa nyaman. Entah siapa dia, dalam mimpiku tadi malam. Kali ini, aku bisa melihatnya dengan jelas, kami berbicara bahkan aku tahu namanya. Inisialnya F. Iya, bahkan dalam settingan mimpi ini kami adalah sepasang kekasih. Aku ingat potongan adegan mimpiku dengan jelas. Sepertinya aku sedang berada di Australia berbicara dengan seorang sahabat cewek. Iya, di Australia (ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini aku bermimpi sedang berada di Canberra, Australia. Di rumah lamaku di sana). Saat itu, yang kutahu, aku harus pergi berlibur sementara ke lelaki ini. Hanya kunjungan singkat.
Aku ingat dalam mimpi itu, aku datang ke kotanya dan ia sedang sibuk memasukan barang ke shed apartemennya yang luas dan bersih. Lelaki ini tentu saja bukan lelaki Kaukasian. Yang kulihat, ia seperti diriku, lelaki Papua pernakan dengan tubuh yang tegap dan kekar seperti dua mantan pacarku terdahulu (Abel dan Lelaki Hujan). Kami berbincang, bekerja memasukan barang – barang ke shed, make love, tertawa dan bahagia. Aku seperti telah lama mengenalnya. Sangat mengenalnya. Tak bisa lupa pandangan matanya yang sangat menenangkan itu. Sayangnya, tiba- tiba ia harus keluar shed dan pergi ke bagian lain gedung dan datanglah beberapa orang dengan anak kecil yang hendak memakai shed dan kami beradu mulut dan aku bahkan tak bisa mencari lelaki ini. Ia seperti menghilang.
Aku mengingat bagaimana rasa marahku menggelegak. Marah besar. Mencarinya di seputaran gedung. Tak ketemu jadi akhirnya aku menuju ruangan beberapa teman pekerja LSM di apartemen untuk bergabung dan muncullah ia dan seorang perempuan lain yang sedang berdiri di sampingnya, menatapnya. Bahkan di dalam mimpiku, aku tahu aku sedang marah dan cemburu. Entahlah, rasa yang aneh yang tak pernah muncul di dalam mimpiku. Aku cemburu. Aneh kan? Bahkan dalam hubunganku yang nyata saja aku jarang sekali merasakan cemburu. Rasa yang benar – benar aneh.
Lelaki itu menatapku dengan pandangan bertanya dan menantiku bicara. Tapi yang kutahu aku hanya memandangnya, menuju dirinya dan menamparnya. Dan kuteriakkan kata ‘tong dua Putus’. Gosh, bahkan dalam keadaan nyata, aku tak pernah bisa melakukan hal seperti ini. Aku mengingat jelas aku berlari keluar, ke parkiran dan menangis. Ia mengejarku ingin menjelaskan, tapi tak kuacuhkan dan ia memandangku dengan pandangan sedih. Tiba – tiba aku merasa sangat kehilangan lelaki ini. Sangat kehilangan. Tiba – tiba merasa sangat mencintainya.
Sialnya ….aku terbangun dari mimpi yang sangat aneh ini. Sangat aneh. Tanpa ada kesimpulan. Tapi setidaknya aku melihat wajah dan matanya yang indah itu. Ada pandangan ‘sa sayang ko’ di dalam mata itu. Tak tahu kapan lagi bertemu lelaki ini dalam mimpiku HAHAHA
Mungkin benar lagi depresi dengan nyeri yang mendera beberapa hari jadinya alam bawah sadar menciptakan mekanisme ‘anti-stress’. Ya semoga!
(Manokwari, 291011)
0 comments:
Post a Comment