Manajemen sampah yang parah di kota Manokwari ternyata banyak memunculkan kreativitas warga kota Manokwari. Salah satunya dalam menampilkan kejemuan mereka dengan perilaku sesama warga yang makin tak peduli dengan urusan ‘buang sampah’. Berikut ini beberapa gambar larangan ‘buang sampah’ di beberapa sudut kota Manokwari yang sempat membuat saya geleng – geleng Manokwari. Btw, ini mungkin hanya terjadi di kota Manokwari saja. Yang pasti, saya terus ketawa saat berburu gambar – gambar ini minggu lalu. Hajar aaaaahhh!!!
Gambar 1
Larangan ini termasuk yang sangat standar dan terdapat di Pantai Yenbebai, Pasir Putih. Ya seperti biasa, sikapnya sangat standar. Sayangnya, kenapa juga harus dipakukan ke pohon – pohon tua peneduh di pantai ini ya? *menerawang.
Gambar 2
Larangan yang terdapat di dinding pagar Toko Manokwari jalan Jendral Sudirman ini tentu saja dengan jelas mengindikasikan bahwa got itu bukan tempat sampah tapi saluran air. Mau bagaimana lagi, karena kadang ada saja yang masih nekat membuang sampah mereka ke dalam saluran air di bagian belakang toko. Parah!
Gambar 3
Wah larangan di depan kamar mayat kompleks RSUD Manokwari ini tak hanya larangan standar tapi juga sudah mulai memaki dengan mengasosiasikan pembuang sampah tak bertanggung jawab dengan seekor anjing. Mungkin karena anjing itu hewan yang gemar ‘kincing sambarang’ kapa HAHAHA. Tapi satu yang pasti, lihat pilihan kata ‘EDAN’ dan besarnya huruf yang dicat di dinding seng. Ancaman banget HAHAHA.
Gambar 4
Larangan di belakang tembok pagar SD YPK Kota ini jelas saja sudah memaki orang yang buang sampah di belakang tembok. Tapi jangan salah, karena banyak juga pelintas kendaraan (misalnya saya) yang hendak membuat jalan pintas dari arah Jalan Merdeka menuju daerah Korem, maka kami juga terimbas dengan pandangan makian di sebelah kiri. Mungkin yang menulis sudah pada tahap ‘jengkel emosi sungguh mati’ kali ya? *mikir
Gambar 5
Kalau ini, saya dapatkan kala lari sore menuruni jalan di Manggoapi, tepatnya di bawah rimbun batang pohon Matoa dekat turunan Paparisa Beta alias Bukit Doa sana. Larangannya pun ditulis sederhana dengan menggunakan antara arang kayu ataupun spidol. Eittts, hati – hati, ada satu makian yang sangat khas Papua ataupun Indonesia Timur. Entahlah mengapa juga kata ‘Pan** Lo****’ itu bisa gagah bertengger di larangan ini. Entahlah. Saya juga tak tahu. Yang saya tahu, saya malah ‘ketawa bokar – bokar’ saat pertama kali membacanya HAHAHA.
Gambar 6
Ini ancaman, saudara – saudara. Letaknya di turunan Weidema Amban Pantai,dari arah Amban terletak di sebelah kanan. Isinya jelas, “Dilarang buang sampah di tempat ini. Apabila ketahuan, mati tempat”. Larangan buang sampah versi papan ini jelas sekali dibuat dengan segenap hati karena papannya saja elit dan besar plus perhatikan juga tulisan “MATI TEMPAT”nya itu yang diukir. Mungkin kalau ada cat warna merah, mungkin sudah diukir seperti tetesan darah *analisa asal. Bukannya apa, ini kan salah satu tempat ‘angker’di kawasan ini dan beberapa kali menjadi tempat tabrakan maut ataupun jadi tempat ‘buang mayat’ beberapa pembunuhan. Ya semoga saja yang nanti ‘gedap’ buang sampah bukanlah penghuni dunia lain yang kadang mencakung di dekat tempat ini…… hiiiii*merinding.
Gambar 7
Ini mungkin versi larangan buang sampah yang suka bikin saya ketawa kalau melintasinya. Bagaimana tidak, letaknya di belakang tembok SD YPK Kota, berdampingan dengan gambar larangan nomor 4. Yang buat saya ketawa adalah gambar parang yang mirip parang ‘Salawaku’ yang mengapit ancaman buang sampah itu dan juga gambar tengkorak. Coba perhatikan baik – baik ancamannya, ada sumpah – sumpahnya segala plus petinggi pejabat lokal HAHAHA. Dangerous banget!!!
Jadi, kesimpulannya? Ya orang Manokwari ternyata sangat kreatif dalam mengekspresikan pendapat mereka walaupun kadang memakai ancaman. Mau bagaimana lagi, kesadaran buang sampah dan juga manajemen sampah di kota ini memang sangat parah. Padahal sewaktu saya masih SMP, kota ini bersih banget. Semoga di masa mendatang kala manajemen sampah sudah baik, larangan yang aneh – aneh ini sudah tak ada lagi. Kan sayang kalau sampah kena ‘sumpah’ “Z Potong Ko” hanya gara – gara sekantong sampah popok HAHAHAHA.
(Manokwari, 17 – 24 Oktober 2011; terima kasih untuk semua narasumber informasi)
0 comments:
Post a Comment