Search This Blog

Loading...

Saturday, 29 October 2011

Kisah Pasar Sanggeng bagian 1


Pasar tradisional mungkin menjadi salah satu tempat favorit saya bila berkunjung ke sebuah kota, termasuk di kota saya. Walau harus saya akui akhir – akhir ini saya bukan pengunjung tetap pasar. Namun pengalaman kemarin sore kala pergi berbelanja membuat saya tersentil untuk menulis tentang beberapa kisah kecil komoditas, pengalaman pribadi dan hubungan etnisitas penjual dan komoditas mereka di pasar yang saya kunjungi. Kali ini yang menjadi sasaran saya adalah pasar Sanggeng. Catatan saya ini tentu saja hanyalah catatan pribadi dan pengamatan saya mungkin tidak akurat karena bukanlah sebuah penelitian ilmiah HEHEHE,

Saya menikmati kunjungan saya sore hari ke pasar Sanggeng kemarin sore karena hamparan dagangan khususnya ‘barito’ (bawang, rica, tomat) di sela – sela sayuran hijau benar – benar seperti kembang musim semi karena umumnya diletakkan tertata dalam bentuk tumpukan rapi di atas permukaan tanah. Berikut ini saya coba menampilkan apa yang saya temukan kemarin sore.

Hajar aaaaaaaaahhhhhh!!!

#Pinang (Areca catechu), Sirih(Piper betle, Linn), Kapur
Komoditas ini kadang disebut juga KPS (kapur pinang sirih) ataupun ‘obat kumur mulut’ di kalangan beberapa anak muda Manokwari. Untuk jenis dagangan ini, khususnya yang kering dan dijual kiloan, umumnya dijajakan oleh para pedagang asal Buton atau Sulawesi Tenggara. Ini asal tebak dari logat bicara mereka dan penampakan fisiognomi mereka.

Untuk buah pinang segar, pedagang suku ini pun menjadi pedagang mayoritas di pasar ini. Walaupun saya juga mendapatkan beberapa pedagang asli Papua khususnya dari suku – suku pesisir (orang pantai). Namun, bila dibandingkan jumlahnya secara kasar, dapat dikatakan bahwa di pasar Sanggeng, penjual pinang dan sirih dominan dijajakan oleh pedagang non-papua. Iseng – iseng saya bertanya pada seorang penjual, rupanya penjaja pinang ini merupakan pengepul pinang atau pedagang pengumpul dari pemilik – pemilik pohon bahkan ada yang mendatangkannya dari Wasior.

Untuk kapur makan pinang (Inggris: Lime) masih didominasi oleh para pedagang asli Papua. Harganya pun lebih murah dibandingkan sirih dan pinang. Kapur sebotol air mineral ukuran kecil hanya dijual seharga Rp.5.000,-

Ada satu hal yang cukup membuat saya miris karena umumnya penjual sirih dan buah pinang segar jongkok sambil menjajakan langsung dagangannya di atas sehelai karung tepat bersebelahan dengan kubangan lumpur dan jalur pejalan kaki yang becek itu ataupun hilir mudik kendaraan bermotor di dalam areal pasar. Dibandingkan dengan penjual yang lain, jualan pedagang ini sangat rentan terkena cipratan lumpur, bahkan di hari hujan (berdasarkan pengalaman beberapa minggu lalu kala mencari pinang untuk acara ibadah). Entahlah apa yang saya pikirkan tadi sore, tapi saya trenyuh melihat situasi ini.

#Sayur Daun Labu dan buah labu
Hari ini dan juga berdasarkan pengamatan bertahun – tahun, umumnya dagangan sayur daun labu ini hanya dijajakan oleh penjual perempuan suku besar Arfak. Sore ini saya amati volume jualan sayuran ini lumayan banyak karena lebih dari 4 penjual menjualnya dalam tumpukan besar. Penasaran rasanya? Seingat saya rasanya lunak dan terasa sedikit berbulu kala ditelan. Lumayan enak bila dimasak bening maupun disantan. Jujur, saya sudah jarang mengonsumsinya karena alasan pribadi.

Alasan ini memang sedikit sentimental, dan bukan sebuah kebenaran kolektif tentu saja. Saya ingat betul semasa melakukan penelitian skripsi S1 saya dulu di Masni dan tinggal dengan keluarga saudara laki – lakinya nenek saya dari suku ini, hampir 1 minggu lebih saya hanya makan sayur ini dari makan siang hingga makan malam. Iya, tiap hari. Jadinya bila melihat sayur ini di pasar, saya langsung membayangkan kenangan makan sayur ini semasa penelitian dulu. Itulah sebabnya saya jarang mengonsumsi daun labu.

#Sayur Garnisun (daun pepaya dan daun Petatas)
Ini mungkin salah satu sayuran khas Manokwari yang umumnya didatangkan dari kampung – kampung Pantai Utara kota ini. Umumnya dijual oleh mama – mama suku besar Arfak walaupun ada juga yang dijual oleh mama - mama Papua lainnya. Saya kurang tahu mengapa disebut sayur ‘garnisun’. Apa memang ini dulu makanannya pasukan Garnizon (satu divisi tentara)? Saya tak tahu. Yang saya tahu, sayur ini setiap sore pasti ada di kota saya sejak kecil. Paling nikmat bila diiris halus dan ditumis pedis kering. Apalagi dimakan dengan ‘aske’ alias makanan hasil kebun seperti keladi, petatas dan pisang.

#Sayur Lilin
Sayur jenis ini lumayan mahal, karena seikat kecilnya berkisar dari Rp. 5.000 – 10.000 tergantung pasokan. Sayur Lilin sebenarnya adalah inti batang sejenis ilalang yang tumbuh di bantaran kali. Usai dikupas dari selubungnya, paling lezat dimasak dengan cara disantan dan dicampur cacahan ikan asar. Kadang kala, dapat juga dibakar dan dimakan dengan sambal tomat. Biasanya yang menjualnya di pasar Sanggeng adalah mama – mama suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) ataupun juga mama – mama suku besar Arfak.

Tentang sayur ini sendiri, saya cukup mengenal sayuran ini karena pengalaman semasa kecil bila diajak orang tua dan kerabat jauh pergi ke kebun di pantai Utara sana dan harus berjalan melewati hutan, lintas aliran kali Pami. Pasti kami akan memanen sayur ini di dekat sungai dengan cara menebas batang – batang tanaman itu dan mengambil pangkal batangnya yang gembung itu dan berisikan serbuk kuning. Saya lupa itu kejadian tahun berapa karena terjadi pada masa kecil saya beberapa belas tahun lalu.

#Sayur Terong, Kacang Panjang dan Sawi
Ketiga jenis sayur ini di pasar Sanggeng dijual oleh para mama asli suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat). Umumnya mereka membudidayakan ketiga jenis sayur ini secara baik. Tampilan sayurnya cukup cantik dan terawat karena setahu saya, khususnya untuk penjual sayur dari daerah Amban, biasanya tanaman mereka disemprot pestisida dan dipupuk sehingga subur. Jangan heran, harga ketiga sayur ini tidak pernah turun dari harga Rp. 5.000,-

#Taoge (kecambah)
Di pasar Sanggeng, kecambah dari kacang hijau ataupun kadang – kadang dari kedelai umumnya dijual oleh mama- mama Papua asli suku pantai (Biak atau Serui). Saat ini dijual setumpuk Rp.5000,-. Tentu saja sedikit mahal karena mereka harus membeli kacang hijau yang harganya tak lagi murah. Setahu saya, biasanya untuk mendapatkan taoge yang baik, biasanya kacang hijau direndam dengan daun pisang kering, entah bagaimana caranya. Semasa kecil, selalu saja ada penjual taoge yang tinggal di Padarni yang selalu datang meminta daun pisang kering dari halaman rumah kami untuk proses pembuatan taoge. Itu setahu saya ^_^

#Jamur Kayu (Lentinula edodes)
Untuk jamur, biasanya yang dijual di pasar adalah jamur kayu yang tumbuh antara lain di bandar ataupun batang pohon kayu Spuit (Spathodea campanulata/Tulip Afrika) yang sudah membusuk (berdasarkan pengalaman empiris memanen jamur ini semasa kecil di hutan dekat Fanindi). Biasanya dijual oleh mama – mama asli suku besar Arfak. Umumnya jamur ini dijual seharga Rp. 3.000,- per tumpuk. Bila harus memilih, saya lebih suka memilih membeli yang masih kecil ataupun kuntumnya belum besar karena lebih lunak bila dimasak. Jamur ini sangat lezat dijadikan berbagai olahan antara lain ditumis dan suwiran ikan asar. Rasanya? Yang pasti sangat khas jamur dan lezat. Bahkan saya pernah menjadikannya bahan isian dadar sayuran.

#Rebung
Tunas muda pohon bambu atau dalam bahasa Inggris disebut ‘Bamboo Sprout’ juga enak dijadikan bahan masakan ataupun isian kue seperti lumpia dan pastel. Sayuran ini biasanya dijual dalam berbagai bentuk. PERTAMA, dijual dalam bentuk irisan tipis berbentuk lingkaran ataupun setengah lingkaran, baik yang sudah direbus maupun belum direbus. Ini cara yang paling umum. Biasanya dijual seharga Rp.3.000,-. KEDUA, dijual dalam bentuk penggalan sepanjang 15 Cm dan direbus. Biasanya merupakan jenis Rebung Cina. Harganya setahu saya lebih mahal sedikit dibanding cara pertama. KETIGA, kadang dijual dalam bentuk pokok rebung alias anakan bambu muda. Sayangnya, saya belum tahu harga pasaran saat ini karena sore tadi saya tidak melihatnya.

#Kelapa Parut
Di pasar Sanggeng, umumnya penjual kelapa parut didominasi oleh pedagang asal Buton. Kelapa yang dijual harganya bergantung pada besarnya kelapa. Biasanya dari Rp. 3000 – 5.000,-. Umumnya buah kelapa didatangkan dari pulau Numfoor. Namun, dari hasil pembicaraan dengan beberapa kenalan beberapa waktu silam (terkait catatan saya yang lain: Orang Manokwari dan Batu Bertuah), tampaknya ada penurunan pengiriman kelapa ke Manokwari terkait ‘Mutiara Kelapa’ (ini sebelum tulisan saya dibuat). Saat ini memang masih ada kelapa yang didatangkan dari pulau tersebut, tetapi juga didatangkan dari pulau –pulau dan pesisir sekitar Manokwari.

Tentang penjual kelapa parut ini, selain menjual kelapa parut. Mereka juga menjual batok kelapa untuk dijadikan arang bakar ikan. Saya kurang tahu harga pasaran saat ini, tapi dulu saya pernah membelinya Rp. 10.000, sekarung penuh. Selain arang tempurung, ada lagi satu hal menarik yaitu tentang ‘tombong’ kelapa alias bakal buah yang kerap berada di dalam buah kelapa. Biasanya, penjual kelapa parut menampungnya karena diminta oleh orang – orang yang memelihara ternak babi. Namun, beberapa minggu lalu, karena ingin sekali menyantap tombong, saya pun mengutus teman lelaki saya ke tempat parutan kelapa. Rupanya bila ingin mencari tombong yang segar, maka kami harus memesannya agar dikumpulkan dan dicarikan yang bagus. Jadinya, keesokan harinya pun saya hanya mendapatkan sekitar 3 biji tombong. Gratis pula. Awalnya si penjual tombong keheranan dan terus bertanya kala teman saya mengutarakan maksud saya dan menyodorkan uang untuk tombong pesanan kami, tapi toh akhirnya mengiyakan permintaan kami tanpa banyak tanya. Resepnya? Gampang saja. Pesan saya pada teman lelaki saya, “Ade, ko bilang saja ada ko pu kaka perem lagi hamil. Ngidam ka ini. De tra akan banyak tanya.”. Padahal nih cuma mati makan tombong usai bertahun – tahun HAHAHA

#Keladi, Petatas, Kasbi dan Pisang
Umumnya didapatkan dari penjual dari kampung – kampung dari Pantai Utara Manokwari. Biasanya dijajakan oleh mama – mama asli suku besar Arfak. Setahu saya, dari pantauan belanja bapak saya hari ini, setumpuk keladi masih Rp. 10.000,- Begitu juga dengan kasbi dan petatas. Bahkan kata bapak, bila menjelang senja, harganya bisa sedikit miring karena ada mama – mama yang hendak pulang ke rumah mereka di luar kota dan tak mau dibebani dengan membawa pulang dagangan.

Hasil kebun mungkin salah satu bahan pangan yang selalu kami pantau harganya karena pengaruh mama saya yang sudah hampir setahun tak lagi mengonsumsi nasi. Tak heran, tiap hari pasti ada saja sepiring keladi rebus ataupun pisang rebus yang terhidang di atas meja. Petatas sangat jarang kami konsumsi karena kedua orang tua dan juga saya punya masalah dengan lambung jadi makanan bergas cukup kami hindari.

Tampaknya catatan pengamatan saya hari ini harus saya akhiri dulu. Masih ada beberapa item dagangan yang perlu saya tulis esok hari seperti sayur kangkung, ganemo, daun kasbi, sayur paku, dan item lainnya. Tentu saja usai ‘ekspedisi pasar’ saya berikutnya.

Anyway, ada satu pesan lingkungan yang bisa saya bagikan terkait dengan komoditas sayuran dan pangan lokal adalah dengan lebih banyak mengonsumsi pangan lokal maka kita telah secara tidak langsung menyelamatkan lingkungan. Alasannya? Karena kita memutus rantai produksi, penggunaan penyubur tanah sintetik dan transportasi yang panjang dalam pemasaran produk tersebut dan juga mengurangi jejak karbon. Ambil contoh, bila lebih banyak mengonsumsi produk pangan luar daerah seperti sayur Kol dan wortel dari Manado, hitung saja berapa kali sayuran itu diangkut berganti moda transportasi, pembungkus kemasannya, air pencucinya dan lain – lain. Artinya semakin banyak jejak karbon yang dihasilkan sebelum makanan itu tiba di piring makan kita, bukan? Saya juga bisa menjamin mayoritas sayuran di pasar tradisional Manokwari khususnya yang hasil meramu dari hutan itu ORGANIK. Ya, anggap saja ini pesan lingkungan saya dalam catatan hari ini. HEHEHE

Ayo, belanja (dengan membawa kantong belanja sendiri) !!!

(Manokwari, 291011)

0 comments: