Malam ini usai menggosok tubuh dengan ‘daun gatal’ (Laportea Indica), sambil menyesap secangkir kopi Toraja asli, sambil mendengar lagu – lagu yang saya baru saya unduh beberapa jam lalu karena sedang tergila – gila dengan lagu – lagu ini beberapa hari terakhir (Matthew Morisson’s Summer Rain, Amos Lee’s Color, Ace of Base’s Life is a flower, James Blunt’s You Are Beautiful, Jill Scott’s Lady ( feat.Erykah Badu n India.Arie) dan tentu saja Boyz II Men’s Perfect Love Song), saya pun teringat perjumpaan dan kenangan lepas saya dengan sejenis hewan laut yang lezat; kepiting. Apalagi beberapa jam lalu, saya baru saja selesai ‘mengeksekusi’ seekor kepiting di rumah sahabat saya; Mimi.
Catatan ini tentu saja tak membahas kepiting sebagai hewan tapi lebih pada kenangan saya yang menyeruak keluar. Hanya sebuah catatan lepas. Percayalah! Tapi membuat saya bahagia kala mendengar nama hewan ini yang tentu saja sudah disajikan sebagai makanan. Satu makanan yang bisa saya daulat sebagai makanan kebangsaannya Maya.
Kepiting atau ‘karaka’ dalam Melayu Papua adalah salah satu hewan yang sangat lezat bila berubah menjadi hidangan. Ya, karena kalau dalam keadaan hidup, saya percaya tak semua orang lihai mengendalikan mereka apalagi hanya sekedar untuk ‘dijawil – jawil’. Salah – salah malah kena jepit capitnya. Itulah sebabnya saya salut pada perempuan – perempuan Papua khususnya mama – mama yang lihai mengendalikan hewan ini di lolaro ka manggewa sana. Saya punya banyak kenangan terkait hewan bercapit yang masuk famili Crustacean ini. Semuanya dimulai dari masa kecil saya, ya semasa SD dahulu, awal tahun 1990an. Seingat saya itulah pertama kali saya makan kepiting dan saat itu, saya percaya itulah salah satu kepiting terbesar yang saya makan. Kiriman seorang teman kecil bapak sewaktu dulu jadi anak asrama Brimob di Abepura. Waktu itu, seingat saya oom saya itu; oom Mawardi yang juga polisi bertugas di polsek Babo. Ia kadang – kadang mengirimkan kepiting dalam karton. Selalu 3 ekor dan besar – besar kepitingnya. Rupanya ia mengabsen jumlah anak dalam keluarga kami. Seingat saya, sebelum menikah, bila berlibur ke kota kami, ia pasti menginap di rumah. Jadinya, semasa kecil, saya selalu mengasosiasikan oom saya ini dengan kepiting dan kondisi ‘makmur’. Pasti selalu saja ada traktiran dan acara makan kepiting. Itu pertama kalinya saya terkena ‘rayuan’ kelezatan kepiting dan sampai saat ini, tak pernah bosan mengonsumsi hewan ini.
Cukup lama saya tak makan kepiting yang besar dan menggiurkan dengan capit – capitnya yang menyembunyikan daging putih empuk itu. Sewaktu SMA dan tinggal di Jayapura, yang sering saya dan keluarga Pak’de santap hanyalah kepiting berukuran sedang yang dibeli di pasar. Selalu dimasak kuah kuning ataupun kari. Tak lebih dan tak ada pengalaman yang cukup berkesan.
Kenangan tentang kepiting pun berubah sewaktu pertengahan tahun 2006 dan saya harus ikut menghadiri pernikahan sepupu dekat di Waropen, khususnya di daerah Urei Faisei (Urfas)yang terdiri dari empat kampung (Mambui, Paradoi, Nubuai, Sanggei). Saya ingat selama kurang dari seminggu kami tinggal di beberapa rumah yang berbeda, berpindah – pindah dari Nubuai, Paradoi dan Sanggei. Namun, satu hal yang tak berubah adalah saya dan rombongan keluarga dari Manokwari plus keluarga besar sepupu kandung saya dari pihak mama selalu dijamin makanan khas ‘tana pecek’. Apalagi kalau bukan Kepiting, Kerang dan saudara – saudaranya. Dari bangun pagi hingga mau tidur, masih saja makanan seafood itu terus mengisi lambung. Saya tak bisa melupakan pengalaman makan saya di sana, apalagi ini merayakan pernikahan sepupu saya.
Hingga kini, saya masih ingat salah satu pengalaman makan kepiting yang belum bisa saya lupakan. Saat itu, saya pagi – pagi bangun dan berjalan menyusuri pantai di Sanggei dan melihat cahaya mentari menjilat pantai pasir hitam, pulangnya saya dan keluarga disambut seloyang besar Papeda dan kami menyantapnya bukan dengan ikan kuah kuning. Guess what? Kami bahkan tidak disajikan piring. Yang ada hanya ‘gata – gata; sejenis sumpit dari lidi sagu yang ditekuk, seloyang kepiting yang ditumpuk dalam kuah asam dan tentu saja piring kecil penampung cangkang bekas. Saya ingat betul bagaimana saya diajar oleh keluarga Ramandei (kerabatnya seorang sepupu dekat saya) untuk memecahkan capit kepiting yang keras dengan memukulkan punggung sendok berulang kali ke capit, bagaimana membuka cangkang belakang kepiting dan memutar gumpalan papeda dan dipindahkan ke dalam cangkang kepiting. Ya seperti ‘colo’ papeda langsung ke dalam kepiting. Tak ada piring, saudara - saudara. Pengalaman yang benar – benar mengharukan khususnya bila mengenang seafood yang bertaburan. Tiba – tiba teringat Waropen *hiks. I’ll be back someday. Apalagi tempat ini sudah tak asing sejak masa remaja saya karena saudara laki - laki mama memang menikah dengan perempuan Ambon - Waropen dan oom saya sempat 10 tahun menjabat jadi camat di Waropen (waktu itu di Waropen Atas dan Waropen Bawah). Belum lagi beberapa sepupu yang menikah dengan orang Waropen jadi setidaknya ada keluarga di sana. Jadi, ya demi kepiting, mungkin saya akan kembali HEHEHE.
Pengalaman makan kepiting di Waropen mungkin adalah pengalaman elegan saya. Tapi, ternyata di tahun yang sama, beberapa bulan kemudian, ada lagi pengalaman – pengalaman lucu yang terjadi sampai – sampai saya dan seorang sahabat perempuan saya; Mia Ondy dijuluki ‘Muka Kepiting’ saking bernafsunya melihat hidangan laut ini. Mau tahu ceritanya? Let me tell you.
Saat itu sekitar bulan Oktober 2006, saya, Mia dan beberapa teman dari Manokwari diminta menjadi relawan sebuah LSM Kampanye lingkungan internasional yang bermarkas di Amsterdam. Nah proyeknya saat itu adalah latihan pemetaan digital berbasis GIS dan inventarisasi hutan. Selama seminggu kami harus tinggal di sebuah kampung di pedalaman Sorong Selatan yang tak ada listriknya dan tak ada sinyal telepon waktu itu, bahkan untuk menempuhnya kami harus naik speedboat kecepatan tinggi selama 3 jam dan jalan kaki melewati hutan lebat selama 2 jam. Nama kampung itu Manggroholo di distrik Seremuk. Kampung ini dikelilingi rawa – rawa nipah dan masih banyak buaya yang berkeliaran kadang – kadang. Waktu itu tentu saja otak petualangan saya masih 100% full apalagi sedang stress dengan rancangan skripsi saya yang masih berputar – putar untuk orang bipolar seperti saya yang sangat sulit memusatkan pikiran dan sempat break hampir dua bulan menghindari dosen pembimbing HAHAHA. Anyway, di kampung ini ternyata true color-nya saya dan Mia keluar tanpa dibendung. Apalagi kalo bukan passion kami pada daging kepiting.
Selama di kampung ini, kami nginap di rumah bapak kepala kampung. Yang tinggal bersama tuan rumah ada 6 orang. Ada Bang Bus dan Bani si cowok Filipina, keduanya dari LSM sponsor. Bas Bus ini seniornya kami anak –anak relawan. Kemudian, ada kak Yola, Mia, kak Doris dan saya. Kami semua ditempatkan sekamar yang pintu depannya ‘lurus pintu’ dengan ruang makan. Saya ingat pagi itu, mama kepala kampung sedang memasak masakan yang sangat harum, saya dan Mia sudah bangun tapi masih tetap di kamar. Bang Bus dan Bani sedang duduk mengetik dan mencatat di ruang tamu. Kak Yola dan kak Doris masih tidur. Ternyata, bang Bus Cs ditawari sarapan oleh mama kampung. Tapi karena sibuk, mereka menolak dengan halus. Karena tak enak ditawari terus, bang Bus berinisiatif menawari saya dan Mia di dalam kamar yang tiba – tiba keluar. Apalagi saat itu, saya dan Mia memang ‘anak bawang’ dalam rombongan. Saya dan Mia langsung mengecek menu yang tersaji gembira di atas meja. Seloyang besar kepiting ukuran sedang yang mengepul panas.
Kami berdua hanya bisa memandang kepiting dengan pandangan tak percaya. Bukannya apa, sudah beberapa hari ini kami hanya makan ikan sarden, supermi, ikan rawa dan tentu saja daging lau – lau serta pisang rebus. Bang Bus terus menawari kami untuk makan, dan tampaknya ia mulai tak sabar karna ia sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya. Saya ingat betul Mia dan saya sampai bertanya ‘Benar ka abang, tra rugi ka tawari tong, bukannya abang kam yang ditawari baru, masa tong yang muda – muda makan lambung kam yang tua – tua tuh.’ Ini tentu saja respon alamiah kami. Karena terus didesak, akhirnya kami setuju. Guess what? Mereka salah menawari Mia dan saya untuk makan duluan, apalagi hidangannya hanya Kepiting dan nasi. Salah banget HAHAHA. Tak sampai 20 menit, setengah loyang kepiting sudah berpindah ke perut kami. Apalagi masih pagi dan energi makan kami sangat kalap, mengingat beberapa hari ini kami selalu latihan pemetaan dan inventarisasi menyusuri hutan jadi energi banyak yang terkuras untuk pekerjaan fisik. Alamak, saat bang Bus dan Bani datang bergabung sekitar 25 – 30 menit kemudian, saya dan Mia dengan pandangan tak berdosa bisa melihat ekspresi kaget bang Bus HAHAHA. Sorry bang, itu refleks alami melihat ‘hidangan surga’!!! *alasan membenarkan ‘kerakusan’ HAHAHA. Walaupun setelah itu kami tertawa – tawa melihat ulah Bani dengan capit kepiting dan parodi ‘Mr.Crab’nya.
Lewat beberapa hari, refleks ‘rakus kepiting’ kumat lagi tanpa bisa dikontrol dan ini benar – benar refleks alami HAHAHA. Ceritanya, di sela – sela acara pemaparan pemetaan dan teknik digitasi segala macam yang dilaksanakan di dalam gedung gereja (satu – satunya gedung permanen saat itu), selalu saja ada istirahat makan siang. Nah saat itu, menu yang disajikan seperti biasa; ikan rawa, daging lau – lau, sayur – sayur dari kebun warga, nasi, hasil kebun dan tentu saja indomie. Saya ingat benar Mia dan saya termasuk urutan awal yang menimba makanan karena selesai makan kadang kami membantu mencuci piring. Kami sedang asyik makan di depan antrian ‘penimba makanan’ yang panjang karena saat itu para pesertanya utusan dari kampung Werianggi di Wondama sana, kampung Irires dari Kaimana dan juga teman – teman pekerja LSM dari Sorong plus masyarakat kampung peserta pelatihan. Nah, sedang asyik menguyah makanan, tiba – tiba seorang mama kampung datang dengan semangkuk makanan panas bersantan dan menyajikannya di atas meja, dan seorang teman yang antri makanan refleks bilang “Wow, ada kepiting!”.
OMG, radar kepiting langsung menyala. Saya lupa bagaimana tepatnya, yang saya tahu, Mia dan saya refleks sudah menerobos antrian dan berdiri tepat di depan orang pertama yang hendak menciduk makanan, lengkap dengan piring kami. Tak menghitung detik, beberapa ekor kepiting lolos ke piring kami dan kami langsung duduk manis kembali ke tempat kami dengan pandangan tak berdosa. Benar – benar lupa ingatan dengan ‘muka rakus’ kami. Kami baru sadar sekian menit kala melihat bagaimana orang – orang yang antri yang mayoritasnya laki – laki melihat kami dengan pandangan ‘ajaib’. Tak heran label ‘muka rakus kepiting’ langsung kami dapuk saat itu. Makanya saat kembali ke Sorong, teman – teman di LSM lokal yang menjadi penyelenggara lokal pelatihan tak tanggung – tanggung menyajikan kepiting saus asam manis di markas besar mereka, spesial untuk kami tentu saja HAHAHA.
Setahun kemudian, masih saja ada kenangan kepiting yang hinggap. Ceritanya di akhir Januari 2007. Saya sedang giat – giatnya menyelesaikan skripsi karena harus wisuda di akhir Februari. Tahu kan bagaimana gilanya di momen akhir seperti itu. Mana saat itu saya tinggal di kos karena mencari ketenangan padahal saya tinggal di Fanindi ST yang jarak dari rumah ke kampus hanya 5 - 7 menit naik motor (mengingat kecepatan balap saya waktu di masa silam). Saat itu, semua anggota keluarga sedang mudik ke Jawa; liburan sekalian menghadiri wisuda pascasarjana kakak saya di UGM Jogja. Sedang sibuk – sibuknya merevisi skripsi dan mengendalikan fokus dan mood eee adik lelaki saya berulang kali menelpon, “May, ko turun dulu ke rumah tempo, ini darurat. Cepat eeee. Plis”. Wah suaranya sudah memohon – mohon di ujung sana. Saya langsung khawatir, apalagi saat itu pacar adik saya sedang hamil 5 bulan dan hanya mereka berdua yang menjaga rumah. Tak tunggu lama, saya pun langsung tancap gas dengan motor F1ZR ber-velg kuning contreng lengkap dengan helm balap saya yang kalau dilihat dari jauh seperti kepala korek api. Alamak! Tiba di rumah, saya sudah membayangkan adanya tragedi atau kecelakaan yang menimpa mereka. Tebak apa yang diminta tolong adik saya? Iya, ia hanya meminta saya memasukan beberapa kepiting hidup ke dalam air mendidih karena ia percaya selama masa kehamilan pacarnya, ia tak boleh sekalipun menyakiti ataupun membunuh hewan apapun, termasuk kepiting yang hendak mereka santap. Sialnya, saya malah tak dibagi saat itu HAHAHA. Demi keponakan, apa sih yang tidak saya lakukan. HAHAHA.
Kepiting juga masih menjadi salah satu menu andalan saya sewaktu masa kuliah S2 di Canberra dulu. Bila terasa suntuk, saya pasti pergi ke supermarket dan mencari daging kepiting kalengan ataupun segar yang sudah dicampur dengan seafood lainnya dan dimasak rupa – rupa. Tentu saja dengan mengandalkan resep instan ‘buka internet browsing ka ini’. Rasanya? Yang penting bisa dimakan dan membantu saya tetap bertahan hidup HAHAHA. Walau saya pernah akui tertipu dengan satu produk daging kepiting produksi Thailand apa Vietnam yang saya beli di sebuah toko di Asian Stores. Yang ada, saya sampai mau muntah usai membuka kalengnya. Iya, saya tak tahan melihat dan membaui aroma daging kepiting yang dicampur saos kedelai dan tumbukan kacang tanah dan sangat berminyak. *Phew. Rugi dollar, man!
Anyway, satu yang pasti, saya tak akan pernah lelah dan menyerah makan daging kepiting. Saya pikir Tuhan cukup adil dengan hidup saya terkait makan, karena ia tahu saya kadang punya masalah dengan daging merah dan juga ikan. Ya kalau bukan alergi pasti semacam ‘tegang leher’ jadinya kepiting, udang dan kerang menjadi solusi yang indah. Sayangnya, mahal ya di Manokwari *hiks.
Saya berharap, bila memang satu hari nanti pesawat yang tumpangi harus jatuh ataupun saya harus tersesat di hutan atau pedalaman mana di tanah ini, ijinkan saya ‘nyasar’ di kampung yang mempunyai akses melimpah dengan hidangan ini. Hanya tak bisa hidup tanpanya.
Nothing can beat the taste of ‘karaka’. Yes, it’s true and saya sudah membuktikannya! HEHEHE *
Hidup (daging) Kepiting!
(Manokwari, 291011)
0 comments:
Post a Comment