Hujan pagi. Frasa kata benda yang biasa saja. Hujan pagi juga hal umum di Manokwari. Entah berupa ‘drizzle’, ‘shower’ ataupun memang ‘rain’ termasuk ‘rain cats and dogs a.k.a. heavy rain’ *teringat nama jenis – jenis hujan di Australia tergantung intensitas curahnya. Di kota saya, Manokwari, yang pemukimannya berada di sepanjang pesisir dan juga daerah perbukitan, hujan pagi kerap turun. Bahkan kalau mau jujur, di kota saya hujannya biasanya sangat lokal. Itu hal yang sangat saya suka sebenarnya jadinya tak setiap hari suhunya panas membakar.
Hari ini, kota saya diguyur hujan lagi. Iya, dari pukul 6 pagi hingga sebelas siang. Mulai dari rintik – rintik hingga yang tetesannya gila – gilaan turunnya. 30 menit pertama juga diikuti dengan nyanyian guruh dan acara ‘pemotretan’ dengan petir – petir keriting di bentang langit. Banyak pilihan yang bisa dibuat selama hari hujan. Mulai dari melanjutkan tidur di akhir pekan, menyesap kopi dan membaca buku sambil mendengarkan bunyi tetes hujan yang menabuh atap seng – seng rumah, ataupun sekedar nonton film. Dari pukul 6 pagi, usai doa pagi, saya memutuskan untuk menulis, dilanjutkan ngopi sambil duduk nangkring di atas jendela dan menikmati menonton tetes hujan yang membasahi daun – daun pohon nangka, koleksi bunga di rak bunga samping kamar, dan juga jejeran tanaman di lahan dan langit kelabu. Bahkan usai acara ngopi, saya masih bisa melakukan acara ‘relokasi’ beberapa rumpun keladi hias dan anggrek tanah dari halaman belakang rumah (tahu kan, di halaman belakang rumah ada satu petak daerah yang dibiarkan jadi ‘tak bertuan’, benar – benar tersembunyi dan jadi tempat yang dalam setahun bisa saya hitung dengan jari berapa kali saya mengunjunginya). Bunga – bunga itu tentu saja saya pindahkan dan tanam ke bentang tanah samping kamar saya. Jadi, bila tiap kali menonton hujan pagi, maka saya akan bertemu tanaman berdaun itu.
Yang paling membuat saya bahagia pagi ini juga karena keponakan saya, si Eudaimonia alias Eu (Guess what? Namanya hanya satu dan itu pemberian saya. Jadinya kami harus selalu terkoneksi HAHAHA) sibuk memantau saya dari jendela kaca ruang tamu saat saya berkebun dan sibuk berteriak heboh memanggil nama saya. Mencari perhatian. Tapi seperti biasa, anak dua tahun bermata bundar dan persis my mini-me ini sibuk mengucapkan nama saya dengan bentuk reduksi yang kacau. Iya, ia memanggil saya ‘Yaya’ tanpa embel – embel ‘mama’. Sangat lucu dan membuat saya bahagia. Dia salah satu alasan saya bertahan hidup selama ini *bikin macam sa mo mati saja HAHAHA. Saya ingin melihatnya bertumbuh, melihatnya pergi ke sekolah pertama kali seperti para keponakan saya yang lain, masih ingin memeluknya dan mengajaknya berkelana seperti kakak – kakaknya yang lain. Entahlah, kenapa saya jadi begitu sentimentil seperti ini HAHAHA. I just really love my nieces and nephew.
Saya punya banyak rencana di kepala saya, usai hujan pagi tadi. Berencana membuat beberapa bedeng bunga potong di depan petak seluas 4 x 4 meter itu. Mungkin marigold, bunga kenop ataupun tapak darah serta sejenis dahlia. Saya masih memikirkan kemungkinan membeli batako dulu untuk saya pasang petak bedengnya jadi tanahnya tak akan tergerus hujan. Masih banyak waktu untuk pengangguran seperti saya. Ini seperti masa pensiun saya sebenarnya.
Hujan pagi hari ini juga mengingatkan saya tentang rencana saya minggu mendatang, tentu saja usai saya mendapat honor saya, karena bagaimanapun rencana saya ini membutuhkan biaya. Iya, saya mau mengadopsi seekor anak anjing jantan berwarna hitam dengan totol putih dari sahabat saya. Saya belum menyiapkan namanya, tapi mungkin yang berbau ‘hujan’. Padahal karna anjing ini berwarna hitam bagusnya memakai nama ‘Layla’ yang artinya ‘malam’ dalam bahasa Arab tapi karena ini anjing jantan, saya masih harus mencari nama lain, mungkin ‘autumn’. Saya juga sudah mengecek seekor ikan cupang alias fighter fish yang hendak saya beli. Sempat berdiskusi dengan penjualnya malam minggu kemarin, tentu saja dengan gaya saya yang cuek setengah mati sibuk menanggalkan jagung rebus dan bertanya tentang ikan. Saya akan mengambil yang warna biru – merah. Mungkin akan kuberi nama ‘Summer’. Tak mungkin bernama ‘Aqua’ karena keponakan sebelah rumahku bernama ‘Aquamarine’.
Kesimpulannya, nanti nama kebunku bernama ‘Kebun Hujan’, anjingku kemungkinan namanya ‘Autumn’ dan ikanku akan bernama ‘Summer’. Sangat cocok di hari hujan, duduk memeluk bebekku si Ducky sambil menyesap kopi dan menatap ‘kebun hujan’, dan ‘Summer’ di atas rak pajang atas tempat tidur dan melihat kandangnya ‘Autumn’ di bawah jendela kamar. Aku juga masih harus mengecek tukang mebel sebelah rumah untuk harga sebuah rumah anjing. I want my dog to be treated as the member of my family. Apalagi ini sudah 8 tahun aku puasa punya anjing usai si Yayang dipotas orang (masih mengingat bagaimana acara ‘menangis semalam mata bangka – bangka’ di kos saat diberitahu tewasnya Yayang). Itu saja.
Hari ini. Saya juga belajar satu hal tentang cinta. Seorang sahabat saya mengirimkan pesan pagi – pagi dan intinya adalah “I have to meet and love someone new”. Iya, ia benar. Tampaknya saya sudah menemukan alasan tepat untuk tiap hujan pagi. Dulu, hujan pagi selalu membuat saya teringat Lelaki Hujan. Ya mengingatnya tiap kali hujan turun. Tapi ah dia kan sudah berganti nama menjadi ‘Lelaki Badai’ jadi memang seharusnya saya tak mengingatnya.
Jadinya, hujan pagi ini, seakan ada bola lampu yang sangat terang berpijar di kepala saya. Saya tak harus mencintai manusia untuk menjadi curahan cinta saya. Saya teringat di Australia dulu, demi melupakan Lelaki Hujan, saya fokus mengurus kebun mawar dan koleksi bunga serta ikan cupang saya bernama Pice. Iya, si Pice bahkan pernah membuat saya stress karena lupa memindahkannya saat pindah kamar ke tempat hangat sampai – sampai ia lumpuh setengah di dalam bowl-nya. Jangan tertawakan saya, tapi yang pasti saya menangis menyesalinya dan memarahi diri sendiri karena begitu tolol melupakan Pice semalam di ruang tanpa pemanas. Saya juga menelpon meminta mama dan keluarga saya mendoakan ikan biru kecil ini. Sayangnya, saat pulang ke Indonesia, saya tak bisa membawanya dan saya hibahkan pada teman serumah saya. Entah bagaimana nasib Pice sekarang. *menerawang.
Jadi, pagi ini saya putuskan untuk melimpahkan rasa cinta yang terlalu banyak ini (hiperbolis, damn, saya bisa mati kalau tidak mencintai sesuatu (atau seseorang?)) pada my kebun-wannabe, calon anak anjing adopsi dan calon ikan adopsi. Ya mudah – mudahan saya tidak bosan. Tapi biasanya memang terbukti saya menjadi lebih baikan saat melimpahkan cinta dan ada yang saya perhatikan. Kelemahan saya adalah “I have the capacity to love deeply and passionately” dan saat saya tidak mendapat respon ‘dicintai’ itu sangat menyakitkan. Walau saya tahu, kebiasaan buruk saya saat mencintai hewan dan tumbuhan yang saya adopsi tidak pernah hilang, yaitu berbicara dengan hewan peliharaan saya ataupun pada tanaman yang secara emosional saya merasa memiliki.
Saya cinta hujan pagi mungkin karena saya merasa entahlah, jatuh cinta terus – menerus. Entahlah, anggap saja ini catatan tak penting.
Yang saya tahu, saya memang perlu bilang dan meyakinkan diri kalau “I have to meet and love SOMETHING atau SOMEONE new” HAHAHA.
Damn, how I love my life. I am single and very happy!!!
(Manokwari, 221011; thanx for my wingless angels who inspire and support me a lot)
0 comments:
Post a Comment