Malam ini aku merindukannya. Entahlah … mungkin sahabatku Miss Gaul benar, “sa bisa berdosa kalo percaya kalo ko su tra suka Q, atau su tra hubungi or sms dia lagi. Ko pu muka tuh sa tahu, sama deng kalo ko bilang ‘sa lagi jatuh cinta’. Adoooh May, sa bisa berdosa betul kalo sampe percaya ko ‘normal’ HAHAHA”.
Entahlah, dalam beberapa hari terakhir, kami kontak – kontakan lagi. Ya, kuakui aku yang menghubungi dia. Walau memang seperti biasa, kontak 1 – 2 hari setelah itu menghilang total. Entahlah … aku hanya ingin jujur padanya, kalau aku merindukannya. Itu saja. Walau kemudian aku pun bercerita tentang wawancara. Malam sebelum wawancara, masih kusempatkan curhat padanya tentang kegugupanku menghadapi wawancara. Tepatnya, meminta saran. Usai wawancara yang kacau balau kemarin sore pun masih kulanjutkan dengan meng-update kejadian pas wawancara. Entahlah … aku hanya merasa nyaman bercerita dengannya itu saja, tentang ketakutanku, tentang proses itu. Entahlah … aku benci rasa ketergantungan ini. Kecanduan tepatnya.
Malam ini, aku juga merasakan bahwa hatiku masih luka dengan lelaki hujan. Ini semua karna tadi usai petang, kuhadiri sebuah acara house-warming seorang kolega yang masih sepupuan dengan Lelaki Hujan. Semua keluarga besar ‘Lelaki Hujan’ ada di sana, bahkan seseorang yang tampak seperti bapaknya hadir juga, wajah yang sangat mirip Lelaki Hujan. Rasanya tadi seperti mau menghilang dari sana, mana semua rekan kerja yang lain datang terlambat. Entahlah, sepulang dari acara hingga saat aku mengetik lagu ini, lagu Adele “Someone like you” sedang menemaniku, membalut lukaku yang berdarah lagi. Ya, berdarah lagi.
Hari ini, aku gagal mengirimkan naskahku untuk melepaskan lelaki hujan, sebuah memorabilia. Hari ini, hari yang cukup berat bagiku mengambil keputusan. Entahlah … kenapa ia selalu sukses muncul kembali? Kenapa hanya sekecil apapun percikan kehadiran atau apapun yang terkait dengannya sanggup membuatku rapuh? Ya, sangat rapuh.
Mungkin aku harus belajar mengakui kalau di hati ini, lelaki hujan masih tetap ada. Masih basah, masih lekat dan aku masih tetap berusaha untuk mengikhlaskannya. Ya, masih butuh proses yang panjang.
Untunglah malam ini Miss Gaul dan Q bersedia mendengar kisahku ini. cuma satu kata yang mereka terus bilang, “lupakan Lelaki Hujan. Anggap saja hanya masa lalu.” Ya, tolong belikan aku ‘penghapus kenangan’, please.
Let time heals … ya semoga.
(Manokwari, 161011; 12: 39 a.m)
0 comments:
Post a Comment