Search This Blog

Loading...

Tuesday, 11 October 2011

Cinta Pemimpi

Aku jatuh cinta. Sangat jatuh cinta akhir – akhir ini. Pada hidupku, pada hal – hal kecil yang kutemukan di jalan, pada tawa kanak – kanak dan celoteh para keponakanku, dan hal – hal lain yang ditawarkan alam. Pada laut dan pendar matahari di pasir, pada aliran ombak tumpah tindih di delta muara, pada batu – batu kerikil yang teronggok mati di bentang pasir hitam. Aku jatuh cinta.

Sahabatku bilang, “ko tra akan pernah berhenti jatuh cinta, ko selalu jatuh cinta, pada sesuatu ataupun seseorang yang selalu baru. Tampaknya ko cuma butuh pu anak saja, May. Karna ko tidak akan pernah berhenti jatuh cinta. Never =D “ Ya iya benar. Aku akan selalu jatuh cinta, selalu mudah dikelilingi oleh perasaan ini. Selalu merasa bahagia dengan hal – hal yang kadang bikin ‘hati gili – gili’ sekali. Bahkan hanya butuh lagu dan musik yang pas yang bisa membuatku jatuh cinta dan bertumbuh dalam cinta. Entahlah …. Tahap hipomonia. Mungkin pula harus melakukan saran seorang teman di dunia maya untuk mengontrol ‘pengendali jarak jauh’ diriku.

Aku juga mulai jatuh cinta lagi pada dia, dia yang tanpa wajah, yang tak kukenali, yang suka muncul di dalam mimpiku. Dia yang pada beberapa mimpiku selalu membuatku nyaman dan tenang hingga kala bangun pagi, terasa begitu bahagia. Aku tak tahu siapa dia, lelaki yang kerap masuk dalam mimpiku, memelukku, mengajakku berbicara dan membuatku nyaman. Entahlah, mungkin hanya alam bawah sadarku saja yang lagi ‘crash’. HAHAHA.

Sore tadi, aku bahagia. Bahagia bisa pergi berkeliling dengan sepeda motorku. Menyusuri pesisir pantai. Menikmati bebungaan khas Pasifik, tawa bocah – bocah berkulit kopi yang sedang berpura – pura memegang kamera imajinasi mereka, pohon – pohon dan sulur hutan, aroma tanah, dan juga angin beraroma garam. Aku bahagia dengan hidupku. Mungkin benar kata temanku Chaki di sebuah catatanku, “Everything in Manokwari is always fun”. Ya, mungkin karena aku anak Manokwari, lahir besar di tempat ini dan berharap mati dan dikuburkan di kota ini. Aku cinta mati kota ini. Sangat cinta.

Bila ditanya tentang cinta, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang aku tahu, karna sebuah adegan di film Step Up 3 tadi malam, saat pemeran Luke mengajak ceweknya ke tempat dimana mereka bisa melihat ‘Slurpee’ mereka menari dalam hembusan angin .. ah aku langsung ingat Jonathan. Apalagi ekspresi Luke saat itu, persis sama dengan kejutan – kejutan yang diberikan Jonathan. Ekspresi menunggunya untuk memberi kejutan. Rasanya saat melihat adegan itu, aku ingin berteriak, “Hei, itu sa pu adegan. Itu yang sa rasakan dulu”. I want that moment, I am really craving for that moment. Karena usai musim panas itu, hatiku tak pernah lagi bergetar seperti itu. Rasa yang menggelegak hangat seperti lelehan coklat manis di hati. Memabukan tanpa harus ada ciuman dan kontak fisik. Sebuah momen di mana kita bahkan bisa mendengar dentingan simfoni cinta dari kesunyian. Saat seakan di sekelilingmu ada musik yang beterbangan dan potongan – potongan hati yang mengelilingimu. Ya momen seperti itu.

Bicara tentang momen cinta itu, entahlah … mungkin memang pantai di Lorne dan di Johanna beach itu pernah memotret rasa dan momen itu dengan tepat. Saat hatiku pecah, sangat pecah dengan lelehan coklat hangat yang menggelegak bernama cinta. Mengingat Jonathan sore ini kala menyusuri pinggiran pantai, ah aku malah sibuk mendengungkan potongan lagu N-Sync “This I Promise You” hanya khusus di bagian refrain-nya kalau tak salah. Benar – benar the real me sore ini. I’m in love.

Aku sedang jatuh cinta, itu yang kutahu. Yang pasti bukan pada seseorang. Rasa cinta ini entahlah, untuk ‘sesuatu’. Apalagi kemarin malam, aku bermimpi kembali dititipi bayi, kali ini aku bersedia menjaganya di dalam mimpiku. Biasanya, pasti aku mendapat pekerjaan baru, sebuah pekerjaan yang menantang. Itu biasanya yang kudapatkan kala bermimpi dititipi bayi. Semoga benar dan semoga ini sinyal dari tawaran pekerjaan ini. Semoga …

Ah saya cinta hidup saya. Sangat cinta mati.

Thanx Father, Jesus, and Holy Spirit. You’ve been so good to me. Amen

(Manokwari, 101011)

0 comments: