Cinta? Saya tak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Yang saya tahu hari ini saya jatuh cinta pada para keponakan saya. Ada saja ulah mereka beberapa hari ini yang membuat saya ketawa terus.
Beberapa hari ini si Eu, keponakan terkecil yang mini-me itu sedang tergila – gila dengan balon udaranya yang berisi gas helium. Sayangnya sudah dua hari ini saya kerap mengerjainya. Entah balonnya dibiarkan lepas di dalam rumah dan terapung – apung melayang di plafon. Ataupun saya peluk dan merebutnya dari tangannya. Sampai – sampai wajahnya begitu terasa suntuk dan marah besar dan melempar saya dengan benda yang bisa dijangkaunya. Bahkan kemarin, ia terheran – heran melihat balon burungnya terikat kabel di atas rumah. Entah siapa yang menerbangkannya. Si Echi (kakaknya Eu) dengan jelas menolak sangkaan kami kalau ia ‘pelaku kejahatannya’.
Kemarin sore, saja juga cukup iseng membawa Eu dan Echi pergi ke pantai. Tentu saja dengan ‘membajak’ mama saya memegang Eu di jok belakang sedang Echi duduk di depan. Jadi, selama saya, Eu dan Echi bermain pasir dan berenang, mama hanya menjaga barang kami. Kemarin saya, Eu, dan Echi memang tampaknya sangat gila. Saya, perempuan 28 tahun, Echi balita 4,5 tahun dan Eu si batita 2 tahun duduk di sebuah batangan kayu dan membiarkan ombak dan pasir putih menjilat – jilat kaki kami. Sesekali kami tertawa dan berteriak kala ombak menghajar kami. Apalagi si Eu tak henti – hentinya tertawa kala kami melirik ke belakang ke arah mama yang duduk di atas kain pantai. Tentu saja kami duduk usai berjalan menyusuri pesisir pantai di bawah terik mentari yang garang. Tak heran usai pulang, kulit kami ‘gosong’.
Saya menikmati acara ke pantai kemarin, walaupun si Echi ketakutan setengah mati saya bawa ke dalam laut. Si Eu malah sebaliknya. Tak henti – hentinya tertawa senang kala kami berdua berlompatan dan saya membiarkannya bergerak – gerak di dalam air. Bahkan, saat saya menitipkannya usai memandikannya dengan air dingin (ia terkaget – kaget karna selalu mandi air hangat), ia histeris memanggil saya yang berlari menuju laut untuk berenang satu lap. Tak henti – hentinya ia tertawa dan berteriak ‘Yaya’. Apalagi sepanjang perjalanan pulang, si Eu tak henti – hentinya menyanyi. Ini reaksi yang sama saat ia terus heboh melihat laut. Ia memang jarang kami bawa berjalan siang hari keluar rumah. Yet, saat saya pulang, saya kena ‘kuliah 1 bab’ dari sesama penghuni rumah karena dua makhluk kecil ini terlambat pergi acara ulang tahun dan akhirnya terpaksa ikut acara orang tuanya. Jangan tanya bagaimana rusuhnya rumah kami HAHAHA *too much debaters.
Saya juga masih ingat malam sebelum hari kami pergi ke pantai. Saya singgah sebentar di rumah kakak saya mengecek kabar keponakan saya; Ochil, yang sedang radang amandel. Hari itu saya baru saja membeli beberapa aksesoris di langganan saya jadinya ya sekalian saya bagikan gelang baru untuk para keponakan perempuan saya termasuk si kecil Eu. Jadinya saat acara kunjungan ke Ochil, sekitar jam 7 lewat, e si Muel (adiknya Ochil) sedang dihajar mamanya karena mengunyah kertas resep obat kakaknya. Tampangnya benar – benar kacau penuh dengan luapan air mata. Demi menyelamatkan situasi, saya membujuknya dan mengajaknya ke Hadi; sebuah toko besar di kota kami.
Si Muel langsung saja sibuk mematut diri, berganti jaket denim dan berdandan rapi jali. Ochil hanya bisa gigit jari. Orang tuanya pun menitipkan pesan untuk membawa Muel usai ‘jalan – jalan’ ke GOR Sanggeng karena bapaknya si Muel a.k.a. kakak tertua saya hendak mengikuti kompetisi Futsal. Muel yang rapi harum langsung cuek bergabung dengan saya ke rumah orang tua saya. Tak hanya Muel, kebetulan ada Echi di rumah kami. Demi mendengar saya mau ke Hadi, ia pun memandang saya dengan pandangan ‘muka seratus’nya itu alias pandangan memelas. Tak tahan, saya mengajaknya juga. Ia pun berlari ‘cakadidi’ ke rumah belakang, mencari pakaian perangnya. Iya, berganti rapi dan memakai jaket denim juga. Lucunya, si Eu yang sedang nonton TV saat mendengar saya dan Echy hendak pergi, langsung bergerak menyambar rompinya yang biasa dipakainya keluar rumah. Guess what? Saat saya dan Echi sedang sibuk membahas apa yang akan kami beli dan rencana jalan dengan Muel, si Eu sudah memblokir pintu belakang rumah kami yang terhubung dengan samping teras rumah Echi. Jalan ke rumah depan. Eu tak tanggung – tanggung ekspresinya. Dia memang drama Queen terbaik yang saya tahu. Apalagi ia sudah pintar meniru ekspresi emosi yang diajar adik perempuan saya (Noke) seperti menangis, tertawa, batuk, bersin, marah dan lain – lain. Benar – benar manipulator kecil.HAHAHA.
Eu; Pandangannya memelas, dengan tatapan lurus dan tangan yang terlipat menggenggam rompinya dan tentu saja tak mengijinkan kami melewati pintu. Benar – benar mini-me deh. Iya, persis kelakuan saya waktu kecil yang suka merajuk. Saat kami minta ia pindah, wah langsung saja pecah tangisannya yang keras itu. Tapi saya dan Echi tetap cuek kabur dengan sebelumnya ‘batariak’ mamanya Eu untuk mengambil paksa Eu dari depan pintu HAHAHA. Sorry, we are in mission.
Malam itu, saya, Echi dan Muel memang benar – benar partner in crime. Kacau banget. Naik ojek ke Hadi karena saya khawatir keponakan saya mengantuk saat saya bonceng. Kami benar- benar menganggap perjalanan ini sebagai petualangan. Tujuan utama kami adalah membeli susu kalsium. Alamak, belum tiba di rak susu instan, si Muel sudah mengajukan usul, “mama May, sa pu parfum habis.” Jadinya kami bertiga tiba di deretan wewangian. Si Muel, balita 4 tahun ini dengan cueknya mengajak Echi mencoba membaui aroma cologne dan l’eau de toillete yang ada. Satu persatu. Sambil masing – masing memberi pendapat. Perjanjiannya tiap anak hanya boleh memilih satu item. Jadinya mereka berdua sibuk mencoba dan saling berkomentar. Lucu sekali. Apalagi saya memberi saran dan mereka berhak memberi komentar. Kesimpulan akhir? Muel memilih wangi raspberry dan Echy memilih Kiwi Melon dari wewangian berikon Power Puff Girl. Mereka rupanya tak tahu bahwa saya juga suka memakai wewangian anak – anak bermerk sama HAHAHA.
Dari wewangian, kami sibuk melihat buku – buku. Mereka membajak saya untuk harus membelikan mereka buku tentang angka dan huruf. Juga melihat cemilan. Kelakuan mereka yang paling rusak adalah mereka dengan cueknya terus mengukur tinggi badan di dinding toko yang dipasangi poster lapis sebuah merek susu dan gambar anak kecil yang sedang mengukur tinggi badan dan yang melompat. Jadinya mereka berdua terus bergantian berdiri dan melompat berusaha memegang tangan bocah di dalam gambar itu. Benar- benar ajaib kelakuan dua balita yang cerewet ini. Apalagi saat saya mengiring mereka ke rak susu. Wow! Mereka berdua dengan hebohnya memberi pendapat tentang susu yang hendak saya pilih: Milo atau Dancow. Si Muel bersikeras kalau Milo yang terbaik, sedang Echi dengan malu – malu bilang Dancow karena ia minum susu ini. Ia menyebutnya ‘Enko’. Mudah – mudahan Muel tak memilih Milo hanya karena anjing hitamnya bernama ‘Milo’. *mikir.
Satu hal yang saya ingat malam itu adalah rayuan mereka berdua kala melewati kulkas – kulkas berisi es krim. Mati banyak!!! Tentu saja ini usai si Muel berlarian cuek menimbang badannya di timbangan barang yang tergeletak dekat kulkas. Si Muel dan Echi dengan cueknya menempel di samping kulkas dan memandang es krim Cone bergambar Spongebob dengan pandangan cinta. Sia – sia membujuk mereka dengan mengulas ulang kondisi Ochil yang radang amandel karena minum es. Mereka berdua tak gentar. Terus menempel. Akhirnya, saya luluh juga. Apalagi baru ada transferan dana cair ke rekening. Dua cone es krim rasa coklat vanilla terbang ke kasir.
Kegilaan kami belum berakhir karna usai membayar di kasir, kami bertiga duduk di depan toko, samping jalan masuk, persis berhadapan dengan orang – orang yang sedang menyantap ayam goreng KFC di gerai depan kami. Iya, Muel dan Echy memilih duduk dengan cueknya dan menjilati es krim. Saya tentu saja menolak ide makan es krim karena memang tak ingin cari masalah dengan gigiku sementara ini (gigi sensitif HAHAHA). Banyak orang lalu lalang termasuk tukang ojek yang memandang kami dengan ajaib. Apalagi kami sibuk membahas es krim termasuk rasanya. Benar – benar satu momen surga malam itu. Kami benar – benar cuek malam itu. Sangat cuek!
Ini hanya kepingan momen yang ingin saya tuliskan dalam kata – kata. Mengingat mereka; Ochil, Muel, Echi dan Eu benar – benar membuat saya merasa sangat hidup. They are definitely my jewels, my reason to survive and be a better woman. Mereka selalu sukses membuat saya tertawa. Obat stress murah meriah.
Entahlah, yang saya tahu, saya jatuh cinta pada para keponakan saya khususnya Eu. Tak sabar menunggu ulang tahun mereka bulan depan. Iya, dalam minggu yang sama, (tanggal 10, 14 dan 17 November) Muel, Eu dan Ochil ulang tahun. Hadiah apa ya tahun ini? itu yang masih saya pikirkan HAHAHA.
Yang pasti, cinta 100% tra bisa dapa tawar slalu ada untuk dong. Apalagi yang kurang bagi saya saat saya dikelilingi para malaikat kecil ini. Benar – benar hidup dan jatuh cinta. Ya, sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 271011)
0 comments:
Post a Comment