Prolog
Mungkin memang sahabatku benar, bahwa aku mencintai lelaki ini. Sangat dalam. Mencintai hingga terluka. Mencintai hingga menutup pintu – pintu hati yang lain. Ada yang bilang bahwa ‘waktu bisa menyembuhkan luka, membalut hati yang berdarah, mengeringkan kenangan yang basah’. Ah aku tak tahu. Aku hanya ingin menulis. Bercerita. Menuliskan sebuah cerita pendek untuk dia. Sebuah cerita terakhir untuk Lelaki Hujan. Aku harap ia membacanya kelak. Karena ini cerita terakhirku.
***
Manokwari
November 2007
“Rhe, ko single toh skarang? Kebetulan, ada sa pu paitua pu sahabat yang lagi cari pacar ni. Ko mo kenalan ka? Sapa tau cocok too?”, siang itu Nay, sahabatku, menghampiriku di tempat kerja dengan sebuah tawaran. Bukan rahasia lagi kalau statusku yang melajang beberapa bulan terakhir ini sudah tersebar ke mana – mana. Apalagi dengan cueknya sering kukatakan pada teman – temanku dengan maksud bercanda dan pandangan berbinar - binar, ‘woooi, carikan sa pacar ka”. Walau sebenarnya dalam hati ini ada ribuan ayam betina yang lari ketakutan dikejar perasaan bernama cinta. ‘Nyali pecek’1 maksudnya.
“Iyo, mau saja. Anak mana jadi?. Teman saja dulu too. Mana de pu nomor HP. Hehehe”, jawabku asal tapi ‘penasaran mati’2.
“Akan ada ini.” ujarnya sambil mengangsurkan ponselnya.
“Tapi Rhe, de anak Manokwari juga. Tra papa ka, kan setahu sa ko pu mantan – mantan pacar smua dari kota lain dan kam LDR3. Tapi kalo ko minat, sekedar bocoran saja eee, nih sa paitua pu ‘kawan panta’4 jadi. Tapi ko sendiri yang baku atur ee.Btw, jang ko bilang kalo he will be your first real boyfriend HAHAHA,” tambah sahabatku lagi sambil memandangiku dengan pandangan menyelidik penuh ekspresi joker.
“Nay, booo masa ko tra tau tu. Tra papa to tong ganti voltase skali – skali. Mangkali cinta lebih makan ka. Makanya doakan, sapa tau yarooo. Biar sa dapa pacar satu kota too. Akhirnya …. Terima kasih Tuhan, sa bisa hemat uang pulsa HAHAHA”, jawabku penuh gelak asal – asalan, walau dalam hati kecil mengiyakan tebakan sahabatku.
Siang itu mungkin harus kuingat, kurayakan dan tentu saja kukenang karna jadi tonggak pertama kali bersinggungan dengan lelaki yang kulabel ‘Lelaki Hujan’. Ya, Al, si lelaki hujan. Catat itu!!!
***
“Rhe, jadi pi pantai too. Nanti su mo natal pasti su sulit ke mana – mana. Ko kan tau sa anak tunggal, pasti harus bantu – bantu mace dan keluarga too. Jadi kalo mo pergi, ya hari ini saja eee,” suara lelaki itu membentur gendang – gendang rumah siput di telingaku via percakapan telpon kami.
Ya, aku dan lelaki hujan sudah berpacaran beberapa minggu ini. Hari ini kami memutuskan pergi ke pantai. Belajar ‘molo’4 tentu saja. Aku jadi muridnya, ia jadi guru selamku. Acara kencan yang menarik. Apalagi usai itu kami masih bermain pasir, bersaing membuat istana pasir dan mengubur ‘guru molo-ku’ ini dalam rupa ikan duyung.
Keesokan malamnya pun kami masih pergi berjalan kaki menyusuri jalan – jalan kota Manokwari yang penuh lampu kelap – kelip. Menikmati suasana menjelang Natal di sebuah kota di daerah kepala burung Tanah Papua. Tentu saja acara ‘jalan malam’ itu tak berlangsung mulus. Pulangnya, tentu saja bapak sudah menyambutku dengan pandangan dingin dan tatapan mata yang tajam. Belum lagi kata – katanya yang sangat tegas.
“Rhe, kalo mau cari ‘teman lelaki’. Cari yang benar. Bapak gak suka dia yang tadi jalan sama kamu” ujar bapak sambil melengos meninggalkanku yang menunduk terus. Singkat, jelas, dan padat. Gosh, ini ultimatum atau larangan? Yang aku tahu, aku tak pernah tahu alasan jelas bapak melarangku dekat dengan lelaki hujan, walau kutahu mereka bekerja pada instansi yang sama. Apa karena faktor etnis ya? Karena memang bapak tetaplah lelaki Jawa yang masih memegang prinsip ‘bibit,bebet, bobot’ itu. Taksir – menaksir sungguh mati. *pheeew
***
Maret 2008
Perang dingin bapak dan aku masih berlanjut terus berbulan – bulan sejak malam pertama aku kencan malam dengan si Al. Hanya menyapa sekedarnya, itu pun hanya, ‘hai’, ‘pagi’, ‘malam’ tak lebih. Tak ada lagi pelukan sayang. Tak ada lagi ungkapan,’mau dibelikan soto ayam, gak?’. Tak ada lagi pijar sayang dari lelaki yang selalu menjadi idolaku ini. Toh kelulusanku dalam sebuah seleksi beasiswa untuk mengejar gelar Master selama dua tahun ke sebuah negara benua membuat bapak menjadi lunak dan kami pun kembali akrab. Walau tetap saja aku dan Al harus ‘kucing – kucingan’ pacaran. Semoga bapak melunak suatu hari nanti. Itu yang ada di pikiranku saat itu.
Aku ingat malam itu. Malam – malam menjelang keberangkatanku untuk pergi pelatihan dan selanjutnya terus terbang ke negara lain. Malam – malam perpisahan kami sebenarnya. Aku dan Al masih pergi makan malam. Benar – benar malam yang tak terlupakan. Berjalan kaki menyusuri jalan, tertawa dan bersaing cerita tentang jagoan kartun favorit kami. Aku tergila – gila pada si Aang di serial Avatar dan ia benar – benar pecinta Naruto; si musang berekor Sembilan. Kami bagai dua anak TK yang bercerita begitu bersemangat kala memamerkan jurus andalan kami. Berkhayal berada dalam satu tim menghadapi penjahat. Malam terindah yang pernah kukenang.
Malam itu, aku ingat benar usai makan malam, dengan pandangannya matanya yang kocak, ia bertanya padaku, “Rhe, sebenarnya sa bisa bikin ko bahagia ka tidak?”. Saat itu yang aku tahu, aku hanya bisa tertawa kecil tak percaya dan menatapnya balik, benar – benar tak menyangka ia bisa ngomong serius karna selama bersamanya, aku tahu ia sangat lucu dan santai. “Memangnya ko pikir sa tra bahagia ka. Sa bahagia, Al. Ko selalu bikin sa ketawa. I love that.” Itu satu – satunya pembicaraan serius terakhir kami.
***
Jakarta
Mei 2008
Pelatihan bahasa Inggris ini menguras energiku. Esai lagi, makalah lagi, tes ini, tes itu, deadline sana – sini. Pusing!!! Hari ini tim debatku kalah total. Aku bahkan tak bisa mematahkan balik komentar lawan kami. ‘Kenapa sih topik legalitas aborsi harus dong angkat hari gini. Mana tong jadi tim pro lagi’, rutukku dalam hati. Pelatihan yang padat sangat efektif membuatku menjauh dari Al. Kami hanya kadang – kadang berkomunikasi. Hanya sekali – kali berbagi pesan, berbagi cinta, berbagi rindu. Hanya itu. Bahkan aku hampir lupa bahwa kami masih berpacaran. Pesan - pesan singkat yang kukirimkan kadang juga tak berbalas, demikian dengan panggilan teleponku.
Dua bulan sudah berlalu. Dua minggu lagi pelatihan akan selesai. Aku hanya perlu menyiapkan diri untuk tes kesehatan guna pengurusan visa. Semoga tak ada masalah. Semoga saja. Malam ini, hujan turun dengan deras di bumi Jakarta.
Sambil menikmati musik di kamar kos dan membuka – buka halaman beberapa buku untuk jadi referensi tulisan, tiba – tiba ponselku berkedip – kedip dengan bunyi datar, ‘bip – bip’, sebuah pesan masuk.
“Rhe, sa mo kas tau satu barang ee. Tapi plis jang kaget e”, ujar Nay sahabatku di ujung lain negeri ini.
Perasaanku mulai terasa tak enak. ‘Ada apa ee’. Semoga bukan berita buruk atau berita duka. Apa ia ada masalah lagi ya. Aku mengerti mungkin ia sedang kesepian dan butuh teman cerita karna ia dan kekasihnya yang juga sahabat Al baru putus beberapa bulan lalu. Semoga tak ada berita buruk bagi sahabatku ini. Semoga tidak.
“Nay, ko baik – baik saja too. Kalo mo cerita, cerita saja eee,” jawabku lewat ketikan – ketikan huruf di tuts – tuts telpon genggamku. Di luar sana hujan dan petir mengiris – iris langit Jakarta.
“Rhe, kuat eee. Al mo nikah beberapa hari lagi. Sa juga baru tahu nih dari teman – teman dong eee. De pu pacar lama ada ‘poro’6 ternyata. Su 7 bulan lebih. Jadi de harus tanggungjawab. Kuat e, say,” jelas Nay lewat SMS.
Tak tunggu lama, aku langsung menelpon Nay. Tumpukan buku yang kupinjam untuk pembuatan esai terakhir kuacuhkan saja. Aku ingat malam itu, aku menangis sejadi – jadinya. Nay benar – benar menjadi ‘bantal guling’ air mataku. Napasku sesak, sangat sesak. Terasa pedih, ‘hati hancor panggal – panggal’7. Ada kecewa yang pecah di hatiku. Tepatnya, luka yang terburai keluar dari hatiku yang berdarah – darah. Merah campur hitam. Apakah pengkhianatan selalu saja ada dalam hubungan yang kubina. Aku tak tahu. Satu yang kutahu, aku hancur lebur malam itu bersama tetes hujan yang menghujam gedung – gedung ibukota negara ini. Hujan – hujan asam patah hati campur perasaan tertipu dan merasa bodoh sedunia membuatku lumer dalam cairan kesedihan yang mengendap dan mengkristal perlahan.
Dua hari lebih, aku memilih tak keluar kamar. Bolos pelatihan. Bertapa dengan mata bengkak dan perut kelaparan dalam ruang gelap. Glenn Fredly sukses menyanyi mencemoohku. Nay masih menemaniku lewat pesan – pesan pendek. “Jangan bunuh diri, Rhe. Kuat eee. Su mo sedikit lagi pi Australia too. Sabar ee, say, “ pesannya terus. Khawatir! Beberapa teman lainnya juga mendukungku, sampai – sampai seorang lelaki yang beberapa tahun lalu pernah beberapa kali memintaku menjadi pacarnya berkali – kali menawarkan bantuan, “Rhe, pi Malang suda ee. Tinggal deng sa dulu suda. Sa masih di sini. I’ll be there for you.” Sayangnya, aku menolak tawarannya. Dia terlalu baik untukku dan tak aku tak berniat menjadikannya pelarianku. Itu saja.
Usai seminggu, rasa kehilangan dan terluka semakin berat kala hasil tes kesehatanku keluar. “Rhe, you must postpone your departure to Australia until you finish your medical treatment. You have old active TB+ on your lungs. Sorry, but you cannot proceed to the next level,” singkat, padat dan jelas penjelasan dari petugas pengurus keberangkatanku. Tak ada jalan lain. Harus kembali ke Manokwari. Kali ini sebagai orang yang kalah, patah hati dan penyakitan!
***
Manokwari
September 2008
Sore itu, hujan turun dengan deras di Manokwari. Beberapa hari lagi Lebaran kan tiba dan aku ingin pergi ke pantai. Sekembaliku dari Jakarta, aku masih tetap kembali bekerja di unit kerjaku. Masih ada proyek yang membutuhkan tenagaku. Beberapa minggu terakhir aku putuskan terus memaksa diriku fokus ke proyek dan tak memikirkan secuil emosi bernama perasaan ataupun cinta hinggap di kepala. Kerja – kerja – kerja. Walau kadang – kadang di malam sunyi, kala luka menganga itu muncul di hati, kuputuskan menangis. Tak peduli esoknya datang dengan mata bengkak ke kantor. Itu diriku sekarang.
Sore itu aku dan Nay ‘janjian’ berenang. Sayangnya, karena ide kami sangat spontan usai pulang kerja yaitu ‘mandi hujan’ dan berenang jadinya motorku harus kusimpan saja di rumah dan memilih naik ojek ke pantai.
“Rhe, nan ketemu di dekat puing kapal ee” kata Nay sebelum berpisah. Di pantai kota kami, ada puing kapal bekas Perang Dunia II yang mencuat di pasir dan sering dijadikan pijakan lompatan bocah – bocah pantai.
Hujan menari gila. Aku tak peduli karena sudah menceburkan diri dalam air laut yang hangat. Menikmati tetesannya menampar wajahku. Mengapung dengan posisi menjadi pelampung tubuh. Menertawakan langit kelabu yang tak bisa membasahi hatiku yang meranggas. Karena merasa kehausan, kuputuskan berenang ke tepian. Semua perlengkapan dan bekal berenang kuletakkan begitu saja di dekat bangku taman di bawah sebuah pohon Ketapang besar. Dari tengah laut, kulihat beberapa pengunjung lelaki yang baru datang dan langsung bermain bola di pantai.
Semakin berenang ke tepian, para lelaki itu berlari mendekat mengejar bola ke arah tas perlengkapanku. “Adooh gawat, jang sampe ada pancuri lagi,” batinku dalam hati.
Aku ingat sore itu. Nay belum muncul – muncul juga. Padahal aku sudah cukup lama berenang di dalam air laut. Tubuhku mulai dingin, harus segera ‘ngemil’. Kuperhatikan seorang lelaki berdiri. Menatapku dari sepelemparan batu dan berjalan menuju tasku. Membelakangiku.
“Plis, jang pancuri ka” ujarku lagi dalam hati sambil terus berenang mendekati bibir pantai.
Tiba – tiba ia membuka tasku, mengambil botol minumanku dan dengan cuek berbalik tepat di saat aku berlari menuju tasku.
“Rhe, sa minta ee,” ujarnya dengan pandangan tanpa dosa sambil cuek menyeruput air mineralku. Mengacuhkanku yang memandangnya dengan pandangan marah dan tanduk – tanduk merah yang tumbuh secara ajaib di kepalaku.
Ya, dia Al. Al, si Lelaki Hujan.
Aku sesak nafas. Ini pertama kalinya aku bertemu Al sejak pernikahan diam – diamnya itu. Sejak menghilangnya dia beberapa minggu sebelum kabar sialan pernikahannya menjumpai diriku dan memporak – porandakan cadangan air mata dan kesedihan. Pernikahan yang harus dilakukannya usai menipuku berbulan – bulan usai aku jatuh cinta berat, jatuh cinta tanpa tali pengaman, jatuh cinta sungguh mati. Dalam hujan, kukumpulkan keberanianku dan merebut tas, botol minuman dan dengan sekuat tenaga kuteriakan kalimat sakti yang seharusnya kusisipkan sejak dulu. Tentu saja ekspresi wajahku saat itu tak berbentuk lagi. Marah, iya. Sedih, iya, kecewa, apalagi. Geram, tentu saja. Yang aku tahu, saat kuteriakan kalimat itu, mataku sudah bengkak dengan tangisan.
“Al, just stay out of my life.”
Dan aku kabur berlari dari pantai. Menjauh, mencari tempat untuk menangis. Ya, menangis lagi. Mengacuhkan teriakan maaf Al yang berusaha mengejarku, mengacuhkan ucapannya pada teman –temannya, “Jang ganggu dia, itu sa maitua”. Mengacuhkan semua pandangan iba para lelaki berambut cepak yang menatapku.
Dan aku masih tetap memaafkannya seusai hujan sore itu. Masih mencintainya walau dengan hati yang berdarah.
***
Australia
Februari 2009
Pada sebuah malam musim panas, di serambi belakang rumah kontrakan, kuingat dia yang menghancurkan hatiku. Entahlah malam ini, aku merindukannya. Cinta yang terlarang? Aku tak tahu. Kutuliskan larik – larik kata dalam lembar blog-ku:
Al, sekali lagi maafkan aku karna kutak bisa melupakanmu.
Kala jarak dan waktu tlah terbentang dan benua telah terlewati, di sana, sebuah titik antara mimpi dan terjaga, ada dan tiada, rasa rindu ini mengendap dan mengkristal.
Dua tahun bukan waktu yang cepat, Al. Dua tahun waktu yang cukup lama untuk melihatmu (lagi), bila masih ada kesempatan. Dua tahun tak seperti saat kukerjapkan mata dan langsung terlewati. Dua tahun adalah saat menguji apakah semua yang pernah kita rasakan ini benar adanya.
Al, andai Manokwari – Canberra hanyalah Fanindi – Kampung Ambon. Andai Australia – Papua hanyalah Amban – Sanggeng. Andai ‘pintu kemana saja’ Dora Emon bisa kubajak untuk bertemu kau. Andai alat teletranspotter bisa kupinjam untuk mengantarku padamu . Andai dan jutaan andai yang lain, Al. Tapi, aku tahu itu semua “tra mungkin ya”. Hingga aku percaya hanya doa yang bisa mengantarkan semua ini bahwa semua rasa ini memang hanya untukmu …. “Ko saja, Al. Trada yang lain.”
Al, pernahkah kau rasakan jatuh cinta dan terperangkap dalam rasa itu? Pernahkah kau merasa bahwa kau sudah tidak bisa jatuh cinta lagi? Bukan karena kau menyimpan benci, sakit hati ataupun dendam. TAPI karena kau merasa bahwa kau telah menemukan dermaga di pulau kecil yang tenang dan damai, yang tersedia hanya untukmu saja. Seperti itulah Al kau bagiku. Aku bukan terperangkap dalam cinta yang kurasakan, tapi yang kutahu AKU MEMANG TIDAK INGIN KELUAR DARI RASA CINTA INI, yang menjadi penyemangatku kala hidup, menjadi nyanyian pagi hari mengiringi mentari. Aku, Entahlah … aku hanya tahu bahwa “sa sayang ko skali”.
Al, aku ingin kau tahu bahwa kau begitu berarti bagiku. Aku ingin kau tahu bahwa aku terlanjur mengunci hatiku dan menitipkan kuncinya padamu, Al.
Bila waktu itu tetap datang juga, waktu dimana aku harus melepaskanmu sesadar- sadarnya, waktu dimana aku harus membunuh gambarmu di hatiku, membuang semua profil dirimu, waktu dimana kenyataan benar – benar tidak bersahabat dengan moral, etika, dan tanggung jawab . Aku ingin kau tahu bahwa aku (masih dan akan tetap) sayang padamu.
Entahlah, aku tak begitu tahu dan begitu paham dengan apa yang orang lain pikirkan, aku tahu semua ini di mata mereka adalah kegilaan sesaat, atau biarlah mereka memanggilku ’sesat’, biarlah mereka memanggilku ‘terhilang’ dan ‘buta’. Biarlah mereka memanggilku ‘bodoh’ dan ‘tertipu’ dan ‘merendahkan diri sendiri’. Tapi aku tak bisa menipu hati, Al. Kalau aku pernah bahagia dengan hubungan yang pernah kita jalani walau pernah dipenuhi dengan tipudaya, pengkhianatan, dan rasa dicampakkan.
Al, aku merindukanmu kala melihat langit malam dan menghitung setiap bintang, kala hatiku berbisik lirih, ‘Adakah kau lihat langit yang sama dan melihat rindu yang kutitip pada bintang?’. Kala kepekatan malam datang dan mengantarkan suhu yang rendah, adakah kau rasakan keheningan yang membalut hati ini?
Al, aku bukan pencerita pun penutur yang baik tapi aku ingin bilang bahwa denganmu, aku belajar banyak hal, belajar memahami orang lain dan bersabar. Belajar mencintai hingga terluka dan kau tahu … aku bersedia menunggu, Al! ANDAI SAJA KAU BUKAN MILIKNYA …..
***
Manokwari
Medio 2011
Hujan masih turun dengan deras di Manokwari. Beberapa bulan kembali ke kota ini belum juga mampu membuat hatiku tenang dan damai. Ada urusan yang belum selesai. Masih belum selesai di hati. Kusesap kopiku perlahan. Getir, basah, lengket, seperti kenangan lukaku yang masih belum sirna. Mengingat perjumpaanku sore kemarin.
Kulihat dia, lelaki hujanku, menuntun anak perempuannya di dekat rumah temanku. Berjalan perlahan dan tersenyum pada gadis kecilnya. Memandangku dengan pandangan kaget. Ada yang pecah di hatiku kemarin sore. Rasa yang sama, beratus malam silam, masih basah menggurat dinding hati, seperti lubang hitam kesedihan yang menyedotku masuk kembali.
Sayup – sayup suara Adele dalam “Someone Like You” berbisik pelan dan meremas hatiku:
I hate to turn up out of the blue uninvited/ But I couldn't stay away. I couldn't fight it./ I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded/ That for me, It isn't over.
Nevermind/ I'll find someone like you/ I wish nothing but the best/ For you, too
Don't forget me/ I begged/ I remember you said/ Sometimes it lasts in love/
But sometimes it hurts instead
Ah kau menggurat dan mengiris hatiku terus, Al.
Di sini, di tiap hujan, aku mengingatmu. Tapi jangan khawatir, Al. Aku sedang belajar untuk ikhlas. Ya, mengikhlaskanmu keluar dari benakku, menghapus kenangan kita. Walau terasa berat. Sangat berat.
Tiba – tiba suara ponselku berbunyi nyaring, sebuah pesan pendek masuk.
“Rhe, jadi to jalan malam ini? Sa jemput makan malam eee,” ketikan seorang lelaki menyapaku lewat simbol – simbol Latin.
Tak tunggu lama, kubalas dengan jelas, sangat jelas, “Yombex, Say”
Tak sia – sia kalimah utamaku sedari dulu, ‘Carikan sa pacar ka?’
Entahlah, akankah dia yang bukan Lelaki Hujan ini menjadi penawar luka, menjebol dinding pintu hatiku yang beku untuk sinar mentari? Aku tak tahu. Yang aku tahu, aku ingin jatuh cinta lagi. Itu saja. Titik!!!
***
Epilog
Pertemuan rilis bukuku baru saja kuhadiri. Berbicara tentang cinta, patah hati dan rekonsiliasi beterbangan dengan mudahnya dicampur gelak tawa menertawakan ketololan hidup.
Kulihat cetakan hard-cover buku kumpulan cerpenku ‘Sebuah Cerita Pendek untuk Lelaki Hujan’ tergeletak di atas meja. Kuambil bolpen dan kutorehkan lembaran tinta di halaman depan.
“Terima kasih, Al. Thanx for inspiring me these years.”
Lalu kumasukan dalam amplop beralamatkan sebuah rumah di kawasan perumahan baru di atas bukit sana. Ya, untuk Al. Mungkin besok kuposkan, atau kutitipkan pada Nay. Entahlah … yang aku tahu, aku ingin ia membaca cerita ‘Sebuah Cerita Pendek untuk Lelaki Hujan’. Itu saja.
Ya, itu saja. Karena aku ingin mengikhlaskan semua kenangan kami dalam keabadian kata - kata. Biar pupus dan lepas.
Selamat tinggal, Al.
(Manokwari, 161011; inspired by a true story)
Catatan:
1. Nyali pecek (Melayu Papua) Arti harafiah ‘nyali seperti lumpur’ atau diasosikan dengan ‘lemah’. Diartikan sebagai sifat Pengecut. Tidak ada nyali.
2. Penasaran mati (Melayu Papua) Sangat penasaran.
3. LDR (Inggris) Singkatan dari long distance relationship atau hubungan cinta jarak jauh dimana terdapat keterbatasan kontak fisik.
4. Kawan panta (Melayu Papua). Slang di Manokwari untuk merujuk pada sahabat, teman dekat ataupun teman nongkrong yang sangat akrab.
5. Molo (Melayu Papua) Menyelam
6. Poro (Melayu Papua) Perut. Dalam Melayu Papua, kata ini merujuk pada beberapa makna. 1) (denotatif) Perut. 2) (konotatif) ‘hamil’. 3) (konotatif) Lemak yang melipir perut sehingga perut menjadi gendut. Pada konteks cerpen ini merujuk pada makna ‘hamil’.
7.. Hati hancor panggal – panggal (Melayu Ambon?) Patah hati dalam intensitas tinggi.
0 comments:
Post a Comment