PROLOG
Kutempel guratan kata milik temanku di dinding kubikel meja kerja. Tiba – tiba aku merindukan Idom; lelaki hitam manisku. Tetesan kata di dinding pun mencair, berwarna merah kental. Amis. Seperti darah dan memenuhi meja kerjaku. Membuatku terhanyut. Tenggelam.
“Ah..... Seandainya bisa mengatur mimpi apa nanti malam, pasti kupilih mimpi yang ku suka.
Ah.... Andai bisa memilih ras, warna kulit dan rambut, pasti kupilih yang ku suka” (Arie May 261011)
***
Manokwari
19 Oktober 2011; 08: 00 WPB
Manokwari sedang panas hari ini. Sejak pukul 6 pagi, matahari garang membakar kota teluk di daerah Kepala Burung. Sebuah pesan muncul di layar ponsel yang terletak di meja kerjaku. Jarum jam baru saja bertengger mesra di pukul 8 pagi. Kulihat beberapa rekan kerja sedang sibuk menyeruput kopi di kubikel kerja mereka. Sesekali suara Dee; ketua jurusan berderai dalam tawa membahas kejadian lucu di pesta kerabatnya. Ia memang periang. Itu yang kutahu.
Kusesap cappuccino-ko dalam – dalam kala kubaca pesan masuk itu. Pesan dari lelakiku di ujung lain tanah ini; Jayapura alias port Numbai. Pesan singkat itu masuk di saat aku sedang ingin mendalami tulisanku tentang analisa penanganan konflik di Tanah Papua ‘Carrot Vs Stick’. Tumpukan buku karangan Chauvel, Kingsburry, King dan Drooglever sia – sia terbuka, enggan terbaca sementara waktu.
“Rhe, sa harus pergi ke lapangan hari ini. Nih hari terakhir. I wanna be the part of history, Rhe. Untuk tong pu anak kelak. Sayang ko banyak.”
Kusesap kopiku dalam – dalam. Lagi. Galau di hatiku masih belum hilang. Perasaanku sedikit tak nyaman. Demi sejarah. Iya, demi sejarah tanah ini.
***
Lautan Pasifik barat daya
Juli 2009
Liburan!!! Akhirnya liburan juga. Kebetulan seorang teman menawariku backpacking ke ibukota provinsi Papua; Jayapura. “Ada FDS, Rhe,” ujar Nay waktu itu. Iya, Festival Danau Sentani.
Nay dan aku, dua perempuan 3G ‘generasi gado – gado’ alias peranakan Papua memang tak memasukan kata ‘takut’ dalam filosofis hidup kami. Bahkan filosofi ini terinspirasi dari pendapat seorang kenalan kami ; Jimmy Kirihio yang bekerja di pusat dokumentasi bahasa Wooi di Amban sana, “Trada satu pun ombak di dunia ini yang bikin sa takut. Yang sa takut cuma tenggelam.” Itu ungkapan Jimmy dalam perjalanannya lintas laut ke kampungnya di ujung barat pulau Yapen. Itulah sebabnya edisi ‘pikul ransel bajalan’ ini kami lalui dengan menjadi penumpang kelas ekonomi di sebuah kapal putih milik perusahaan pelayaran. Minim fasilitas, kami tak peduli. Yang penting ada tempat buang hajat yang pakai ‘privasi’. Itu sudah cukup. Mumpung kerjaan sedang sedikit, mumpung lagi libur semester. Mumpung tabungan sedang bersedia ‘dikikis’. Lajang, muda dan berpenghasilan. ‘Kenapa harus takut? Takut buat …‘, itu kata hatiku selalu.
Dek luar teratas kapal sore itu penuh dengan manusia. Beberapa mama Papua berjualan di sela – sela orang yang tidur terbujur. Fenomena umum penjualan tiket ‘lambung kapasitas’ transportasi laut di tanahku. Di kejauhan, jingga menggores langit kelabu dengan berkas – berkas lembayung. Rombongan remaja usia sekolah bersenda gurau, menyemburkan ekstrak cairan kental berwarna merah darah di pinggiran kapal. Noda – noda pinang rona merekah melekat erat di lapisan besi bergaram. Nay dan aku dengan cuek berjalan dengan kaos oblong, celana pendek ¾, sandal jepit dan noken1. Tak lupa Nay sibuk menenteng kamera SLR Nikon D90-nya. Bidik sana. Bidik sini. Mengabadikan momen gerak kapal dan jingga. Atur sana. Atur sini. Maklum, sedang belajar fotografi. Aku? Tentu saja aku kebagian rezekinya. Jadi foto model dadakan HAHAHA.
Seorang lelaki hitam manis bertopi softball, jam tangan Fossil2 dan berjaket Varsity3 merapat mendekati kami di pinggir railing kapal ‘Pasti gara – gara Nay deng de pu kameranya ni’, batinku asal tebak. Rupanya benar. Lelaki hitam manis bergigi cerah ini memperkenalkan diri. Tampangnya seperti kami. ‘Lelaki 3G? Mungkin’. Ini tebakan asal.
Dua perempuan berdiri menenteng kamera di sisi starboard4. Seorang lelaki menatap kami dan bicara. Suaranya khas ‘lelaki tanah’. Berat dan seksi. Ini pendapat pribadi tentu saja.
“Jadi, mili5, kam turun dimana?” ujarnya membuka percakapan.
“Jayapura, bro. Baru bro di?” jawab Nay cuek sambil terus mengelus kameranya.
“Jayapura, juga. Kam naik dari mana jadi?” tanyanya lagi berbasa – basi.
“Manokwari. Baru bro ko?” Nay menimpali tapi tetap memegang erat kameranya.
“Sama too. Tapi sa tra lihat kam di ruang makan ‘kelas6’ sejak dari Manokwari?” jawabnya dengan pandangan menyelidik.
Spontan aku langsung tertawa keras. ‘Tertawa tarabe7’ tentu saja sambil memandang Nay yang juga kaget dengan jawaban lelaki yang kemudian kami tahu namanya Idom. Lelaki itu hanya memandang kami dengan heran. Damainya, memangnya aku dan Nay tampang penumpang ‘kelas’ ya? Pasti ini gara – gara kamera. Karena tak enak hati telah tertawa ‘ancor’, kebetulan kami di dek paling atas, kutawarkan solusi dengan wajah merah padam guna meredakan rasa malu kami. Rasa malu-ku lebih tepatnya.
“Bro, lebe bae tong pi minum kopi di cafeteria atas suda yooo. Macam berdiri talalu lama juga sa betis ‘urat’ ya. Harga mas kawin bisa turun nih.” Tawarku getir.
Ajakanku tentu saja diiyakan Nay dan Idom.
Aku ingat pembicaraan petang menjelang malam itu menjadi momen, tepatnya sejarah perjumpaanku dengan Idom. Pengeras suara ruang atas kafe terus mengumandangkan tarikan pita suara Bob Marley, “Three Little Birds”. Iya, kami bertiga seperti tiga burung kecil yang sedang mencari makna kehidupan. Ini yang kutangkap dari pembicaraan dengan Idom. Lelaki ini baru saja diterima kerja di sebuah kantor konsultan finansial di Jayapura. Ini perjalanan pertamanya ke sana. Idom, seperti juga aku dan Nay hanyalah anak – anak ‘generasi gado – gado’ yang lahir dari pasangan beda etnis. ‘Komen peranakan’ tepatnya. Aku dan Nay masih lebih beruntung; lahir besar di Manokwari walau sempat kuliah beberapa tahun di luar Papua. Idom? Walau bapaknya memang asli Papua, tapi masa kecil hingga SMPnya habis di negeri orang, bahkan masa kecilnya pernah dilaluinya di Belanda. Ia baru belajar dan mencoba mengenal Papua lebih baik kala pindah ke Sorong semasa SMA. Sayangnya, kuliahnya pun ia lanjutkan lagi di luar tanah ini.
Pembicaraan kami malam itu berlari dari isu kamera Nay, senja di atas kapal, ekonomi kerakyatan hingga masalah sosial budaya di Papua. Tak ayal, sedikit pembahasan politik menyeruak walau kadang – kadang kami berbisik – bisik dengan bahasa Inggris.
“Itu lagi, Rhe. Tong pu posisi kadang – kadang bagaimana ee. Saat tong pu rasa cinta Papua ditentukan dari tong pu penampakan. Padahal, siooo eee, bela sa dada ini, mangkali ada pulau Papua yang tacetak di dalam. Ini sapu tanah, sa cinta mati tanah ini eee” katanya di ujung percakapan. Tentu saja usai kami bertukar nomor ponsel dan alamat jejaring sosial.
Bob Marley masih sibuk menyanyi ‘Three Little Birds’nya. Pasti si operator musik ini anggota ‘Percuma’ alias ‘Perkumpulan Cucu Marley’ HAHAHA
‘Don’t worry about the thing ‘cos every little thing is gonna be alright. Singin’ don’t worry about the thing ‘cos every little thing…. This is my message to you’
***
Manokwari
19 Oktober 2011; 15: 00 WPB
Analisa resolusi konflik Papua yang kugarap mulai kelihatan jelas. Pendapat Chauvel mulai bisa bersinergi dengan pendapat Kingsbury. Sesekali kubuka lembar – lembar tebal buku Drooglever, mencoba mencari emosi para lelaki dan perempuan kulit kopi yang terekam dalam keabadian kata dan dokumen. Mencari gurat foto bayang nenek moyangku. Kubolak – balik juga buku terbitan LIPI ‘ Papua Road Map’. Sesekali kupandang foto Idom dan diriku bersama Nay kala pertama kali berjumpa di dek kapal putih 2 tahun lalu di rak kecil atas kubikel. Kami begitu kurus dan lucu. Idom begitu mirip bapaknya. Tak seperti Nay dan aku yang lebih mirip teori pencampuran Mendel. Entah turunan filial ke berapa, pembelahan fenotip, genotip atau apalah itu. Dominansi versus resistensi. Entahlah.
Cuaca masih panas di luar dan kami, para pekerja akademik, dalam ruang tanpa penyejuk udara mulai sibuk mengipasi diri. Aroma garam tak sampai mengalir ke atas gedung kami yang pongah berdiri di atas sebuah bukit kapur. Jauh di dekat punggung kawasan konservasi Gunung Meja. Sudah lebih dari dua botol air mineral botol kecil habis dalam waktu 1 jam ini.
“Bip – bip – bip”, ponselku berbunyi.
“Rhe, sa sayang ko. Jaga diri eee. Aaaaarrrggghh”, suara Idom tiba – tiba muncul dan menghilang. Lengkap dengan jeritan kesakitan.
‘Idom kenapa?’ batinku. Aku tak tahu. Tapi perasaanku tak nyaman. Kucoba menghubunginya lagi. Tak bisa masuk. Bunyi tulalit terus bergema. Beberapa menit kemudian, suara ‘tanta Vero’ bicara. Kuingat kerabat Idom yang juga pergi ke lapangan. Kuhubungi dia. Sama saja. Tak diangkat.
***
17:00 WPB
Menit merangkak naik, bergerak sangat lambat. Sejak sejam lalu aku menangis. Bingung. Kalut. Entahlah. Dee sejak tadi mencoba menenangkanku. Nay sedang berangkat penelitian ke pedalaman. Aku tak tahu. Ada rasa yang tak bisa kujelaskan sedang berkecamuk di hati. mengiris – iris logikaku. Menyayat – nyayat emosiku. Entahlah. Itulah sebabnya aku putuskan pulang lebih awal.
Idom masih belum bisa dihubungi. Tak putus akal kuhubungi seorang sahabat lama; Arie di Jayapura yang menjadi kuli tinta. Bertanya tentang situasi terkini. Ia hanya bisa bilang dalam suara lirih. “Kongres telah selesai, putusan telah ditetapkan. Keterangan Pers telah dilakukan. Tuntas. Tak ada pembubaran Paksa, kawan. Yang ada... Penyerbuan!”
Aku makin hilang akal kala potongan berita di TV Nasional cuma menampilkan running text kejadian di lapangan Zakeus itu. Sepotong – potong. Di depan TV, kulihat beberapa pejabat tinggi negara ini tersenyum jumawa di depan kamera, bicara ini – itu tentang program baru. Seorang mantan menteri kelihatan lusuh keluar dari rumah petinggi tertinggi negara berlambang burung Garuda. Tak luput, kuperhatikan seorang lelaki berkulit kopi yang juga baru dilantik sebagai menteri. Gula – gula politik? Entahlah aku tak tahu. Yang aku tahu, tak ada Idom. Tak ada berita penyerbuan kongres. Tak ada berita!
***
20:00 WPB
Mama datang ke rumahku. Rupanya ia sudah mendengar berita seputar kericuhan kongres bangsanya di Jayapura. Ori, adik lelakiku menemaninya juga. Mataku sudah bengkak sedari tadi. Idom masih belum bisa kuhubungi. Kerabatnya juga tak bisa. Hilang jejak!
Layar TV kembali lagi menampilkan berita. Kali ini sangat jelas, gamblang. Para pria ‘daun pisang kering’ dan ‘loreng’ berlari masuk menghela, menyeret beberapa lelaki kulit kopi. Lengkap dengan tendangan. Bunyi tembakan berderu – deru. Aku tersentak. Inikah wajah lain negeri ini yang enggan muncul. Tiba – tiba ponselku berbunyi; notifikasi pesan jejaring sosialku. Sambil terus sesekali memperhatikan penggalan rekaman kejadian beberapa jam lalu di lapangan Zakeus Abepura, kubaca tulisan temanku, Arie May dalam tautan catatan yang dikirimkan lewat pesan jaringan ‘buku wajah’:
“Puluhan kata-kata mereka lontarkan.
Umpatan dan makian mereka teriakkan.
Merendahkan....
mencabik-cabik harga diri....
Tetapi para lelaki tanah itu terus berjalan dengan tenang, atau berusaha tetap tenang dan tak terpancing dengan kata-kata yang begitu menistakan mereka.
“Bodok, baru minta merdeka, sekolah dulu..!” katanya.
“Merdeka-merdeka apa? Bodok!” kata yang lain.
Ribuan orang telah meninggalkan tempat. Hanya beberapa ratus orang saja yang masih berada di tempat itu.
Mereka berlari mengitari lapangan sebagai ucapan syukur karena semua acara telah selesai, atau menjalankan tugas menjaga para lelaki yang menjadi pimpinan mereka.
Ketika sebuah mobil Avansa Silver bergerak keluar arena, para serdadu menghentikannya dengan paksa. “Turun!! Yang di dalam ayo turun !"
Perintah menghentikan mobil itu direspon berbeda oleh yang lain. Tembakan beruntun meletus ke udara. Mereka segera menangkap dan memukuli para lelaki tanah.”
Pada bagian catatan ini, aku sudah tak sanggup lagi membaca lanjutannya. Rasa yang mendera di hati terjawab sudah. “Idom, ko dimana?”, jeritku sebelum pingsan.
***
Numbai
23 Oktober 2011
Kulangkahkan lagi kakiku kembali ke kota ini. Kali ini tanpa Idom. Semuanya jelas sejak beberapa hari terakhir. Idom tak pernah lagi kembali. Tak akan pernah kembali untukku. Mereka menemukan mayatnya di gunung belakang Abe. Hampir tak dapat dikenali kecuali kawat giginya yang jelas menjadi penanda.
Kupandangi jenazahnya lagi terakhir kali sebelum ia masuk ke pelukan tanah yang dicintainya. Sayangnya, mereka yang membunuhnya tak akan pernah melihat jantungnya yang kutahu pasti bercap bendera bergambar bintang di atas pulau berbentuk ‘kasuari duduk’. Lamat – lamat kuingat kembali tulisan Arie:
“Lelaki tanah berlari kocar-kacir, berusaha menyelamatkan nyawa yang hanya sebuah.
Tak ada perlawanan sedikitpun
Yang tertangkap hanya bisa pasrah,
Pukulan dan tendangan silih berganti.
Pantat senjata laras panjang, pantat pistol dihujam berkali-kali di wajah dan kepala mereka
Dari atas dua buah baracuda, mereka membidik dengan senjatanya.
senjata meletus berulang ulang.
Dor… dor… dor….. dari pistol.
Tret…. tet….. tre…. ret…dari senjata otomatis.
Bunyi desingan timah panas itu bersahut-sahutan dan berdesingan di udara. Berdesing di samping badan dan telinga para lelaki tanah.
Para serdadu bersenjata lengkap itu, seperti kesurupan.
Terus melepaskan tembakan, pukulan, tembakan
Seolah-olah sedang berada dalam pertempuran bersenjata, mereka terus melepaskan tembakan tanpa balas, meski tak seimbang, tapi terus berlanjut!”
Derai tangis mama Idom, seorang perempuan Maluku, di pemakaman menyadarkanku; keluar dari rekaman catatan Arie.
“Sa juga sayang ko, dom. Sayang ko banyak” ujarku sebelum peti turun berkalang tanah.
***
EPILOG
Manokwari
November 2011
Mataku masih sembab tapi kupaksakan diri masuk kerja. Tumpukan berkas analisa resolusi konflik Papua masih terbujur kaku di atas meja kerja. Kali ini aku tahu, aku tak butuh analisa Drooglever, Kingsburry, Chauvel atau siapapun itu. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Papua. Saat mimpi dilarang tumbuh di tanah ini hanya karena persepsi yang berbeda. Dengan satu sentuhan lembut di papan ketik, kukirimkan abstrak artikel untuk jurnal di kampus lamaku di sebuah negara benua. Judulnya tentu saja, “Kala Garuda melawan Mambruk: Analisa metode penanganan konflik Papua a la ‘Carrot Vs Stick’”
“Untuk tong pu anak kelak” ujar Idom dalam pesan SMS terakhirnya.
Iya, kesimpulannya sudah jelas, Bukan hanya ‘Carrot Vs Stick’ dalam penanganannya. Yang tepatnya ‘Gula – gula & Peluru’. Itu yang kutahu.
Sekali lagi, tulisan Arie menari di kepalaku:
“Saya mengingat dua diantaranya. Kedua lelaki tanah itu berpelukan ketika hasil ditetapkan "Apa yang kita perjuangan, anak cucu kita yang nikmati," seraya menangis dan saling berpelukkan.
Air mataku jatuh.
Apa yang salah?
Hingga hari ini, mimpi itu masih ada.
Apa salah mereka?
Bukankah mimpi itu milik semua orang ?
Atau Para lelaki dan perempuan Tanah ini bukan manusia sehingga mimpi pun harus diatur dan jika tak berkenan, wajar saja jika mereka dikejar, dipukul, ditendang, dihajar hingga babak belur bahkan putus nyawa untuk membenarkan mimpi mereka agar sesuai dengan pemilik senjata, pistol, baracuda dan palu itu ?”
Kupandangi perutku yang membuncit 6 bulan, dan berbisik lirih pada janinku, “Tra ada salahnya bermimpi, dom. Karena itu ko pu hak ‘n I’ll fight it for you just like your dad.”
Iya, nama anakku kelak ‘Idom’, seperti nama bapaknya ‘Freedom W.P.’.
(D. Meimosaki/ Manokwari, 311011; inspired by KRP III tragedy 191011. Thanx heaps untuk pinjaman catatannya kak Arie May. Dedicated for all Papuan Women who lost their beloved ones for their dream)
CATATAN:
1. Noken (Melayu Papua) Tas rajut khas Papua, terdiri atas berbagai varian tergantung dari etnis pembuatnya.
2. Fossil (Inggris) Nama merk sebuah jam tangan asal AS. Pemakainya ditengarai kalangan menengah ke atas. Setahu penulis, harganya di Indonesia minimal 800 ribu.
3. Varsity (Inggris) sejenis jaket universitas biasanya dengan warna – warna menarik.
4. Starboard (Inggris) Bagian sisi kapal yang tidak bersebelahan dengan pelabuhan (bd: portside)
5. Mili (Melayu Papua) bentuk reduksi ungkapan khas Melayu Papua untuk kata ‘famili’ yang artinya kerabat ataupun ‘saudara’ secara umum.
6. Kelas : Merujuk pada tingkatan kelas I – III alias kelas berkamar dalam layanan kapal Pelni di Papua.
7. Tertawa Tarabe (Melayu Papua) Ungkapan untuk tertawa terbahak – bahak.
0 comments:
Post a Comment