Search This Blog

Loading...

Saturday, 22 October 2011

Catatan 3G

Saya tidak tahu mengapa saya lahir di tanah Papua. Saya juga tidak tahu rencana Tuhan mengapa saya harus lahir dari pasangan yang beda etnis dan sempat masuk kategori beda agama serta masuk kategori anak – anak 3G alias ‘generasi gado – gado’. Saya juga tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan saya lahir sebagai perempuan. Masih banyak hal yang sering saya tanyakan pada Tuhan tentang hidup saya dan rencana-Nya dalam diri saya, walau kadang Tuhan memilih tidak menjawabnya dengan cara langsung tetapi lewat banyak cara. TAPI, ada satu hal yang saya tahu bahwa saya harus hidup dan berbuat sesuatu yang baik bagi Tanah Papua, walau memang untuk menilai sesuatu ‘baik’ harus dijustifikasi dari standar tertentu. Tapi saya memilih menilainya dari kacamata ‘kebaikan universal’.

Beberapa hari lalu, di tanah kelahiran saya, tepatnya di Abepura Jayapura, terjadi kerusuhan pada akhir Kongres Rakyat Papua. Aparat keamanan dan masyarakat sipil yang menghadiri kongres berseteru. Ada yang tewas di gunung. Entahlah bagaimana kejadiannya. Di waktu yang sama, di ibukota negara ini, ada seorang Papua yang diangkat jadi menteri di kabinet presiden terkini. Entah sebuah tawar – menawar politik dalam bentuk lain ataupun ‘gula – gula politik’, saya tak tahu. Bukan bidang ilmu saya. Beberapa minggu lalu juga, ribuan karyawan sebuah perusahaan tambang besar di tanah ini yang dilabel sebagai salah satu ‘dapur’ pendapatan utama negara ini melakukan demonstrasi besar – besaran dan ada karyawan yang tewas dalam bentrok dengan aparat keamanan. Begitu juga sejak belasan, puluhan tahun lalu di tanah kelahiran saya, Papua, selalu saja ada berita tentang kekerasan, ketidakadilan, suara – suara rakyat yang dibungkam. Tetapi, saya juga melihat adanya aliran dana instan yang mengalir dalam jumlah besar masuk selama beberapa tahun terakhir. Demi kesejahteraan katanya.

TETAPI, saya tetap bertanya mengapa di beberapa bagian tempat yang saya pernah jelajahi, kunjungi dan dengar di tanah ini, masih saja ada perempuan hamil yang harus mati melahirkan kehabisan darah karena tak ada tenaga medis, masih ada sekolah – sekolah dengan atap ringsek terkena pohon rubuh dan sekolah berlantai tanah dan tak ada guru, masih ada masyarakat yang berjalan jauh mencari sumber air minum, masih ada masyarakat yang dipaksa pindah dari kampung mereka karena alasan komersial hutan mereka, masih ada pasien – pasien rumah sakit daerah yang mengantri berjam – jam bahkan seharian lebih di ruang UGD karena kurangnya ruangan dan fasilitas kesehatan, masih banyak anak – anak kecil yang berkeliaran dan jadi anak jalanan di pusat – pusat perbelanjaan; menjaga motor dan parkiran, masih banyak orang gila di kota saya yang berkeliaran dengan bebas di jalanan, masih banyak mama – mama penjual sayur yang menggelar dagangan mereka dalam genangan lumpur di pasar utama kota saya, dan masih banyak hal lainnya yang saya lihat. Apakah karena mereka orang Papua atau karena mereka memang ‘miskin’? Entahlah. Yang saya tahu, masih banyak ketidakadilan dan ketidaksejahteraan di tanah saya.

TETAPI, saya juga masih tetap bertanya, mengapa di beberapa bagian tempat yang saya pernah jelajahi, kunjungi dan juga dengar, masih ada sesama orang Papua yang menindas orang Papua lainnya maupun orang non-Papua. Masih ada orang Papua yang mendapat jabatan dalam dunia pendidikan yang memakai kapasitas jabatannya untuk ‘memeras’ mahasiswa yang membutuhkan jasanya padahal mahasiswa yang di’peras’nya bukanlah orang kaya, bukan orang yang melakukan ketidakadilan pada keluarga orang tersebut, bukan orang yang pernah menyakiti keluarganya. Masih ada juga orang Papua yang menjual hak milik dan kapasitas keluarga besarnya demi kekayaan pribadinya sendiri, tanpa peduli kerabat jauhnya di kampung harus berjalan jauh demi mendapatkan mata air bersih, berjalan jauh mencari hewan buruan, berjalan jauh mencari pendapatan tambahan untuk biaya sekolah anaknya di kota. Masih ada orang Papua yang mencuri hak sesama orang Papua dalam hal tertentu yang berkaitan dengan masa depan orang tersebut, melakukan kecurangan; dengan beralasan ‘saya marjinal maka saya berhak’ padahal usai mendapat apa yang ia inginkan, ia bertingkah seperti orang yang ia tentang selama ini. Hipokrit? Entahlah. Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh orang – orang seperti ini. Benar – benar tak tahu.

Masih banyak hal yang harus dibenahi di tanah ini. Kalau tanah ini perempuan, mungkin ia ibarat sudah dinikahkan paksa, diperkosa berkali – kali dan masih juga dijual dan digadaikan pada akhirnya yang ternyata dilakukan oleh kerabatnya sendiri. Ia diperkosa berkali – kali, ada anak – anak generasi gado – gadonya yang lahir; bukan atas keinginan mereka sendiri, bukan salah mereka lahir karena mereka tak pernah tahu. Ada tetangganya yang berniat menolong luka – lukanya tetapi karna tetangganya ternyata berasal dari etnis yang sama dengan si pemerkosa, maka beberapa anak kandungnya menolak bantuan tersebut. Tapi pada satu sisi yang sama, anak – anaknya juga lupa bahwa yang menjual mama mereka pada pedagang budak salah satunya adalah bapak dan beberapa dari kerabat mereka sendiri. Saya hanya bingung saja melihat hal ini. Bagaimanapun si perempuan perlu diobati, anak – anaknya entah anak kandung atau yang lahir dari sebuah ‘perkosaan’ berhak atas kesejahteraan dan hak hidup dasar, dan tentu saja perempuan ini butuh keadilan untuk menuntut hak atas tubuhnya sendiri. Entahlah, saya pusing memikirkan hal ini.

TETAPI, saya juga tahu satu hal sederhana yang bisa saya lakukan saat ini untuk tanah Papua, yang bisa anda lakukan. LAKUKAN SAJA APA YANG MENJADI TALENTA DAN TANGGUNGJAWAB ANDA SEBAIK MUNGKIN DIMULAI DARI SKALA KECIL DAN JANGAN PERNAH MENCURI (terinspirasi novelnya Khaleed Hoseini ‘ the Kite Runner’).

Saya hanya pengangguran banyak acara, dan saya memilih menggunakan talenta saya di dalam hal yang saya bisa saat ini; mendokumentasikan catatan tentang beberapa hal tentang kota saya, tentang orang – orang di sekeliling saya, tradisi dan budaya yang mungkin saja berguna untuk menjadi pertimbangan kelak di masa – masa mendatang, entah sepuluh – dua puluh tahun mendatang. Saya tak tahu. Yang saya tahu, itu yang dapat saya lakukan saat ini untuk tanah saya. Menuliskan apa yang saya lihat dan rasakan untuk ketidakadilan di tanah ini lewat kacamata – kacamata orang lain yang saya pinjam. Entahlah, saya hanya muak dengan kondisi tanah ini yang seperti ‘lagu lama’ kala kerakusan dan keserakahan tak lagi melihat jenis rambut dan warna kulit.

Saatnya berhenti saling menuduh tentang siapa yang terbaik, siapa yang adil, siapa yang mengalami ketidakadilan dan ketidaksejahteraan. Saatnya berhenti menjual kesengsaraan orang lain demi banyaknya lembaran uang ataupun tambahan digit Rupiah di rekening.

Sudah saatnya melawan. Lawan ketidakadilan dan ketidaksejahteraan ini dengan berbuat sesuatu yang anda bisa, sesuai dengan kapasitas anda, setidaknya satu hal yang bisa anda lakukan adalah JANGAN PERNAH ANDA MENJADI ORANG YANG ANDA TENTANG SELAMA INI. Lalu apa bedanya anda dengan orang yang anda tentang itu? Tak ada.

Sudah saatnya berpikir apa yang terbaik bagi tanah ini, yang mendesak. Karena saya percaya masing – masing kita diberi talenta dan panggilan hidup yang berbeda. Saya juga percaya bahwa kekerasan selamanya tidak akan pernah menyelesaikan masalah, tak akan pernah. Selamanya tak akan pernah. Begitu juga dengan dengan sikap pandangan rasis tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Saya hanya benci dengan orang – orang yang mengatakan bahwa ‘kami yang terbaik, kami yang terhebat, kami berhak atas X karena kami marjinal karena alasan ABCD, karna warna kulit dan rambut kami’ TAPI lupa untuk melakukan kewajiban pada sesama mereka yang notabene sama – sama berwarna kulit dan rambut tetapi beda bahasa atau tradisi. Persoalan di tanah ini sudah bukan pada tahap warna dan jenis rambut walau saya tetap mendukung memberikan prioritas pada mereka yang berkulit kopi dalam posisi marjinal. Yang terpenting pada masa kini adalah bagaimana menyelamatkan yang namanya ‘manusia’ apalagi melihat tren masa kini di tanah ini yang berurusan dengan eksistensi manusia apalagi terkait kebutuhan dasar,

Saya lelah melihat pandangan rasis, stereotip dan ‘pelabelan’ di tanah ini, kala ras menentukan jati diri seseorang, kala spesifikasi seseorang dinilai dari jenis rambut dan warna kulit dan juga nama belakang mereka. Saya lelah. Saya tahu saya hanya seorang perempuan yang masuk kategori 3G dan kadang saya lelah melihat apa yang saya saksikan selama ini. Saya hanya ingin bilang, kadang - kadang kita harus lebih memakai kacamata ‘the Good Samaritan’ alias ‘Orang Samaria yang baik hati’. Tak semua orang X buruk dan tak semua orang Y itu baik. Saya jadi ingat perkataan ibunya Sharukh Khan dalam film, “My Name is Khan”, ‘di dunia ini hanya dua jenis orang: orang baik dan orang Jahat’. Tak ada yang lain. Saatnya berhenti menilai orang dari tampilan fisik. Yang bisa kita pakai menilai hanya 2: SIKAP dan PERBUATAN. Ya, sekali lagi di dunia hanya ada dua tipe orang: ORANG BAIK dan ORANG JAHAT. Itu yang saya tahu.

Saya lelah dan geram saat ada oknum – oknum berkulit gelap dan berambut keriting sendiri yang berlagak meniru oknum kaum pendatang yang mereka tentang dan label sebagai ‘pencuri, perampok dan penjajah’ tetapi lupa untuk melakukan hal yang baik bagi kaum mereka sendiri. Alih – alih, mereka malah melakukan hal – hal yang mereka koar – koarkan sebagai tindakan ‘ketidakadilan’ itu. Iya, mereka malah juga menjadi ‘pencuri, perampok dan penjajah’ bagi orang lain entah terhadap sesama orang Papua maupun non-Papua dalam lingkungan kerja mereka dan mereka telah melakukan KETIDAKADILAN dan berlindung di belakang pernyataan, “sa marjinal bla – bla – bla”

Ah saya benar – benar tak tahu harus berkata apa lagi *kelu.

Yang saya tahu, bila ingin mengubah tanah Papua jadi tempat yang lebih baik, saatnya berubah dan melawan ketidakadilan. Berbicara ketidakadilan bukan hanya berbicara bagi suatu kelompok tertentu karena faktor kesamaan ras, etnis dan budaya. Saya percaya melawan ketidakadilan dapat dilakukan secara universal terlepas dari warna dan jenis rambut kita. Katakan apa yang salah sebagai salah walaupun itu dilakukan oleh saudara kita, dan katakan apa yang benar sebagai benar walaupun itu dilakukan oleh orang yang tidak kita suka secara pribadi. Saya geram saat seorang Papua kadang diperlakukan tidak adil oleh seorang non-Papua dalam situasi dan kondisi tertentu saat sebenarnya ia berhak menerima keadilan. TAPI saya juga geram kala seorang non-Papua diperlakukan tidak adil oleh seorang Papua karena alasan – alasan yang tidak masuk akal dan tak terkait dengan diri orang itu. Saya merasa heran bagaimana kita bisa hidup dengan ‘politik balas dendam’ dan ‘rasis’ ini bertahun – tahun. Bukankah Tuhan menciptakan pelangi dari berbagai warna untuk menunjukan keindahan itu ada dari banyak hal yang berbeda.

Bila merasa diperlakukan tidak adil maka LAWANLAH dengan cara yang benar. Dengan bekerja dua kali lebih keras, dengan belajar dua kali lebih keras, dari meningkatkan motivasi hidup dua kali lebih keras dan berdoa dua kali lebih keras daripada orang yang melakukan ketidakadilan pada kita. Karena hasilnya akan lebih manjur dan awet. Saya tak tahu apakah anda pernah mendengar tentang Nelson Mandela, Marthen Luther King Jr, Bantu Steven Biko, Donald Woods dan Desmond Tutu. Yang saya tahu, mereka tidak pernah lelah berjuang melawan ketidakadilan dengan cara – cara anti kekerasan di Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Bahkan bila melihat kisah persahabatan Steven Biko yang asli kulit hitam dan Donald Woods yang asli kulit putih melawan ketidakadilan politik Apartheid, ada satu pelajaran penting saya lihat baik lewat film “Cry Freedom”, “Invictus” dan beberapa otobiografi dan biografi Nelson Mandela dan tokoh – tokoh pembebasan: untuk memperjuangkan perlawanan ketidakadilan tidak dibutuhkan warna kulit dan jenis rambut yang sama, karena darah yang mengalir di dalam tubuh kita sama – sama merah.

Kadang – kadang kita menjadi sangat munafik di tanah ini dan berharap bahwa kesejahteraan dan kebebasan ataupun apalah itu berasal dari orang lain, dari bangsa lain. Kadang kita berharap orang lain khususnya bangsa Kaukasian peduli pada ketidakadilan di tanah ini, pada bangsa Papua, peduli pada pelanggaran HAM di tanah ini. SEDANGKAN, kita sendiri lupa untuk melindungi HAM saudara – saudara dan sesama kita di sekeliling kita. Kadang kita lupa menjadi ‘Orang Samaria yang Baik Hati’.

PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI. Itu yang saya tahu. BERHENTI BERMIMPI ORANG LAIN AKAN MENGUBAH HIDUP KITA kalau kita sendiri tidak percaya bahwa kita dapat mengubah hidup kita. Untuk masalah Tanah Papua, kita terlalu lama terlena hanya untuk MEMBANGUN NEGARA dibandingkan MEMBANGUN BANGSA. Jangan sampai tiba pada waktunya, saat negara yang diimpikan itu sudah siap, BANGSA INI SUDAH TERLANJUR MATI digerogoti kemiskinan tingkat tinggi, HIV/AIDS, gizi buruk, malnutrisi, buta huruf dan penurunan semangat hidup dan berwirausaha, kerusakan lingkungan hidup yang sangat parah, dan banyak hal buruk lainnya. Lalu apa yang kita lakukan? ‘Membuka jalur migrasi besar – besaran dari luar?’ Itulah sebabnya, Sudah saatnya BERGERAK dan MELAWAN melawan ketidakadilan di sekeliling kita dengan cara yang dapat kita lakukan.

Saya benar - benar lelah hati melihat nasib Tanah Papua yang sedang megap – megap sesak napas. Saya benar – benar tak peduli pada politik, pada platform dasar negara. Yang sedang saya pikirkan saat ini apakah ibu – ibu hamil yang ada di pedalaman sana bisa melahirkan dengan aman tanpa resiko meninggal, apakah orang – orang sakit masih bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik, apakah anak – anak sekolah di pedalaman maupun di kota bisa belajar dengan baik, dengan perut terisi penuh, apakah orang – orang yang bergantung pada alam untuk makan entah berburu atau meramu masih bisa makan hari ini saat hutannya sedang dikapling – kapling dan dijual oleh sesama ‘anak tanah’ dan masih banyak hal lainnya .

Betapa kemiskinan fisik dan jiwa membuat saya lelah hati. Membiarkan orang lain menjadi miskin dan tidak punya akses pada kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan adalah salah satu bentuk ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Sudah kah kita melakukan yang terbaik dari kita untuk hal ini, setidaknya memikirkannya? Entahlah. Saya tak tahu.

Harus makin banyak berdoa bagi tanah ini, bagi orang – orangnya, bagi kedamaian di tanah ini dan juga berusaha yang terbaik dari tiap kapasitas dan talenta yang kita punya. Semoga Tuhan menolong kita semua. Amen

(Manokwari, 221011; reflecting on recent Papua situation)

0 comments: