Pagi ini seorang teman memang mengirimkan kelakar yang menyinggung tentang mati muda dan sayangnya saya membacanya saat kondisi saya drop di pagi hari. Saya memutuskan untuk berjuang untuk hidup saya hari ini, untuk tetap punya semangat yang sama tiap hari. Hari ini dan beberapa hari terakhir, saya tahu saya sedang berada dalam fase depresi saya. Karena saya bisa merasakannya kala bangun pagi, saat energi saya terasa habis, lemas dan tidak bergairah. Apalagi Seperti biasa, saya bangun saat matahari sudah merangkak naik dengan senyum jumawanya di luar sana. Sudah 2 hari ini saya bangun dengan nyeri di dada kiri, terasa sesak menghimpit saya untuk bernafas dan saya merasa jantung saya seakan memberontak. Hari ini setidaknya saya cepat sadar apa yang harus saya lakukan sehingga sakitnya tak begitu lama. Iya, saya mencoba untuk batuk keras – keras, berulang kali. Berusaha menstimulasi otot – otot dada kiri saya.
Hari ini saya masih punya banyak janji kerja, masih harus berburu informasi, masih harus bersenang – senang dan menulis. Saya tak ingin mati muda. Yang pasti, saya sudah harus kembali check-up dengan kondisi lengkap saya, mulai dari EKG dan semuanya. Kadang lelah juga mempunyai kondisi kesehatan sejak kecil yang tak prima, kalau memang sampai positif Jantung lagi, ah kayaknya saya memang butuh paspor penyakit deh, yang berisikan ‘visa’ tiap penyakit yang saya koleksi HAHAHA.
Hari ini harus jadi hari kedua yang saya syukuri. Hari kedua dimana saya meyakinkan diri bahwa saya masih ingin tetap hidup, masih ingin Tuhan memotret impian saya, saya masih ingin pergi ke tempat – tempat jauh yang saya pernah saya lihat kartu pos, gambarnya ataupun sekedar mendengarnya. Saya masih mau hidup. Itu saja. Saya terus mensugesti diri saya dengan berbicara di depan bayangan diri saya di depan kaca, tentang kebaikan Tuhan, tentang apa yang hendak saya capai, tentang impian saya. Pagi ini, saat mengetik di pagi hari, saya terus berbicara seperti ini pada diri saya sambil tetap mendengar beberapa koleksi lagu rohani kontemporer dari album WOW 2009. Saya bilang pada diri saya, “May, ko harus tetap hidup karena Yesus su kasi De hidup untuk ko”. Ya seperti itu.
Saya tak tahu kapan saya mati, kapan nafas ini berkhianat dengan paru – paru saya. Saya sama sekali tak tahu. Yang pasti, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap berpikir positif, mengusir bayangan kematian dari pikiran saya tiap pagi kala bangun seperti hari ini, mengusir rasa pesimis yang menjalar di kepala saya. Saya hanya ingin tetap hidup walau saya tahu kondisi tubuh saya sedang drop akhir – akhir ini. TAPI seperti biasa, SAYA TAK INGIN MEREPOTKAN ORANG LAIN DENGAN PENYAKIT SAYA apalagi membuat mereka mengasihani saya. INI HIDUP SAYA dan saya hidup dengan konsekuensi ini sepanjang hidup saya, masa yang berat telah lewat, saya hanya perlu meyakinkan diri bahwa saya bisa menjalani semua ini dengan pikiran positif. Toh sewaktu kuliah di Canberra dulu, saya pernah memaksakan diri berjalan dalan dingin berulang kali dengan langkah yang sangat pendek, menunggu bis ke UGD sebuah rumah sakit dan juga pergi ke mana – mana. Saya tak harus menyerah untuk gejala nyeri dan sakit ini. Saya akan tetap mencari bantuan kesehatan, sementara ini masih harus mencari aspirin dulu, sebagai tindakan pencegahan minimal. Setelah itu, semuanya harus saya lakukan sendiri, hanya tak ingin merepotkan orang lain. Itu saja. *berpikir untuk mencari informasi tentang spesialis dulu hehehe.
Saya cinta mati hidup saya karena saya tahu, jauh di ujung sana, Yesus sedang sibuk memotret dan menempel mimpi – mimpi saya di dinding meja kerjanya. Itu saja.
Mati muda? No way …. Itulah sebabnya kadang jauh di dalam hati saya, saya berpikir apa memang Tuhan menginginkan saya mengikuti tes wawancara kemarin dengan sebuah lembaga internasional di program kesehatan khususnya dalam perancangan sistem karena saya ‘penyakitan’. Entahlah, yang pasti saya tahu sistem layanan kesehatan di tanah ini apalagi di kota saya masih jauh dari yang saya bayangkan, apalagi mengingat bagaimana saya dilayani dulu di Canberra Australia. Apalagi mau bermimpi fasilitasnya. Kadang hanya sedikit miris, bila dana – dana instan yang mengalir untuk pembangunan diinvestasikan untuk tenaga medis, fasilitas kesehatan, ah mungkin orang – orang seperti saya akan berkurang dan setidaknya ada secercah harapan. Mungkin sudah saatnya saya menulis tentang layanan kesehatan ya. Sekedar berbagi pengalaman apa yang saya impikan.
Saya hanya pemimpi, itu yang saya tahu. Tapi saya tak mau mati muda karena saya tahu Yesus menyimpan potret mimpi saya dan karena saya tahu saya mau jadi staff kerjanya Yesus. Itu saja.
(Manokwari, 201011)
1 comments:
salam kompak selalu dan sukses untuk segala aktifitasnya yang di laluinya
Post a Comment