Search This Blog

Loading...

Monday, 31 October 2011

Another Story of Pain

Rasa sakit adalah satu indikator bahwa kita masih hidup, masih bernafas dan sesuatu yang membuat kita menjadi sangat manusiawi; sesuatu yang membuat kita bisa bersimpati dan terlebih lagi berempati. Itu yang aku pelajari hari ini. Usai lebih dari 48 jam serangan nyeri ini kembali lagi, usai pil – pil pereda nyeri dan anti-inflamasi kutelan lagi, aku sadar, tak ada pilihan lagi selain kembali terapi, bertemu ahli penyakit ini dan bergantung lagi pada obat – obatan. Padahal obat dan kombinasi rasa nyeri dua hari ini sudah cukup membuatku depresi dan alam bawah sadarku mulai kacau kembali. Tentu saja ini kuperhalus dari ungkapan, “hampir membuatku gila dan mencuri kewarasanku”.

Entahlah, apa Tuhan akan menerima orang penyakitan sepertiku bila ku mati kelak? Entahlah, tak tahu. Secara pribadi, aku hanya ingin semuanya selesai. Biar tak sakit, tak nyeri lagi. Tak sanggup lagi menjalani hari dengan rasa nyeri seperti ini.

Semalam, saat sakit mulai mendera dan benar – benar tak sanggup lagi mengumpulkan kekuatan, kukirim pesan pada beberapa teman dan bertanya alasan “kenapa manusia harus hidup dan bertahan hidup”. Hal yang sama kulakukan lagi pagi harinya, tentu saja dengan curhat pada seorang teman lelaki. Entahlah, aku hanya sedang berada di persimpangan. Bukan marah pada Tuhan, sama sekali tidak. Aku sudah berhenti marah pada Tuhan di tahun 2001 terkait dengan kondisiku. Hanya sedikit bingung dengan maunya Tuhan dalam hidupku, dengan semua kondisi kesehatanku. Hanya sedikit merasa lelah secara mental untuk hidup. Itu saja.

Entahlah, yang kutahu, semalam saat curhat dengan dua teman, di hatiku, aku disuruh membaca Yohanes 15: 1 – 17 tentang “Jesus the Real Vine”. Ada beberapa ayat yang kurasa sangat menegurku tetapi juga menguatkanku. Entahlah … hingga malam ini, yang kutahu aku ingin menangis sangat keras dan kemudian harus tetap menulis. Ingin membuat tulisan edisi “tukang mimpi” lagi.
Berikut ini adalah ayat – ayat yang sangat menguatkan dari pembacaan tersebut:

“Remain united to me, and I will remain united to you.” (V.4)

“I love you just as the Father loves me; remain in my love.” (V.9)

“I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My commandment is this: love one another, just as I love you.” (V. 11 – 12)

“And you are my friends if you do what I command you.” (V.14)

“You did not choose me; I chose you and appointed you to go and bear fruit, the kind of fruit that endures…” (V. 16)

Entahlah, yang aku tahu, my inner circle told me to:

“Jangan lengah sama keadaan sendiri…” (RK)
“Yang pastinya tetap semangat dan coba hindari hal – hal yang menyebabkan penyakit itu bisa muncul dan jangan pernah lupa pada Tuhan.” (OS)
“Alone? I’ll be with you (Mat 28: 20), Afraid? I’ll give you strength (I Pet 5: 10), Wanna cry? I’ll comfort you (2 Cor 1: 3). From a faithful friend; Jesus Christ.” (RN)

Yang aku tahu, malam ini saat mengetikan catatan ini, suara itu di dalam diriku bilang, “So people will learn that I love you through you defection, your imperfection yet I bless you abundantly no matter your body and health status is, May. You are beautiful and I love you. Aku membuat kesempurnaan dari ketidaksempurnaan.”

Ah aku ingin belajar mempercayainya, Yesus. Yet, I have to admit that it so painful. Mungkin aku harus kembali terbiasa dengan nyerinya. No worries, God. I’ll seek for orthopedist help tomorrow.

No worries, this is my journey, right. I’ll keep searching for You, God through everything I endure, through places and process I’ve been through. Teaching me to understand that it is the only ‘process’ I have to be in.

Dear Jesus, just give me some strength, please and a shoulder to cry on. Amen.

(Manokwari, 301011; painful mood)

0 comments: