Keluar dari zona nyaman adalah hal sedang kulakukan akhir – akhir ini. Menjaga jarak khususnya dalam hubungan dengan teman – teman lama karena tak ingin terlalu bergantung juga kulakukan. Mengganti hobi ataupun kegemaran yang kusuka pun sudah kupilih. Bahkan dalam sebulan terakhir atau sudah lebih dari sebulan aku tak berenang lagi di pantai. Kegiatan internetanku pun hampir sama. Hanya lebih fokus nge-blog, mengedit tulisan dan kerjaan relawanku plus membangun jaringan kerja yang baru dan pertemanan. Semuanya harus berubah, bukan? Karena bagaimanapun aku tak ingin terjebak atau terperangkap pada sesuatu atau seseorang.
Hidup itu penuh misteri. Entahlah … sepulang dari Australia, aku membutuhkan lingkungan dimana aku bisa bicara bebas tentang asumsi, prediksi, dari berbagai topik yang kata beberapa teman terlalu berat untuk dijadikan topik pembicaraan. Ya dari isu kemiskinan, manajemen, pemerintahan hingga kemiskinan dan pendidikan. Bahkan masalah pemanasan global hingga keadilan sosial. Sayangnya, itu sering kubahas di jejaring sosialku, bahkan di beberapa komunitas dunia maya. Teman – teman dekatku khususnya yang perempuan lebih suka membicarakan tentang film, peralatan kosmetik, perawatan dokter kulit hingga gaya dan sepatu, emosi hubungan, gosip PLUS cara mencari uang lebih banyak sebagai tambahan. Jujur, aku tertekan hanya terpuat dalam hal – hal yang bagiku tak lebih dari sekedar pemanis bicara tanpa melihat hidup orang lain berubah menjadi cara yang lebih baik. Entahlah … memang aku terlalu serius itu saja.
Seorang temanku bilang, “Ko terlalu visioner dan serius, May. Ko cenderung su lihat de pu gambaran secara garis besar dengan cepat, cenderung mencari jalan keluar dimana orang lain baru sibuk terperangkap dalam detil – detilnya.”. Ibarat dalam labirin, orang lain sedang sibuk menyusuri labirin mencari jalan keluar dan aku sudah memanjat ke atas guna mencari rencana A, B, dan C untuk kabur. Entahlah, kadang sering stress saja melihat gaya kerja yang begitu lambat dan buang – buang waktu plus tidak efisien. Maksudku, aku memang selalu bangun siang karena pola tidurku yang berubah. Tapi bila ada kerjaan pagi, tentu saja aku menyesuaikan dan bekerja sesuai dengan rencana. So far, setidaknya klienku tidak pernah bermasalah dengan kerjaanku dan memuji kerjaanku khususnya untuk terjemahan resmi dan beberapa reportase, begitu juga dari klien – klien yang kuajar di kursus privatku. Mungkin itu yang sangat kubutuhkan dibandingkan uang. Kepuasan pribadi plus penghargaan atas kerjaku ditambah lagi tantangan kerja.
Beberapa hari ini, aku sedang menjajaki kemungkinan menantang diriku untuk keluar dari zona nyamanku secara ekstrem. Ya mungkin menyesatkan diri di suatu tempat di sudut kota ini atau naik kapal perintis ke sebuah tempat terpencil. Aku bahkan hendak berencana mencari jalan untuk pergi ke tempat terpencil dan jadi guru bantu entah dibayar berapa, entah diberi makan apa adanya atau harus termasuk bekerja demi makan asalkan bisa bekerja sesuai dengan hatiku. Entahlah … masih ada tempat kosong di hatiku untuk petualangan yang tak bisa kuatasi. Sebuah panggilan untuk berkelana, berjalan dan mencari makna tentang Tuhan di sela – sela ciptaannya, di bawah rinai hujan dan di antara jalan – jalan sunyi hutan tropis.
Mencari ketenangan batin, keluar dari zona nyaman dan tentu saja mengabdikan apa yang kupunya untuk kanak – kanak kecil di luar sana. Mengubah paradigma tepatnya, khususnya untuk bocah – bocah perempuan. Menularkan virus mimpiku kepada mereka untuk bisa meraih apapun yang mereka inginkan asalkan mau bekerja keras dan menentang arus kadang – kadang. Sekolah untuk perempuan mungkin masih jauh dari harapanku. Tapi setidaknya … aku ingin menjauhkan diri dari semua kenyamanan yang kadang terlalu memanjakan dan mematikan kemandirianku.
Aku tak peduli dibilang aneh, sombong ataupun idealis. Bagiku, ini hidupku, ini mimpiku, dan ini tantangan yang harus kujalani. Sebuah perjalanan tepatnya.
Aku hanya ingin kembali merasa berada di dalam keadaan dimana aku merasa ‘bebas’, bisa terbang kemana saja, menjadi apa saja yang kubayangkan. Aku pemimpi sejak kecil, sangat pemimpi. Sewaktu kecil, saking terlalu ingin merasakan bagaimana terbang dan merasa bebas, dalam alam bawah sadarku yang terekpresi di dalam tidur, mimpiku selalu aku mempunyai kemampuan terbang, tak pernah berjalan. Fantasi kanak – kanakku.
Sayangnya, saat ini masih banyak kewajiban – kewajiban dan ikatan – ikatan yang harus kulepaskan dan kubebaskan demi sebuah ‘kemerdekaan diri pribadi.’ Entahlah … mungkin pula aku akan disebut ‘orang yang tak tahu diri’ atau menghargai peluang. Bagiku, perkara hidup bukan hanya ‘cari kerja demi uang supaya bisa bahagia dan bertahan hidup’ TETAPI bagaimana menjalani hidup dengan rasa bahagia dan bersyukur walau uangnya tak seberapa. Toh aku masih single dan tak ada tanggungan.
Entahlah bagaimana ke depannya, yang pasti sampai saat ini aku tak mau menjual idelismeku atas apa yang kupercaya. Bahwa Tuhan sedang menginvestasikan banyak hal besar di dalamku yang harus kulakukan untuk banyak orang khususnya bocah – bocah perempuan. Aku jadi ingat kata – katanya Dr Salk, penemu vaksin tetanus tentang alasan ia tak mau mematenkan karyanya. Ia bilang, “Ilmu pengetahuan ini milik manusia jadi tak berhak kumiliki. Bisakah kita mematenkan matahari?”. Ah aku ingin seperti lelaki ini yang tak mau paten temuannya dijual pada perusaan farmasi sebagaimana juga upaya sosial penuh cinta Krisana Kristantu menciptakan obat anti HIV murah bagi penduduk miskin Afrika (Someday, I have to meet this inspiring woman). Bagiku, semua kemampuan yang kudapat adalah pemberian Tuhan dan kudapat percuma, take for granted, sayang bila hanya kupakai untuk bekerja yang ujung – ujungnya dibayar. Aku juga ingin setidaknya bisa membagikannya gratis pada bocah – bocah perempuan dari keluarga marjinal. Itu mimpiku.
Aku hidup hanya satu kali, hanya satu kali. Setidaknya aku ingin hidupku berharga bagi sesama, mempunyai arti. Hal itu sudah sangat berarti sekali.
Bila besok adalah hari terakhirku, aku ingin melakukan yang terbaik dan termanis bagi diriku dan orang lain.
Betapa nyamannya rasa itu; perasaan yang kudapatkan usai memberikan sesuatu dengan tulus dan tentu saja mengucap syukur dengan tulus. Disebut apakah rasa ini? Aku tak tahu. Yang pasti, aku merasa nyaman dan bahagia bisa melakukan sesuatu. TAPI jangan salah, aku tak ingin menempatkan diriku lagi dieksploitasi oleh orang – orang yang memanfaatkanku. No way!!! Jadi aku harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Itu saja. Ya semoga!
(Manokwari, 080911; 12: 56 a.m.)
0 comments:
Post a Comment