Pagi ini saya tidak melaksanakan rencana saya untuk mencari semburat jingga karena hujan turun dari pagi. Saya memilih meringkuk dalam selimut hingga pukul 8 pagi, menunggu majelis gereja yang hendak berdoa bagi acara ulang tahun saya. Anyway, catatan kali ini tidak berbicara tentang ulang tahun atau pandangan saya tapi lebih ke bacaan Alkitab saya pagi ini. Seperti biasa, suara di hati saya menginstruksikan saya membaca pasal tertentu. Ya seperti itu. Pagi ini, saya terkaget – kaget diminta membaca satu kitab yang bernama Zakaria. Awalnya saya pikir hanya beberapa ayat, toh kitab nabi kecil. Ternyata hampir 30 menit, saya masih berkutat dengan 14 pasal itu. Beberapa kali saya memang harus menguap menahan kantuk walau secangkir kopi Toraja sudah mengisi lambung saya, tapi bacaan Alkitab tetap wajib dilakukan. Ya an order remains an order. Guess what? Akhirnya tamat juga membaca kitab ini dan mulai melihat gambaran besar dari bacaan hari ini yang kata suara ini lebih banyak bicara untuk tanah kelahiran saya; Papua. Ah Tuhan tampaknya sedang ingin diskusi tentang isu kekinian Papua.
Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan dari bacaan kitab Zakaria pagi ini. Saya akan coba jabarkan, antara lain:
#1. APAPUN YANG TERJADI PADA DIRI KITA, TUHAN MENUNTUT KITA UNTUK TETAP MENUNJUKAN KEADILAN DAN KEMURAHAN HATI.
“You must see that justice is done, and must show kindness and mercy to one another. Do not oppress widows, orphans, foreigners who live among you, or anyone else in need. And do not plan ways of harming one another.” (Zec7: 9-10)
Saya tak tahu apa yang sedang dipikirkan Tuhan atas Papua saat ini. Yang saya tahu, berdasarkan ayat di atas, Ia ingin saya untuk tetap adil dan menunjukan kebaikan dan belas kasihan bagi sesama. Untuk konteks Papua, entahlah apa yang dipikirkan orang lain, saya tak tahu. Yang saya percaya, inilah saatnya menunjukan kekristenan kita pada semua orang terlepas dari pandangan politik kita.
Di tanah ini, saya sedikit bingung. Ada mereka yang berbicara tentang HAM mereka yang tercabik, terambil, terjajah TAPI di satu sisi mereka juga melakukan ketidakadilan pada sesama mereka dengan mengatasnamakan marjinalitas mereka bahkan terkadang melegalkan ‘pembunuhan’ atas sesama mereka ataupun pihak dari mereka yang ‘menjajah’ mereka. Bukankah akhirnya ‘siapa’ yang menjadi korban semakin kabur dan hanya akan menjadi lingkaran setan kekerasan?
#2. JANGAN TAKUT BICARA TENTANG ‘KEBENARAN’ ATAUPUN YANG ‘BENAR’
“Speak the truth to one another. In the courts give real justice – the kind that brings peace.” (Zak 8: 16)
“Have courage! You are now hearing the same words the prophets spoke at the time the foundation was being laid for rebuilding my Temple.” (Zak 8: 9)
“… So have courage and don’t be afraid.” (Zak 8: 13)
Ini mungkin sesuatu yang sangat subyektif, sebenarnya ‘kebenaran’ atau yang ‘benar’ itu seperti apa? Bagi saya sebagai seseorang yang percaya pada Yesus, kebenaran yang saya anut adalah nilai – nilai judeo-christianism saya, sesuatu yang ‘bible-based’ banget sebenarnya. Bila menyinggung apa yang ‘benar’ dalam konteks peradilan, maka saya akan menggunakan insting dasar seorang reporter, “Tell what we hear, see and observe”, itu saja. Tak boleh ada asumsi, tak boleh ada tambahan subyektivitas kita. Intinya katakan apa yang saksikan dengan panca indera kita dan katakan yang sejujurnya tanpa menggunakan pandangan pribadi kita tentang suatu hal. As simple as that!
Saya percaya saat ini pasti Tuhan juga sedang memantau situasi politik di tanah ini. Ya isu pemilukada, politik hingga gugatan – gugatan tentang kebenaran sebuah hal sedang ramai di tanah ini apalagi yang berujung di ‘pengadilan dunia’. Saya sampai terkadang mau marah bila melihat dan mengedit berita kadang – kadang melihat bagaimana keadilan yang sangat subtansial dan hakiki di tanah ini, di negara ini dapat diuangkan dengan lembar – lembar kertas yang ujung – ujungnya berasal dari pohon. Betapa rapuhnya hidup seperti ini. Entahlah … ada bagian diri saya yang marah tentu saja. Apakah sangat sulit bicara yang ‘benar’ dan ‘adil’?
#3. TUHAN MENYUKAI KEBENARAN, KEADILAN DAN ANTI KEKERASAN.
“… I hate lying, injustice, and violence.” (Zak 8: 17)
Ini sebenarnya inti yang paling banyak kudapatkan dari kitab ini. Dengan mencoba mengerti ayat di atas, sebenarnya sudah cukup jelas apa yang diinginkan Tuhan dari hidup saya hari ini. Saya percaya 3 hal di atas bila tak dilakukan dengan tepat dan benar maka akan menimbulkan banyak hal buruk, kejahatan dan ketidakteraturan di bumi ini.
Katakan saja dengan menipu, kita telah banyak menghasilkan hal negatif lainnya. Misalnya di sebuah pengadilan, ada seorang lelaki, sebut saja si A, datang menuntut si B yang menabrak anaknya hingga cacat. Sayangnya, karena si B anak seorang petinggi dan kemudian beberapa oknum pengadilan dan polisi dibayar, maka yang ada si B hanya dihukum membayar denda. Karena merasa tidak adil atau bahkan dilepaskan dengan hukuman yang sangat ringan dipotong masa tahanan. Akibatnya, si A merasa tidak adil dan kepikiran, salah – salah ia bisa menjadi orang yang apatis untuk melakukan tindakan yang benar dan adil, toh pada akhirnya tak ada keadilan. Sayangnya, virus sakit hati akan mudah menular pada lingkungan si A. tindakan B juga akan menular pada kalangannya yang berpikir bahwa uang bisa membeli keadilan. Pada akhirnya, semakin lama, lingkaran setan itu akan merebak pada semua hal, pada kasus – kasus yang berbeda, dalam tiap lini kehidupan. Kita bisa melihat bagaimana sebuah hal kecil menciptakan hal – hal yang besar yang mungkin jauh lebih buruk.
#4. TUHAN SAJALAH YANG MENJADI SUMBER KESEJAHTERAAN KITA SO MINTALAH PADANYA.
“Ask the LORD for rain in the springs of the year. It is the LORD who sends rain clouds an showers, making the countryside green for everyone.” (Zak 10: 1)
Ya itulah yang akan tetap saya lakukan. Karena saya percaya hanya Bapa, Yesus dan Roh Kudus yang bisa memberi saya ‘hujan berkat’ yang aman dan bebas efek samping. Bapa mengerti apa yang saya butuhkan. Sangat mengerti. Ia memahami mimpi – mimpi saya, apa yang saya butuhkan dan selalu tepat waktu.
Hari ini saya belajar banyak tentang apa yang Tuhan inginkan dari hidup saya. Ya, saya bersyukur Ia masih mau ‘ngobrol’ dengan saya, seperti yang dikatakan dalam Yesaya 50: 4, “Every morning he makes me eager to hear what he is going to teach me.”
Ya, sampai jumpa esok pagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus. I keep believing that there will be a new ‘direction’ tomorrow. Terima kasih sudah mau menemani saya selama 28 tahun ini. It’s a wonderful journey indeed.
(Manokwari, 160911; a biblical gift indeed)
0 comments:
Post a Comment