What’s your flava? Pertanyaan yang membuat saya teringat pada single-nya Craig David beberapa tahun silam. Saya suka coklat. Tentu saja catatan ini tidak berbicara tentang rasa yang dikecap lidah tapi pada ‘what’s your week’s flava? Terinspirasi dari masa kuliah di ANU yang penuh tema mingguan di kampus. Jadi di ANU dulu, tiap minggu biasanya sebulan sekali, kadang dua kali dalam sebulan, ada minggu ‘tema’; jadi akan ada kegiatan kampus bertema topik tertentu. Mulai dari Jesus Christ’s week, Atheis week, Gay & Lesbian week, Pacific week dan tema – tema lainnya. Kegiatannya mulai dari seminar gratis, pemutaran film, pertunjukan musik, band, seni, lukisan hingga pameran dan bagi – bagi stiker dan demo serta debat. Sangat menarik, lucu, hidup dan membuat kegiatan ‘ngampus’ begitu hidup. Satu hal yang saya rindukan dari masa perkuliahan di ANU.
Minggu ini saya tetapkan sebagai minggu ‘Pasifik’ saya. Bukan hanya merujuk pada Pasifik sebagai kawasan ataupun budaya saja, tetapi juga pada makna Pasifik dalam bahasa Latin yang artinya ‘peaceful or loving peace’. Minggu ini saya ingin pergi merenung di pantai – pantai sunyi, berjalan kaki di tepian pantai, menikmati Pasifik dari jurang dekat pondok teman saya, ingin berenang di pantai utara, ingin mencari sensasi rasa cinta pada laut, ingin bersantai, menenangkan diri dan memulihkan diri serta mencari makna apa yang Tuhan inginkan dari hidup saya. Tentu saja saya juga ingin lebih banyak menulis untuk self-project saya. Selain itu, mendengarkan musik bertema laut dan Pasifik dan tentu saja bergaya dengan tema Pasifik HEHEHE
Minggu Pasifik tentu saja akan berakhir pada Kamis besok. Bagi saya, minggu saya dimulai tiap Jumat karena saya lahir pada hari Jumat sore. Selanjutnya, tentu saja saya sudah menyiapkan tema-nya, ‘Earth week’.
Mungkin terdengar konyol, entahlah saya tidak peduli. Saya hanya ingin mengatur mood saya menjadi lebih baik, terarah dan tentu saja bermanfaat. Rencana ke depannya, saya akan mengajak para keponakan saya turut serta dengan bermain bersama mereka dengan tema minggu itu. Minggu ini, kalau cuacanya baik, saya akan mengajak mereka ke pantai dan bermain pasir. Minggu depan, pada ‘minggu bumi’, saya akan mengajak mereka membantu saya bertanam bunga. Setidaknya, mereka tahu bahwa bumi bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka bila mereka menjaganya. Ah saya hanya pemimpi. Itu saja.
Hidup hanya satu kali, dan saya tidak ingin kehilangan momen hidup ini. Saya hanya ingin bertahan hidup dan mempertahankan saya tetap ‘sadar’ dan tidak terlalu stress dan depresi yang dapat membawa saya pada pikiran bunuh diri. Saya ingin hidup saya warna – warni dan tidak membosankan. Entahlah … saya belum berbuat banyak bagi lingkungan, sesama dan hidup saya dan tentu saja Tuhan. Saya masih dalam tahap mencoba.
Akhir – akhir ini, saya lebih banyak menulis kala beban dan pemikiran bertumpuk – tumpuk di benak saya. Saya hanya tak ingin membebani orang lain dengan ide – ide konyol saya dan juga curhatan tak penting bagi mereka. Apalagi bila dada saya mulai terasa sesak dan nyeri kembali dan detak jantung mulai tak stabil, pengaruh Reflux Oseafagitis saya. Saya hanya ingin mengabadikan mimpi – mimpi saya, pemikiran saya bagi para keponakan saya. Agar mereka bisa mengenal saya kelak kalau seandainya saya harus ‘pulang’ lebih awal. Entahlah … akhir – akhir ini saya juga lebih banyak bicara tentang kematian dengan para sahabat saya.
Saya hanya lelah saja, sedikit capek. Bagi saya, hidup hanya perulangan momen yang naik turun seperti episode – episode sinetron dan adegan – adegan film. Di film yang saya mainkan, genre-nya tak hanya drama, tapi juga action, ataupun thriller. Ini sebuah perjalanan dan jujur saya mulai lelah berjalan tapi saya HARUS tetap berjalan. Kadang melelahkan dan menyesakan bila dipikir – pikir tapi toh saya harus tetap berjalan karena rekan perjalanan saya masih menyemangati saya, masih percaya pada diri saya, masih mencintai diri saya dan saya tidak ingin mengecewakan dia, saya masih ingin hidup bagi Dia. Namanya Yesus.
Pagi ini, hujan turun dengan deras dan saya masih sempat mengintip bunga – bunga lili dan keladi yang saya tanam kemarin. Sedikit terendam dalam kubangan. Saya percaya mereka bisa bertahan hidup. Saya ingin membagikan perhatian saya pada mereka yang tak bisa bersuara, yang mengajarkan saya pada hidup dan berjuang untuk hidup. Entahlah … saya jadi sedikit melankolis akhir – akhir ini.
Ah ini minggu Pasifik yang sangat cocok untuk merenung dan berpikir tentang apa yang saya inginkan dalam hidup. Yang saya tahu, hari ini saya sudah punya segudang rencana. Tentu saja yang kompatibel dengan Malaria Tertiana saya HAHAHA
Saya pemimpi dan akan tetap menjadi pemimpi. Toh saya hidup bukan untuk membuat orang lain terkesan atas diri saya, karena saya hanya ingin jadi teman perjalanan yang baik bagi teman saya yang tadi saya sebutkan itu.
Anyway, saatnya saya menutup catatan ini dengan terus memutar ulang filosofi saya di kepala: “I want to live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do”. Itu saja.
Ya, itu saja!!!
(Manokwari, 240911)
0 comments:
Post a Comment