Sudah hampir seminggu ini saya mendapat sebuah ‘penjelasan’ penting tentang keberadaan situasi terkini, ya terkait intrik dan politik dari lingkungan terdekat saya yang cukup membebani diri saya apalagi beban terasa lebih berat kala sebuah tanggungjawab lainnya lalai saya jalankan hingga ada konsekuensi buruk yang terjadi (lihat catatan saya ‘Guilty’ terkait pencurian). Satu pelajaran penting terbaik yang saya dapatkan dari penjelasan terkini itu hanya satu: ‘Untuk bertahan hidup, saya (dan juga keluarga saya) sebaiknya harus keluar dari kota ini selamanya’. Bukan melarikan diri tetapi untuk melanjutkan hidup dan demi masa depan yang lebih baik. Sebuah kemungkinan paling masuk akal yang harus saya pikirkan mulai dari sekarang. Mungkin karena sudah bisa mendeteksi kemungkinan ini sejak lama, saya akhirnya suka bepergian. Bepergian yang jauh dari rumah. Entahlah …
Saya tak pernah bisa mengerti dengan orang – orang yang memasukan dendam ke dalam pikiran mereka terus – menerus. Orang – orang yang mempersalahkan masa lalu. Catatan ini mungkin membingungkan bagi orang lain, karena toh catatan ini saya buat untuk diri saya sendiri, bukan untuk disebarluaskan kepada siapa – siapa. Hanya ingin menuliskan catatan ini saja, anggap saja sebagai sebuah dokumentasi perasaan saya bila ‘saat’ itu terlanjur datang. Ya, hanya untuk berjaga – jaga bila suatu hari nanti saya dan keluarga saya ‘ditemukan’ tewas, meninggal tidak wajar ataupun hal – hal buruk seperti itu. Hanya untuk penebus sebuah konsep ‘mata ganti mata, darah ganti darah, gigi ganti gigi’. Sesuatu yang disebut ‘dendam turunan’. Sebuah hasil akhir dari ‘vendetta’ yang dikandung oleh suku mama saya.
Kematian dan pembunuhan serta intrik dan politik apalagi konspirasi adalah hal umum yang saya pelajari dan pahami sejak kecil. Saat lawan dan musuh tak begitu jelas. Saat saudara dekat bisa berubah menjadi musuh ataupun musuh bisa menjadi sahabat dekat. Tak jelas. Saya hanya lelah melihat pembunuhan terencana demi kekuasaaan kerap terjadi, baik yang sadis maupun dengan jasa pembunuh bayaran tradisional. Ya, di dalam darah saya mengalir rekam jejak masa lalu yang berimbas pada masa kini. Keputusan – keputusan leluhur saya yang berimbas pada hidup kami di masa sekarang. Ya, tak banyak orang yang bisa memahami hal itu. Tak banyak orang.
Hal yang saya tulis ini tidak terkait dengan isu politik sebuah negara, sama sekali bukan. Juga tidak menyangkut kegiatan politik yang kerap ditulis berita. Ini hanya berbicara tentang politik suku mama saya. Tentang kekuasaan, tentang intrik dan konspirasi masa lalu yang berimbas pada hidup kami sekarang ini dan bagaimana ancaman yang kami dapatkan secara keseluruhan akhir – akhir ini. Padahal, sejak kecil kami telah merasa dipisahkan jauh dari akar kami, bertumbuh dengan pluralitas dan tak terlalu pusing dengan urusan politik suku. Yang aku tahu, papa dan mama selalu mengajarkan kami untuk berjuang dengan keringat kami sendiri untuk bertahan hidup dan tidak menggantungkan hidup dengan mengandalkan nama keluarga mama. Pesan yang selalu kujunjung tinggi. Saat ini, aku melihat itu sebagai sebuah jalan keluar.
Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan, maksud saya bagaimana mereka yang berniat mengambil hidup kami, bisa hidup dengan dendam bertahun – tahun, bergenerasi. Saya tidak mengerti. Bukan salah kami bila oyang lelaki saya dari pihak mama yang bersuku Biak memang bukan berasal dari suku ini. Saya percaya bukan salah oyang lelaki hingga ia terpaksa ‘digadaikan’ keluarganya demi makanan guna mereka bertahan hidup kala pulang dari pelayaran dari Maluku Utara sana. Saya tak mengerti bagaimana kejadian masa lalu menginspirasi dendam yang bertumpuk. Ah saya bingung menjabarkannya. Semuanya bermula dari rentetan peristiwa masa lalu yang bertumpuk. Saya lelah menjabarkannya.
Semuanya bermula dari garis nasib keluarga kami. Dimulai dari oyang lelaki saya yang berkeret ‘Mayor’; Awini Taberi alias Timotius Mayor. Keret ‘Mayor’ ini sendiri mempunyai nama asli ‘Sroyer’, Karena ketangguhan pelayaran dan pembayaran upeti ke Kesultanan di Maluku Utara sana beberapa abad silam, para leluhur saya dari pihak mama mendapat gelar ‘Mayor’ sehingga saat pulang ke kampung mereka di Numfoor sana, mereka mengganti nama keret mereka dan memakai gelar pemberian mereka. Rekam jejak petualangan mereka tertinggal kala mereka menetap di beberapa daerah antara lain di rute pelayaran antara Maluku Utara dan Amberparem, Numfoor, sebut saja di Raja Ampat dan seperti yang dialami ‘oyang’ saya yang digadaikan untuk tebusan makanan pada suku Meyah (Arfak).
Andai saja waktu itu persediaan makanan rombongan perahu ‘Ponsauw’ asal Amberparem ini tidak habis dalam perjalanan pulang mereka dari Maluku Utara sana, maka oyang saya tidak perlu ditukar dengan hasil kebun, maka nasib politik suku kami tidak akan berubah dan saat ini mungkin kami tidak terancam. Sayangnya, kita tidak bisa membalikan waktu tetapi menjalani tiap konsekuensinya, bukan? Oyang saya pun resmi ditukar dengan janji bahwa para leluhur suku Biak akan datang kembali dengan seperahu parang yang diolah ‘kamasan’ alias tukang besi mereka di kampung dan mengambil kembali oyang saya yang waktu itu hanya seorang bocah Biak berumur sekitar 10 tahun. Saat itu oyang saya menjadi anak jaminan yang ditahan oleh kepala suku suku Meyah, salah seorang pemimpin perang yang terkenal dan punya basis kekuasaan yang besar.
Kala para leluhur saya dari Numfoor datang dengan seperahu parang hasil olahan kampung mereka, toh oyang saya gagal mereka ambil, karena berdasarkan cerita di keluarga besar saya, kata kepala suku yang membawa oyang saya, “anak ini de pintar dan bagus,kam bawa pulang kam pu parang tuh suda. Sa su sayang dia, jadi nan sa mo kas kawin de deng sa pu anak perempuan.” Dan itulah momen dimana sejarah kami berubah total, saat leluhur kami juga tak lain adalah ‘korban’ dari kebijakan – kebijakan interen suku yang terkait kekuasaan. Pada masa itu, hanya anak – anak tertentu yang dipilih yang bisa mengikuti pelayaran jarak jauh. Toh itulah perjalanan nasib.
Nasib oyang lelakipun berbeda. Mungkin bila ia hanya jadi anggota suku biasa, kami tak akan menjadi ‘target operasi’ dari kekuasaan. Sayangnya, entah ini berkat atau kutuk, ia malah diangkat oleh bapak angkatnya yang kepala suku untuk menjadi pemimpin berikutnya, padahal ia dari suku lain yang berbeda budaya, yang notabene dari suku pantai toh ia dipilih menjadi pemimpin sebuah suku pegunungan yang tercatat dalam catatan sejarah perkembangan agama Kristen di tanah ini sebagai suku yang kerap memberontak dan tidak suka diperintah, sebuah suku yang merdeka tetapi juga berani dan kejam dan brutal pada lawan – lawannya. Saya mewarisi darah Arfak kami dari oyang perempuan kami yang adalah anak kepala suku. Inilah titik mula kami menjadi ‘common enemy’ dari para pewaris hak kepala suku asli dari suku tersebut.
Sejak saat itulah keluarga kami mulai mengetahui posisi kami. Apalagi tete saya yang berayah lelaki Biak ini tak mempunyai seorang saudarapun. Seorang anak Tunggal, dan kami pun selalu mempunyai label ‘keturunan Lodwick Mandacan’; seorang politikus dan pemimpin suku berkharisma tetapi juga cukup fragmatis bagi sukunya. Demi mempertahankan kekuasaan dan stabilitas, ia menikah dengan hampir 12 perempuan dari sukunya sendiri termasuk dengan dua saudara sepupu seorang pemimpin perang terkenal dari sukunya; Irogi Meidodga. Ya, Irogi adalah kerabat nenek saya. Tete saya mungkin tokoh yang fenomenal penjunjung poligami. Tetapi ia cukup berlaku adil bagi istri – istrinya karena tiap istri mempunyai rumah dan areal peruntukan bagi anak – anaknya. Tete juga cukup pintar untuk menikah dengan saudara perempuan para pewaris asli gelar dan kekuasaan sukunya dan cukup pintar untuk menikahkan seorang mamatuaku dengan pewaris dari keluarga lain. sebuah rekonsiliasi politik lewat pernikahan.
Pada masa kini, dampak dari perpindahan kekuasaan pada keluarga kami semakin parah apalagi bila menilai langkah politik tete pada masa lalu. Karena afiliasi politik yang dianutnya yang terkait dengan OPM di tahun 1965an, banyak keluarga Arfak yang tewas dalam operasi militer kala itu dan ada beberapa yang membenci kami dan dipandang sebagai penyebab kesusahan hidup mereka. Ditambah lagi usai kematian tete dalam masa pengasingannya, sesama anggota suku yang terbilang pewaris asli terlibat intrik kudeta lewat jasa ‘suanggi’ atau pembunuh bayaran suku. Sayangnya, konspirasi itu bocor dan berakhir dengan pembunuhan pihak yang ditengarai mengkudeta, hanya karena pihak suruhannya ternyata masih tetap loyal pada almarhum tete. Sejak saat itu, permusuhan keluarga kami semakin tajam. Ya, semakin tajam.
Akhir – akhir ini kejadian semakin meruncing karena ulah beberapa sepupu lelaki yang suka menggugat tanah, memeras orang – orang dan juga berpolitik praktis. Akhirnya semuanya dilabel ‘sapu rata’. Saat ini, entahlah … keadaannya semakin memburuk apalagi ancaman pembunuhan yang semakin menjadi walau sejak 10 tahun terakhir, hampir tiap tahun ada kejadian anggota keluarga yang dibunuh ataupun mati tak wajar. Semuanya menjadi nyata usai melihat kondisi terkini pada bulan ini. Saya tidak bisa membeberkannya di catatan ini karena menyangkut privasi beberapa orang yang saya kenal baik. Sayangnya, hal yang saya ketahui ini kerap lolos dari hukum positif karena ada keengganan dari pihak berwajib untuk campur tangan. Entahlah … seakan menjadi hal yang tidak tersentuh hukum.
Ancaman yang kami terima sudah cukup jelas, “Tidak boleh ada seorangpun keturunan Lodwik yang harus hidup”. Harus dibersihkan sampai akar – akarnya. Dimulai dari anak – anaknya, yang saat ini tinggal 4 orang saja termasuk mama. Kemudian akan dimulai dari pihak sepupu lelaki kemudian hingga kami semua. Saya hanya memikirkan nasib keponakan – keponakan saya. Saya jadi mengerti alasan utama bapak tidak ingin kami memakai fam-nya mama di dalam nama kami, baik fam Maluku, Biak ataupun Arfak. Karena secara hukum positif, tak ada indikasi keterikatan kami dengan suku ini.
‘Vendetta’ ini alias pembunuhan balas – membahas bergenerasi akan tetap ada. Saya tidak melihat adanya titik terang rekonsiliasi. Entahlah … apakah memang pembalasan dendam menjadi ciri khas suku mama kami. Entahlah, apakah memang tidak ada cara untuk melakukan rekonsiliasi politik, atau apalah … dari dosa masa lalu?
Saya hanya bingung, sedikit merasa terancam akhir – akhir ini ditambah lagi dengan larangan dari saudara – saudara lelaki saya usai beberapa kali mereka mulai dibayang – bayangi oleh orang – orang tidak dikenal. Apalagi saudara kandungnya mama yang politikus dan kandidat gubernur provinsi ini pun mempunyai beberapa musuh politik dan saudara – saudara lelakiku semuanya bekerja untuk oom kami. Saat ini, suasananya tidak aman, itulah sebabnya saya juga dengan enggan dilarang untuk terlalu keluar rumah yang tidak perlu. Kami semua menjadi target pembunuhan dan itu hanya ‘tunggu waktu’ saja.
Saya hanya bingung apakah memang dengan memelihara dendam akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan merdeka. Bukankah dengan melepaskan semua hal yang membebani kita akan membuat kita menjadi manusia yang lebih tenang dan menikmati apa yang hidup tawarkan pada kita? Entahlah …
Entahlah … tampaknya inilah alasan saya sedang menanti sebuah tawaran kerja dari tempat lain dengan penempatan kerja di kota lain. Walau tampaknya seperti ‘melarikan diri dari masalah’ tapi bagi saya, hidup saya masih lebih berharga untuk dilanjutkan dan dijalani. Saya hanya ingin mencari ‘sanctuary’ bila keadaannya memang memburuk nanti. Saya tahu betul watak suku mama, bila target telah ditetapkan, pilihannya hanya tiga; menyerah dan jadi korban, membayar dan menyogok pembunuh untuk melenyapkan orang yang menargetkan kami ataupun membunuh pembunuh bayarannya musuh, ataupun melarikan diri ke tempat lain. Yang paling realistis yang dapat saya lakukan adalah mencari kerja dan hidup di tempat lain yang bukan wilayah suku mama walau itu artinya akan merindukan semua yang ditawarkan kota ini.
Malam ini saya bingung apa yang akan terjadi di masa mendatang . Entahlah … itulah sebabnya saya terbiasa dengan yang namanya politik karena sejak kecil, saya diajar untuk bisa paham siapa kawan dan lawan dan tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Semuanya hanyalah karena kekuasaan, uang, harta dan gengsi.
Saya berdoa malam ini agar Yesus mau menjamah hati tiap orang dari suku mama terlebih orang – orang yang merancangkan rencana jahat atas kami untuk berbalik dan bertobat. Saya percaya hanya Yesus yang bisa mengubah hati mereka.
Saya tak tahu apa yang menjelang di depan, saya hanya ingin Yesus selalu menguatkan saya untuk siap atas apapun yang terjadi, baik atas diri saya, keluarga saya maupun keluarga besar kami.
Yang saya tahu dan percaya, ‘kekerasan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah’ … hanya membuat masalah semakin buruk. Itu saja!!!
Andai saja semuanya bisa berdamai!!! Ya, andai saja.
(Manokwari, 200911; 11:24 p.m; menuliskan kebenaran yang terasa sangat pahit)
0 comments:
Post a Comment