Search This Blog

Loading...

Thursday, 29 September 2011

Unfinished business

Pernah tidak sedang menonton film, pertandingan olahraga ataupun sebuah program televisi dan di tengah keasyikan menonton, listrik padam ataupun harus pergi meninggalkan program itu karena alasan mendesak? Pasti rasanya sangat tidak nyaman dan penasaran dengan akhir cerita, bukan? Apalagi kalau acaranya tak akan diputar ulang. Tapi pada akhirnya …. Ya apa boleh buat, ini masalah pilihan, bukan?

Entahlah … tadi saya tiba – tiba diingatkan tentang unfinished business apalagi yang terkait dengan keikhlasan hati menerima pilihan khususnya sikap ataupun perasaan yang diambil. Sesuatu yang memang belum selesai, tetapi toh tak bisa diselesaikan juga dan harus dianggap ‘selesai’. Di dalam hati pasti rasanya ‘kaskado banget’. Entahlah, ini pandangan subyektif saya tentunya.

Nah urusan perasaan apalagi cinta, wah bisa tambah ribet tentunya. Urusan perasaan yang belum selesai ataupun menggantung pasti rasanya macam ‘tahan konto’. Tak dikeluarkan malah bisa sakit perut apa kram perut, dikeluarkan juga bisa bikin ‘polusi udara’ dan menimbulkan bunyi yang dapat membuat orang – orang berpaling. Efeknya tentu saja sama seakan sedang menonton berita teror bom. Sayangnya, kadang –kadang kita memilih untuk menahannya, demi sebuah ‘citra’ ataupun ‘norma sosial’. Demi sebuah keadaan dan kondisi tertentu. Ya, begitulah hidup!

Malam ini, saya belajar banyak hal tentang unfinished business ini apalagi urusan perasaan. Tentu saja dilatarbelakangi dengan urusan unfinished business yang saya alami. Toh, ibarat menonton film, ya kalau tak bisa melanjutkan acara nontonnya, kehidupan tetap berlanjut. Saya pun tidak serta merta puasa nonton TV. Sama sekali tidak.

Kesimpulannya? Ya lanjutkan hidup dan anggap saja memang filmnya hanya berupa proyek fragmen dokumenter yang tak punya akhir. Toh kehidupan nyata memang tak punya akhir, bukan?

Jadi saatnya berkemas dan berjalan lagi karena alam raya adalah rumah kehidupan, jadi tak akan ada ‘unfinished business’ … Anggap saja itu sekedar selingan iklan pada sebuah film yang sangat panjang.

Ah … tiba – tiba saya jatuh cinta lagi pada hidup saya, pada diri saya, everything in me.

Thanx Jesus, I have found my self back ^_^

Saatnya berangkat. Buckle up, beybeh …

(Manokwari, 290911)