Seminggu ini terjadi dua pembunuhan brutal di kotaku dengan cara yang sama. Korban dan setting-nya berbeda TAPI hasil karyanya sama. Kepala hampir putus dan brutal!!! Benar – benar bisa jadi bahan reportase yang sangat bad taste kalau secara eksplisit dipaparkan, dan pastinya memualkan perut seperti yang dialami oleh beberapa teman dan aku kala memantau foto – foto bidikan di TKP. Entah apa yang dipikirkan oleh pembunuhnya. Semoga bukan demi alasan politik, kekuasaan atau menebar teror.
Entahlah, kota ini semakin lama semakin ramai. Tapi pada satu sisi memunculkan banyak masalah kriminal baru. Apalagi dengan tak adanya sensor KTP atau pendataan penduduk baru yang datang plus kencangnya arus informasi yang masuk, termasuk dari televisi dan internet. Aku tak bilang bahwa semua orang baru yang datang ke kotaku berniat buruk. Bukan begitu. Yang kumaksudkan adalah dengan sistem kontrol yang lemah, upaya pendataan dan investigasi dalam sebuah tindak kejahatan akan sangat lemah. Karena ternyata masih banyak orang Manokwari yang tak punya KTP dan daftar sidik jari di kepolisian. Apalagi apa mau dikata, bidang forensik dan database di kepolisian tingkat lokal pasti tak lengkap. Ini bukan Australia tentu saja yang dulu sempat membuatku terheran – heran dengan integrasi sistem yang begitu baik dan bisa melacak keberadaan kita. Ceritanya, dulu aku ganti kartu telepon ke operator lain dan mendaftar, nah saat diminta mengisi aplikasinya secara online, aku diminta mengisi nomor pasporku di isian aplikasi lamaran nomor ini di situs operator ini. Iseng – iseng, kuisi nomor paspor palsu. Guess what? Aksesku ditolak berkali – kali hingga kuisi nomorku yang benar dan di layar otomatis informasi dataku muncul at once. Benar – benar sulit menipu. HAHAHA. Ajaib dan hebat!!!
Semoga saja dua pembunuhan brutal dalam seminggu ini bisa dilacak walau seperti biasanya, aku sangsi. Toh sudah banyak kasus pembunuhan yang menguap entah di mana. Bahkan seorang junior yang kuajar di kursus privatku berujar bahwa jantung almarhum kakak perempuannya yang dikirim ke lab forensik di Makassar dalam sebuah kasus pembunuhan karena indikasinya diracun tidak pernah dikembalikan PLUS selama tiga tahun tidak pernah ada laporan hasil visum itu. Belum ditambah lagi bagaimana si tertuduh yang ditangkap dilepaskan tanpa ada koordinasi dengan pihak korban guna kejelasan dan kasus pembunuhan itu menguap. 3 tahun sudah juniorku dan keluarganya menjalani hari mereka dalam tanda tanya kematian anggota keluarga mereka. Masih banyak kasus pembunuhan lain yang tak terungkap, entah korbannya orang Papua ataupun non-Papua.
Aku tak pernah bisa percaya ada orang – orang yang mematikan nurani mereka dan bisa menjadi begitu psiko. Apakah mereka tak pernah bisa mengambil keputusan untuk berhenti memikirkan yang jahat? Aku ragu.
Aku tak tahu apa yang mereka rasakan itu sama denganku jaman dulu. Beberapa tahun lalu kala hatiku belum sering dijamah oleh Tuhan untuk setidaknya sedikit lembut, aku sangat menikmati melihat orang lain menderita. Bahkan kerap masuk dalam alam bawah sadarku, di mimpi – mimpiku. Menikmati melihat sesuatu yang brutal tanpa emosi. Semua adegan kekerasan verbal, fisik ataupun imajinasi jahatku bisa dengan mudah berkelebat di depan mata tanpa ada rasa apapun. Tak merasa jijik, takut. Melainkan menikmatinya. Aku punya masalah dengan anger management waktu itu karena bertahun – tahun menekan kebencianku. Usai sebuah retreat Kristen di tahun 2000 dan berkenalan dengan Kristus secara pribadi, aku sedikit – sedikit mulai belajar mengampuni, belajar tentang emosi dan perasaan untuk bisa mengasihi.
Aku ingat sewaktu kecil, seumuran SD hingga SMP, aku tak segan – segan menghajar adik perempuanku yang masih kecil. Bukan hanya tamparan tapi pernah juga beberapa kali menghajarnya sebagai pelampiasan bila bermusuhan dengan anggota keluarga yang lain dan aku menikmatinya kesakitan. Belum lagi hewan ternak kami yang menjadi sasaran. Dulu aku ingat bagaimana aku bisa dengan mudah kesenangan campur takut menikam – nikam telinga anjing – anjing kecil kami hingga berdarah dan terpesona dengan ceceran darahnya di lantai. Apalagi untuk tumbuhan, aku sangat menikmatinya. Mulai dari membabat tandan – tandan salak di beberapa rumpun yang sedang berbuah usai dikawinkan, hanya karena tak suka mamaku memberikan beberapa buahnya untuk orang lain. Saat itu, aku yang selalu bekerja mengawinkan salak – salak dan kebanyakan bertugas menjaga buah – buah. Bagiku saat itu, bila bukan aku yang memilikinya, maka orang lainpun tak berhak. Belum ditambah dengan rancangan kejahatan yang kerap kubuat untuk meracuni ataupun berpikir jahat. Tak heran aku sejak kecil penggemar edisi laporan kriminal intisari. Guess what? Sutradara favoritku sejak remaja malah Quentin Tarantino hanya lantaran film – filmnya aneh dan seperti mewakili alam bawah sadarku yang menampilkan pembunuhan dan kematian dengan cantik. Ya, Natural Born Killer adalah salah satu film favoritku HAHAHA.
Seiring mengenal Yesus, aku berubah. Itu yang kutahu. Bisa mulai mengampuni, bisa mendengar pendapat orang lain, bisa berubah sedikit demi sedikit seturut dengan apa yang Yesus inginkan. Setidaknya, aku bisa menekan dan membuang sifat – sifat kekerasan yang kerap menjadi temanku sejak kecil. Aku belajar berbagi dan belajar menjadi berkat dengan cara yang kubisa.
Tahun 2000 di bulan September, aku belajar banyak hal dalam retreat itu. Membuat janji pada Tuhan juga di bulan itu. 11 tahun berlalu dan aku melihat bagaimana Yesus mengubahku hari demi hari. Aku masih sering terjatuh tapi aku tak ingin lama – lama jatuh. Tak nyaman. Tak nikmat. Tak menyenangkan. Aku tak ingin memikirkan rancangan kejahatan untuk orang lain. Tak ingin tertawa senang atas penderitaan orang lain. Itulah sebabnya sekarang ini aku tak ingin terlalu larut dalam urusan dan emosi negatif orang lain karena hal itu sangat menginfeksiku dan akan membuatku memaki terus.
Aku tak tahu apa yang membuat orang lain bereaksi negatif hingga membunuh secara brutal. Apalagi kejadian brutal seperti ini selalu terjadi menjelang masa pemilukada sejak beberapa tahun terakhir. Entah untuk menebar teror, entah untuk menjatuhkan kandidat tertentu, entah untuk apa. Yang aku tahu, sudah saatnya hal – hal seperti ini dihentikan dan kembali pada nurani. Berapa murahnya nyawa di tanah kelahiranku!!!* Miris
Malam ini dalam doaku, aku minta Yesus mau menyentuh hati tiap orang di Manokwari, entah lelaki atau perempuan untuk bisa setidaknya menghargai nyawa dan hidup sesama mereka. Semoga mereka mau merespon pesan kasih Kristus di hati mereka.
Aku pemimpi, aku tahu. Aku hanya memimpikan sebuah harmonisasi, kedamaian. Itu saja. Aku hanya stress melihat orang – orang berkelahi, tak ada harmonisasi. Itu yang kurasakan saat marah – marah kemarin selama 2 hari karena miss Oxygen, aku sampai merasa sakit, kelelahan dan sangat tak bahagia plus tekanan darah di kepalaku terasa sakit seperti serangan migranku akan balik. Tak nyaman! Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila harus menyimpan dendam membara selama bertahun – tahun. Pasti tak menyenangkan. Rasanya seperti membawa kentang busuk di dalam saku pakaian tiap hari. Entahlah … yang kutahu, aku tak suka rasa seperti ini.
Aku suka sesuatu yang tenang – tenang saja. Ada dinamika tapi tak perlu pakai kekerasan baik verbal maupun fisik. Betapa indahnya. Tapi entahlah … seperti yang Yesus bilang, ia tak membawa damai ke dalam dunia tetapi membuat anak – anak terpisah dari orang tua mereka karena ia membawa pemisahan dari yang baik dan jahat. Jadi sebenarnya tak diam, tenang apalagi damai. WALAU yang ia janjikan ada damai dalam hati dan jiwa bagi yang mengikuti-Nya.
Malam ini, aku berharap Yesus mau jamah kota ini. Jamah penduduknya. Aku sedih dan tertekan melihat orang – orang saling membunuh, berkelahi, dan bertengkar. Sedih dengan orang – orang yang mudah terbakar emosi hingga menarik senjata dan menghilangkan nyawa.
I just want peace. That’s all. Itulah sebabnya aku menulis, menangis dan berdoa malam ini.
Can we have a piece of heaven’s serenity here,please? For a sec? Aku tak tahu. Yang kutahu, ini saatnya harus lebih sungguh – sungguh berdoa untuk kota ini.
How I miss Jesus at this time!!!
(Manokwari, 060911, efek bombardir foto brutal)
0 comments:
Post a Comment