Depresi mungkin kata yang sangat familiar bagi saya, begitu juga dengan bunuh diri. Tapi saya tidak pernah merasa sangat kesepian. Yang saya rasakan hanya kehampaan dan keinginan kuat mencari ‘kebenaran’ kala begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di benak saya, tentang ‘apa, mengapa’ dan semua pertanyaan tentang Tuhan, alam dan manusia. Entahlah … ada celah yang selalu membuat saya bertanya dan terus bertanya pada Yesus dalam sesi ‘me-time’ yang bisa muncul di mana saja. Kala saya pergi ke pesisir pantai ataupun sedang berada di antrian kendaraan. Walau saya akui bahwa saya menemukan momen terbaik berbincang dengan Tuhan di kala saya berada di tempat – tempat yang tenang dan berada dekat dengan alam. Sebuah pertanyaan yang saya tanyakan di dalam benak saya dan jawabannya pun tak perlu audible alias saya dengar dengan panca indera saya, tapi entahlah …. Saya hanya mengerti bila suara itu berbicara di dalam diri saya.
Saya tak peduli bila saya dianggap gila atau punya teman imajinasi karena bagi saya, saya tidak pernah sendirian, tidak pernah merasa kesepian. Saya lah yang kerap saat merasa hampa, saya enggan mendengar apa kata ‘teman imajinasi’ saya itu, padahal Ia selalu dan tak pernah memarahi saya. Bahkan, ia selalu yang membuat saya mencintai diri saya, apalagi di momen – momen percobaan bunuh diri saya. Saya selalu menyukai kalimat ini, “sa saya ko, May. Sangat sayang ko. Sa masih pu banyak rencana besar untuk ko, jadi jang menyerah eee”. Entahlah, kau sebut siapa ‘teman imajinasi’ saya itu. Tapi saya mengenal baunya, saya mengenal suaranya, saya mengenal dia. Saya memanggilnya ‘Yesus’. Entahlah, apakah orang – orang Kristen yang lain itu setuju dengan saya, entahlah, sebenarnya saya tidak peduli selama saya bisa menjadi ‘teman’ yang baik bagi ‘teman imajinasi’ saya itu. Sayangnya, teman saya ini suka sebal kalau saya mulai memikirkan hal – hal yang jahat ataupun imajinasi liar saya tentang menjadi superhero yang memakai kekerasan ataupun jadi jagoan ibarat Superman yang menghukum mereka yang jahat. Entahlah, Ia hanya terlalu sensitif, menurut saya. Tapi entahlah, saya mencintai dia, karena Ia selalu ada dan mencintai saya.
Kemarin sore, kala sedang mandi karena hendak pergi ke acara nikah seorang teman sejak kecil yang masih berkerabat dengan mama, saya melihat sesuatu. Sebuah pandangan yang pernah saya alami di masa – masa terberat saya di akhir kuliah S2 dulu. Mungkin saya memang sedang depresi, entahlah … atau efek dari bipolar saya. Dalam pandangan saya ke arah dinding kamar mandi, yang saya lihat beberapa menit itu bukan dinding kamar mandi saya, tapi seperti di sebuah taman. Seorang lelaki dengan rambut gondrong dan bertampang Timur Tengah berdiri di sana dengan mata yang sangat sedih, wajahnya tirus dan saya melihat ekspresi kesedihan. Di dalam hati saya seperti saya mengenali lelaki itu, seperti suara hati saya bilang, “May, itu Yesus.” Walau logika saya bilang, “tapi kok wajahnya tidak seperti tampang gambar Yesus yang sangat anglo-saxon itu’. Saat itu, saya tidak bisa bicara apapun. Hanya bisa mendengar dan melihat.
Lelaki berwajah sedih itu menggendong seorang bayi di tangannya. Di dekatnya ada banyak anak kecil, balita mungkin yang berlari kegirangan. Bayi di tangannya kemudian ia angkat dan menatapku dengan pandangan dalam. Ia berbicara denganku tapi bukan dengan suara. Suaranya berada di dalam kepalaku. Pertama aku tak terlalu tahu apa yang ia bicarakan. Apalagi dari matanya kemudian ia menangis, tapi yang keluar adalah darah. Ia sedih, berwajah tirus dan berbicara denganku.
Yang saya dengar darinya, maksudku suaranya di kepalaku dan pengertian di hatiku hanya satu. Tentang bayi dan anak – anak kecil itu. Katanya, “May, lakukan sesuatu untuk anana kecil ini eee, waktu su tra banyak. Tolong anana kecil ini dong eee.” Pesan itu berulang – ulang di dalam kepalaku. Saya tidak tahu apa yang ia maksudkan dengan menolong mereka, ia hanya muncul dengan tampang sedih, menggendong bayi dan dikelilingi anak – anak kecil. Entahlah … dan suasana kamar mandi saya kembali normal, sangat normal.
Saya masih tak mengerti. Entahlah. Yang saya tahu, saya tak mau apa pendapat orang untuk teman imajinasi saya, saya tak peduli dicap ‘gila’ dan ‘aneh’ untuk sesuatu yang saya percaya dan yakini apalagi impian – impian saya. Saya tak ingin menyerah dengan kondisi kesehatan saya pun kondisi mood saya yang turun naik. Saya ingin menjadi sesuatu yang lebih berarti bagi sesama walau mungkin dengan cara yang tidak menguntungkan secara finansial. Bagi saya, saya hanya ingin ‘live the life I love to its fullest. Do what I love and love what I do. Itu saja.
Ah saya teringat status Facebook saya hari ini, “I call this week as my ‘Pacific Week’! Pacific (Latin) means ‘peaceful or loving peace’. This is the perfect week for relaxing, contemplating, reconciliation and loving my self as well as contributing the best of me to others. The perfect place to celebrate it is in the Northern Coast of Manokwari, both from the uphill and on the beach. The perfect ‘me-time’ to make my new life resolutions!!! * a week-after mood”
Ya, minggu ini saya genap seminggu berumur 28 tahun. Saya hanya ingin jadi manusia yang lebih baik bagi sesama, yang lebih berbuat ‘sesuatu tanpa pamrih’ bagi anak – anak kecil, yang lebih tenang dan bisa mengontrol amarah saya. Itu saja.
Entahlah, saya hanya pemimpi. Ya seorang pemimpi, yang memimpikan dunia yang lebih baik bagi keponakan saya, kala Alam, Tuhan dan Manusia bersama – sama bermain. Itu saja.
Saya masih tetap anak perempuan kecil yang selalu bermimpi akan menari suatu hari dengan Yesus, itu saja. Berbagi tawa dan mengejar kupu – kupu.
Khayalan atau mimpi yang aneh, ya mungkin saja. Tapi untuk itu saya akan tetap melanjutkan hidup saya. Tetap bertahan hidup. Itu saja.
Ah saya jatuh cinta pada hidup saya. Sangat jatuh cinta.
(Manokwari, 230911; does the ‘vision’ back again?)
0 comments:
Post a Comment