Cinta! How do you define this word? Entahlah … saya tak tahu.
Yang saya tahu, bagi saya cinta punya banyak wajah, banyak rupa. Sayangnya, ada satu tipe cinta yang hingga kini belum bisa tergantikan, di manapun saya berada, oleh siapapun. Cinta yang dipadu oleh rasa damai dan membuat saya sangat tenang, tidak menggebu – gebu, begitu tenang mengalir. Ya, itu cinta yang saya dapatkan dan rasakan dan merupakan satu wajah cinta yang sangat saya puja dan saya rela mati demi cinta seperti ini:
Kala melihat fajar pagi dengan semburat jingga di langit apalagi bila saya ditemani secangkir kopi dan ditemani lagu – lagu penyemangat ataupun jenis lagu ‘New Age’. Saya selalu merasakan saya jatuh cinta saat itu, jatuh cinta pada hidup, pada segala sesuatu dan biasanya, mood hipomania saya bisa kumat. HAHAHA
Kala hujan turun dan mengalir dari tetesan daun, apalagi saya pernah merasakan jatuh cinta berat tanpa sebab kala di suatu pagi, melintas di jalan gang perumahan di Campbell dan melihat tanaman rambat di pagar kayu basah dan airnya menetes perlahan dan ada bilah sinar mentari yang menembus butiran itu. Bayang daun berwarna kuning, hijau dan merah masuk ke dalam mata saya. So sexy. Ya, bagi saya hujan itu bukti cinta dan sangat seksi. Saya jatuh cinta saat itu. Sangat jatuh cinta dan sampai sekarang, masih belum ada sensasi hujan sebagus itu di mata saya. Benar – benar seksi.
Kala melihat senyuman para keponakan saya, mulai dari Ochil, Muel, Echy dan Monia. Apalagi kala mereka memeluk saya dan mata mereka bersirobok dengan mataku, kadang – kadang mereka mencoba merayu saya dengan bilang, “Mama Maya cantik”. Ah saya selalu jatuh cinta kepada mereka. Mereka cinta terbaik di dalam hidup saya. Sumber kekuatan saya selama ini untuk bertahan. Saya jatuh cinta dengan ujar genitnya Ochil kala kami berdiskusi tentang kegiatan eskul TKnya dan gaya fashion dan rambut ikalnya, atau kala Muel berbicara lancar dengan suara yang sangat cadel dan tampang gaulnya, juga si Echi tomboy yang selalu cemberut bila difoto dan gemar memamerkan seragam TKnya yang bermotif tentara. Tak lupa si Monia yang suka menyanyi, genit dan berlari apalagi beberapa hari terakhir ia sedang suka belajar split, entah dia lihat dari mana. Mereka cinta terdalam saya.
Kala berjalan di tepian pantai utara Manokwari yang sunyi dan bersinggungan langsung dengan lautan Pasifik ataupun berada di sebuah tempat yang tinggi dan bisa melihat laut di pantai utara, yang lepas bebas dan memanggil saya untuk pulang. Ya, perasaan bebas yang membuat saya merasakan cinta di dalam diri saya tapi juga rasa tenang dan damai. Entahlah … itu cinta yang saya dapatkan.
Kala mendengar musik – musik penyemangat yang mengerti saya, seperti lagu – lagunya India.Arie, Greenday, juga lagu – lagunya Pink seperti ‘Raise your glass’ dan ‘Fucking perfect’ ataupun single-nya Oppie Andaresta ‘Single and very happy. Tak lupa milik Backstreet boys ‘Make you different’. Ya, lagu – lagu penyemangat saya kala begitu down. Tiap kali mendengar lagu – lagu itu, saya pasti merasa ada cinta yang keluar perlahan di hati dan menenangkan saya.
Kala mengajar anak – anak TK dan SD di St Clare of Assisi di Conder, Canberra sana. Saya jatuh cinta tiap kali bertemu anak – anak kecil yang imut dan berpipi merah itu. Mereka selalu menjadi obat stress saya di semester 2 kala kuliah S2 dulu. Saya selalu mendapatkan pelukan dan tawa hangat mereka tiap pagi kala menjadi guru bantu itu. I just miss those kids and they kept making me falling in love.
Kala saya bisa mendapat waktu doa yang sangat personal dengan Tuhan, berbicara tentang apa saja, dimana saja. Cinta yang saya rasakan kala curhat itu terasa sangat menenangkan dan menjadi obat terampuh dari bipolar saya. Apalagi bila sampai menangis, lega banget. Setahun terakhir, saya jarang menangis dan doa seperti ini bisa sangat melegakan. Entahlah, saya merasa dengan Tuhan saya bisa jujur apa saja, ketakutan – ketakutan saya, kerinduan saya, mimpi – mimpi saya. Semua yang sangat pribadi di dalam diri saya.
Kala snorkeling dan bisa melihat terumbu karang yang sehat dan warna – warni ataupun berjalan di tengah – tengah hutan dengan kanopi – kanopi pohon yang tinggi ataupun dari atas pesawat menikmati landscape hutan. Cinta pada alam seperti ini yang tak pernah bisa saya tolak. Cinta yang melegakan dan tak pernah membuat saya terkurung. Cinta yang sangat membebaskan.
Sebuah catatan tentang cinta yang saya tahu dan mungkin bukan potret cinta yang ditampilkan di karya – karya klasik atau yang anda tahu. Tapi, untuk cinta seperti ini, I’ll fight for it.
Cinta! Entahlah … saya tak bisa menjabarkannya dengan baik, tapi saya melihatnya dalam banyak rupa, banyak wajah dan tentu saja dalam banyak hal.
Ah saya jatuh cinta pagi ini kala hujan turun dan langit kelabu. Benar – benar jatuh cinta. Membuat saya teringat status saya hari ini di jejaring sosial, “ Crazy about Adele’s “someone like you”, Dewa’s “Pupus” & David Pendragon’s “Tribe World Ensemble: World Ballads for a peaceful planet esp. ‘The Journey’ & ‘Hallelujah Time’; Perfect songs for contemplating about life, love & the earth. Love being me, love every inch of my life, and definitely love to be a dreamer. Let’s make a change for a better planet * day-two-pacific-week mood”
Ya, saya sedang jatuh cinta, sangat dalam.
(Manokwari, 240911;pacific week = universal love week)
0 comments:
Post a Comment