Search This Blog

Loading...

Wednesday, 21 September 2011

Rindu Q

Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat deras hujan tak turun, saat tak ada pelangi yang muncul di luar sana, saat tak ada nyanyian merdu burung pagi, saat tapak – tapak kaki pejalan lenyap dalam hening, diam dan bisu. Ya, sebisu hatiku.


Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat gelap memeluk bumi dalam buaian nircahaya, saat manusia – manusia berkulit kopi dan vanilla tertidur lelap, saat serangga malam tak bermain simfoni mereka, dan semuanya menjadi kelam dan gelap. Ya, segelap hatiku.


Ada yang bilang cinta memabukan, mencuri akal sehat. Bagiku, hanya satu ungkapan yang tepat, “I was smart until I fell in love.” Ya, itu ungkapan dari rasa rindu yang membunuhku di malam – malam gelap dan kelam seperti ini. Bahkan kau tahu, bintang dan bulan di luar sana mengkhianatiku karena mereka enggan keluar malam ini.


Entahlah … aku merindukanmu malam ini,
Saat lagu – lagu cinta bersuara lembut dan merdu tak bisa menenangkan hatiku, saat dentaman dan petikan Greenday tak bisa mengajak hatiku menari girang, kala rangkaian puitis Gibran, Neruda hingga Tagore lenyap dalam kesenyapan hati. ya, aku senyap malam ini.


Mungkin kau tak akan pernah tahu bahwa aku merindukanmu, entahlah. Rasa ini mengonsumsi akal sehatku dan memaksa jari – jariku mengetikkan kata – kata penuh basa – basi ini, kata – kata yang mungkin kau anggap hanya memenuhi sia – sia lembar – lembar kertas virtual ini.


Entahlah …. Aku merindukanmu malam ini.
Mantra yang terpaksa kutuliskan guna menawarkan rasa lelah di hati yang muncul tiba – tiba tanpa diundang, yang membuat deretan kata catatan lain rusak berantakan, kala bayang dan suaramu muncul menari dalam benakku, menyeretku menuliskan kata – kata rindu yang terasa basi karena semuanya terasa aneh kala rindu ini tak ingin dialamatkan langsung padamu.


Lihat saja, rasa rindu ini begitu kurang ajar muncul, membuat nyanyian cinta dengan syair – syair puitis cerai berai dibantai dengan logika semu, ‘jadi, ko rindu dia, May?’. Ah logika sekali lagi bermain, mencoba menetralisir rasa ini tapi toh, mantra ‘aku merindukanmu malam ini’ masih tetap datang, menghantuiku, memaksaku bangun dan menyeret komputer butut ini menarikan huruf – huruf demi keabadian rasa dalam kata – kata yang entah kan kau baca atau hanya terdiam dalam sudut – sudut berdebu piranti ini.


Aku tak tahu apa yang kau pikirkan malam ini, siapa yang kau rindu ataupun apa yang ada di benakmu, yang aku tahu, ‘aku merindukanmu malam ini’.


Rasa ini menyiksaku, membuatku senyap, diam dan tenang. Rasa yang mungkin seharusnya tak ada tapi toh terlanjur ada. Rasa yang susah sekali dibersihkan. Ibarat noda, rasa ini bukanlah noda yang mudah kau bersihkan dengan deterjen keras, pemutih pakaian ataupun perangkat pembersih lainnya. Rasa ini ibarat noktah – noktah Tuberculosis yang bersemayam di paru – paruku, yang enggan menghilang karena ada gurat – gurat celah yang terlanjur ada. Selamanya kan ada.


Aku kan mencoba bersahabat dengan rasa ini, kurasa. Mencoba realistis dengan rasa rindu ini dan tentu saja mencoba untuk tetap hidup walau rasa ini menyeretku berulang kali dalam malam seperti ini. Malam –malam panjang tanpa nama, malam – malam panjang penuh rindu, malam – malam panjang yang menyeret jemariku membisikan rasa rindu dalam leretan kata, membuat bibirku mengucap namamu dalam doa – doa pendekku kala beban di hati terasa berat, kala pesan – pesan pendekku mengganggu tidur sahabat – sahabatku di ujung mimpi mereka. Entahlah … mengapa rasa ini begitu memabukkan seperti Bailey yang manis pecah di bibir tapi melenakan juga membuatku getir linglung usai bangun pagi?


Ah … aku merindukanmu malam ini, kau tahu atau kau pura- pura tak tahu. Toh aku tak peduli sebenarnya, karena yang aku tahu, ‘sa rindu ko’ itu saja. Tak perlu ada penjelasan!!!


Rindu tanpa nama dalam rasa tanpa nama membuatku sesak. Rasa ini membuatku terjaga, larut dalam diam yang tenang penuh emosi yang menyesakan dada.


Rasa ini memabukkan, menyesakan dan tentu membuatku menjadi ‘bodoh’.


Aku merindukanmu malam ini, kau tahu ataupun tak mau tahu, itu bukan urusanku. Rasa ini pribadi dan masih enggan kukatakan padamu. Bukan, hanya tak ingin mengganggu hidupmu. Itu saja. Biarkan rasa ini mengonsumsiku pelan – pelan, biar saja abadi dalam kata – kata. Tak perlu disampaikan dan hanya menjadi sekedar pesan ‘say hi’ pembuang ‘sms gratis’. Tak perlu.


Aku merindukanmu malam ini, kutuliskan dalam catatan ini hanya agar abadi. Membuatku manusiawi, membuatku lebih lega dan bisa tidur di malam panjang ini.


Mungkin aku salah terlanjur jatuh cinta padamu, itu saja. Sedang kau? Ah aku tak tahu perasaanmu dan memang tak ingin tahu, lebih baik diam dan merindukanmu seperti malam ini karena tak ingin merasa getir, pahit dan entahlah … kenapa aku memikirkanmu malam ini?


Ah rasa ini membunuhku…


Entahlah … yang aku tahu, aku merindukanmu malam ini.


Ya, untukmu … lelaki yang enggan kusebutkan namanya, kau tahu. ‘Sa rindu ko’, sesederhana itu? Ya, itu saja.


(Manokwari, 210911; 1: 51 a.m.; to him who used to make me laugh and sworn heaps, I just miss you; that’s all)

0 comments: