Search This Blog

Loading...

Wednesday, 21 September 2011

Rindu Bumi

Malam ini saya merindukan dia, seseorang yang enggan saya bahas namanya di dalam catatan ini. Entahlah … mungkin karena sejak tadi Lionel Richie menyanyi untuk saya lewat albumnya ‘Just for You’. Lagu ‘One World’nya benar – benar membuat saya tiba – tiba mengingat dia di sela – sela jadwal kerja saya yang padat beberapa hari belakangan ini. Entahlah … dia yang sering membuat saya kadang berpikir kalau ia layak ‘makan sandal jepit’ HAHAHA. A joker indeed. Ah ini hanya sebuah ‘serangan mental’ di masa sibuk. Ya gangguan rasa yang cukup manis. Seperti kata teman saya Nia dulu, “tra salah kok kalo ‘jatuh cinta’ apalagi ‘rindu’. Polisi tra tangkap juga mooooo.” Sayangnya, ini rasa yang pribadi, berada di areal pribadi dan tidak perlu saya bagi, bukan? *selfish mode: ON

Mengingat dia, saya juga tiba – tiba berpikir tentang keadaan bumi, keadaan dunia, tentang hidup. Apalagi di hari ulang tahun saya yang bertepatan dengan ulang tahun Greenpeace ke 40. Sebuah pencapaian yang lumayan besar untuk sebuah organisasi relawan lingkungan, yang saya percaya pada masa awal pendiriannya pasti dianggap ‘gila’, ‘aneh’ dan ‘tak ada kerjaan’. Toh sejarah membuktikan, walau kapal Rainbow Warrior terlanjur karam di dermaga di New Zealand sana, walau banyak aktivis yang ditangkap dan dipenjara bahkan dipopor senapan, organisasi ini tetap ada KARENA bumi yang rentan ini butuh suara. Itulah sebabnya saya ingat legenda yang banyak diamini para relawan Greenpeace tentang legenda ‘rainbow warrior’ dari suku Indian, terjemahan Indonesianya sih ‘laskar Pelangi’. Kala ikan terakhir sudah mati, kala air tak mengalir lagi, kala hutan telah habis dibabat … kelak akan bangkit pejuang – pejuang yang menyuarakan suara bumi dan mencari cara menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali ATAUPUN kala ikan terakhir sudah mati, pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir sudah kering, kita akan sadar kalau ‘we cannot eat MONEY’.

Catatan ini tentu saja bukan untuk membahas sebuah organisasi lingkungan hidup. Tidak sama sekali. Karena saya bukan seseorang yang sangat loyal pada sebuah organisasi. Saya hanya mencoba loyal pada prinsip yang saya anut bahwa manusia SEHARUSNYA hidup harmonis dengan alam, karena bagaimanapun kita adalah ciptaan terakhir dan yang paling punya ‘otak’ jadi ya seharusnya kita menggunakan kapasitas kita untuk menciptakan kedamaian bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan ciptaan Tuhan yang lain. ya, berdamai dengan alam.

Lagu Lionel Richie ini membahana terus di dalam benak saya, tak hanya memikirkan dia yang saya sebut di atas, tapi juga terus bertanya, mengapa manusia tidak bisa hidup dengan harmonis dengan alam, dengan sesama dan cenderung berkelahi satu sama lain? Padahal kita hidup di bumi yang sama? Perang cenderung terjadi karena masalah eksploitasi sumberdaya alam, karena persaingan bisnis sumberdaya alam, karena alasan – alasan apa yang bisa diperoleh dari bumi hingga kemanusiaan dan alam hancur menghilang dalam desing peluru tajam, dalam dentuman meriam dan terpaan bom nuklir. Ah betapa rapuhnya hidup!

We have one world, we only have one love,
We have so little time together, you and I,
And all we have to do is try.


Ya, kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dan kita bukan satu – satunya penghuni bumi tetapi kita cenderung menghancurkan apa yang telah dibuat Tuhan di alam, menghancurkannya demi keserakahan, demi gengsi, demi sesuatu yang kita sebut ‘peradaban’ tanpa pernah merasa bersalah untuk segala yang kita lakukan. Padahal waktu yang tersisa sangat sedikit.


Ah lirik dan irama lagu ini membuat saya menangis malam ini. Ya, mengapa manusia begitu serakah demi gaya hidup mereka hingga ada ketidakadilan sosial dan lingkungan karena eksploitasi sumberdaya yang berlebihan? Saya mengingat pengalaman tinggal selama hampir 2 tahun di Canberra. Sangat sedih melihat demi sebuah tren baru, gaya hidup baru dan sesuatu yang berbau ‘modern’, alam dipenuhi dengan ‘sampah’ dari rumah – rumah. Saya mengingat bagaimana meja – meja kayu yang masih bagus teronggok ‘for free’ di dekat gedung Crawford lama di kampus ANU ataupun tumpukan meja dan lemari di areal seluas lapangan basket bekas hibah kantor pemerintah di Fyswick sana ataupun satu set sofa tetangga saya yang masih bagus yang dihibahkan kepada saya dan teman – teman serumah. Begitu juga tumpukan barang – barang elektronik dan lain – lain di Aussie Junk; sebuah tempat penampungan ‘sampah’ atau barang yang tak dipakai lagi. Prediksi saya, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin berpotensi ia menghasilkan ‘sampah’ seperti yang saya bahas tadi. Semuanya hanya tentang ‘taste’. Ini masalah rasa, bung!!!


Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh orang – orang yang membuang ‘sampah’ furnitur seperti itu. Bagi saya, kita menjadi serakah. Sangat serakah. Mungkin mereka tak pernah tahu darimana datangnya kayu – kayu yang menjadi elemen perabot itu. Tapi saya tahu, saya tahu bagaimana kisah kayu – kayu itu. Saya mengerti.


Kayu – kayu yang dibawa itu salah satunya berasal dari tempat kelahiran saya di Papua. Kayu kayu itu berasal dari pohon – pohon berumur puluhan hingga ratusan tahun yang menjadi rumah yang besar dan melindungi, bukan hanya untuk hewan, tumbuhan kecil tetapi juga manusia – manusia berkulit kopi yang menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada alam. Saya paham benar bagaimana kumpulan pohon – pohon pembentuk hutan itu menjadi ‘mesin air’ penarik cairan dari aquifer di bawah tanah untuk menjadi pengisi mata air, kali dan sungai yang kelak semuanya mengalir ke laut. Membantu siklus iklim, cuaca dan segala tetek bengek konsep ekologi.


Yang saya tidak pahami adalah mengapa masih ada manusia yang begitu serakah merampok hidup dan kebahagiaan pohon – pohon dan isi hutan demi beberapa lembar UANG yang nyata – nyatanya juga dicetak dan berasal dari batang – batang pohon itu? Iya, apakah mereka lupa bahwa uang kertas itu dicetak dari lembaran – lembaran kertas yang dibuat dari pulp alias bubur kertas yang berasal dari cacahan halus batang pohon? Saya masih tak mengerti juga bagaimana mereka rela menebang hutan alam secara serakah demi banyaknya kertas ‘cebok panta’? Saya terlalu sensitif memang!


Saya semakin tidak mengerti mengapa alam harus dirusak demi keserakahan manusia dan modernitas? Bukankah manusia dan alam bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu bila ditata sedemikian rupa. Bukankah Tuhan memberikan kita akal budi untuk hidup?


Malam ini, lagu ‘One World’ berputar terus tapi tak ada tanda – tanda seraknya suara Lionel Richie. Suaranya merobek batin saya, kala ia tanyakan:

“We’ve got some much pain and confusion
Are we living for the truth or an illusion?

Ya, saya juga bertanya hal yang sama.


Di tanah saya, hanya karena urusan berapa banyak batang pohon yang bisa diambil, berapa banyak kandungan perut bumi yang dikeruk, berapa banyak areal hutan yang bisa dikonversi, ada banyak darah gelap yang keluar dari tubuh – tubuh yang tidak tahu apa – apa. Keluar dari orang – orang berkulit kopi yang hanya mempertanyakan tempat dimana mereka lahir dan kelak akan mati.


Di tanah saya, urusan mempersengketakan sumberdaya alam menjelma jadi mimpi buruk ketidakadilan sosial. Orang – orang berperang, berkelahi, saling membenci. Etnis dan agama pun ikut – ikutan dibawa, saat semua dibagi menjadi ‘hitam – putih’. Ada pihak yang mempertanyakan HAMnya dan ketidakadilan, ada yang berkilah ‘ini hasil kerja keras’ dan mereka pun larut dalam ketegangan yang kasat mata, menggelegak perlahan .. entah kapan akan meletus. Saya tahu ada kawah candradimuka yang tersimpan di tanah ini karena masalah pengelolaan apa yang ditawarkan alam. Ah .. saya sedih. Mereka berkelahi dan membunuh satu sama lain sedang alam terus berjuang sendiri melawan penyakitnya, melawan pemanasan global, melawan proses menuanya yang terlalu cepat.


Tahun ini, sebuah organisasi, yang sukses menginfiltrasi otak saya untuk berpikir dan tetap bersuara untuk alam lewat cara yang saya bisa, berulang tahun ke 40. Organisasi dengan program kampanyenya yang membuat saya akhirnya menemukan beberapa sahabat dekat seperti Amos, Maria dan lain – lain. Lewat organisasi ini pula saya menambah banyak pengalaman travelling ke tempat – tempat eksotis di tanah ini, berkenalan dengan banyak kisah nyata tanah ini, dan tentu saja menemukan cinta saya pada hutan dan alam Papua. Saya hanya pemimpi tetapi saya bersyukur pada suatu masa pernah bersentuhan dengan organisasi ini dan merangkum beberapa pandangan yang membuat saya menjadi seperti ini. At least, ajaran utama yang saya adopsi hingga kini saya tidak pernah buang sampah sembarangan!!!


Saya percaya, saya dan anda hanya orang – orang biasa, tapi saya percaya kita bisa membuat sesuatu yang luar biasa untuk bumi ini. Saya benci orang – orang khususnya kalangan Kristen yang bilang kalau mereka yang terlalu peduli pada urusan lingkungan itu orang ‘New Age’ atau bahkan ada yang ekstrem bilang kalau ‘ae neh … dunia su mo kiamat juga mo. Tuh memang Tuhan su tulis juga moooo.’


Entahlah saya hanya marah karena bagi saya, kita masih tetap hidup di bumi ini, masih bernapas dengan udara yang sama, memakai akses alam yang sama. Saat kita tak peduli dengan isu lingkungan, maka kita akan menciptakan ketidakadilan sosial secara tak langsung. Percaya tidak percaya, itu yang sebenarnya terjadi. Yang merusak dunia cuma satu, “ketidakpedulian pada sesama karena tak ada cinta di hati.” Saya juga masih ingat bahwa di dalam kitab Kejadian pasal 1 ada perintah untuk ‘menjaga alam’ walau di situ lebih pada hewan liar. Nah bagaimana hewan liar, burung – burung dan lain – lain bisa hidup dengan baik kalau alamnya dirusak?


Saya tak tahu bagaimana perasaan orang lain tentang bumi ini, tentang alam, tentang pohon. Saya pernah berada pada masa dimana alam khususnya hutan adalah taman bermain saya, menyusuri dan berenang di kali, memanjat pohon, mencari buah di hutan dan tentu saja bermain sebagai kanak – kanak. Ah masa – masa dimana yang mengilhami saya untuk tetap bersuara bagi alam karena saya ingin para keponakan saya juga mengalami hal yang sama kelak, kala mereka besar.


Saya ingin masih ada langit biru bebas hujan asam, masih ada laut bening, biru dan bersih penuh ikan untuk mereka, pohon – pohon tegar dan angkuh yang berdiri di depan mereka dan masih banyak hal lain. Perasaan ini tidak akan pernah tergantikan. Tidak akan pernah tergantikan.


Mungkin saya terlalu sensitif dan pemimpi tapi kondisi psikologis saya sangat terpengaruh dengan kondisi alam di sekitar saya. Itulah sebabnya, kota seperti Jakarta dan Jayapura kadang membuat saya stress karena saya kesulitan mencari dan melihat pepohonan hijau. Saya tertekan apabila terdapat ketidakseimbangan apalagi ketidakseimbangan alam.


Mungkin catatan ini terasa aneh, entahlah …. Tapi saya selalu merasa lebih dekat dengan Yesus, saat saya dekat dengan alam. Saya sangat menikmati pergi ke pantai yang sunyi ataupun pemandangan dengan view yang bagus ataupun melintasi hutan karena entahlah ... aromanya begitu khas, menenangkan dan tentu saja seakan alam bercerita pada saya. Menemukan apa yang saya cari!


Entahlah …. Malam ini saya tahu kalau saya tak bisa lepas dari isu ini. Ya, tak akan pernah.


Seperti kata pace Richie, “We just need to walk together, We just need to talk together, We just need to come together, In our hearts”.


Ya, kita hanya perlu berjalan, berbicara dan datang bersama – sama dengan satu hati untuk bumi yang satu dengan satu cinta!

Ah … andai bumi bisa bicara untuk dirinya sendiri. Entah apa yang akan dikatakannya!


(Manokwari, 160911; 11sumthing p.m.; In celebrating Greenpeace’s anniversary –sort-of-feeling while thinking about ‘si joker’.)

0 comments: