Search This Blog

Loading...

Monday, 12 September 2011

Orange, Stabillo dan Hidup

Seminggu ini saya jatuh cinta. Jatuh cinta pada hidup saya tepatnya apalagi pada warna jingga (either you call it ‘orange’, ‘oranye’ or ‘lembayung’.) Iya, tema ulang tahun saya tahun ini, yang ke 28, adalah jingga. Entahlah … ada banyak hal yang entah kenapa selalu membawa saya pada warna ini. Warna yang selalu menggoreskan kenangan dan dalam, seperti aroma jeruk, lemon atau apalah yang selalu menjadi pilihan saya. Catatan kali ini hanya catatan lepas menjelang ulang tahun, tentang banyak hal terkait Jingga, seseorang yang masih selalu mengilhami saya untuk hal – hal positif apalagi menjadi role model pria yang saya cari kelak; seseorang yang tepatnya ‘mencecoki’ saya dengan warna Jingga. Yang pasti, catatan ini tidak ditujukan untuk siapa – siapa, hanya refleksi pribadi saya. Ah satu lagi … jingga adalah warna cinta saya, warna mood saya kalau lagi jatuh cinta. Bukan pink!!!

Saya sudah lama menyukai jingga. Saya ingat proyek novel saya yang masih keteteran dari tahun 2006 itu namanya ‘Jingga Bentara Jiwa’. Ya, saya pengagum warna Jingga hingga terbawa – bawa dalam tulisan saya. Apalagi saat suasananya kalau lagi tak hujan, pasti sedang senja atau subuh dengan semburat warna jingga atau lembayung ataupun mauve. Itulah saya dalam tulisan – tulisan saya.

Jingga pun terekpresi dalam pilihan musik saya. Saya paling suka sama duo ‘Jingga’ yang menyanyikan lagu berjudul ‘cinta’ kalau tak salah. Suasananya sangat musim gugur banget di video klipnya. Saya ingat waktu itu saya masih pelajar SMP yang masih buta sama makna cinta. Tapi toh saya jatuh cinta pada lagu ini. Mungkin itu sebabnya saya selalu mengasosiasikan warna jingga dengan cinta. Seiring dengan waktu, saya juga jatuh cinta pada lagunya Nat King Cole, kalau tak salah, yang judulnya ‘Orange Sky’. Ya ini semua karena perannya si Jonathan alias Bro J yang pada sebuah malam, ditemani teman serumahnya, kami berdiskusi tentang seni di meja makan usai saya ‘dipaksa’ memakan pizza sosis yang dilumuri bayam blender campur bumbu – bumbu. Eewww. *HAHAHA. Saya juga masih ingat lagunya ‘Sunrise’nya Norah Jones yang entah kenapa tiap kali mendengarnya, saya mengingat momen bahagia saya dan membayangkan warna jingga apalagi mengingat bagaimana ‘bertarung’ karaoke dengan Nino dan India ditemani si kecil Cecil di Dubbo saat kak Yana mengajak saya menemaninya liburan ke rumah temannya di sana. Itu salah satu momen bahagia saya di Australia.

Saya juga punya banyak kenangan manis yang terjadi saat jingga semisal sewaktu di Australia dulu. Jingga terindah selalu muncul di Canberra dengan semburat cantik di langit yang minus angin. Apalagi saat berjalan di pinggir danau. Saya ingat bagaimana dalam sebuah acara perayaan Australia Day, saya dan teman – teman menari girang ditemani irama musik band ‘Heritage’. Saat itu jingganya benar – benar Maya banget deh. Begitu juga dalam sebuah acara jogging sore di musim panas 2010 yang diakhiri dengan photo session dengan penghuni 31 Jacka. Saya bahagia bila mengingat momen itu. Tema hari itu jingga.

Jingga juga mengingatkan saya pada kenangan bersama Bro J di Apollo Bay. Kami berdua menghabiskan menatap jingga sambil memantau wallaby liar di padang rumput berbukit – bukit. Menghabiskan satu jam lebih trekking di property yang baru dibelinya. Berbicara tentang rumah impian, imajinasi mimpi, hingga kemana hidup akan membawa kami, begitu juga tentang pernikahan dan banyak hal. Jujur, ia membuat saya terkesan sekali hari itu, belum ditambah lagi dengan aksi gilanya selama dari Melbourne. Ah … pada sebuah jingga di musim panas 2010, saya mendapatkan role model untuk calon suami saya kelak. Tentu saja bukan bro J, ia di luar ‘jangkauan’ saya tapi setidaknya seseorang yang lain dengan karakter jingga seperti dia. Apalagi bro J punya banyak barang ataupun hal – hal berbau jingga di rumahnya. Dari kumpulan novelnya yang semuanya Pinguins Books (kebetulan ia dan temannya bekerja di sana untuk urusan fotografi, dokumentasi dll), hingga mobilnya yang VW Combi berwarna oranye. Sewaktu pulang dari Apollo Bay pun, saya dan bro J mendapatkan salah satu jingga terbaik selama saya di Australia, walau bersamanya saya pernah juga mengalami hujan lebat, kabut, dan pelangi di beberapa hari di musim panas itu.

Jingga juga mengingatkan saya pada musim gugur di Canberra yang sangat penuh warna jingga, kuning dan tentu saja merah. Entahlah … mungkin karena saya lahir pada pertengahan bulan September, permulaan musim gugur di belahan utara dunia, (ataupun musim semi di belahan selatan) hingga aroma musim gugur (ataupun musim semi) yang penuh hujan dan warna – warni jingga adalah nama lain saya plus walau saya lahir di sebuah pulau bernama Papua, saya lahir di permulaan akhir pekan, tepatnya pada sebuah Jumat Sore sekitar jam 4 lewat. Itulah sebabnya saya sangat senang pada liburan, dan selalu merasa baikan saat senja mulai datang. Saya makhluk malam, menikmati keindahan dan kecantikan alam dan merasa dekat dengan Tuhan saat jingga telah datang.

Entahlah … saya jatuh cinta pada jingga dan teringat pada stabillo warna – warni yang kerap dipakai teman saya semasa di Canberra. Teman saya ini, Roudo, selalu memakai stabillo untuk menandai bagian penting dari lembaran – lembaran bukuku. Istilah tepatnya ‘highlight’ supaya ia mudah mengingatnya, membaca dan mencari hal – hal penting itu. Saya pun teringat bagaimana stabillo berwarna jingga selalu menjadi pilihan saya begitu juga warna kuning karena membuat saya bersemangat dan jatuh cinta, seperti Alkitab saya yang penuh coretan warna – warni karna bagi saya, Alkitab saya adalah buku harian saya versi lain. Saya pun teringat sebuah perkataan yang saya dapatkan pagi ini kala membaca Alkitab.

Dalam doa pagi saya tadi, usai saya membaca sebuah pembacaan di Yesaya 60: 15 – 22 tentang janji Tuhan. Saya bilang pada Yesus, “God, How I love this color, this ‘orange’.” Saya pun diajar tentang peran jingga. Ternyata jingga itu selalu ada pada awal dan akhir hari sebelum datangnya gelap. Jingga menjadi sebuah warna indikator, yang meng-highlight adanya terang, sebuah ‘stoom’. Entahlah … saya merasa begitu mencintai warna ini, merasa warna ini benar – benar mewakili mood saya saat bahagia, jatuh cinta.

Saya memang mengidap bipolar dan mungkin ini juga fase saya menuju tahap mania saya, tapi seminggu ini saya memang lagi jatuh cinta pada hidup saya, pada diri saya, pada warna jingga. Saya bersyukur saya akan menginjak umur 28 tahun empat hari lagi. Seorang bipolar yang masih selamat dari tindakan bunuh diri, yang masih memutuskan hidup, yang sedang berjuang melawan serangan depresi momen yang kadang masih menyerang. Yet …. Karena kamar saya dan pernak – pernik saya banyak yang mengandung unsur jingga, saya masih bersemangat. Saya tersadar bahwa lebih dari 10 item di kamar saya berwarna oranye, termasuk tas dan yang terbaru ‘sepatu oranye menyala’ yang benar – benar membuat saya jatuh cinta sejak malam minggu kemarin. Guess what? Rasanya menemukan belahan jiwa saya saat memandangi sepatu bergaya semi-sneaker itu, terbawa mimpi dan akhirnya kemarin saya ditemani sahabat saya membeli sepatu itu sebagai hadiah ulang tahun untuk diri saya. Impulsive woman I am!!!

Yang saya tahu pasti, beberapa hari ini saya sedang jatuh cinta mendalam pada hidup saya, pada Yesus, pada banyak hal kecil dalam hidup saya. Saya bersyukur karena warna jingga ini selalu menjadi ‘stabillo’ hidup yang mengingatkan saya pada momen – momen bahagia saya, yang menyemangati saya untuk bertahan melawan bipolar saya. Apalagi manual saya di dunia ini; Alkitab saya versi Good News Bible bersampul kuning lembayung bergambar sunset menjadi ‘buku harian’ saya yang bercerita tentang kasih Yesus pada saya.

Saya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta berat. Seperti saya mencintai sepatu oranye anyam baru, yang saya nobatkan sebagai belahan jiwa saya, edisi ulang tahun.

Saya sedang jatuh cinta menjelang ulang tahun saya ke 28, ini ulang tahun anugerah saya yang ke 10; kesempatan untuk tetap hidup, tetap berjalan. Saya masih bertahan dan akan tetap bertahan dan tak akan menyerah pada bipolar saya. Karena saya masih ingin menikmati banyaknya semburat oranye di langit pagi dan sore hari.

Itulah sebabnya saya akan terus menulis, berpetualang dan minum kopi sambil menikmati jingga di langit. Entah di Papua, Australia ataupun kelak di bawah sebuah pohon Baobab di Afrika sana.

Saya pemimpi yang ingin menyesap kopi dalam sebuah momen penuh jingga di pinggiran pantai utara Manokwari tahun ini di hari ulang tahun saya! *Keep dreaming for someone like bro J to accompany me HAHAHA

(Manokwari, 120911;Turning 28th feeling)

0 comments: