On the way to insanity is what I feel this morning. Itu perasaan yang saya rasakan hari ini. bukan kegilaan untuk berputar dalam pikiran saya sendiri, tetapi kegilaan untuk mulai membalas dendam. Semuanya dimulai dari informasi seorang kenalan yang tahu tentang pergerakan barang tadahan hasil curian. Sialnya, ia bisa mengenali merek helm merah yang hilang. Lengkaplah susah. Dari bincang – bincang itu, ia menyebut dua pelaku yang memang sudah kucurigai sejak awal. Ya, seperti ada bola lampu yang menyala di otak saya seperti di film – film karton bila ada ide baru yang berkelebat. Sayangnya, di otak saya bola lampu ini membakar dan begitu panas. A red hot rage!!!
Kemarin sore, saya begitu marah, sangat marah. Apakah ini yang disebut dendam? Saya tak tahu. Yang saya tahu, pikiran penuh pikiran membunuh secara fisik muncul dengan cepat muncul di otak saya, termasuk bagaimana cara membalas secara mematikan tetapi halus dan juga brutal, dan yang pastinya saya ingin pelaku tersiksa dan menderita. Jangan tanya apa saja yang sudah ingin saya lakukan. Gilanya, saya sampai pergi mengawasi rumah penadah dan memantau kemungkinan – kemungkinan jalan keluar bila rencana A dan B tak terjadi. Berpura – pura mencari kenalan lama. Begitu pula dengan kemungkinan – kemungkinan lain yang bisa digagas oleh otak saya. Ah parah sekali pikiran saya yang jahat itu.
Entahlah … saya takut bila tidak saya kendalikan maka saya akan dengan mudah dikonsumsi oleh pikiran dan sisi gelap saya. Saya sudah melepas pikiran gelap semasa SD dan SMP ini. Entahlah, mengapa saya kembali lagi. Mungkin memang saya cuma perlu 1 faktor pemicu saja. Minggu lalu saya berhasil mengontrol hal ini sayangnya muncul lagi. Ada bara panas yang mendidih di hati saya. Mungkin ini yang pernah adik lelaki saya bilang, “Tra tau ee May, untuk orang yang pukul sa itu, biar su kejadian lewat beberapa tahun lalu, tiap kali ketemu dong, di dalam dada nih macam hati mendidih sekali dan ingin balas dong trus.”. Mungkin benar juga, itu yang saya rasakan sekarang. Walaupun saya sudah begitu tenang dan ini minggu Pasifik saya, tetap bila mendengar sedikit saja tentang para pencuri itu, ada nyala merah di dada.
Mungkin inilah sebabnya dua rekan di kantor (ma’am Novie dan Riana) selalu mengganggu saya bila saya bercerita tentang ide saya yang aneh kadang – kadang. Karna entahlah, menurut mereka, pandangan mata selalu bersinar senang dan bright dan menikmati kala saya mengemukakan rencana jahat pada orang tertentu ataupun imajinasi saya yang melenceng itu. Sampai – sampai ma’am Novie bilang kalau cuma dua orang tipe cowok yang cocok pacaran dengan saya, “ya kalo bukan psikolog, ya pasti psikopat, May”. Mungkin karena beberapa tahun lalu ia pernah memberi pertanyaan tes psikopat ringan berupa cerita tentang alasan seorang perempuan bisa membunuh ibu kandung dan saudaranya demi lelaki yang diincarnya di pemakaman. Sayangnya, saat itu di kantor, hanya saya yang bisa menebak motifnya. Keadaaan diperparah lagi usai saya selesai mengikuti mata kuliah “Indonesia: Politics, Society and Development”. Artikel yang saya pilih tentu saja menulis karangan tentang Soeharto sebanyak 3 ribu kata. Tentu saja dengan riset 2 bulanan, saya berhasil menyelesaikan hal itu. Membaca semua literature sejarah, pandangan politik hingga membuat saya harus konsultasi ke psikolog karena semua bacaan berbau politik, intel dan semua hal buruk itu menempel di otak saya. Mengisi mimpi buruk saya tiap malam. Depresi tepatnya yang saya rasakan. Itu masa terburuk saya. Entahlah, setelah itu, saya hampir tidak bisa merasakan emosi apapun. Walaupun saya masih tetap punya empati pada orang lain hanya untuk urusan brutality kayaknya saya sudah bisa membayangkan yang jahat itu dengan mudah.
Saya jadi mengerti bahwa hidup hanyalah masalah pilihan. Ingin jadi orang yang sangat baik atau ingin jadi orang yang jahat. Jadi orang jahat lebih mudah, dan sangat mudah. Sedang jadi orang baik? Itu perkara sulit, bagaimana kita bisa berbagi dan menghargai orang lain dan mau hidup dengan tenang. Itu saja.
Saya berharap saya bisa mengontrol diri saya, mengontrol pikiran saya yang impulsif. Mungkin juga berhenti nonton film favorit saya yang bergenre- Thriller. Percaya tidak, sejak kecil, film favorit saya apalagi sutradara favorit saya itu Quentin Tarantino apalagi filmnya ‘Natural Born Killer’ itu film favorit saya. Aneh bukan. Bacaan saya dari kecil yang sangat saya suka ya sejenis trio Detektif, Lima sekawan, Agatha Christie. Bahkan sejak SD saya sudah membaca majalah bulanan Intisari dan tahu tidak, rubrik favorit saya ya tentu saja “perkara kriminal” bahkan saya mengoleksi kumpulan cerita kriminalnya. Karena rubrik ini, sejak SMP, saya jadi tahu bahwa kaleng yang gembos dan hasil kadaluarsa bisa jadi alat pembunuh yang ampuh bila ingin membunuh orang dengan menghitung berat badannya, memperkirakan berapa banyak asupan mikroba botulinum itu masuk dan bagaimana cara menghapus jejak apalagi untuk ukuran Manokwari yang forensiknya cukup jelek bekerja. Cukup dengan membeli 2 kaleng baru makanan yang sama, dan menukar isinya dengan yang kadaluarsa luar biasa, apalagi kalau sudah mengujinya pada tikus atau apalah. Tak ada barang yang susah di Manokwari. Bila ingin jejak hilang, beli sajalah sarung tangan yang murah di apotek yang kerap saya pakai untuk membersihkan kamar mandi. Dijamin tak ada sidik jari. Lagipula mana ada database kepolisian yang lengkap di kota kecil ini.
Menjadi orang jahat especially pembunuh itu perkara mudah. Hanya perlu nyali, perhitungan yang matang dan tentu saja kesabaran dan biaya operasional. Selama ada uang, pembunuhan tanpa jejak sangat mudah dilakukan. Apalagi bila hanya just for fun. Bersenang – senang dengan membunuh, itu gampang. Tahu tidak? Saya harus mengeluarkan pikiran jahat ini dari otak saya, dari hidup saya karena saya tahu ini salah. Saya tak ingin hidup dengan rancangan – rancangan otak jahat ini. Saya tak mau. Saya capek saja.
Dulu, saya bahkan bilang pada beberapa teman, tahu tidak bagaimana cara melumpuhkan sebuah kota seperti Manokwari untuk dikuasai? Kalau saja saya punya 1 tim yang terdiri dari 10 orang dengan otak seperti saya, saya percaya kami bisa bersenang – senang mengacaukan kota kecil ini. Lumpuhkan saja area vital seperti meledakan mesin PLN, saluran komunikasi inti, dan juga membakar pelabuhan bahan bakar dan merusak mesin – mesin pom bensin (untung – untung bisa kita bakar). Plus kalau bisa, 1 hari sebelumnya, menculik anak –anak atau anggota petinggi kota ini, katakan saja bupati, dandim, kapolres dan kafasharkan, dan juga gubernur. Hanya untuk menambah beban mental dan tekanan dan jadi salah satu kartu As untuk berjaga – jaga bila ketangkap, toh hukumannya pasti berat. Jadi kenapa sekalian tidak yang tegang HAHAHA
Sayangnya, sementara ini saya hanya suka menuliskan ide – ide gila itu di dalam cerita pendek saya, yang selalu berbau kematian, pembunuhan dan darah. Ada aroma darah dan kematian di dalam tulisan – tulisan saya. Ekspresi alam bawah sadar saya.
Saya hanya ingin jadi orang baik dan berusaha sekeras mungkin jadi orang baik. Itu saja. Sayangnya, sementara ini saya berusaha untuk mengontrol kesukaan saya untuk berburu informasi yang kadang – kadang rasanya hanya untuk mencari sensasi rasa itu. Tak heran, dulu saya dicap aneh dan agresif apalagi sempat dilabel ‘kapala kejar cowok’ padahal sebenarnya bukan itu. Saya cuek dengan pandangan orang, sebenarnya. Sebenarnya bukan mengharapkan cinta, saya hanya suka saja berburu informasi tentang cowok yang saya jadikan obyek obsesi saya. Semakin sulit saya mendapatkan informasi dan kepercayaan apalagi semakin rumit ia bersikap, semakin tertantang saya. Teman saya bilang ini ‘permainan tarik ulur’. Bagi saya, ini mental ‘berburu’ saya. Saya suka membiarkan mereka berpikir bahwa saya suka, atau tidak suka, membiarkan mereka bermain dengan emosi dan psikologis mereka. Kadang – kadang saya menikmati melihat wajah mereka bertanya, dan saya bisa dengan ‘ pura – pura mati’ cuek hanya untuk tertawa kesenangan. Kau tahu rasanya berburu? Kita menanti target kita lemah, menunggu dengan sabar, menunggu dan menghitung strategi untuk melumpuhkan. Ya seperti itu. Harusnya saya belajar main catur untuk berpikir tentang strategi. Ya seharusnya!
Ah tulisan ini semakin tak jelas. Semakin aneh. Semakin rusak. Saya berharap otak saya akan membaik dan tidak perlu melaksanakan red hot rage di dalam dada saya.
Saya tak ingin menyalahkan darah yang mengalir di tubuh saya. Tapi mungkin saudara saya benar, “Ko mo tolak bagaimanapun juga, di ko darah ada darah Arfak, May. Ko bukan Jawa asli, May. Tetap ada ‘otak gila’ itu yang mengalir, tergantung ko mo olah de bagaimana.” Ya sayangnya, secara genetik pun, di darah saya, mengalir darah ketiga moyang saya yang bukan pengecut tetapi yang didapuk keluarga dan sukunya sebagai ‘pahlawan dan jawara; para petualang’. Kadang terasa berat. Entahlah … apa memang simpul gen dan sifat itu bisa diwariskan ya? Saya ingin menolak pandangan itu. Ingin sekali.
Bapak atau kakek dari oyang saya yang bersuku Biak adalah para petualang dan penjual budak dan pembawa upeti ke Maluku Utara pada masa lampau dan kami bukan dari keluarga yang hanya ‘diam – diam’ saja tetapi para petualang lautan. Oyang atau bapak dari oyang perempuan saya dari suku Meyah, yang namanya ‘Ifna Monaresa’ terkenal sebagai pahlawan perang suku, penjagal musuh – musuhnya, seseorang tanpa rasa takut. Oyang dari nenek saya yang bersuku Meyah juga datang dari keret besar dengan pemimpin perangnya. Belum ditambah lagi dengan dari pihak bapak saya. Ayah dari nenek saya yang Sunda – Cirebon bisa melakukan perjalanan hijrah dari Cirebon ke daerah Jawa Tengah (Brebes) demi sebuah wangsit pada masa itu; guna membangun desa. Ia dikenal sebagai ‘pembasmi bromocorah’. Bahkan sewaktu mengunjungi desa nenek, saudara lelaki nenek melarang kami main di perkebunan tebu depan desa karena konon di situlah, tumpukan puluhan bromocorah alias perampok hasil ‘kerjaan’ buyut kami dibunuh dikubur. Konon, arwah mereka tak pernah suka bila kami keturunan buyut bermain di sana dan sering sekali merasuki dan menyiksa. Itu kata penduduk desa itu.
Bicara tentang kebrutalan dan keberanian, Entahlah . sejak kecil saya terbiasa dengan budaya kekerasan. Tak hanya dari suku dan keluarga besar mama tapi juga dari bapak. Siapa bilang orang Jawa itu lemah? Itu hanya isapan jempol. tapi saya memang melihat betapa brutalnya orang kampung kami. Pertama kali saya datang ke kampung nenek, baru 1 jam duduk, tiba – tiba di depan saya orang – orang sekampung nenek yang Sunda pindahan dari Cirebon keluar dengan sabit dan parang ‘baku hajar’ hingga darah – darah dengan orang dari desa tetangga kami yang ‘Jawa’. Iya, desa nenek itu dikelilingi oleh lima desa Jawa dan satu – satunya desa Sunda. Makanya namanya juga ‘Tanggung Sari’.
Saya hanya ingin bisa melepaskan amarah ini dengan cara positif. Ingin sekali. Karena amarah ini benar – benar menguras energi saya. Membuat saya tak nyaman. Sangat tak suka.
Saya berharap saya bisa melepas amarah ini dengan cepat. Daripada pikiran jahat ini merasuk saya lebih lagi, apalagi saya impulsif. Sangat impulsif.
Saya harus berusaha mendengarkan suara Yesus dan menuruti-Nya. Karena saya akui sejak kemarin saya menolak mati – matian suara lembut di kepala saya untuk menyerahkan dan mengikhlaskan yang terjadi. Harus direlakan.
Saya sedang berusaha. Sangat berusaha.
Benar – benar saya berada pada jalan menuju kegilaan. Semoga saya bisa mengalahkan panggilan dan dorongan red hot rage di dada saya. Semoga!!!
(Manokwari, 270911; ‘dendam’ ini membunuhku!!!)
0 comments:
Post a Comment