Search This Blog

Loading...

Friday, 23 September 2011

Malaria, Lili dan Laut

Saya memilih menulis subuh ini di saat perasaan saya sesak di dada, saat saya tak ingin merepotkan banyak orang untuk berbagi kisah saya yang tidak penting, saat para keponakan penghibur saya sudah lelap. Saya memilih menulis ditemani musik lembut berisi ungkapan cinta dan syukur pada Tuhan. Entahlah … Malaria Tertiana selalu sukses memunculkan sisi melankolis dan perasaan ketidaberdayaan saya. Sebuah akumulasi dan kulminasi dari ego saya yang tertimbun dan menumpuk.

Sakit kali ini bagi saya terasa berat karena tak hanya meriang, pusing – pusing dan sakit kepala plus badan melayang dan panas dingin tak jelas, tapi juga muntah berulang kali, tapi toh saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan. Mengusut dan melacak info barang – barang yang hilang termasuk penyebaran informasi ke berbagai orang yang mungkin bisa membantu, menunggu ketidakjelasan keberangkatan ke luar negeri untuk sebuah kunjungan bisnis yang ujung – ujungnya nasib akreditasi ijazah saya tergantung dari paspor saya yang sudah berpindah tangan itu, entah ke tangan ke berapa dan juga menanti tiada pasti untuk status tawaran kerja saya yang katanya ‘seusai lebaran baru akan diproses’. Entahlah … ini masa yang lumayan berat bagi saya, menanti karir, dan tentu saja mencoba bertahan hidup dan bersemangat.

Minggu ini terasa berat karena saya merasa benar – benar remuk secara fisik dan jiwa. Saat saya tertekan dan pada hari pertama musibah pencurian itu, jujur saya sempat berpikir bunuh diri pada sekian menit – menit yang melelahkan kala sudah pulang ke rumah usai berurusan dengan pelaporan. Saya merasa sangat tertekan dan bersalah. Bukan karena tidak ada sukacita tapi karena saya merasa ini tanggungjawab, sebuah amanah yang dititipkan dan saya tidak bisa mengurusnya dengan baik. Selama dua hari itu, saya bahkan tak bisa menangis, tak bisa menulis. Get blank … Tetapi akhirnya semuanya itu membaik usai bertemu beberapa sahabat, teman dekat dan juga dengan adanya para keponakan yang membuat saya merasa baikan. Saya akan berusaha sebisa mungkin menerima konsekuensi plus berusaha sebisa mungkin melakukan apa yang saya bisa. Semoga pekerjaan yang ditawarkan akan ada titik terang sehingga .. entahlah, saya berencana mengganti pelan – pelan apa yang pernah saya hilangkan saat tanggungjawab yang dibebankan gagal saya jalankan dengan baik.

Minggu ini perasaan saya juga cukup melankolis. Entahlah mengapa saya terus merindukan dia yang sebenarnya sudah tidak boleh saya rindukan. Dia tentu saja bukan mantan pacar saya. Hanya seorang teman. Ya, seorang teman. Itu ungkapan dan label yang tepat untuknya karena ia menganggap saya demikian. Itu asumsi saya. Entahlah … saya merindukan dia akhir – akhir ini. Tak merindukan sebagai kekasih karena bagaimanapun saya masih tahu diri untuk tidak mengganggu hidupnya tetapi hanya sebagai teman cerita, baku maki dan tentu saja mendengar suaranya yang seksi itu. Mungkin akhir – akhir ini saya mempunyai banyak cerita sehingga alam bawah sadar saya memutar balik rekaman tentang dia. Padahal, saya sudah menghapus pesan - pesannya hanya agar saya tidak mengingatnya begitu intens. Sayangnya, semakin saya mencoba menghapus tentang dia, semakin saya mengingatnya. Tapi saya akan terus mencoba mendetoksifikasikan perasaan saya.

Tiba – tiba saya mengingat apa yang dikatakan oleh seorang kenalan lama di Jakarta, dalam statusnya, “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911). Ya, dia terlalu baik, itu saja. Dalam subuh – subuh sunyi, saya akan tetap mengingat dia sejauh ini karena mungkin semuanya masih terasa basah dalam kenangan, semuanya masih perlu waktu untuk menetralkan feromon dan oksitosin yang terlanjur memicu adrenalin dan respon impulsif saya yang cepat sekali ‘ngoceh’ tentang apa yang saya rasakan untuknya. Tapi saya bersyukur kalau saya bisa mengatakan hal tersebut walaupun memang ada konsekuensinya. Saya hanya tak mau menyesal seperti yang saya rasakan untuk Jonathan dulu kala saya tak sempat bilang pada J kalau saya terlanjur jatuh cinta dalam sebuah senja di bukit – bukit kecil di Apollo Bay sana pada musim panas 2010.

Hidup akan terus berlanjut dan itu yang coba saya lakukan. Melakukan apa yang saya ingin lakukan untuk hidup saya, melanjutkan hidup. Subuh ini saya ingin melakukan proyek scrapbook dan kartu buatan tangan untuk ulang tahun teman dan kerabat. Mungkin mulai besok saya akan mencari kertas ‘buffalo’ untuk bahan dasar kartu dan juga kertas berlubang untuk scrap book. Entahlah … mungkin scrapbook itu untuk ulang tahun sahabat tertentu. Mungkin juga sebuah scrapbook tentang diri saya untuk dilihat keponakan – keponakan kecil saya bila suatu hari nanti saya tidak bisa menemani mereka di suatu masa. Entahlah … mudah – mudahan pikiran saya tidak berubah. Yang saya tahu, mulai besok, saya ingin menggali dan memindahkan umbi bunga lili – lilian dari halaman rumah ke sepetak tanah depan kamar saya. Memadukan bunga merah muda dan putih dari umbi – umbi seperti bawang. Bunga – bunga warisan jaman kolonial di halaman rumah saya.

Saya tiba – tiba jatuh cinta kembali dengan hobi lama saya semasa SMP dulu; berkebun. Saya ingin menanam kembali bebungaan di halaman rumah. Kali ini bukan di dalam pot – pot berisi tanah. Saya sudah berencana besok akan bekerja melawan parasit Plasmodium Malariae dalam darah saya dengan berkebun seperti yang saya lakukan sore ini usai menanam bunga – bunga liar berakar wangi minyak Gandapura di pinggir jendela kamar. Semuanya dimulai dari sore kemarin kala saya dan seorang teman dekat bernama Novi pergi menyusuri jalan kecil dekat pondoknya Amos. Kami pergi ke dekat jurang guna melihat mentari terbenam dan Pasifik di kejauhan. Sore itu, saya menikmati lautan Pasifik dari ketinggian, merasa lepas, bebas dan lega. Tak lupa membawa pulang bebungaan seperti karangan bunga dan juga memetik bunga – bunga Miana di kebun Amos dan saya masukan pada gelas bekas selai dan saya letakan di pondok itu. Terasa begitu lepas dan bebas dari tekanan musibah pencurian itu. Saya merasa baikan apalagi sore itu juga saya habiskan dengan berbincang akrab dan tertawa lepas dengan Novi, Amos dan John.

Saya tak peduli bila catatan ini dibaca oleh orang lain apalagi berharap diberi komentar, sama sekali tidak peduli. Saya hanya ingin jujur dengan hidup saya. Itu saja.

Sore kemarin kala melihat lautan Pasifik berwarna kelabu di kejauhan sana dari ketinggian dekat pondoknya Amos, entahlah saya mengingat dia; seseorang yang akhir – akhir ini saya rindukan. Entahlah … hanya luapan alam bawah sadar yang kacau mungkin. Tiap kali melihat Pantai Utara, entahlah ada sepotong kenangan yang mengingatkan saya tentang dia. Entahlah, mungkin karena kami pernah berbincang tentang pantai utara kota ini, tentang spot favorit kami yang ternyata sama. Entahlah … padahal saya tak pernah sekalipun berusaha mengasosiasikan kegemaran saya dengannya. Spot favorit saya itu baru saya dapatkan tahun ini kala saya berusaha membuang rasa amarah saya yang menggelegak. Dalam acara ‘balapan gila’ itu, pada saat melihat sebuah teluk di pantai utara, saya tiba – tiba tenang dan merasa beban saya sore itu hilang, kala melihat pantai berpasir hitam itu. Entahlah, saat itu semua amarah lenyap dan saya jatuh cinta pada teluk ini seiring ingatan saya dengan perjalanan saya bersama Jonathan.

Suasana sore itu dan kunjungan – kunjungan selanjutnya khususnya pada hari mendung selalu sama; menimbulkan rasa yang sama. Sebuah kebetulan yang manis sebenarnya, karna dalam perjalanan saya ke beberapa tempat, tak ada tempat manapun di Manokwari yang bisa menggerakan emosi saya seperti pemandangan dari teluk di pantai utara itu. Saya merasa telah menemukan versi kecil perjalanan saya dan Jonathan, perbincangan kami di sepanjang Great Ocean Road, acara foto – foto kami di pantai, kegilaan – kegilaan yang kami lakukan. Teluk di pantai utara itu benar – benar berhasil menjadi sebuah tempat ber-dejavu. Ah saya jatuh cinta pada teluk ini. Apalagi saya pernah nekat menyusuri karang – karang besarnya ke laut, berdiam diri dan merenung di bawah – bawah pohon pinggir lautnya dan menikmati tetesan air yang turun dari akar – akar pohon. Betapa dekatnya saya dan alam, betapa dekatnya kenangan yang basah pada sebuah musim panas 2010.

Terlalu melankolis mungkin apa yang saya rasakan sekarang, mungkin juga dianggap ‘lebay’. Saya tak peduli, toh ini masih ranah pribadi saya, pada catatan ini. Mungkin karena saya memang menyukai sebuah tempat berteluk di Pantai Utara ini yang sering jadi tempat pelarian saya kala penat dan lelah bertanya tentang hidup. Saya memang berencana menabung mulai tahun depan untuk suatu hari nanti membeli sebidang tanah di sana, membuat rumah di daerah pantai utara sana, sebuah rumah yang kelak menjadi sanctuary saya; untuk sebuah kenangan. Apalagi dari hasil perbincangan dengan beberapa teman yang pernah praktek kerja di sana, tanahnya lumayan murah. Saya masih mengingat jelas kata Jonathan dalam perjalanan kami tentang pembuatan rumah pantai, kala ia bercerita tentang rumah impiannya, baik kala kami di jalan maupun di bukit. Tentang rumah pantai dan rumah di bukit.

Jonathan pernah mengajak saya melompati pagar properti samping tanah orang tuanya; properti yang baru ia beli beberapa bulan sebelumnya . Ya, ia lelaki yang gemar berpetualang, jail dan membuat saya tertawa terus tetapi juga pendengar yang sangat baik. Sore itu, ia membuat kami turun naik bukit dengan pemandangan teluk di bawah sana, begitu kelabu. Akhirnya kami berada pada sebuah bukit yang puncaknya lumayan luas. Yang ia lakukan adalah berdiri di tengah – tengah bukit itu dan bilang begini sambil stretching his hands, “May, I’ll build my house here, facing the bay. I’ll plant the trees over there so the neighbor there won’t see my house. I’ll build a small simple house first, and then after I have more money, I’ll add rooms.” Saat itu, ia mengajakku berimajinasi membayangkan rumahnya, kami berbincang tentang bentuk rumahnya, besarnya, hingga pohon yang ingin ia tampilkan dan apa yang ia inginkan dari rumah itu. Kami berbicara seperti dua sahabat lama, padahal di musim panas itu kami baru berteman selama 3 tahun (aku mengenalnya pada bulan September 2007, seminggu usai ulang tahunku , di rumah makan Salam Manis Wosi, dikenalkan seorang teman.) Ia juga yang sukses mempengaruhiku untuk memilih Australia, jauh sebelum aku melamar beasiswa.

Yang selalu saya sesalkan dari kunjungan kala itu dan juga disesalkan Jonathan adalah kami tidak jadi berkemah pada musim panas terakhir saya di Australia. Sejak kami bertemu pertama kali, ia bercerita padaku dan berjanji tentang camping facing the ocean from the uphill. Ia bercerita tentang memandang bintang langsung dari luar tenda. Saat itu, janji berkemah tak bisa saya penuhi karena saya keburu pulang ke Canberra demi sebuah acara di gereja lokal. Padahal rencananya sudah matang untuk seminggu,’ camping, fishing, trekking, adventuring, swimming in Apollo Bay, just you and I. I’ll show you another face of Australia’. Itu katanya pada musim panas itu. Entahlah … saya masih merindukan sebuah janji seperti itu, yang mungkin bukan dari Jonathan kelak.

Pantai Utara Manokwari selalu sukses mengingatkan saya tentang dia, Jonathan dan entahlah … sebuah pencarian hidup. Pasifik dan alasan - alasan sentimental yang membuat saya ingin tinggal di pesisir pantai utara. Pertama, karena ini di tepian Pasifik. Sesuatu yang selalu membawa ingatan saya kembali pada Jonathan, pada perjalanan kami dan pada teluk yang saya lihat dari rumahnya yang berada di titik tertinggi Apollo Bay. Entahlah … apalagi Pasifik dalam bahasa Latin memang artinya ‘peaceful or loving peace’. Apalagi sejak saya kecil, saya mengenal konsep Pasifik sebagai ‘lautan bebas’ dimana tak ada batasan. Saya ingin merasakan kembali suasana pagi dari kamar rumah orang tuanya, kala Pasifik berkilat seperti berlian dan saya merasakan hidup saya terasa tenang dan damai. Sebuah perasaan bernama cinta dan damai. Saya ingin mendapat momen seperti itu lagi kelak, sebuah momen yang ingin saya bagikan pada keponakan – keponakan saya.

Kedua, ini tanah nenek moyang saya kala oyang saya dari Biak harus ditukar dengan bahan makanan di sebuah pantai di pesisir utara. Sebuah pertemuan yang mengubah sejarah keluarga saya. Di pesisir ini, ditimbun banyak kenangan, rekam jejak keluarga dan juga perasaan rindu pada laut. Entahlah … apakah ini perasaan yang dialami oleh oyang saya kala ia yang terbiasa sejak kecil bermain bersama ombak di pantai – pantai di Numfoor sana, yang memandang bintang sebagai kompas, dan menari dan tertawa pada api – api unggun pinggir pantai harus dirampas dari hidup dan kenangannya akan laut untuk menjadi ‘orang gunung’. Entahlah … kadang dalam perjalanan saya di pantai utara, kala berjalan sendiri dan merenung di pantai, entahlah … perasaan rindu pulang pada laut terasa kuat, terasa membakar di dalam hati, sebuah perasaan yang entah tak bisa saya jelaskan mengapa ada. Sebuah perasaan di mana saya merasa akrab dengan laut. Entahlah … mungkin simpul – simpul DNA saya, kenangan oyang yang terjerat simpul saraf berhasil saya bebaskan. Entahlah … there’s something about northern coast that reminds me a lot of life searching, tentang sebuah kerinduan yang entah pada siapa atau apa.

Pantai utara kota ini selalu berhasil membuat saya melankolis, sama seperti hari mendung di Manokwari. Entahlah …

Tentang dia? Entahlah …. Tiap kali pemandangan Pasifik dari pantai utara dilihat dari gunung ke arah teluk ataupun lautan bebas, entahlah …. Saya mengingat dia, juga Jonathan dan sebuah kerinduan pada laut, perasaan kuat seperti ingin pulang. Itulah sebabnya tahun ini, saya berencana mengadakan ekspedisi pribadi ke sebuah kampung di pulau Numfoor. Mencari kampung oyang saya, ingin menebus rasa rindu ini. Sebuah pencarian hidup, tepatnya. Back-to- the-root journey.

Entahlah, mengapa saya mengingat dia subuh ini. Mungkin karena saya merasakan sifat Jonathan di dalam dirinya. Itu saja. Saya tak ingin membandingkannya. Seperti kata teman saya; “Ketika semua sudah diungkapkan, hati terasa lega. Dia terlalu baik buat saya, yang membuat saya harus meninggalkannya. Terima kasih” (Teguh Susanto, 210911).

Ya, ia terlalu baik bagi saya. Itu saja. Dan yang saya lakukan hanyalah, “get real” dengan hidup saya.


Ah seperti yang saya katakan tadi, Malaria Tertiana selalu sukses membuat saya melankolis.


Ya, saya pencinta yang jatuh cinta pada hujan, mendung, dan pantai kelabu.


Dan hari ini, saya jatuh cinta lagi, entah pada siapa atau apa.


Pada subuh ini, semua kenangan masih terasa basah, sangat basah. Itu saja!


(Manokwari, 230911, 3: 03 a.m.; damn, kenapa sa ingat ‘si joker’ – seh …)

0 comments: