Malam ini aku kembali menulis, menulis tentang hidupku yang biasa saja, tentang satu – satunya hidup yang kupunya. Hujan masih tetap turun malam ini. Ya pengaruh dari dua badai siklon di bagian utara kotaku yang langsung berbatasan dengan lautan Pasifik. Itu kata koran lokal mengutip pernyataan pengamat BMKG Manokwari. Malam ini aku hanya ingin menuangkan semua rasa yang ada di dada. Mencoba menenangkan hatiku. Entahlah …
Hari ini bangun pagi kesiangan akibat kelelahan kemarin malam pulang mengedit berita hingga pukul 11 malam tapi masih kulanjutkan untuk menulis dan melanjutkan bacaan Alkitab mingguanku. Minggu ini wajib menyelesaikan kitab Yosua. Itu targetku minggu ini plus banyak pelajaran penting yang harus kupelajari dari karakter Yosua apalagi suara di dalam hatiku menyuruhku melihat dan belajar dari apa yang kubaca. Benar – benar sebuah acara ‘belajar’ tentang apa mau Tuhan.
Hari ini aku bahagia dikelilingi oleh orang – orang yang masih menganggapku sebagai teman atau setidaknya kenalan, bahkan bisa berkumpul dan bercerita dalam suasana santai. Saat sedang mengecek e-mail di sebuah layanan penyedia internet di kotaku, tiba – tiba temanku, mantan rekan kerja, sebut saja si Cha telpon. Rupanya ada acara kumpul – kumpul makan siang di sebuah resto terkenal di kotaku di cabangnya di Wosi sana. Jadi dengan bermodal balapan sungguh mati dari ujung teluk satu ke wilayah teluk lainnya, akhirnya aku sampai pula. Awalnya aku tak terlalu bersemangat karena setahuku aku tak mendapat pemberitahuan apapun, jadi tak ingin bawa diri sebenarnya, karena tadi sebelum ke warnet, aku sempat ke tempat kerja lama mengecek jadwal ujian TOEFL. E seorang teman lama bilang kalau ada acara makan siang bersama Cha, sebelum ia balik ke Malang. Kebetulan temanku ini dosen freelance di sebuah universitas negeri di sana. Tapi karena si Cha yang menelponku langsung, jadi apa boleh buat, itu kuanggap undangan resmi. Aku tak ingin membahas pernyataan dari beberapa mantan rekanan kantor yang bilang kalau mereka tak menghubungiku karna berpikir aku sibuk. Entahlah …
Intinya, aku memang duduk di sana, makan siang bersama mereka, mengucap syukur atas pertemuan itu TAPI jujur diriku tak 100% berada di sana. Ada bagian hatiku yang terlanjur hilang dari sana. Entahlah … kau sebut apa rasa ini. Aku hanya berusaha tampak baik – baik saja. Melihat bagaimana kubu - kubu politik kantor sebenarnya sedang ada,tapi begitulah hidup. Aku memilih netral dan cuek!
Hari ini yang kunikmati sebenarnya adalah acara nongkrongku dengan beberapa teman dan pengunjung sebuah lembaga penelitian bahasa yang terancam punah. Nah karena beberapa teman lama eks S1ku dulu bekerja di sana, jadi ya ngobrol ngalor ngidul. Kebetulan lembaga ini berada di lantai 1 gedung putih di atas bukit sana. Jadi temanku ini, sebut saja si Ron bilang, ‘May, e si Q su datang tuh di Mkw. Kemarin ada reuni2 ka itu di pantai.’ Aku dengan cueknya bilang, ‘iya, di Facebooknya juga ketahuan tuh, ada muncul lagi belanja ka di bank sana.’. Iyalah, tadi kan kebetulan aku melihat newsfeed laporan di sudut ‘home’ jejaring sosial itu. Yet, entahlah … hatiku biasa saja hari ini. Semua rasa di hati telah tawar walau kemarin memang aku merindukannya. Tapi mendengar ia sedang sekota denganku, ah tak ada lagi yang namanya rindu. Tawar banget!!!
Nah Ron dan aku ngomongin seorang kenalan lamaku, si abang orang Bugis yang kerjanya di Bintuni sana. Teman lelakiku yang kuanggap kakak seperti si bro A. Kebetulan Ron dulu pernah kami jodohin dengan si abang. Jadi katanya si Ron, abang nanyain nomor HPku terus ke Ron. Iyalah … kami teman jalan selama di Jakarta sana. Si abang dan diriku ibarat teman lama yang ketemu hanya gara – gara sama – sama ikut pelatihan apa training statistik beberapa tahun lalu. Di Jakarta, kan si abang kuliah lagi, tugas belajar dari kantornya. Nah kalau si abang sudah kepepet duit, pastilah aku yang bantuin si abang. Nah pas kalau si abang sudah gajian, gantian aku ditraktir si abang. Simbiosis mutualisme. Si abang juga jadi teman bajalanku selama di Jakarta. Si abang dengan tampangnya mirip artis itu yang membuatku dulu tahu banyak mall di Jakarta. Bermodal uang bis, kami melanglang di Jakarta HAHAHA. Aku ingat kami berdua dulu nekat jalan dan nonton di saat uang lagi cekak tapi pengen nonton Twilight di XXI di mall Kelapa Gading sono. Iya orang pertama yang memperkenalkan film ini padaku, padahal aku biasanya cuek sama film drama hehehe.
Pembicaraan dari abang berlanjut pada Q dan akhirnya malah selalu berlanjut ke Bro J tiap kali berbicara tentang hubungan dan cinta. Aku hanya bilang kalau memang aku terlanjur jatuh cinta pada Q tapi entahlah, aku tak ingin keadaan seperti ini ada karena aku tak ingin selalu membandingkan sosoknya dengan bro J. Aku mengakui kelemahanku pada Ron. Sejak pulang dari OZ, tiap kali berada dalam sebuah hubungan, atau hendak berada dalam sebuah hubungan yang dekat dengan lelaki, selalu saja bayang bro J hadir. Selalu hadir menjadi pembanding, menjadi pola panutan, sebuah role model. Itu yang kutahu. Aku telah menitipkan hati, jatuh cinta dan menjadikannya ‘santo’ cintaku hingga terlalu sulit bagi cowok lain untuk menghilangkan pesonanya dari hatiku. Aku jatuh cinta dalam dan meninggalkan hatiku di Australia pada sebuah musim panas tahun 2010. Tak akan pernah sama, tak akan bisa kembali lagi. Salah satu momen terbaik di dalam hidupku; my real date!!!
Bersama Ron, aku bercerita sesuatu yang sangat personal, bagaimana perasaanku pada bro J. Tentang segala yang kutahu tentang bro J. Tentang bagaimana bro J bersikap. Ah semua temanku tak akan pernah mengerti bagaimana bro J hadir pada sebuah suasana terbaik dalam hidupku. Sesuatu yang aku tahu tak akan pernah terjadi lagi.
Jujur, aku selalu dan akan menanti seseorang seperti bro J. Seseorang dengan tawa lepas, yang percaya pada mimpi - mimpiku. Mungkin waktuku telah berhenti pada sebuah masa di tahun 2010 itu. Orang – orang tak akan pernah tahu bagaimana rasanya terjebak dalam badai hujan dan petir saat kami berdua berada di dalam mobil dan berpikir bahwa kami punya kesempatan ditabrak sore itu di ruas jalan penuh ladang kiri kanan di dekat Geelong. Tak ada yang tahu bagaimana rasanya berada dalam lorong – lorong jalan penuh hujan dengan hutan dan pakis – pakis lembab persis seperti adegan film Twilight kala Bella menuju rumah keluarga Cullen di tengah hutan sana kala kabut sesekali muncul. Tak ada yang tahu bagaimana rasanya berjalan bersama bro J makan es krim di dermaga kayu pinggir pantai di Lorne sana. Gosh … itu saat terbaik, kencan terbaik yang pernah kurasakan. Belum ditambah dengan menonton sunset dan wallaby dan kenangan – kenangan di hari itu. He’s so definitely my type!!! Apalagi kalau ngomongin seni, jangan ditanya lagi.
Sore ini aku juga bertemu dengan beberapa teman dan makan papeda. Gosh, ternyata si Q sempat bilang pada kunjungan lebarannya ke temanku si ade yang kebetulan mamanya seruangan dengan mamanya Q. Q mungkin pikir aku akan mencarinya. No way! Itu hal terakhir yang kupikirkan. Menghubunginya pun tak akan kulakukan. Ia bilang, “Ade, pokoknya jangan bilang sama May kalo sa ada di Manokwari eee.” Saat ade bercerita tadi, aku spontan bilang, “Jih de pu status FB sendiri yang kas tahu de posisi di Mkw moo HAHAHA.’ Bagaimana tidak, statusnya FBnya hari ini dengan jelas memberikan posisinya lagi berada di gedung apa hari ini, dari bank hingga tempat belanja. Lah aku juga sedang mengakses internet saat itu sambil menunggu bukaan beberapa e-mail penting, jadi kucek jejaring sosialku, jadi ya tahu lah, muncul di newsfeed kok.
Anyway, memangnya ia pikir aku akan mengejarnya ibarat cewek – cewek lain, yang berkeliaran di dekat rumahnya or menelponnya, memantau pergerakannya. No way!!! He’s not my target kok. Apalagi ini sudah H-11 kok, seperti kata status FBku. Iyalah, hari ini masa – masa penantian tak jelas. Menunggu jelasnya!!! Menunggu kejelasan pekerjaan , jelasnya! Dan moodku lagi tak enak banget dan tak ada waktu memikirkan cinta. Sama sekali tak punya waktu.
Di sela – sela acara makan papeda, aku juga berdiskusi dengan bro A tentang rencanaku menyusuri kali Pami menjelang hari ulang tahunku. Sebuah perjalanan yang harus kulalui. Sebuah perjalanan mencari makna hidup. Aku mulai merasa aku sudah harus meninggalkan zona nyamanku. Tak nyaman lagi. Aku rindu petualangan. Rindu tantangan!!! Selain itu, kami berdiskusi tentang pinjaman tenda guna berkemah sebelum senja terakhir di usia 27ku hingga semburat fajar menjilat langit pagi di hari pertamaku ke 28 nanti. Aku menanti tanggal ulang tahunku. Setahun lebih dekat dengan kematian!!!
Entahlah apa yang akan menjelang ke depan. Aku tak tahu. Aku hanya ingin dapat menjalani hariku dengan rasa plain di dada, tak ada cinta apa jatuh cinta sambarang apalagi sampai fokus pada seorang lelaki. Tak mau saja. Seperti yang kubilang, ‘I was smart until I fell in love.’Titik!!! Karena aku tahu, sekeras apapun aku mencoba melihat lelaki yang dekat denganku, aku MASIH SELALU membandingkan mereka dengan bro J. Ia masih tak tergantikan.
Di tiap hujan, di tiap bau garam … aku tahu ia ada. Masih lengket dan basah dalam ingatanku. Masih!!!
Apakah itu cinta? Aku tak tahu. Yang aku tahu, dalam sebuah masa di hidupku, di sebuah musim panas 2010, aku meninggalkan semua rasa terbaik dari hidupku dalam kenangan bersama seorang lelaki di ruas jalan Great Ocean Road, di Apollo bay, di Melbourne. Lelaki yang padanya janji kami berkemah di dekat hutan dan aliran air terjun tak pernah bisa aku penuhi, janji yang kami buat di tahun 2007 dan berharap bisa kami lakukan di tahun 2010 …. Dan tak bisa kulakukan. Entahlah … ia tak pernah tahu kalau aku jatuh cinta bratz padanya, sangat cinta dan kagum … tergila – gila tentunya.
Lelaki terbaik yang pernah kutemukan. Andai suatu hari lagi kami akan bertemu lagi, walau ia berjanji kalau suatu hari nanti ia akan berkunjung kembali ke Papua dan berharap bisa bertemu diriku.
Ah siang ini, aku dan keluarga besar tempat kerja lamaku makan siang di resto yang pertama kali menjadi tempat aku dan bro J bertemu 4 tahun lalu, di bulan September, menjelang hari ulang tahunku, kuingat itu. Resto itu menjadi tempat makan kami pertama kali. Pertama kali aku menatap mata birunya!
Aku menjadi sangat melankolis hari ini, mungkin karena sejak 4 tahun lalu, sejak hari aku dan bro J pertama kali bertemu dan makan di resto itu, aku tak pernah lagi makan ataupun berkunjung ke sana.
Damn … hujan malam ini membawa semua kenangan balik lagi. Terasa basah dan lengket.
Selalu berharap J akan baik – baik saja. Kuharap ia masih menyimpan miniatur skuter dari cabikan kulit kaleng dan rangkaian namanya. Hadiah ulang tahunnya yang ke 29.
Malam ini, aku ingin suatu hari kala ia bertemu denganku, aku tak menyia – nyiakan kepercayaannya padaku, kala ia bilang ia percaya aku bisa menjangkau mimpi – mimpiku, menjadi apapun yang kumau karena aku a strong independent woman and so visionary. He’s so adorable.
Lelaki yang (sangat) kukagumi dan kucintai; JVH. *kelak nama anak lelakiku akan sama dengan dia hehehe.
(Manokwari, 060911; hujan itu pemutar kisah, bukan?)
0 comments:
Post a Comment