Catatanku kali ini ingin bercerita tentang areal – areal perumahan di kota Manokwari khususnya yang merujuk pada kampung – kampung atau kompleks perumahan di pinggiran laut. Areal perumahan di Manokwari saat ini tentu saja terus bertambah dan berubah, tak seperti masa dimana aku kanak – kanak awal tahun 1990an apalagi bila dibandingkan dari desain tata kota masa Belanda dulu. Daerah perumahan di kota Manokwari umumnya disebut ‘kompleks’. Sebagian ada yang tumbuh alami sebagai bagian dari dinamika pembentukan kota yang otomatis mempunyai toponimi yang khas dan berbau etnik hingga yang ‘buatan’ hasil pekerjaan developer.Tentu saja istilah yang dipakai ini sangat berbeda dengan konsep di Jakarta yang menyebut ‘kompleks’ untuk merujuk pada perumahan mewah ataupun menengah ke atas. Di Manokwari, kata kompleks untuk merujuk pada unit – unit perumahan ataupun ‘cluster’ bahkan dapat mencakup kawasan pemukiman sejenis ‘suburb’ di Australia.
Kompleks – kompleks di Manokwari, umumnya mengadaptasi bahasa Biak ataupun juga dari bahasa suku besar Arfak dan juga ada yang merupakan adaptasi bahasa Belanda. Uniknya, hampir sebagian besar kompleks ini berakhiran dengan huruf ‘I’. Tiap kompleks pasti punya alasan mengapa mereka dinamakan, ada yang karena topografinya, ada yang karna bahasa serapan dari Melayu – Papua, ada yang mempunyai legenda dan alasan lainnya.
Bila aku menyebut kompleks di kota Manokwari, pada masa kini, aku akan mulai mengabsen dari paling ujung utara yang termasuk daerah pesisir sebelum masuk ke kawasan teluk Doreri. Areal pertama yang ditemukan adalah kampung Bakaro. Letaknya sedikit menjorok berjarak 7 menit berkendara dari jalan raya. Letaknya mengitari sebuah teluk kecil lengkap dengan tanjungnya. Di sini tak hanya ada mercu suar, tapi juga terkenal dengan obyek wisata berupa pantai berkarang dan terdapat wisata pemanggilan ikan oleh seorang pawang ikan. Selai itu, di sini pula telah ada areal permainan water boom yang disebut ‘Bakaro Beach’. Dengan tariff berkisar 20 – 30 ribu rupiah, anda dan keluarga sudah bisa menghabiskan akhir pekan bermain air di sini. Sayangnya, kolamnya umumnya dirancang untuk anak – anak. Selain itu, pada beberapa kali kunjunganku dan keluarga, kebersihan airnya masih sedikit ‘meragukan’. Mungkin kami datang pada momen yang salah hehehe. Halaman di areal ini pun bisa dijadikan areal pesta pantai ataupun kegiatan lainnya.
Bila anda hendak ke Bakaro, sebaiknya pada malam hari anda tak berkendara motor sendiri ke dalam areal ini karena kondisi jalannya yang jelek dan tentu saja gelap total. Selain itu, antara kampung ini dan jalan raya, masih ada areal hutan yang gelap dan konon banyak ‘penghuni lain’ di sekitar hutan itu. Tentu saja ini sedikit subyektif sih, cuma biasanya para ojek pun tak akan mengantar anda kecuali anda membayar dua ojek (satu ojek ditambah teman pengantarnya). Aku tentu saja punya beberapa pengalaman buruk terkena efek ‘penampakan’ di areal ini mengingat acara perpeloncoanku beberapa tahun silam dilakukan di tempat ini plus pacaran malam – malam di pantainya. *emang enak pacaran di pantai dengan bulu tengkuk merinding HAHAHA.
Usai Bakaro, ada kampung Abasi; daerah pesisir berpasir putih mirip kondisi di daerah Biak Utara yang halaman gereja lokalnya penuh dengan jejeran kelapa dan berpasir putih sehingga sewaktu kecil aku pernah bermimpi menyelenggarakan pesta nikahku suatu hari nanti di halamannya. Tapi yang menarik dari kampung ini adalah dipasangnya beton – beton cetak sebagai penahan ombak di pantainya yang berpasir putih guna mencegah abrasi. Plus di dekat areal kotak –kotak beton ini kerap di musim ombak menjadi areal berselancar baik oleh turis asing maupun anak – anak kecil di kampung ini. Bahkan aku pernah menghabiskan satu senja makan durian bersama sahabat cewekku sambil menikmati jingga dan menonton bocah – bocah peselancar. Sio eeee, Pasifik seh.
Lain Abasi, lain pula Arowi. Di Arowi yang terdiri atas dua area yaitu Arowi I dan Arowi II; terdapat sebuah paradox hidup yang cukup bikin gigit jari. Awalnya area ini dibuka sebuah pemukiman usai gempa dan tsunami tahun 1996 untuk korban tsunami di daerah Padarni (teluk doreri) sehingga relokasi komunitas ke Arowi ini didominasi oleh suku – suku dari pulau Serui dan Biak. Namun seiring perkembangan zaman, dibangun pula sebuah areal perkemahan milik pemda Provinsi. Tapi yang kerap membuatku gigit jati adalah beberapa bagiannya juga mempunyai beberapa cluster perumahan mewah milik para pegawai pemda provinsi Papua Barat yang kadang hanya berjarak beberapa meter dari rumah – rumah masyarakat nelayan marjinal yang kadang untuk hidup layak pun tak punya cukup uang. Paradoks!
Ada juga Pasirido; daerah pemukiman etnis Biak di pinggiran pantai dengan pantai karangnya dan konon para penduduknya terkenal untuk mendeteksi ikan ‘gorano’ yang berkeliaran di sekitar teluk menuju tempat wisata (thanx God, jadi tak harus berenang dengan para hiu di pantai ^_^). Setelah Pasirido, ada Pasir Putih; daerah pesisir pantai dengan obyek wisata pantai Yenbebai yang dilengkapi mata air salobar dan pantai yang airnya kerap berwarna turquoise ini kerap disebut pantai Pasir Putih. Pantai ini tentu saja bila sedang bersih dan cerah dapat kukatakan sekeping surga yang tercecer di Manokwari, walaupun memang kadang kotor sekali sehabis hujan karena sampah. Pasir putih juga terkenal dengan ‘kompleks perumahan abadi’ di pinggir pantai. Jangan salah, yang kumaksud adalah jejeran pemakaman yang dibedakan berdasarkan agama ataupun etnis.
Setelah Pasir Putih, kita akan bertemu dengan Inggandi. Sebuah kampung nelayan yang letaknya bersebelahan bawah dengan dua kompleks kuburan dan dipisahkan oleh sebuah jalan raya dengan lebar 2 meter. Umumnya dihuni oleh penduduk yang beretnis Biak. Bila dilihat dari atas jalan raya, apalagi dari arah Gereja Pentakosta yang bersebelahan jalan dengan pemakaman Islam, akan tampak sebuah teluk kecil berbatu karang dengan beberapa rumah panggung tradisional dan perahu – perahu nelayan yang dinaungi pohon – pohon kelapa tinggi, lengkap dengan latar belakang pulau Mansinam dan diwarnai dengan semak – semak bougenvil warna magenta dari depan. Sangat Pasifik, saudara – saudara. Areal ini juga salah satu areal penjual kelapa muda di pinggir jalan. Bila ingin tahu letak jalan masuk ke teluk di bawah sana, bisa menyusuri pinggiran sebuah kuburan keluarga dari keluarga Rumbarar yang sedang dibangun ke arah bawah menuju pantai sana. Kuburan ini tentu saja mudah ditemukan karena arsitekturnya dengan gedung bergaya gazebo ini cukup ‘mencolok’ dilihat dari pinggir jalan.
Kemudian ada yang namanya Manggowi. Entah artinya apa. Yang pasti, inilah tempat dimana kita bisa melihat banyak pohon mangga khususnya mangga berjenis Kueni dan manga Telur. Sangat nyaman berjalan kaki sore hari di sini pada musim mangga karena percaya tidak percaya, aroma mangganya kadang sangat kental mengisi udara. Umumnya pada musim buah, mangga masak setumpuk isi 4 – 6 buah berjenis mangga telur bisa dibeli dengan harga antara 5 – 10 ribu Rupiah. Sedang mangga Kueni, paling mahal setumpul 10 ribu Rupiah. Selain itu, mulai dari kompleks ini hingga ke kenari tinggi akan ditemui pula banyak pohon langsat di pinggir jalan. Umumnya tanah – tanah di kompleks ini menjadi tanah milik suku Doreri yang adalah keturunan migran berabad lalu dari Biak Numfor.
Tak seberapa jauh sebelum masuk ke kompleks dekat Hotel Mansinam Beach, kita sudah berada di tempat yang namanya Kenari Tinggi, yang letaknya berbatasan dengan Kwawi tepat sebelum jembatan dekat rumah keluarga Rumsayor. Kata mamaku yang sudah hampir 30 tahun bekerja sebagai guru di Pasir Putih dan selalu melewati tempat ini, konon dulu ada pohon Kenari yang sangat besar di masa lalu. Areal ini secara etnik merupakan properti milik suku Doreri walau terdapat juga komunitas masyarakat Saukorem yang tinggal di areal yang sedikit jauh ke arah bukit. Umumnya dua komunitas ini banyak melakukan perkawinan karena ditinjau dari sejarahnya sejak masa Zending yang konon seorang perempuan pertama yang dibabtis (Sara) dan sebelumnya menjadi budak orang Doreri berasal dari suku di Saukorem sana. Anyway, di kompleks ini adalah salah satu tempat mencari buah langsat di pinggir jalan bila hendak menuju pantai wisata Pasir Putih. Walau kadang – kadang harganya bisa bikin gigit jari, karena bisa mencapai 50 ribu Rupiah per tumpuk.
Di tempat ini pula, ada hotel yang lumayan bagus (Mansinam Beach Hotel) untuk dipakai berlibur apalagi bila ingin tahu rasanya bangun pagi dan berjalan ke dermaga kayu melihat semburat jingga pagi ataupun menikmati senja. Apalagi bila suka olahraga air, tersedia fasilitas jet ski dan banana boat atau sekalian saja menyewa speed boat untuk dipakai ski air.s Selain itu ada fasilitas kafe terapungnya ataupun halaman hotel yang bisa dipakai juga untuk jamuan acara nikah baik bertema ‘garden party’ maupun acara formal biasa layaknya di Manokwari. Biasanya, aku dan teman – teman merayakan acara tertentu seperti reuni, makan malam dengan kolega dan acara kasual lainnya dengan mengeksekusi ikan bakar pesanan kami. Sayangnya, kadang aku merasa kasihan pada ikannya yang diangkat langsung dari karamba di samping restoran, jadi aku dan teman – teman masih sempat ‘say hi’ pada ikan yang kami pilih hehehe. Tentang menu, jangan pernah lewatkan memlih Papeda sebagai santapan di tempat ini. Papeda adalah makanan khas Papua dari tepung sagu yang dilengkapi kuah sop ikan berwarna kuning dan beraroma khas lengkap dengan sayur kangkung dicampur bunga papaya dan sambal. So yummy!!!
Cerita makanan tampaknya harus dipangkas dulu, karena usai ‘Kenari tinggi’, kita akan menjumpai yang namanya Kwawi. Ini kompleks lama yang sangat bersejarah karena menjadi salah satu tempat rekam jejak penyebaran agama Kristen di tanah ini. Kwawi adalah salah satu kompleks terluas di kelurahan Pasir Putih dan menjadi basis utama pemukiman suku Doreri selain pulau Mansinam dan pulau Lemon. Di sini jangan heran fam atau keret Papua yang paling banyak disebut adalah Rumfabe, Rumsayor, Rumbobiar dan lain sebagainya. Selain itu, Kwawi mempunyai tempat – tempat yang mempunyai nama yang cukup berarti di kalangan anak Manokwari sepertiku. Intinya, ada sesuatu lah yang layak dipantau di kompleks ini.
Sebut saja yang namanya ‘Ketapang’; sebuah pohon ketapang besar yang sebagian telah tumbang, dan didekatnya ada halte tempat penumpang berteduh plus juga tempat putaran akhir ‘taksi’ alias angkot. Ketapang letaknya persis di sebelah rumah almarhum seniman ukir Papua beraliran Karerin; Tonce Krey. Bila hendak mencari tumpangan umum ke pulau Lemon atau Mansinam, Ketapang tempat yang tepat karena disinilah anda harus menanti ‘johnson’ sejenis long boat yang kadang disebut juga ‘taksi laut’ oleh beberapa orang. Dengan membayar sekitar 5 ribu rupiah/trip anda bisa tiba di pulau berpasir putih yang beberapa bagian pulau bisa menjadi tempat selam dan snorkeling ataupun sekedar berenang. Tentu saja dengan menunggu hingga isian tempat duduk di perahu penuh. Untuk backpacker, merupakan pilihan yang tepat. Setidaknya lebih murah dibanding menyewa speed boat di hotel terdekat seharga 400 – 500 ribu rupiah selama seharian.
Di Kwawi yang batas terakhirnya adalah jembatan yang airnya keruh dekat toko Jaya Baru, ada pula yang namanya ‘Rumsram’ alias rumah adat orang Doreri yang bermotif khas. Di Rumsram inilah beberapa makam penginjil dan keluarga penginjil dikuburkan termasuk si Geissler; penginjil mula – mula. Rumsram ini letaknya berada di dalam areal kantor Klasis, gereja GKI Elim dan sekolah guru jemaat Lahai-Roi. Jangan lupa, di depan kawasan gereja, ada dermaga semen yang sempat sedikit hancur oleh serangan gempa, namanya ‘Jembatan Turis’, biasanya juga dikenal dengan nama ‘Jemtu.’ Nah di sinilah salah satu tempat terbaik bila ingin melihat senja di Manokwari plus suasana laut berlatar belakang pegunungan Arfak. Tak harus di dermaganya karena pinggiran tembok penahan ombaknya pun sangat layak dijadikan tempat ngaso sebentar. Sio … trada obat seh.
Anyway, Kwawi mungkin jadi kompleks terakhir yang kubahas di catatan ini, maksudku untuk kompleks – kompleks di kelurahan Pasir Putih. Kompleks - kompleks ini layak diacungkan jempol karena memberikan secercah rasa ‘Pasifik’ dan Melanesia di Manokwari karena masih banyak rumah – rumah dengan arsitektur Papua yang muncul di pinggir jalan plus kembang – kembang khas Pasifik. Mulai dari bunga terompet kuning, Bougenville hingga Kembang sepatu. Belum lagi Kamboja. Selain itu pasir pantainya berwarna putih dan jejeran pohon kelapa menjadi sebuah landmark di tempat ini.
Mungkin ini ceritaku untuk edisi ‘kompleks’ pinggiran pantai. Lain kali akan kulanjutkan lagi dengan kompleks – kompleks yang berada di seputaran teluk Doreri yang merupakan lanjutan dari areal yang kubahas di catatan ini.
(Manokwari, 080911)
0 comments:
Post a Comment