Hari saya bangun kesiangan, sangat siang. Hampir pukul 1 siang, walau memang karena saya tidur malam terlalu larut sekitar jam 2 pagi usai menelpon kaka di Jayapura; bertukar kabar tepatnya usai pesannya di jejaring sosial saya. Pembicaraan dua orang yang pernah dekat, itu saja. Tak lebih dan tak kurang walau usai itu saya masih suka ‘kumat’ mengerjainnya lewat SMS ‘nakal’ saya. Entah bagaimana reaksinya, saya tak tahu. Karena balasan SMSnya memang sangat plain dan datar. Seperti biasa, ada acara ‘penjelasan’ dari saya bahwa saya tak serius dengan apa yang saya katakan dalam SMS sebelumnya. Saya juga tak berharap ia mengerti mengapa saya harus ‘mengerjai’nya. Hanya ‘iseng’ adakah ungkapan yang tepat.
Jujur, sejak kemarin malam mood saya sudah berganti lagi masuk fase ‘depresi’. Sangat jelek. Tak bisa fokus. Ini bukan karena kemarin Persipura kalah 0 -1 dari Arbil FC. Mungkin akumulasi dari ‘kesalahan’ interpretasi komunikasi di tempat ‘bantu – bantu’ dan juga karena Q serta urusan pengurusan Visa dan Paspor yang masih keteteran. Entahlah … plus saya kemarin tak ngopi sehari.
Itulah sebabnya hari ini, saya memutuskan ngopi langsung dengan jenis kopi lokal dari Toraja; oleh – oleh seorang teman. Membuang mood jelek dan mengembalikan semangat.
Siang ini dalam acara doa saya, saya memutuskan untuk berdoa dan membaca Alkitab. Mencari jalan keluar dari Tuhan. Mencari apa yang sebenarnya terjadi. Sejak bangun siang tadi, suara di hati saya bilang dengan jelas, : “May, no one can take your Joy. It’s you who controls your joy.” Suara itu berulang kali terus bilang padaku bahwa tak seorang pun mempunyai hak mencuri sukacitaku. Itulah sebabnya saya memutuskan mencari Tuhan. Sungguh benar ternyata usai mencari Tuhan, saya tenang walau saya akui saya membaca Firman di kitab Yeremia hingga 9 pasal itu ditemani secangkir kopi dan iringan lagu - lagu patah hati. Saya merasa lega.
Saya tidak kebetulan membaca kitab Yeremia, sebenarnya karena suara di hati saya bilang begini, “Ayo May, coba baca kitab Yeremia, pasti ada yang bisa ko pelajari dari ko pu suasana hati hari ini.” Ini semua gara – gara saya bilang sama Tuhan gini, “Yesus, ada tidak tokoh yang bipolar or sensitif getho, ya pokoknya yang merepresentasikan sa pu mood dan sikap, setidaknya membuat saya sedikit realistis dengan apa yang sa hadapi tiap hari?”. E tak dinyana muncullah nama ‘Yeremia. Jadi saya memutuskan membuka Alkitab saya yang versi Good News Bible dan ternyata di bagian intro dari kitab itu, e ketemu sebuah penjelasan tentang Yeremia dan membuat saya bilang pada Tuhan begini, “Ah Tuhan, sa kan cuma ‘tanya’ saja, booo Tuhan serius sampe tanggapi akan.”. Guess what? Pendahuluan kitab ini bilang begini:
“Jeremiah was a SENSITIVE man who deeply loved his people, and who hated to have pronounce judgment upon them. In many passage he spoke with deep emotion about the things he suffered because God had called him to be prophet. The word of the Lord was like fire in his heart – he could not keep it back.”
Siang ini entahlah saya merasa tenang saat membaca kitab Yeremia, seakan kata – kata dari pasal 1 – 9 itu berlari kencang di dalam pikiran saya, bersuara jelas dan seakan saya sedang membaca novel thriller yang tegang dan bikin rasa penasaran dan membuat mata saya tidak bisa berpaling pada hal lain. Padahal isinya semuanya dari pasal 1 – 9 itu lebih pada emosi Tuhan yang tertuang dan protes-Nya atas kelakuan bangsa Israel, sejenis ‘keluhan’ dan apa yang akan terjadi pada bangsa itu. Tapi, entahlah .. saya bersemangat membacanya dan ungkapan hati Tuhan itu menjadi sebuah kelegaan bagi mood saya yang jelek sejak kemarin malam. Ada beberapa pelajaran penting yang saya dapatkan siang ini dari bacaan saya.
“Change the way you are living and stop doing the things you are doing, and I will let you go on living here.” (Jer 7: 3)
“Change the way you are living and stop doing the things you are doing. Be fair in your treatment of one another.” (Jer 7:5)
“I gave your ancestors no commands about burnt offerings or any other kinds of sacrifices when I brought them out of Egypt. But I did COMMAND THEM TO OBEY ME, so that I would be their God and they would be my people. And I told them to live the way I had commanded them, so that things would go well for them.” (Jer 7: 22 – 23)
Siang ini saya merasa sangat baikan, walau emosi saya sejak kemarin malam sempat babak belur dan mulai transisi pada tahap yang bila tak dikontrol bisa makin parah. Buktinya saya sudah bangun dari pagi cuma enggan beranjak dari tempat tidur padahal matahari di luar sana sudah terik sejak pagi. Itulah saya kalau lagi tahap ‘sedih sungguh mati’. Bila dibiarkan pasti nanti dilanjutkan dengan acara menangis tanpa sebab, lemas, dan tentu saja menyalahkan diri dan merasa bersalah. Bila tak dikontrol, semakin lama saya hanya akan berpikir tentang kematian dan bunuh diri.
Hari ini saya belajar bahwa saya yang mempunyai kontrol atas sukacita saya. Saya harus menjaga mood saya sebaik mungkin. Itulah sebabnya Firman Tuhan bilang dengan jelas untuk “Jagalah hatimu karena dari sanalah terpancar kehidupan.” Ah saya baru mengerti arti kalimat ini hari ini. Mengerti bagaimana ayat ini bicara dengan jelas tentang cara mengatasi bipolarku.
Bipolar akan tetap ada, toh saya hanya perlu mengontrolnya. Ini hanya sebuah tahapan, sebuah fase, sebuah hal nyata dalam hidup saya. Saya tak perlu takut untuk mengakuinya. Ini hanya seperti sebuah warna kulit lain yang terlanjur menempel pada diri saya, sama seperti penyakit saya yang lain. Saya tak perlu bersembunyi lagi.
Menjelang ulang tahun saya ke 28 ini, ada pelajaran penting yang saya wajib pelajari dan ingat, tentang ‘menerima diri saya’ sendiri, mencintai diri saya dan menikmati hidup saya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya. Saya tak harus membuat orang lain terkesan dengan diri saya, apalagi mencoba ‘memaksa’ mereka mengerti diri saya. After all, kehidupan saya akan tetap berlanjut dan setidaknya saya masih bisa bernafas.
Saya belajar banyak hari ini. Sangat banyak. Saya bersyukur Yesus masih sayang saya dan saya bersyukur ia penuh kejutan. Ya banyak kejutan dalam hidup saya.
Saya tidak peduli bila usai umur 28 ini saya masih belum menemukan belahan jiwa saya; teman berbagi, bercerita dan yang menyemangati saya. Karena saya terlanjur jatuh cinta pada Yesus yang selalu dan akan ada bagi saya, teman curhat terpercaya dan juga penuh kejutan. Saya tak pernah percaya Ia lelaki atau Perempuan. Karena bila ia bicara di dalam hatiku, saya tak pernah bisa menebak dia. Suaranya sangat beda. Yang pasti, saya bisa merasakan bagaimana dalam titik rendah hidup saya, ia selalu ada walau sering kali saya memintanya menjauh, tidak usah berbicara dan saya ‘menulikan’ hati saya dari ucapannya.
Saya bersyukur untuk hidup saya. Itu saja. Dengan mood yang turun naik, fase hipomania yang bercampur dengan depresi dan kadang – kadang dalam mixed state alias gabungan dan kombinasi. Karena saya tahu, walau saya bipolar, Yesus lewat Roh Kudusnya selalu ada di samping saya; menenangkan, menguatkan dan juga kadang menangis bersama saya. Membuat saya tidak merasa bersedih. Saya juga bersyukur dikelilingi oleh anggota keluarga yang sedikir ‘cuek’ dengan suasana hati saya jadi tak pernah membangunkan saya bangun pagi dan cuek dengan jam terbang saya yang pulang malam dan begadang, selama saya menyediakan urusan finansial dan perlengkapan rumah tangga. Saya juga bersyukur dengan beberapa sahabat dan teman dekat yang masih peduli pada saya walau pun intensitas pertemuan kami tak begitu sering akhir – akhir ini.
Saya lebih tenang, lega dan bahagia sore ini. Apalagi ditemani dengan iringan lagu Greenday sejak tadi. Saya cinta mati diri saya, hidup saya. Saya akan tetap berusaha untuk tetap hidup dan melakukan yang terbaik dari diri saya.
Menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin sebagai hadiah bagi diri sendiri di ulang tahun saya.
Yang pasti, saya tidak tetap hidup untuk ‘live the life I love to its fullest’ karena ini satu – satunya cara untuk tetap bertahan hidup dari bipolar dan semua jenis efek auto-immune disease saya.
Saya tahu saya ‘lemah’ secara psikologis dan fisik tapi saya percaya dengan adanya Yesus sebagai Tuhan, Juru selamat dan sahabat plus kekasih sejati saya, saya tak perlu takut menghadapi hidup. Karena Yesus selalu menjanjikan ADA bersama saya. Itu sudah lebih dari cukup.
Nobody wants to be lonely. Ya, ungkapan itu tepat, itulah sebabnya saya memerlukan Yesus dalam tiap titik hidup saya, termasuk saat ini.
Hadiah terbaik dalam hidup saya khususnya menjelang ulang tahun saya ke 28 saat ini adalah YESUS; sahabat, kekasih dan teman curhat TERBAIK. Tak butuh telpon, SMS, e-mail, chat ataupun pulsa apalagi transportasi dan mobilitas apapun.
Ah hidup itu indah!!!
Thanx Father, Jesus dan Holy Spirit. Amen’
(Manokwari, 14 September 2011; post-attack of bipolar)
0 comments:
Post a Comment