Search This Blog

Loading...

Thursday, 15 September 2011

Hujan, Pagi & Nangka

Beberapa hari ini, tiap pagi kota Manokwari khususnya di area tempat tinggal saya di Fanindi selalu turun hujan. Hujan yang deras, lebat dan penuh guruh kadang – kadang. Kadang kala saya menikmati cuaca seperti ini dengan meringkuk di dalam selimut dan menikmati bunyi hujan. Terkadang saya memilih bangun walau kaos kaki oranye tebal saya tetap ada di telapak kaki sambil duduk mengetik di meja belajar. Sering kali juga saya memilih keluar, menyesap kopi atau teh di beranda depan sambil membaca majalah atau buku sambil memandang keluar, melihat bagaimana percikan hujan membasahi helai – helai daun mangga, rambutan ataupun rerumputan hijau di fondasi di kejauhan. Keuntungan punya halaman rumah yang hijau dan luas saat hujan adalah kesempatan menikmati basahan hujan di permukaan tanaman.

Saya suka hujan sedang kecil, mungkin karena banyaknya pengalaman yang terjadi saat hujan. Saya tak tahu bagaimana orang lain melihat hujan atau mendeskripsikan perasaan mereka. Yang saya tahu, tiap hujan turun, saya merasa nyaman dan tenang, sedikit melankolis terlebih bila mencium aroma tanah basah usai hujan. Apalagi kalau hujannya turun di pagi atau malam hari. Bisa jadi pilihan saya hanya tiga; tidur, membaca ataupun menulis. Tak ada yang lain. Walau kadang – kadang, saya iseng juga pergi berenang di pantai kala hujan lebat. Ya sejenis kompensasi kerinduan pada hujan. Walau kadang sepulang berenang atau ‘mandi hujan’ pasti saya flu, malaria atau pernapasan saya terganggu karena pelebaran saluran bronki yang makin menjadi tiap tahun, belum ditambah lagi dengan rongga hidung saya yang bermasalah. Ah tapi saya tetap suka hujan, khususnya hujan di Manokwari yang penuh aroma garam.

Saya memang tergila – gila pada hujan. Saya pernah berkeliaran ‘mandi hujan’ sewaktu dulu tinggal di Setiabudi, Jakarta. Tidak tanggung – tanggung, saya berkeliaran di bawah rinai di sepanjang Sudirman sana hingga dekat gedung Sarinah. Sayangnya, bau hujan di Jakarta tak terlalu enak karena minus bau tanah basah. Saya juga pernah nekat keluar di halaman belakang rumah sewaktu hujan turun di musim gugur di Canberra. Jangan tanya bagaimana rasanya hujan di bawah suhu 15 derajat. Saya hanya sanggup berbasah – basah kurang dari 10 menit. Bbrrrrrrhh! Yang pasti, saya langsung kabur usai itu ke kamar mandi mencari shower air panas HAHAHA. Tapi saya puas. Karena sensasi derasnya beda plus dingin banget. Sayangnya, aroma hujannya masih tetap beda dengan di Manokwari. Pada sebuah musim panas 2010, saya nekat lagi berhujan – hujan, kali ini di Melbourne dan di Apollo Bay. Dengan seorang teman bernama Aryo, kami berjalan menyusuri jalan – jalan di suburb Footscray. Sayangnya aroma hujan kala itu tak terlalu seksi.

Pengalaman terseksi hujan di Australia malah saya dapatkan dengan bro J. Kami beberapa kali mengalami hujan dengan sensasi yang berbeda. Saya ingat dua hari sebelum Valentine 2010, di beranda rumah orang tuanya, hujan di rumah di puncak bukit itu begitu lebat hingga kabut pun berarak turun. Sangat cantik, apalagi hutan subtropis di dekat rumah tampak misterius dan menantang. Saya menikmatinya sambil duduk membaca dari perpustakaan dengan jendela – jendela lebar bergaya Provence yang menghadap lurus ke luar. Apalagi lantunan musik lembut menemani saya. Saya juga masih punya pengalaman hujan yang berbeda. Di hari Valentine tepatnya, saya dan bro J balik kembali ke Melbourne, dan kami melewati sebuah tempat yang mirip banget dengan setting-nya film Twilight saat Bella menuju rumahnya si Edward di hutan sana. Dengan tetesan hujan yang turun dan aroma hutan plus sedikit kabut tipis, alunan musik lembut, seorang lelaki yang treat me like a lady … ah lengkap sekali suasana hari itu. Saya menikmati hujan saat itu. Sangat seksi.

Ah … tapi hujan memang tak bisa diprediksi. Satu jam keluar dari tempat dengan setting hujan yang cantik, e kami berdua ketemu badai. Jangan tanya bagaimana saya dan bro J terjebak dalam ruas jalan yang berbatasan langsung dengan ladang – ladang gandum yang usai dipanen. Mobil kami terjebak dekat dengan persimpangan jalan. Lampu mobil yang menyala bahkan tak mampu membuat kami tenang karna jarak pandang hanya 1 meter. Petir dan guruh menyambar kencang. Belum lagi bunyi klakson mobil dari berbagai sisi yang hampir atau nyaris menghajar mobil kami, untungnya mereka melihat lampu mobil yang menyala. Saat itu, kami hanya bisa diam dan beku. Menunggu dan berharap kami selamat. Benar – benar hujan lokal yang tak bisa diprediksi. Saya masih ingat saat itu dengan baik; the ravaging rain.

Kala menulis catatan ini saya teringat beberapa jam lalu di pagi hari saat hujan deras diselingi guruh. Tadi, hari begitu kelabu tapi saya masih sempat melongokkan kepala keluar jendela dan menikmati tetesan hujan yang turun dari sela – sela daun pohon Nangka di depan kamar. Daun – daun berwarna hijau dan oranye itu seakan menyapa saya dan bilang, “Ah May, ko tra lihat tong lagi cantik nih ka.” Saya hanya bisa tersenyum karena perpaduan warna oranye dan hijau membuat saya mengingat musim gugur di Canberra. Musim yang cantik.

Pohon Nangka depan rumah menjadi saksi bagaimana mood saya tiap hari. Bila saya sedang bahagia tingkat tinggi ataupun begadang hingga pagi, biasanya saya duduk di kayu jendela yang rendah yang membuka jendela yang berbentuk 4 kotak persegi jadi bisa dibuka parsial. Nah, sambil menyeruput kopi, saya pasti memandang ke luar, mencari berkas jingga di langit dan tentu saja memantau buah nangka yang mulai harum. Pohon nangka depan kamar saya lumayan aktif berbuah, hampir setiap minggu, ada 1 -2 buah yang kami panen. Walau pernah juga hampir 2 bulan pohon nangka ‘mogok’ berbuah, entah mengambil jeda atau memang ada masalah.

Hari ini pohon nangka ini mengajarkan saya tentang hidup, mungkin karena acara ‘pantau’ keluar tadi sewaktu hujan. Pohon Nangka atau dalam bahasa Inggris disebut Jackfruit ini memang menyimpan banyak kenangan masa kecil saya ataupun to some extent, merepresentasikan diri saya. Besok saya genap berusia 28 tahun. Ya, sudah cukup tua dan matang sebenarnya untuk menikah, dan saya teringat pohon Nangka, ingat buah ini.

Sewaktu saya kecil, ada sebuah pohon nangka di halaman belakang rumah saya. Nangka itu sudah tak ada sekarang ini, sudah ditebang beberapa tahun lalu karena terlalu tua. Nangka itu menjadi salah satu hadiah bapak saya di hari kelahiran saya, bersama dengan beberapa pohon Alpukat. Makanya dari kecil hingga sekarang, saya tergila – gila pada buah nangka yang ranum di pohon. Bahkan sewaktu dulu kuliah di Australia, saya tak pernah ragu mengeluarkan duit hingga 20an dollar untuk sekantong daging buah nangka yang beku di Asian Grocery ataupun sekedar nangka kalengan. It’s about sentimental feeling. History matters, Itu saja.

Pohon nangka di belakang rumah juga sempat menjadi sanctuary alias tempat perlindungan saya kala di tahun 2004, kala kakak lelaki saya mabuk berat dan mengamuk karena kedatangan mantan pacarnya hingga kami semua di rumah dikejarnya dengan parang. Saya ingat bagaimana pohon nangka itu menjadi tempat nongkrong saya hampir sejam dalam takut, cemas, shock dan beku membayangkan ‘insiden berdarah’ usai bapak dan mama serta mantan pacar kakak saya digebuki oleh kakak. Saya ingat malam itu saya mempercayai insting saya untuk berlari keluar rumah dan mencari perlindungan dengan memanjat pohon. Sebuah warisan insting perlindungan diri saya sejak kecil, karena bagaimanapun sejak kecil saya punya banyak masalah berkomunikasi tentang perasaan atau emosi saya (bahagia, sedih, tertekan dll) kepada orang lain sehingga pohon – pohon di halaman rumah bertahun – tahun menjadi teman cerita, bicara, dan bernyanyi termasuk pohon nangka yang saya panjat. Saya selalu berada di cabang – cabang mereka, bersembunyi di balik rindang daun, menatap pemandangan dari kejauhan, bertanya pada Tuhan tentang hidup saya saat itu, mencari kebebasan dari belenggu emosi dan tekanan. Pohon – pohon itu, ah … mereka membuat saya merasa terlindungi, itu saja. Itulah sebabnya saya cinta mati pada pohon!!!

Saya masih tetap mengadopsi gaya favorit saya hingga kini bila bertemu pohon yang saya suka bahkan sewaktu pergi ke hutan – hutan Papua. Saya sangat menikmati menempelkan tangan saya ke batang pohon dan berbicara dengan mereka, memperkenalkan diri, mengekspresikan rasa suka saya dan berharap mereka akan tetap tumbuh dan bahagia. Mungkin aneh dan gila tampaknya. Tapi that’s me! Saya juga benci orang – orang yang memaku papan iklan, ataupun reklame kampanye di pohon – pohon besar pinggir jalan apalagi sampai menebangnya demi alasan seperti busway dan iklan kampanye seperti kejadian di dekat kos saya di Setiabudi dulu. Anyway, saya baru tahu kalau di Australia bahkan ada profesi yang namanya ‘tree doctor’ yang bertugas menyelamatkan pohon – pohon di halaman rumah, mengoperasi mereka dan memastikan mereka baik – baik saja. Andai saja saya tahu ada profesi seperti itu di kota saya, saya pasti sudah mendaftarkan diri.

Anyway, back to nangka story, Nangka memang buahnya manis dan enak apalagi aromanya. Sayangnya, kalau tak dirawat dengan baik, bisa jadi malah jadi busuk dan baunya jadi sungguh memualkan. Saya percaya, hidup manusia kadang seperti pohon nangka. Bila, dirawat dengan baik dan tumbuh di tanah dengan kelembaban yang seimbang plus mendapat curah hujan yang cukup dan sinar matahari yang memadai dan dikontrol, buahnya tak akan busuk karena lalat buah, akarnya plus batangnya tidak akan membusuk karena cendawan. Buah nangka sangat serbaguna, bila masih muda, bisa dibuat sayur seperti lodeh dan gudeg. Bila sudah tua, bisa menjadi santapan segar penghasil serat. Bila daging buahnya berjenis kering, bisa dibuat keripik. Bahkan biji nangka tua alias beton (bahasa Jawa) bisa direbus dan menjadi camilan. Saya terbiasa memakan produk nangka dalam bentuk apapun dan sangat menghargai pohon ini.

Di tanah saya; Papua, bahkan nangka menjadi semacam ungkapan slang untuk menggantikan kata ‘babi’ sebagaimana diambil dari mop tentang ‘babi di dalam karung yang diangkut di dalam angkot’ dan babinya diakui sebagai ‘nangka’. Tak salah bila, akhirnya berkembang ungkapan ‘otak nangka’ untuk menggambarkan kelakuan yang dungu, konyol, bodoh ataupun tolol yang merepresentasikan sifat babi. Belum lagi teman – teman saya khususnya Riana memplesetkannya menjadi ‘otak bagetah’ karena memang tanaman nangka penuh dengan getah. Bagi saya dan beberapa teman, kami kadang memakai ungkapan ‘jackfruit brain’ untuk mengganti ‘otak nangka’. Ya sejenis ‘menghaluskan makna’ HAHAHA.

Mungkin sebagai manusia, menjelang usia saya ke 28 ini, saya ingin bisa menjaga hidup saya dengan baik, jadi seperti pohon nangka di depan kamar saya. Bila dirawat dengan baik, akan berbuah lebat dan menjadi berkat bagi siapa saja walaupun ada mempunyai getah di tubuhnya. Anggap saja getah itu dosa, tapi toh dengan perawatan dan ketelatenan, masih tetap produktif. Saya ingin bisa seperti pohon nangka di depan kamar saya yang menjadi peneduh untuk puluhan pot bunga di bawahnya, merindangi kamar saya dan tentu saja menghalau debu – debu dari jalan ke kamar.

Saya teringat pembacaan saya tadi malam sebelum tidur di sebuah subuh, suara di hati saya menyuruh saya membaca Yesaya 50: 1 – 11. Nah ternyata saya mendapatkan apa yang saya cari di ayat ke 4. Benar – benar melegakan dan itu jawaban yang saya dapat di pagi ini.

“The Sovereign Lord has taught me what to say, so that I can strengthen the weary. Every morning he makes me eager to hear what he is going to teach me. The Lord has given me understanding and I have not rebelled or turned away from him.”

Hari ini saya belajar banyak tentang hidup saya dan apa yang Tuhan inginkan dari saya. Saya belajar banyak dari hujan, pagi dan nangka. Hidup saya harus berbuah dan menjadi berkat bagi sesama. Bila saya tak menjaga hati saya dengan baik khususnya pengendalian emosi dan bipolar saya, saya hanya akan menghasilkan ‘nangka busuk’ dan malah menjadi masalah.

Inilah saatnya memperbaharui komitmen pada Yesus, tiap tahun, pada ulang tahun saya. Seperti yang pernah dilakukan oleh bapak saya 28 tahun lalu dengan menanam banyak pohon untuk kelahiran saya, saya juga ingin menanam dan merawat kembali bibit – bibit cinta kasih untuk sesama di hati saya, memastikannya tumbuh dan berbuah.

Saya cinta mati hidup saya karena saya tahu Yesus lebih cinta mati diri saya.

Saatnya berbuah!!!

(150911; refleksi ulangtahun ke 28 (lagi) ?, iya!!!)

0 comments: