Search This Blog

Loading...

Wednesday, 21 September 2011

Guilty

Dua hari ini saya merasa sangat bersalah. Ya, perasaan yang memang seharusnya ada saat sebuah tanggungjawab tidak dapat saya lakukan dengan baik. Kejadiannya karena sebuah rumah yang menjadi tanggungjawab saya untuk saya jaga sambil menunggu kepulangan pemiliknya beberapa minggu lagi sekitar dua atau tiga hari lalu dibongkar pencuri. Beberapa barang berharga hilang.

Ini murni kesalahan dan tanggungjawab saya. Andai saja saya lebih berani dan bisa menyempatkan diri tidak mangkir dua hari dari tanggungjawab saya untuk mengontrol lampu dan juga tanaman serta rumah ini, kejadian seperti ini pasti tidak terjadi. Andai saja saya juga mau bersusah payah memerangi rasa takut saya untuk sering – sering menginap di rumah ini, pasti tak akan kejadian seperti ini. Saya merasa bersalah sekali pada pemilik rumah dan juga katakan saja, jujur, saya menyalahkan diri saya. Sangat menyalahkan diri saya.

Dua hari ini saya merasa sangat bersalah, tertekan dan memang sempat down berat. Saya bersyukur di saat seperti ini, ada beberapa teman saya khususnya Mimi dan El yang sangat mendukung saya, menemani semua proses pelaporan dan dokumentasi laporan ke polisi. Walau saya sangat skeptis polisi akan bertindak cepat. Iyalah, karena mereka bahkan tidak mengolah TKP seperti memeriksa sidik jari. Dokumentasi pun tidak mereka lakukan. Benar – benar hanya cuma datang ‘cek’ saja. Seperti yang dilakukan oleh orang – orang yang sekedar lewat. Tak ada jalan lain, terpaksa harus mengerahkan bantuan dari teman – teman dan saudara – saudara jauh untuk melacak benda yang hilang dan ini masih tetap dikembangkan. Setidaknya, ada upaya yang dilakukan.

Jujur, ini masa yang berat bagi saya. Kondisi yang drop karena kelelahan mengejar deadline oderan terjemahan, plus kondisi yang sempat drop karena begadang usai kerja malam, ditambah lagi persiapan keberangkatan. Saya berada dalam titik kulminasi ketahanan saya. Didera stress, malaria dan tentu saja rasa bersalah plus dalam masa penantian ketidakpastian sebuah pekerjaan dan perjalanan panjang.

Saya juga merasa bahwa saya benar – benar butuh terapi pengelolaan rasa marah (Anger Managemen Therapy). Karena bila kejadian seperti ini, saya merasa amarah yang menggelegak cepat dan membuat saya tidak bahagia dan pikiran psikopat saya pasti muncul. Pikiran yang sudah lama ingin saya tutup dan hapus dari diri saya sendiri dan tidak ingin saya munculkan. Sayangnya, lolos juga di status Facebook saya. Lihat saja isi status saya yang usai dua hari ini saya lihat kok saya mulai ‘psiko’ lagi ya. Sadis dan jahat dan saya benar – benar ‘memaksudkan’ hal itu. Saya khawatir bila tak ada terapi yang saya ikuti, suatu hari nanti saya benar – benar bisa melakukan hal tersebut yang hanya perlu mematikan ‘rasa takut’ dan ‘kemanusiaan’ saya tampaknya. Tindakan yang benar – benar menjauhkan saya dari Yesus dan saya tidak ingin hal ini terjadi.

Lihat saja isi status saya:
#Dasar pancuri anj***, babingung taslep. Ko mo pancuri apa sebenarnya ka? Ko mo rencana buka 'cakar bongkar' ka jadi ko acak barang2 tuh. Sa dapat ko tuh ko bunyi, sa iris2 ko kas makan anjing di rumah sisanya sa siram deng jeruk asam biar ko menderita batin. Kalo perlu sa bakar ko lapis di tembok2 daun gatal sana

#Neh sa dapat ko nih jang sampe ko makan timah cair di ko mulut yooo. Baru kenapa ko pi acak tempat sampah lagi ka? ko kira itu camilan? Neh, kalo mo pancuri tuh sekalian angkat banyak2, jang setengah2 ... anggrek ko nih, ko bikin sa waktu tabuang untuk stavel sa pu waktu packing dan kejar deadline dokumen saja yoooo. Nangka belanda nih .... bikin tong tamu panik2 di kantor polisi saja seh

#Pancuri mo mati nih .... malam hujan bokar tuh tidur, bukan jalan pi lacak orang pu rumah yooooo, makanya kerja sana, jang andalkan ko pu daging spanggal tuh saja di bawah yooo. Pi jalan pancuri orang, mudah2 ko mati tempo ka. Untung sa belum dapat ko, sa dapat nih ko blef, mata, blue, panta yellow, gigi loncat indah, susah buang besar seh... Macam rasa mencr** seh ...

#Sh** ... pancuri jaman skarang seh .... jang sampe sa dapat yooo. Su tahu sa agak psiko jadi, jang sampe sa dapat ko dapa kas talanjang deng konak sakti saja, sa ikat ko di pohon belakang, kasi madu baru lepas semut merah, sambil sayat2 ko pu badan tuh eee, trus di bawah sa pasang batang2 salak dan bakar daun pisang kering di samping2 ko yooo. Awas, jang sampe sa dapat ko saja yoooo

#hari MUSIBAH sedunia!!! Mo packing ka, mo stavel deadline ka mo urus laporan di polisi. Sisi positifnya ... setidaknya sa deng Mitha Sweet bisa nongkrong di kantor polisi dalam waktu lama 'n syukurnya polisi2 muda muka tra talalu ancur untuk dilihat siang ini :) *burglary's effect

Saya bersyukur dalam keadaan kalut itu tidak sampai melakukan tindakan seperti pergi mencari orang ‘mawi’ atau ‘menerawang’ walau sempat terbersit pemikiran seperti itu. Untung Rian sempat merasionalisasikan pikiran purba itu dengan bilang, ‘Buang pikiran kafir itu’. Begitu juga si El yang membuat saya semakin realistis dengan bilang bahwa pasti juga tindakan itu sia – sia karena biasanya ‘mereka’ hanya penipu =) Saya bersyukur untuk mereka yang membuat saya ‘tenang’. Begitu juga dengan teman lainnya seperti Amos, Mimi, ade Otis dan lain – lain.

Apapun yang terjadi ke depan, saya siap menerima resikonya. Pada titik ini, saya sudah pasrah, sangat pasrah untuk reaksi dari pemilik rumah. Saya bersalah karena tidak bisa melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, tidak bisa menjalankan amanat mereka dengan baik dan saya akui saya lalai.

Saya bersalah, itu intinya. Saya tidak ingin lari dan bilang bahwa ini kesalahan orang lain. Ini tanggungjawab saya dan saya tidak bisa menjalankannya dengan baik. Sementara ini saya akan berusaha melacak keberadaan benda – benda yang hilang dengan menyebarkan informasi, menggali informasi, melacak informasi di penadah dan kemungkinan usaha – usaha yang akan menampung barang curian dan juga sebisa mungkin selalu meng-update perkembangan penelusuran dari polisi walau saya meragukan kemampuan mereka di dalam melacak benda yang hilang. Tapi saya akan tetap berusaha sebisa mungkin. Itu janji saya.

Rasa bersalah ini membuat saya merasa bahwa saya sangat lemah, sangat depresi tapi saya tidak ingin menyerah. Saya ingin menebus kesalahan saya, itu saja.

Malam ini yang saya tahu, saya baru bisa mulai sedikit pulih dari shock yang saya alami usai kejadian hari Minggu itu. Ya, I’m on the way of recovery. Saya berharap pemilik rumah pun mengalami hal yang sama; on the way of recovery.

Saya berharap saya bisa menebus kesalahan saya. Itu saja. Menebus kesalahan yang saya buat terkait tanggungjawab. Ini Kesalahan saya yang lalai, tak ada gunanya menyalahkan orang lain.

Saya berharap esok ada titik terang dari kasus ini. itu saja. Semoga.

How I need Jesus at this moment….

(Manokwari, 200911; post-shock season)

0 comments: