Search This Blog

Loading...

Wednesday, 28 September 2011

Go forward

Pagi ini I feel much better for my emotional burden beberapa hari ini. Ada banyak hal yang terjadi dan pada akhirnya saya memilih untuk mengambil jalan tengah untuk mencoba realistis dan paling penting mencoba ikhlas dan melanjutkan hidup. Walaupun urusan pencurian masih membara di hati tapi saya berharap saya bisa berdamai perlahan. Ya, rekonsiliasi. Semoga lancar.

Saya juga sudah memutuskan berhenti bekerja sebagai editor tamu pada sebuah harian lokal. Bukan karena tak menyukai pekerjaan ini, sama sekali tidak. Hanya karena alasan faktor keamanan diri saat ini yang wajib saya pikirkan. Bagaimanapun saya tidak ingin merepotkan orang lain bila ada apa – apa pada diri saya. Apalagi beberapa hari ini, sudah ada laporan – laporan yang masuk ke keluarga kami tentang orang – orang tidak dikenal yang mengawasi rumah kami dan mencoba masuk ke halaman rumah dengan bersenjatakan parang pada larut malam. Saya hanya ingin realistis. Bukan karena takut dan tak punya nyali untuk pulang malam dari kerjaan saya. Sama sekali tidak. Saya hanya tak ingin membuat keluarga saya semakin khawatir. Itu saja.

Tentang perasaan, ah saya memang seminggu ini sedang merekonstruksi perasaan saya kembali. Tampaknya saya masih tetap mencintai diri saya sendiri dan masih menyimpan luka kenangan bersama Lelaki Hujan yang belum bisa sembuh dengan cepat. Masih sedikit berdarah kadang – kadang. Tentu saja saya masih butuh waktu untuk sembuh. Saya semakin sadar kalau saya tidak siap untuk komitmen ataupun pertalian perasaan apapun saat tiga malam lalu seorang teman lelaki bertanya gamblang, “apa yang ko inginkan sebenarnya dari sa, yang mungkin bisa sa penuhi dengan logika dan realistis?” Jawabannya bisa anda tebak? Saya tidak menginginkan apapun dari dirinya. Tidak juga berharap ia menjadi kekasih saya. Itu pikiran terakhir saya. Apalagi saya juga tidak ingin menyakiti siapapun lagi.

Saya menikmati bercakap – cakap dengannya, menikmati pesan – pesannya, menikmati candaanya TAPI kemudian saya sadar, saya hanya mencintainya karena sebuah kedekatan menjadi teman curhat dan asosiasi dirinya dengan ‘santo’ cintaku di Australia. Saya memang kadang – kadang merindukannya karena ia suka membuat saya tertawa dan terhibur tapi entahlah …. itu bukan perasaan yang sangat dalam seperti yang masih ada untuk Lelaki Hujan, cinta yang membuat saya ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan. Saya belum siap rupanya. Walau saya menikmati juga candaan dengan beberapa lelaki lainnya. Tapi entahlah … pada akhirnya masih ada Lelaki Hujan yang menggurat hatiku dan membuatku skeptis untuk semuanya. Intinya, tidak ingin terluka dan jatuh cinta. Karena hingga hari ini, entahlah … lukanya terasa masih segar seperti kemarin malam dimana saya harus tidur dengan dada sesak memikirkannya, tentu saja usai menangis berlama – lama hingga tebaran tisu menggunung di bawah meja.

Saya ingin mengikhlaskan kepergiannya, ingin semuanya selesai di bulan ini. Itulah sebabnya saya sedang merencanakan perjalanan saya bulan depan ke sebuah pulau di Teluk Cenderawasih. Ingin merenung, berdamai dan merayakan hidup saya yang baru. Entahlah … seperti sebuah pencarian dari pertanyaan saya selama ini. Saya hanya ingin melepaskannya pergi dari ingatan saya. Demi kebaikan saya sendiri, demi kebaikan keluarganya juga. Pertengahan bulan depan, kami genap berpisah walaupun saya yang memutuskan hal itu. Ya, walau hati saya saat itu berdarah – darah. Tapi saya harus melakukan itu karena bagaimanapun saya tak tahan terkatung – katung tanpa status.

Saya ingin pergi lagi, berpetualang. Saya bukan orang yang berpetualang demi sebuah ajang ‘pamer’ karena telah menaklukan sebuah tempat. Sama sekali bukan. Saya berpergian untuk kesehatan mental saya. Untuk mendamaikan hati saya, itu saja.

Walau situasi keamanan dan ancaman yang mulai terasa untuk keluarga kami, saya tak peduli. Saya hanya ingin pergi. Setidaknya demi meminimalisasi resiko, saya tidak akan menyebarkan informasi ke mana saya akan pergi atau dengan siapa. Itu saja. Tak ingin juga membeberkan siapa saya dan segala macam runutan etnis dan keluarga. Saya hanya ingin dikenal sebagai diri saya sendiri; seorang pemimpi.

Saya ingin ikhlas dengan segala hal yang terjadi. Hanya ingin itu.

Saya tak peduli apa yang dipikirkan oleh teman lelaki saya yang mengirimkan artikel ‘perempuan yang dicintai suamiku’. Saya sudah belajar jujur dengan apa yang saya rasakan dan itu sudah selesai. Sudah pada tahap rekonsiliasi. Saya juga ingin mengikhlaskan kehilangan beberapa benda milik teman saya yang menjadi tanggungjawab saya, mengusir rasa bersalah ini. Yang saya inginkan di minggu ini dan juga dari perjalanan saya bulan depan adalah rekonsiliasi dengan cinta, penyesalan, sakit hati saya untuk Lelaki Hujan.

Karena saya mengerti dan paham diri saya, bila saya tak mengikhlaskan Lelaki Hujan, maka saya tak akan pernah bisa benar – benar menerima lelaki lain di dalam hati saya. Takutnya, kejadian dengan kaka di Jayapura akan terjadi lagi dan tidak bisa menerima siapapun lelaki itu apa adanya.

Ini saatnya melangkah dan berjalan, bukan. Saya hanya go forward. Itu saja.

(Manokwari, 280911)

0 comments: