Search This Blog

Loading...

Friday, 2 September 2011

Gedung di atas bukit

Malam ini, aku tersadar bahwa aku sudah 10 tahun berkeliaran di sebuah gedung bercat putih yang bertengger di atas sebuah bukit kecil di daerah Amban sana. Sebuah gedung yang berada di dekat perangkat berbentuk parabola pemasok jaringan internet sebuah kampus universitas negeri tertua nomor 2 di tanah ini. Ya, sebuah gedung berlantai dua yang menjadi bagian dari kampus UNIPA, yang nama resminya adalah “Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Bahasa UNIPA”. Sebuah gedung yang menyimpan perjalanan hidupku 10 tahun terakhir walau dipotong masa ‘berkeliaran’ selama 1 tahun di Manado, 1 tahun 7 bulan di Australia dan beberapa bulan lainnya di Jakarta. Ini hanya catatan lepas tentang gedung yang sekarang halaman parkirnya telah disunat dan tersisa 1/3 dari total luasan demi jalan raya baru beraspal hot mix menuju gedung – gedung baru di bukit atas.

Gedung putih yang awalnya dilabel sebagai Lab Bahasa ini kukenal sejak lama, bukan secara fisik, tepatnya sekitar tahun 1996. Kala teman sekelasku waktu SMP yang bernama Yogi bercerita tentang tempat kursusnya di kampus Faperta Uncen (nama lama UNIPA), tentang fasilitas yang mereka miliki plus pengajar mereka yang asli ‘bule’. Waktu itu, gambaranku simpel banget, ‘wah keren ya! Kapan eee kursus di sana?’*dengan tampang polos anak remaja yang kuper tapi tomboy setengah hidup. Sebuah mimpi masa remaja sih sebenarnya. Boro – boro mo kursus di Amban yang sunyi sana dengan biaya yang pasti besar, lah beli tas baru dan sepatu baru saja setahun sekali waktu itu, apalagi Bapak lagi gencar – gencarnya ikut sekolah kenaikan pangkat jadi bintara di Makassar sana waktu itu. Jadi ya, mana sanggup orangtuaku mengirimkan ikut kursus. Kalo mo belajar bahasa Inggris ya, ‘pi usaha dengan cara lain ka, manfaatkan pinjaman buku dan ‘bajak’lah tetangga yang bisa ngajarin tenses, ATAU cara termudah, pinjam buku bahasa Inggrisnya tetangga yang sudah besar’, jadi Reading mode:ON saja lah.

Tapi kadang kita tak bisa menebak bagaimana takdir menerbangkan dan menghinggapkan kita. Bulan Agustus 2001, usai tamat SMK Bisnis dan Manajemen dari Jayapura dan tak bisa melanjutkan kuliah karena sedang terapi kesehatan belajar jalan usai lumpuh karena serangan Juvenile Rheumatoid Arthritis, guna mengisi waktu kosong, ee ada pengumuman kursus di radio. Nah rupanya tempat kursusnya di UNIPA sana. Berbekal membujuk orang tua agar mengijinkanku ‘berkeliaran’ di daerah kampus sana walau resikonya aku bisa saja terjatuh dan membahayakan diriku yang masih sangat rentan, karena memang baru sebulan lebih melepas kruk penyangga, akhirnya diijinkan juga. Walau ada banyak syarat – syarat yang harus kupenuhi.

Aku ingat waktu itu pertama kali ikut pertemuan pertama di kelas yang namanya pre-advanced. Terpesona dengan gayanya dua pengajarku; Ma’am Sukris yang tomboy abis dengan celana baggy bermotif army look dan sedang hamil dan kerap pulang dibonceng suaminya dengan motor trail lewat jalan potong samping gedung kursus dan juga pak Yani yang gaya ngajarnya khas banget. Tak lupa terpesona pula dengan gaya ngajar pengajar lain yang pernah menggantikan sejenak pengajar tetap kami; kak Doan (yang materi listeningnya waktu itu sempat bikin ketar – ketir saking advancednya hehehe ), alm. Pak Philips dan Pak Suriel.

Kelas kami yang tak sampai dua bulan sudah kelar itu membawaku berkenalan dengan ruang perpustakaan tempat Self-Direct Learning penuh penyejuk udara dan peralatan audionya. Di ruangan ini, aku ingat berkenalan dengan teman – teman kursusku waktu itu. Ada Kak Ami (yang sekarang kerja di Perdu), ada kak Linda (yang sekarang jadi dosen Fapertek), ada si Nando (yang jadi teman kuliah di sastra dan sekarang jadi dosen sastra), ada si Silva (yang anak Brawijaya dan kuliah di UKSW) yang sahabatan sejak kecil sama si Khadijah yang tomboy, ada si Wijaya (anak SMP 1 waktu itu dan jago main bulu tangkis) dan juga si Reza (yang anaknya ibu Henny; staf UPT waktu itu); mungkin itu daftar teman – teman sekelas yang masih kuingat. Betapa uniknya kelas kami. Ada yang masih kelas 3 SMP, ada yang anak SMA dan baru tamat SMK dan ada juga yang baru lulus kuliahan. Ramai binti ajaib!

Aku ingat jelas bagaimana bertemu dengan makhluk – makhluk ajaib selama kursus di UPT PB UNIPA ini. Masih mengingat jelas acara debatnya aku dan Nando tentang siapa yang punya musik bagus; Nando bilang Bon Jovi keren, tapi aku bilang Linkin Park dan Greenday juga keren. Waktu itu aku membawa dua kaset band favoritku (GreenDay dan Linkin Park; FYI waktu itu LP belum terlalu ngetop, dan pas pindah ke Manokwari dari Jayapura, kasetnya yang baru rilis langsung kubeli, usai mendengar single – single mereka yang merajai MTV) dan kupasang di booth dengar. Untung ada kak Linda yang menengahi kami hehehe. Maklumlah … at that time, I still felt that I was still ‘anak SMA’ HAHAHA.

Pertemuan dengan gedung ini tak hanya lewat kursus saja. Di sela – sela kursus dan hingga pertengahan tahun 2002, aku selalu datang dalam seminggu tiga sampai empat kali dan lebih dari 2 – 3 jam per pertemuan. Hanya untuk baca, latihan mendengar dan juga meminjam buku. Jujur sempat stress waktu itu pindah dari Jayapura yang ramai dan punya akses mudah meminjam buku. Sedang (maaf) saat itu Manokwari sangat sunyi, tak ada perpustakaan umum dan tak banyak punya tempat hiburan. Mana teman gaulku semasa SMK semuanya di Jayapura. Jadinya, perpustakaan UPT ini yang disebut RC alias Resource Centre jadi tempat pelarian sempurna. Saat itu, aku bertaruh hampir 90% buku apalagi seri Literaturenya sudah kubaca. Abis tak ada jalan lain membunuh sepi sedangkan kegiatan fisikku dibatasi (sejak sembuh, tak boleh naik sepeda, berlari, olahraga fisik yang rentan cidera; hanya boleh berenang dan jalan kaki). Aku masih ingat jelas masa itu saat hampir tiap hari dengan rambut cepak dan celana pendek a la tukang sate kadang – kadang dan kaos, aku pasti nongkrong di sana, pulang jalan kaki dan berjalan melewati kakak – kakak mahasiswa yang melihatku dengan heran (iyalah … sa selalu bercelana pendek, bertopi rimba dan bersendal gunung).

Setahun jadi penghuni RC akhirnya selesai karna aku diterima di Fakultas Sastra Unsrat Manado. Tapi sekali lagi, tangan nasib memang ajaib. Bermula dari ancaman embargo bapak bila aku tetap kuliah di Unsrat (biasa …. Alasan Faktor kesehatan, padahal di sana, aku menikmati kebebasanku dan akses toko buku dan perpustakaan HAHAHA, bahkan jadi anak Mall dan pemantau setia bioskop xixixi), akhirnya aku memutuskan pindah ke Fakultas Sastra UNIPA. Tentu saja dengan mengikuti tes masuk jurusan. Tahun 2003 resminya aku kembali bertemu dengan gedung ini. Karena saat itu, gedung ini menjadi homebase Fakultas Sastra Unipa. Petualangan baru saja dimulai, kawan – kawan. Ya, petualangan!!!

Gedung ini mencatat berbagai momen bersama teman – teman ‘manusia sastra’ alias Mantra yang kurasa mereka ‘diambil’ dari banyak planet ajaib dan dilebur dalam kelas – kelas Linguistik dan Literature. Manusia – manusia hebat yang pernah kutemukan dalam hidup. Belum lagi para dosen yang sungguh …. Membuatku terpacu untuk belajar, menganalisa dan membaca. Gedung ini juga merekam kegilaanku bersama teman – teman. Mulai dari melihat bagaimana di suatu siang aku, Fitry, Marlon, Yansen dan beberapa teman anak – anak Angkatan 2002 membajak tape recorder dan diputar kencang di Room 1 yang berlangit – langit penuh leretan kertas krep warna – warni (tentu saja minus lampu kerlap - kerlip a la club). Aku ingat lagunya 5ive (baca: Five), lupa judulnya. Tentu saja perangkat elektronik ini kami bajak sebagai ‘nyawa’ pengiring kelas “dance” kami guna melatih hafalan gerakan tariannya ‘Wade Robson Project’ yang diputar di MTV, sampai – sampai tanta Rumbo (Staf UPT) ‘bakalai’ tong mati. *sayangnya saat itu, usai sempat ‘jadi patung’ karena shock beberapa menit, kami kembali ke Party mode: ON HAHAHA. What a rumpus we were!!

Iyalah … kalo diingat – ingat, saat itu kelas kami termasuk ‘the Brandalz’nya UNIPA, kelas pesta all the time, tapi kalo belajar serius banget plus mendapat ruang terbaik saat itu seantero UNIPA (baca: kelas ber-AC, lantai berkarpet, dilengkapi 1 unit tape recorder plus radio berukuran bokar dan bersuara merdu dan kencang, boleh dihias sesuka hati asal tidak merusak dinding dan kaca, kalo dibersihkan punya jadwal piket mingguan plus boleh nebeng pinjam vacuum cleaner-nya UPT PB). Dijamin bikin sirik kelas lain HAHAHA. Gedung ini juga mencatat rekam jejak penghuni sastra yang kerap menjadikan lahan parkir UPT PB sebagai tempat pementasan dari mata kuliah drama, mitologi Yunani hingga acara hari Kartini yang penuh adegan ‘kekerasan’ itu *jadi lupa, HP siapa yang waktu itu ‘dikorbankan’ dibanting - banting demi menjiwai adegan KDRT, kan skarang banyak ponsel yang jadi korban KDRT juga (sambil membayangkan suara ‘tanta Veronica’) HAHAHA.

Jejak rekam kuliah Strata 1-ku di Fakultas Sastra yang meminjam Room 1 gedung di atas bukit ini benar – benar salah satu masa terindah yang pernah kujalani. Mulai dari namanya mengalami jatuh cinta, diputusin pacar (usai berfoto sejam sebelumnya di samping gedung ini), mendapat fans, hingga acara penampakan binti ajaib dari makhluk halus seperti yang pernah dialami oleh para anggota klub Pantheons dan antek – anteknya (iyalah, dari acara pasang perangkat pameran sampe bubaran juga penuh dengan penampakan hantu penyuka musik … ‘tok – tok – tok’ … ‘show me the meaning of being lonely’ …. *kabuuuur). Saksi untuk acara ‘kerja rodi’ bikin paper (karena sekelas proscratinator semua pada hari itu) sebagai syarat absen mata kuliah Writing 4 yang digawangi pak Yani hingga jadi bengkel kerja make-up pementasan ataupun acara’mimpi kalo pu anak kelak’ *just remember the baby’s crying in accordance with one’s mother hobby … mine is of course ‘mama, ada helm ka?’ HAHAHA. Those were such beautiful adorable invaluable moments engraved in a white building yang nangkring di atas bukit kecil sana.

Gedung yang berdiri sebagai homebase abadinya pusat layanan bahasa UNIPA ini pun masih merekam jejak hidupku hingga beberapa tahun usai tamat kuliah. Menjadi tempat kerja resmi usai jadi pengangguran “dipecat terhormat” dari kehidupan kampus karna sudah berlabel sarjana alias menjadi staf pengajar tidak tetap, menjadi nursery yang mengirimkan aku dan beberapa teman serta senior melanglang buana ke benua dan negara lain dan tentu saja menjadi tempat bersosialisasi mencari ilmu, berita hingga gosip ataupun areal belanja dan berbisnis. Bahkan sewaktu balik kuliah dari Australia pun, tempat ini masih menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi dan masih menjadi tempat yang menyenangkan untuk merasakan arti menjadi keluarga tanpa harus berbagi DNA.

Saat ini, walau aku sudah tak begitu aktif berkeliaran dan nongkrong apalagi bekerja di gedung ini, tapi deep down in my heart, aku tahu …. I’ve already left my heart di gedung ini, di institusi ini; Tempat yang mengijinkanku untuk bermimpi bahwa aku bisa sekolah lagi karena saat tamat SMK aku sempat down dan bertanya apa memang aku bisa kuliah lagi karena faktor kesehatanku. Aku masih ingat esaiku untuk lomba ‘I have a dream’nya Honda tahun 2001 dan kak Linda menolong mengetikannya untuk kukirimkan dan foto – foto guna melengkapi persyaratan lomba kuambil di RC UPT ini, tentu saja dengan pertolongan kak Yuli yang waktu itu jadi koordinator RC.

Mungkin benar kata Ma’am Sukris beberapa tahun lalu usai acara presentasinya ibu Helena dari RELO Jakarta bahwa UPT PB UNIPA selalu menjadi ‘Nursery’ tempat membibitkan manusia untuk menjadi ‘sesuatu’ yang ‘lebih’ di masa mendatang. Sebuah rumah untuk tumbuh dan memberi sayap untuk terbang ke mana saja. Sebuah tempat yang mungkin tidak menawarkan uang dan bayaran yang banyak tetapi berjuta kesempatan, akses, dan peluang untuk menjadi apa yang kita inginkan di masa mendatang.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di depan, ke mana aku akan pergi dan bersosialisasi lagi, menjadi apa yang Tuhan inginkan dariku. Satu yang kutahu, gedung putih ini dan UPT PB UNIPA khususnya ruang RCnya dan para staff lama dan baru akan tetap menjadi salah satu bagian dari hidupku, seperti yang sudah kualami 10 tahun terakhir ini.

Sebuah gedung putih di atas bukit kecil dengan banyak bunga liar berwarna putih. Semoga tetap akan ada, walau kacanya sempat rontok dihujam batu – batu adik – adik mahasiswa yang tak pernah menyimpan kenangan di gedung ini, walau dindingnya sempat diguncang gempa – gempa besar, walau seorang tete penjaganya a.k.a. Tete Manim sudah tak menjaga lingkungannya; menjaga bebungaan dan menanam pohon.

Ah sekali lagi kukatakan … I’ve already left my heart di gedung ini, salah satu serpih bangunan di kampus UNIPA yang sangat berkesan di hatiku; seperti aku yang selalu merindukan lantai 4 Chiefley Library di ANU ataupun ruang teater terbuka Faksas Unsrat, Manado sana. Yet, Hidup akan terus berlanjut, bukan? Semoga bukan hanya aku yang pernah merasakan ‘dekapan perlindungan’ gedung ini dan semoga mereka yang sesudah aku masih bisa menghargai gedung ini especially ruang RC-nya.

Kenangan tentang gedung ini begitu manis, itulah sebabnya aku menuliskannya; demi masa depan, demi sebuah kenangan hidup, demi segala yang termanis dan pernah ada.

Bagaimana dengan anda?

(Manokwari, 310811, 1:51 a.m., pada sebuah subuh)

0 comments: