“Bukan KEMANA saya akan berjalan, atau seBERAPA LAMA perjalanan ini. Tetapi, DENGAN SIAPA saya akan berjalan dan PELAJARAN apa yang saya dapatkan dari perjalanan ini, Itu yang PENTING! Thanx JESUS for being a special friend, lover, and partner in my life journey.”
Ini adalah pelajaran yang saya dapatkan untuk ulang tahun saya tahun ini, yang ke 28 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, menyenangkan tetapi juga menjadi seperti permen ‘Nano – Nano’ yang manis, asam, pedas. 28 tahun sudah saya lewati. Ada banyak hal yang saya lewati yang mungkin tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Hari ini, tepat 28 tahun lalu saya lahir di Fanindi Manokwari, dari orang tua yang berbeda etnis dan agama. Bagaikan langit dan bumi. Saya bertumbuh di dalam pluralisme dan mencoba mencari kebenaran yang saya percaya, tepatnya merangkak karena saya tetap masih belum bisa berlari hingga saat ini karena kebenaran hidup yang saya cari begitu besar dan tidak bisa terangkum dalam 28 tahun hidup saya. Ini sebuah perjalanan, ya perjalanan. Itu yang saya percaya dari hidup. Tujuan atau destinasinya masih sangat jauh, saya tak tahu karena saya tidak diberi petanya, saya hanya tahu saya diberi seorang ‘Liaison Officer’ dan manual berjalan di dalam perjalanan ini; Yesus dan Alkitab.
Saya masih tetap percaya bahwa saya adalah seorang gadis kecil berambut keriting yang selalu menatap jauh ke depan, ke langit dari atas pucuk – pucuk pepohonan dan bertanya pada Tuhan, “Apa yang Ko inginkan dari sa hidup?” Ya pertanyaan yang selalu saya tanyakan tiap hari kala bangun pagi, dimana saja. Apa yang harus saya lakukan agar menjadi ‘rekan perjalanan’ yang baik bagi Yesus?
Tahun ini, saya juga merayakan 10 tahun tambahan umur saya. Ya, karena usai ulang tahun ke 17 saya, sekitar Oktober 2000, saya jatuh sakit dan pendeknya, saya sangat dekat dengan kematian saat itu. Saya merasakan bagaimana sepanjang umur 17 saya, tahun itu disebut tahun ‘penderitaan dan renovasi’. Bagaimana Yesus membongkar semua jati diri saya, menghancurkan kesombongan saya dan semua hal yang membuat saya sangat congkak saat itu. Umur 17 tahun juga menjadi tahun kelam saya dimana saya pernah berpikir untuk berhenti hidup, untuk benar – benar putus asa dan menyerah dengan kelemahan tubuh saya. Jiwa saya saat itu benar – benar hancur lebur. Saya ingat saya hanya remaja kecil sakit – sakitan. TAPI ah Yesus menjadi penolong saya , penolong dan teman perjalanan terkuat yang pernah dan akan selalu ada. Usai kesakitan itu, Ia memberi saya banyak hal yang bahkan tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Mulai dari kemampuan berbahasa, menggambar dan segala kreativitas yang Ia investasikan dalam hidup saya plus kecerdasan yang menurut saya adalah ‘milik-Nya’. Saya melihat bagaimana hidup saya gemilang usai kesakitan itu.
10 tahun lalu, saya merayakan ulang tahun saya ke 18 dengan bersyukur karena bisa melepaskan kruk penyanggah tubuh saya. Saya diberi kesempatan pertama kali bisa berulang tahun dalam keadaan hidup dan menjalankan hidup saya kembali walau dengan beberapa keterbatasan fisik yang anggap saja sebuah paket diri saya usai ‘renovasi’. Sesuatu yang membuat saya ‘manusiawi’.
Tahun ini, 10 tahun sudah Yesus memberikan saya kesempatan untuk merasakan extra additional life, kehidupan bonus yang diperpanjang untuk tetap hidup, berjalan, dan berlari. Sebelum 10 tahun lalu, saya bukan seorang petualang yang mencintai perjalanan, bukan seseorang yang berani untuk menantang diri saya melewati batas ketakutan saya. Tidak sama sekali. Tapi dengan adanya segala penderitaan yang saya alami, saya mengalami pencerahan bahwa ‘hidup perlu saya nikmati’ dan ‘mencari kebenaran hidup’ itu yang terpenting bagi saya. Saya berhenti berfokus pada diri saya dan berpikir bagaimana atau apa yang bisa saya buat bagi sesama saya, bagi mereka yang mengalami hidup seperti saya khususnya anak – anak dan remaja. Karena saya tahu apa yang saya rasakan sejak kecil dengan kelemahan tubuh saya bukan hal yang menyenangkan karena saya banyak kehilangan sensasi masa remaja saya. Saya merasa saat itu saya ‘dimatangkan’ Tuhan lebih cepat dari waktunya dan membuat sebagian diri saya terus bertanya, “Why me, God?” Tapi pada akhirnya saya percaya karena ia pasti ingin menginvestasikan banyak hal di dalam diri saya.
Ini tahun ke 28 saya, melihat ke belakang, entahlah saya sudah hampir meraih sebagian impian – impian masa kecil saya. Bisa sekolah lagi untuk melanjutkan S1 saya usai sakit parah semasa akhir SMK dulu, bisa menembus beasiswa Master yang bergengsi di luar negeri di salah satu universitas terbaik di dunia, bisa bepergian ke negeri – negeri yang jauh dengan biaya yang disubsidi oleh orang lain, bisa merepresentasikan gaya dan diri saya tanpa malu, bisa mengemukakan apa yang saya percaya tanpa takut tentang pikiran orang lain tentang saya, bahkan saya sudah berhenti untuk membuat orang lain terkesan atau mencoba berlaku agar diterima orang lain dengan mengganti kepribadian saya.
Jujur , saat ini saya nyaman dengan diri saya ke 28 tahun ini dan pada 10 tahun bonus hidup saya. Selama 10 tahun ini saya sudah mencoba untuk mengejar filosofi hidup saya, ‘live the life I love to its fullest’, sudah mencoba menerapkan motto hidup saya, “Don’t try to be different. Just be good. Be good is different enough.” Ah saya masih tetap seorang anak perempuan kecil berambut keriting yang selalu memandang langit malam dan melihat bintang dan berkata pada Tuhan, “Saya ingin jadi superhero, saya punya banyak impian, I want to save the world.”. Saya masih pemimpi, itu yang saya tahu.
Hari ini saya bilang pada diri saya, untuk tetap mempercayai diri saya untuk melakukan banyak perkara karena saya dilahirkan untuk hal – hal besar, bukan untuk menjadi penonton tetapi menjadi pelaku sebuah perubahan. Saya percaya saya dinamis dan Yesus berinvestasi banyak di dalam hidup saya. Saya tidak akan menyerah untuk hidup saya, saya akan tetap berjuang melawan bipolar saya, saya akan tetap berusaha sebaik mungkin menerima keadaan fisik saya yang lemah plus auto-immune disease saya dan segala penyakit yang ditimbulkannya, saya akan tetap berusaha mencintai diri saya dan sesama saya. ‘Berbagi’ mungkin kata yang tepat yang harus saya lakukan.
Hari ini saya nyaman dengan diri saya yang lajang di usia 28 tahun. Bukan berarti saya menolak cinta. Tidak sama sekali. Saya hanya tidak ingin membebani diri saya dengan perasaan yang mengikat saya dan membuat saya tidak bebas. Saya hanya belum siap berkomitmen dalam jangka panjang saat masih banyak hal yang berlompatan keluar dari benak saya yang tentu saja bukan lagi sekedar ‘punya anak’, ‘menikah’ ataupun ‘seks’. Saya tidak menafikan bahwa di hati kecil masih ada keinginan seperti itu, saya masih manusia. Saya hanya ingin menjalani apa yang ada di depan saya sekarang, untuk tetap bertahan hidup dan mencoba bahagia dengan apa yang saya jalani. Toh sejauh ini saya sudah berusaha jujur dengan hidup saya, dengan perasaan saya, dengan apapun yang terjadi dalam hidup saya. Saya sudah ‘membuka topeng’ saya.
How do I measure my happiness and success? Mmmh pertanyaan yang simpel bagi saya. Bagi saya, saya bahagia dengan hal – hal kecil di sekeliling saya, saat saya bisa melakukan hal – hal yang saya inginkan. Saya menyukai ‘perjalanan’ jadi bepergian atau travelling membuat saya sangat bahagia. Itulah sebabnya saya tetap menunggu pekerjaan tetap yang akan membuat saya terus bepergian pada sebuah masa, pada sebuah waktu. Dalam tiap perjalanan, saya bertemu banyak orang yang mengubah hidup saya dengan kisah mereka, dengan pandangan mereka. Saya menjadi lebih manusiawi. Saya menjadi Maya yang sesungguhnya.
Saya percaya tiap orang mempunyai konsep bahagia yang berbeda. Saya mungkin bukan orang yang terlalu berpikir ke depannya bagaimana, tentang berapa banyak digit tabungan dan segala macam tetek bengek investasi. Saya memang tidak berbakat jadi ‘orang kaya’. Saya hanya selalu berdoa tiap hari agar Bapa Surgawi memberikan apa yang saya butuhkan dan bukan yang saya inginkan, memberi apa yang memang menjadi hak saya dan bukannya hak orang lain. Sejauh ini, Bapa berbaik hati memberikan apa yang saya butuhkan dalam hidup dan saya masih bisa menikmati jerih payah keringat saya tiap hari, dan masih punya kesempatan berbagi dengan orang lain. Saya hanya seorang pemimpi yang percaya bahwa setiap orang dilahirkan dengan rencana besar di dalam diri mereka. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah mengenali rencana besar apa yang tercetak dalam diri kita? Secara pribadi, saya mulai tahu rencana apa Tuhan inginkan dari hidup saya. Ya, sejak 10 tahun ini saya belajar mengenali rencana itu satu per satu. Saat Allah bekerja membentuk karakter saya walau saya akui 10 tahun ini adalah masa yang sangat SULIT dan menantang.
Cinta mungkin topik yang menjadi pembicaraan saya yang intens dengan Tuhan selama 10 tahun terakhir ini. Ya, saya mulai memutuskan mencintai lelaki dalam waktu 10 tahun ini. Saya baru merasakan getar cinta itu usai tamat SMK. Mungkin cukup terlambat tapi tiap hari, tiap kegagalan yang saya dapatkan, tiap ketololan dan kebodohan cinta ataupun segala kekonyolan yang saya hadapi, saya mulai mengerti siapa diri saya. Saya perempuan yang mudah jatuh cinta, yang tidak merasa bersalah untuk mencintai orang lain. TETAPI seiring waktu, saya belajar bahwa jatuh cinta tidak salah, yang salah adalah bagaimana memaknai cinta itu. Saya belajar banyak dalam 10 tahun ini bahwa ‘Dalam mencintai seseorang, saya tetap harus terlebih mencintai diri saya sendiri dan Tuhan karena itulah alasan saya untuk hidup.’ Ah lama – lama saya merasa bahwa saya sedang menuju cinta platonis-nya Gibran kadang – kadang. Karena orang – orang yang saya ‘cinta mati’ biasanya cenderung saya ‘lepaskan’ karena saya hanya khawatir mereka tidak akan berkembang dalam cinta yang saya tawarkan. Sedikit egois, bukan?
Anyway, saya masih tetap merindukan beberapa orang (baca: lelaki) yang pernah dekat dengan saya, hanya saya lebih realistis dengan apa yang membentang di depan saya. Bukan karena saya takut atau plin - plan seperti yang pernah dikatakan oleh mereka. Sama sekali bukan. Saya hanya harus bertanya lagi pada diri saya, “Inikah yang saya inginkan, ataukah hanya panggilan impulsif?”. Pasangan hidup mungkin topik yang sedikit berat, tapi memang saya punya role model yang menjadi panutan dalam mencari lelaki yang akan menjadi ‘rekan perjalanan’ saya; seseorang yang seperti Jonathan a.k.a. Bro J. Seseorang yang jail, membuat saya tertawa, penuh petualangan dan tentu saja penuh kejutan serta percaya saya akan mencapai impian – impian saya. Ya, seseorang yang mengerti bahwa saya terlalu ‘visioner’.
Saya masih merindukan bro J kadang – kadang walau saya sangat realistis. Itulah sebabnya, akhir – akhir ini saya memilih menjauh dari ‘seseorang’ yang lain di tanah ini. Seseorang yang bukan Jonathan, yang jujur, saya terlanjur jatuh cinta pada seseorang ini. Saya menghindari ‘kontak’ bukan karena saya tidak berani atau takut, tapi karena saya harus belajar membedakan bahwa dia bukan Jonathan. Entahlah … berbicara dengan dia, mengingatkan banyak hal tentang bro J. Tawanya, jailnya, isengnya, kegilaannya, sense of adventure-nya, dan hobinya. Ya, bro J seorang fotografer dan sinematografer profesional plus dibesarkan dari keluarga seniman. Terkadang, saya merasa menemukan diri bro J di dalam dirinya WALAU sebisa mungkin saya menolak pemikiran itu. Saya cuma tidak ingin membandingkan mereka, itu saja. Walau jujur kadang – kadang saya masih merindukannya karena ia orang yang bisa membuat saya banyak tertawa lepas dalam beberapa bulan terakhir. Bagi saya, itu sangat manusiawi dan saya tidak perlu malu karena itu bukan sebuah ‘dosa’. Saya juga tidak ingin mencari tahu bagaimana perasaannya dia pada saya, karena toh saya cukup realistis dengan hidup saya. Bagi saya, sesuatu perasaan baru bisa dipahami dan dimaknai sebagai sebuah entitas yang obyektif bila telah dinyatakan secara eksplisit. Selain itu, hanyalah sebuah asumsi, perkiraan, pikiran yang subyektif YANG KADANG bisa diartikan hanya sebagai ‘gede rasa’! Dan saya tidak ingin dikatakan ‘ke-GR’an!’ That’s all HAHAHA.
Hari ini ulang tahun saya ke 28 dan 10 tahun bonus hidup dan saya bahagia. Saya mencintai hidup saya, mencintai segala kekurangan dan kelebihan saya. Bila diminta menjelaskan diri saya selama 10 tahun ini, di umur ke 28 tahun, dalam sebuah paragraf, maka saya akan menuliskan sebagai berikut:
“Maya itu a rebel dreamer, lovely and good looking, independent and venturesome, bold, strong, confident, bubbling, talkactive, cheerful, having bipolar, visionary, blessed abundantly, young, smart, love challenge, konyol, punya banyak imajinasi dan tentu saja cinta mati hidupnya dan Yesus PLUS have a great Lord called JESUS.”
Ah saya cinta mati hidup saya hari ini. Saya cukup puas bila memang saya akan meninggal besok, karena saya merasa sudah menikmati every inch of my life, mencoba jujur dengan perasaan saya
Saya punya satu harapan ulang tahun saya ke 28, bukan kekayaaan ataupun harta yang saya inginkan. Bukan itu. Saya hanya ingin Yesus tetap mempercayai saya berada dekat dengannya dan mengijinkan saya MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK BAGI SESAMA. Tepatnya, dalam ungkapan Oscar Romero, “Aspire not to HAVE more, but to BE more.” Itu saja.
Akhirnya, saya pun harus mengucapkan selamat ulang tahun pada diri saya sendiri, minus lagu ‘Selamat Ulang Tahun’, minus pesta dan perayaan, tentu saja dengan diiringi beberapa lagu ‘kebangsaan’ saya; mulai dari Oppie Andaresta, Pink, India.Arie hingga Greenday.
“Selamat ulang tahun, May!”
(Manokwari, 160911; My 28th years reflection)
0 comments:
Post a Comment