Prolog
Mereka tak perlu tahu. Ya tak perlu tahu kebenarannya. Toh seperti kata Kathleen Hall Jamieson dan Paul Waldman, “In wartime, truth is so precious that she should always be attended by a bodyguard of lies.“ Tapi aku memutuskan berdamai pada akhirnya!
***
Sudah hampir 20 tahun aku tak menginjak tanah ini, tanah yang pernah membesarkan diriku, tanah yang pernah memberiku apa yang dinamakan sebagai kekuasaan. Tanah yang pernah menghidupiku dari rasa takut dan teror. Ini perjalanan pertamaku kembali. Bukan untuk liburan. Sama sekali bukan. Aku kembali lagi dengan rambut – rambutku yang lurus hasil resapan zat kimia dan sudah berwarna kelabu. Tentu saja minus silikon di dada apalagi botox1 di wajah. Hanya perempuan lanjut usia mendekati pertengahan 60an dengan kuku kaki terawat warna pastel hasil kunjungan rutin ke salon dan tirus wajah Melanesia khas pesisir yang masih mulus bebas flek. Hanya ingin bertemu seseorang yang menghubungiku untuk menulis ceritaku. Menulis tentang diriku. Seseorang yang ingin tahu kebenarannya. Ah ia terlalu berani. Andai ia ada beberapa tahun sebelumnya, pasti lebih menarik.
Namanya Mei. Perempuan penulis itu berhasil melacakku lewat teman – temannya dan mengekspos namaku di internet, mencabik egoku dengan rangkuman informasi yang tak tepat tentang diriku dan aku menantangnya. Menantangnya membuka siapa diriku yang sebenarnya. Toh tak ada lagi yang perlu kutakutkan. Namaku bukan lagi seperti yang ia tulis, apalagi warga negaraku. Jadi aku ingin mati dengan tenang kelak, dengan sejarah yang benar tentang siapa diriku. Setidaknya warisan terbaik bagi Jo, cucuku yang beranjak dewasa. Sebuah kisah tentang omanya yang berdarah Melanesia, Papua tepatnya.
Hujan turun dengan rintiknya sore ini kala kulangkahkan flat shoes-ku2 keluar ke pelataran depan hotel bertaraf internasional di kota ini. Aroma garam bercampur hujannya masih sama, seperti dua puluhan tahun silam. Bellboy3 penjaga pintu sigap menawariku payung hitam guna kupakai ke arah pusat perbelanjaan yang berada satu kawasan dengan hotel, tapi kuacuhkan. Samar – samar ingatanku berlari kencang ke masa silam. Ke suatu masa yang hendak kukubur sekarang. Aku telah tua. Itu saja!
***
Aku ingat masa itu, masa kala seorang lelaki berblangkon dengan aksen ‘-ken’-nya yang kental menjadi pemimpin terlalu lama di negara ini. Aku ingat kala itu, aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dari kapal perintis yang membawaku dari sebuah pulau di teluk Cenderawasih. Sore dibelah deras hujan yang mencabik – cabik remang senja. Tak ada semburat jingga. Tak ada bunyi kendaraan yang lewat. Tak ada tawa riang kanak – kanak. Jam enam sore tepatnya. Kota seakan sunyi, seperti ujaran ibu – ibu berambut keriting berkulit kopi dan karamel pada anak – anak kecil, ‘Neh kam tidur tempo su. Ai kam …’.
Manokwari, kota kecil yang terletak di pinggiran teluk – teluk kecil di kaki pegunungan Arfak sedang dilanda sepi yang mencekam. Tahun 1989 baru saja berlalu. Aku turun dengan dua buah tas garuda yang tak mencolok. Sandal jepit yang kupakai masih baru, mereknya Swallow4 kalo tak salah. Guna membuang aroma laut dan kamar mandi kapal perintis yang kental dengan bau pesing, kukunyah beberapa butir permen Winston5. Permen mint yang sangat keras. Tak lupa kulanjutkan dengan berkumur dengan pinang muda.
Beberapa lelaki berambut pendek menyambutku dengan tampang takut – takut. Tak berani menatap mataku yang kelam. Aku ingat mereka menyebut namaku dengan hati – hati, sehati – hati sikap mereka menyambut barangku yang dimasukan ke dalam sebuah mobil tertutup dengan kaca gelap.
“Ibu, anda sudah ditunggu bapak di kediaman beliau.”
“Ok, terserah saja. Tapi sa mo mandi dulu. Panas jadi.”
“Ok ibu, kalau memang begitu, biar kami antar ibu ke penginapan dulu, di rumah bapak yang lain.”
“Terserah.”
Dan mobil kami melaju ke pinggiran kota di daerah perbukitan yang konon airnya sangat sulit. PDAM di kota ini memang selalu buruk, batinku.
***
Deretan lagu menggema kencang dari perangkat pemutar suara sebuah franchise6 ayam goreng di pusat perbelanjaan ini. Serombongan remaja Papua berambut lurus hasil catokan masuk ke dalam ruang beraroma minyak dan kentang, tertawa riang, tak peduli dengan beberapa orang buta yang duduk di selasar toko menjual sapu dan kemonceng warna – warni hasil cabutan bulu ayam. Kulihat beberapa perempuan berdiri mencoba sampel pewangi tubuh yang dimasukan di dalam botol – botol bening samping gerai ayam goreng. Di luar sana, Colonel Sanders7 tertawa girang, seakan mencemooh mama – mama penjual pinang di seberang jalan. Ah … ada yang hilang jauh di hatiku; Manokwari lama.
***
Aku ingat malam itu, bertahun silam di kota ini, beberapa lelaki berambut keriting berusaha mengejarku dengan parang dan tombak. Tetapi di persimpangan jalan, mereka menghilang. Mereka begitu ketakutan saat melihat pos – pos penjagaan dengan cahaya terang di ujung jalan. Aku tertawa terbahak – bahak hingga air mataku keluar. Sangat lucu melihat ekspresi wajah mereka. Aku tak peduli daster putihku sedikit robek. Toh masih ada lusinan yang kusimpan di dalam tas Garudaku.
Di pelukanku, seorang balita mungil berambut keriting sedang tidur terlelap. Aku akan menyerahkannya pada ‘bapak’ yang menyuruhku ke kota ini. Entah akan diapakan anak itu. Aku tak peduli! Tugasku masih banyak dan bukan menjadi penjaga bayi. Tak ada deskripsi kerja menjadi ‘pengganti popok’ dalam kontrak kerja kami.
Malam itu dan malam – malam sesudahnya, aku menikmati acara dandanku dengan pengalas bedak tebal, daster putih panjangku sangat membantu menyembunyikan sepatu lariku. Biar saja para lelaki bodoh yang mengejarku berpikir bisa menangkapku, toh mereka semua begitu takut pada salak senapan tiap malam. Apalagi aku selalu mendengar beberapa dari mereka tiap malam harus dikerangkeng dalam sel – sel besi bawah laut di sebuah tempat dekat kota yang akses masuknya seketat acara ‘menari bersama serigala’. Mereka pasti tak akan peduli bagaimana tampangku yang sesungguhnya. Mereka terlalu takut. Itu saja!!!
Sudah hampir empat bulan aku di kota ini. Kadang aku berpikir, apa bedanya aku dan para pelacur di ‘lima – lima8’ sana. Kami kerja malam. Stamina digasak demi nafsu, demi uang, demi sebuah ‘pekerjaan’. Kami sama – sama perlu makan. Itu saja. Bedanya mereka menjual paha putih dan desahan mereka sedang aku menjual tampang sangar dan teror yang kusebar. Toh kami sama – sama melayani nafsu para lelaki yang kebanyakan sama. Lelaki- lelaki pengejar nafsu syawat, kekuasaan, dan harta. Kami hanya ‘budak – budak’ nafsu.
***
Kuminta penjaga rumah tempatku menginap mengirimkan beberapa wesel pos untuk orang tuaku di sebuah kota kecil. Mereka tak perlu tahu aku dimana. Cukup hanya mengambil lembar – lembar Rupiah itu di kantor Pos. Masalah selesai.
Seorang pria lain berambut cepak datang padaku. Dengan suara terbata – bata dan mengumpulkan keberanian. Disampaikan pesan si ‘bapak’.
“Ibu, bapak sudah tunggu di rumah.”
“Ok, terima kasih ya.”
Rupanya pembicaraan siang itu dengan si ‘bapak’ tak lain tentang ‘pekerjaanku’ di tempat lain. Berdaster putih, pekerja malam tapi tanpa desahan berbau sperma. Bagiku, itu tak menarik dan tak ada dalam pekerjaanku. Yang ada hanya jeritan berbau amis. Darah!!!
***
Kulihat perempuan itu sudah duduk dengan alat tulis dan sebuah buku tebal di pojokan sebuah kafe kecil di pusat perbelanjaan ini. Di luar hujan masih saja turun. Siap mencatat. Ia mengingatkanku pada diriku berpuluh tahun silam. Rambutnya yang keriting diikatnya serampangan dengan kacamata tebal bermerk Gucci. Rupanya ia masih sadar mode juga. Ditatapnya mataku dalam – dalam seakan menebak. Mencari bayang kelam masa lalu.
Tak banyak bicara, kuhampiri dia. Memperkenalkan diri. Kami berbincang seakan dua sahabat lama yang tak bersua. Rupanya umurnya lebih muda beberapa tahun dari anak perempuanku di Belanda. Berbincang tentang dosa – dosa masa lalu, politik dan intrik kekuasaan. Berbincang tentang Manokwari dari masa ke masa, tentang legenda kota; kisah – kisah lama tepatnya, tentang banyak hal. Kami, dua perempuan Melanesia beda generasi, bercakap – cakap tentang cinta dan harapan bagi tanah ini. Ia sempat menangkap getir suaraku, menangkap lelehan penyesalan beku di hatiku. ‘Aku tak pernah membunuh’, perkataan yang menjadi hal penting alasan aku menemuinya. Mengijinkan ia mencatat dan menorehkan namaku. Mengguratkan namaku dalam sejarah kelam tanah ini.
Tiga jam berlalu dengan cepat. Tak ada acara ‘foto – foto’. Tak ada pelukan dan ciuman lembut di keningku. Kami tertawa dengan jarak yang ada, dengan luka yang terlanjur ada. Apalagi saat perempuan ini tiba – tiba membisikan nama sebuah keluarga yang pernah menjadi ‘korban’ku. Rupanya ‘korban’ adalah ayah perempuan ini. Kulihat getir dan gurat luka sekaligus kelegaan di matanya, lebih pahit dari beberapa cangkir kopi yang kami sesap.
Rupanya ia mencari jawaban. Tentang Ayahnya. Tentang kakak lelakinya. Aku tak tahu. Itu saja.
Kami pun berpisah.
***
Epilog
Pagi ini hujan masih turun walau tak begitu deras seperti kemarin malam. Barang – barangku tak terlalu banyak. Sore nanti aku akan kembali ke rumahku walau belasan jam akan dihabiskan di pesawat. Connecting flight9 antar benua selalu melelahkan. Tak sabar menanti bertemu Jo, cucuku yang sifat keras kepalanya mirip denganku semasa muda. Mata birunya tak mampu melunakkan ciri Melanesianya yang penuh tekad dan keteguhan hati. Ia akan ke tanah ini beberapa bulan mendatang. Tentu saja bekerja. Bukan seperti aku di masa lalu. Setidaknya ia menjadi ‘penebus dosa’ masa laluku. Ia hanya fotografer dan penulis yang tertarik dengan masalah Hak Asasi Manusia. Aku berharap ia bisa bertemu Mei kelak.
Kusesap teh dalam cangkirku pelan – pelan. Menikmati lelehan gula yang larut dalam sari daun teh kering; Earl grey. Kulirik pasporku di atas meja. Ah apalah arti sebuah nama saat ini. Toh kota ini, masa lalu selalu memanggilku dengan nama lain. Nama yang selalu dibisikan penduduk kota ini pada masa Orde Baru pelan – pelan menjelang malam. Nama yang menebar teror. Panggil saja aku, ‘oma Kla’.
Ya, ‘Klaarce’10 namaku.
K-L-A-A-R-C-E!!!
(Manokwari, 130911; Conspiracy theory indeed, isn’t it??? How if ‘Klaarce’ in New Order Era, in fact, is not a ‘suanggi’ at all? *pertanyaan kritis)
CATATAN:
1. Botox: Sejenis perawatan kulit agar tampak muda dengan menyuntikan cairan yang menghambat kontraksi otot – otot wajah, biasanya untuk mencegah kerutan. Tapi hasilnya biasanya wajah tanpa ekspresi.
2. Flat Shoes: Sepatu bersol datar, dalam konteks cerpen ini bukan sepatu jenis ballerina, tapi lebih ke yang mirip granny’s shoes.
3. Bellboy: Petugas hotel yang biasanya membantu membawa barang – barang kita ke kamar ataupun kadang – kadang diperbantukan sebagai penjaga pintu.
4. Swallow: Merk sandal jepit yang popular di Manokwari. Biasanya kadang jadi pengganti nama ‘sendal Jepit’.
5. Winston: Permen rasa Mint berbentuk seperti keping mata uang logam. Bungkusnya berwarna Merah – Putih. Di awal tahun 1990anm harganya sekitar Rp. 150,-. Bila dimasukan ke dalam coke, coke akan berasa sangat ‘dingin’ dan minty.
6. Franchise: Usaha waralaba dimana kita membeli lisensi usaha dari sebuah produk.
7. Colonel Sanders: Pendiri KFC
8. Lima – lima: Nama tempat lokalisasi di Manokwari. Kadang ditulis ‘55’ ataupun di kalangan anak muda disebut juga ‘double Five’.
9. Connecting flight: Sebuah perjalanan berganti – ganti pesawat ke suatu tujuan, baik melibatkan transit dan berganti pesawat pada satu maskapai maupun dengan maskapai lain.
10. Klaarce: Sebuah tokoh ‘hantu’ atau ‘suanggi’ perempuan yang menjadi urban legend di Manokwari pada masa akhir 1980an hingga awal 1990an. Diasosiasikan dengan perempuan ber’ilmu’ yang mencelakakan manusia. Kisahnya punya banyak versi. Baik dari perempuan yang mencari anak – anak kecil untuk menjadi ‘makanan’nya hingga mencari ‘lelaki’ sebagai pemuas nafsunya. Intinya, dia menjadi teror untuk orang – orang khususnya orang Papua di masa itu agar tidak berjalan malam.
0 comments:
Post a Comment