Kutemui ia malam itu, tanggal 26 Agustus 2011, di pondoknya di bilangan Amban sana; pondok papan yang tersuruk tersembunyi di antara rimbunan pepohonan. Lelaki yang sudah kuanggap sahabat dan kakak laki – lakiku selama 5 tahun terakhir ini sering kupanggil kak Amos. Lelaki bernama lengkap Amos Sumbung yang dilahirkan di Pangala, Toraja pada 27 Agustus 1981 ini termasuk salah satu kakak terpopuler dan juga salah satu dedengkot pendiri komunitas independen lingkungan hidup ‘Komunitas Pesisir’ (Kompes) UNIPA. Salah satu sahabat yang menginspirasiku beberapa tahun terakhir. Catatan ini anggap saja hadiah ulang tahunku yang tertunda. Catatan tentang seorang sahabat dan kakak.
Lelaki bungsu dari tiga bersaudara dan satu – satunya lelaki di keluarganya ini mulai tinggal di kota Manokwari sejak tahun 2000. Ya, sejak ia diterima di Faperta Uncen (nama lama UNIPA). Ia diterima di jurusan D3 Budidaya Perikanan. Ada kisah mengapa ia sampai memilih kuliah di Manokwari, toh itu akan kubahas di catatanku yang lain. Tapi salah satu kesannya yang mendalam tentang kota ini adalah perkataannya kalau Manokwari itu ibarat one-stop sitenya tanah Papua. Menurutnya, secara topografi kota ini unik, tak hanya ada pantai pasir putih halus dengan gradasi pasirnya, tapi juga pantai berkarang hingga pantai pasir hitam dan semuanya bisa diakses kurang dari 30 menit dari tengah kota. Belum lagi ada pulau – pulau kecil di dekat kota, teluk serta tanjung. Mau urusan wisata gunung pun ada, dari yang sekedar hutan lindung hingga gunung botak pun bisa diakses dari kota ini. Mo perkebunan juga ada. Pokoknya unik. Pengakuan temanku ini lumayan bisa kujadikan referensi tempat tinggal, apalagi temanku ini sudah pernah tinggal di berbagai tempat yang berbeda plus acara berkunjungnya kemana – mana.
Satu hal yang kucatat dari Amos yang tak begitu suka dengan warna merah tapi toh ternyata menerima pemberian warna merah adalah filosofi hidupnya yang menurutnya seperti air; mengalir sajalah selama tidak ada pengaruh buruk, termasuk untuk urusan pemberian barang. ‘Selama gratis, terima sajalah, toh namanya pemberian, selama tidak ada pengaruh buruk, walaupun tak terlalu suka.’ Fragmatis menurutku tapi realistis. ‘Kalo memang tak suka, ya koleksi saja atau disimpan, lagian itu pemberian.’
Sebagai salah satu ‘tetua’ pendiri Kompes yang notabene komunitas lingkungan, Amos berseloroh kalau ia tak punya pandangan khusus tentang alam, ‘simpel saja … mengalir sajalah, tidak ada sesuatu yang khusus, tidak ribet banget, yang penting “bagus” saja, pokoknya ada keharmonisan lah antara manusia dan alam.’
Malam itu dalam sebuah acara ‘ketawa bokar – bokar’ membahas pengalaman – pengalamannya tinggal, singgah ataupun berkunjung di beberapa tempat khususnya daerah terpencil aku banyak mendapat cerita segar fresh from the ‘barapen’. Ia juga salah satu orang yang menginspirasiku beberapa tahun ini untuk makin menambah jam terbangku dalam ‘proyek ukur jalan. Bagaimanapun ia sudah pernah tinggal di beberapa tempat yang bahkan namanya kadang masih harus kucari di peta; sebut saja Toraja (kampung Pangala), Sorong, Puncak Jaya (distrik Beoga), Kaimana (di kota & di kampung Esania, Gaka, Guriasa), Nabire, Timika, Waigeo (tempat PKL ya), pulau Sop (Sorong), Merauke (beberapa kampung dan di kota), dan Jayapura. Belum lagi acara kunjungan seperti ke Manado dan Jakarta.
Saat kusinggung tentang alasan mengapa ia tertarik mendirikan Kompes di masa kedua kuliahnya (FYI, dulu Amos masuk D3 Budidaya Perikanan, lulus Cumlaude tahun 2003, tapi milih lanjut S1 Manajemen Sumberdaya Perairan tahun 2006 dan lulus tahun 2009) karena ia bilang tak mau lagi jadi Mahasiswa ‘kupu – kupu’ alias mahasiswa yang cuma ‘kuliah – pulang -kuliah- pulang’ alias tak aktif berorganisasi. Pas mau ikutan berorganisasi, ia berpikir kalau kebanyakan ekstra kurikuler yang ada di kampus saat itu sangat formal dan bukan gayanya apalagi sangat organization-oriented. Tapi di satu sisi, ia tak mau jadi mahasiswa ‘kupu – kupu’ lagi. Daripada memaksakan diri mengikuti jalur organisasi yang mungkin bukan jiwanya, dan juga pasti butuh banyak energi, dana dan banyak hal agar jadi seperti yang ia mau, ia berpikir ‘kenapa tra bikin “organisasi” yangbaru saja TAPI tak usah terlalu formal amat gayanya. Yang penting ada ‘kumpul – kumpul, diskusi, bikin sesuatu untuk lingkungan’. Dimulailah proses transfer paradigmanya untuk teman – teman kuliahnya yang baru termasuk beberapa teman lain yang beda angkatan guna berbagi visi yang sama. Tak muluk – muluk amat, “hanya untuk menumbuhkan gaya hidup hijau, setidaknya kegiatan terdekat untuk bikin sesuatu. Yang awalnya, Setidaknya ada yang bisa dibikinlah untuk lingkungan.”
Filosofi harmonisasi, pandangan yang fragmatis tapi realistis apalagi tentang lingkungan ini masih bisa didapatkan hingga sekarang walau ia sudah tak duduk dalam kepengurusan Kompes. Tengok saja pondok papan sederhananya yang sering jadi tempat nongkrongku dan teman – teman. Tak terlalu canggih memang, TAPI di sana ada kebun sayur yang diisi sayur gedi, bedeng rica dan tomat, stek – stek batang kasbi, deretan pohon Pepaya berbagai varietas yang buahnya sering kami bajak sebagai teman ‘rica garam’, pohon – pohon pinang, rambatan sirih, koleksi bumbu dapur sebangsa rumpun sereh juga pot - pot seledri. Belum lagi keladi – keladi besar yang daunnya bisa jadi payung darurat kala hujan ataupun rumpun – rumpun tebu. Aku bahkan hampir lupa tentang pohon mangga hutan besar yang buahnya akhir – akhir ini menjadi obyek pantauanku tiap datang dan pohon ketapang yang hendak kuhindari karna konon seekor ular coklat pernah jatuh dari dahannya pada malam hari. Plus … jangan pernah lupa melirik tampilan toilet merangkap kamar mandi yang beberapa bagian dindingnya terbuat dari susunan botol – botol plastik minuman air mineral. Kata Amos, nama ‘ruang rehat’ ini Sexy Green Toilet. What a name! Tapi, jangan takut, dijamin masuk ke dalam toilet ini tak akan ada penampakan jelas kok dari luar. Privasi terjamin!!!
Minggu kemarin ia genap berusia 30 tahun dan aku ingat percakapan kami tentang pertambahan usianya, khususnya kenangan tentang perayaan ulang tahun. Karna ia memang bukan orang yang senang pesta apalagi perayaan besar – besaran, ia bilang kalau ulang tahun baginya lebih sebagai sebuah saat yang tepat untuk merefleksikan perjalanan hidupnya. Baginya, ulang tahun itu konsepnya sama dengan hari lain seperti biasa (bangun dan bernafas) hanya di hari yang berbeda karena manusia memberi indikator hitungan satuan waktu entah jam, hari, bulan atau tahun. Tapi bagaimanapun konsepnya sama. Jadi sebenarnya yang diperlukan hanyalah bersyukur tiap hari atas yang kita peroleh
Anyway, jangan panggil aku ‘Miss Investigasi’ kalau tak bisa mengorek pengalaman ulang tahun yang berkesan. Dari cerita sana – sini, akhirnya cerita kisi - kisi perayaan ulang tahunnya yang berkesan di masa silam, tepatnya saat ia berusia 9 tahun kudapat juga. Sebuah perayaan dengan kisah luar biasa dan mengharukan, itu pikirku. Saat itu, mamanya mengorbankan satu – satunya ayam yang mereka miliki demi merayakan ulang tahun putra bungsunya di keluarga mereka. Aku tak tahu apa yang disajikan waktu itu, tapi aku tahu, mungkin pesan dari masakan itu lebih tepat digambarkan dengan kata – kata Spongebob tentang burger Krabby Patty bahwa ‘masakan ini dibuat dengan segala cinta yang kupunya.’ What a touching birthday gift!
Aku masih punya banyak cerita tentang sahabatku ini di kesempatan lain, khususnya tentang perihal pendidikan hingga bagaimana ‘magnet’ Amos berkenalan dengan banyak orang. Tentu saja kisah mereka dan Amos akan terus bertalian dan rencananya akan menjadi sejenis starting point pengembangan tulisanku ke depan.
Lima tahun persahabatan kami mengajarkanku bahwa ‘persaudaraan maupun persahabatan’ kadang – kadang tak perlu membutuhkan aliran darah dan DNA yang sama apalagi etnis. Ini masalah hati dan kepercayaan. One thing for sure, si penggila kopi dan pecinta Papeda ini layak dikenal. Tak rugi, aku jamin!!!
Bila ada waktu, Amos Sumbung bisa dikenal lewat blog pribadinya di http://ruraltrips.wordpress.com
He’s quite inspired indeed!!!
(Manokwari, 020911)
1 comments:
Ya. Itulah "Melanophus" Sumbung... kekar dan tegar :)
Post a Comment