Search This Blog

Loading...

Wednesday, 28 September 2011

Another Note for Lelaki Hujan

Malam ini aku kembali mengingat dia, mengingat dia yang sudah ingin kulupakan selamanya. Tapi entahlah …. Dia selalu muncul kapan pun, seenaknya, muncul di mana pun, lewat siapa pun. Aku teringat runtutan pengingat tentang dia dalam seminggu ini mulai dari acara nikah sepupu jauhku, lagu Adele dan juga link website yang dikirim seorang teman, tentang “perempuan yang dicintai suamiku” tagline terakhirnya benar – benar semakin membuatku larut. Isinya, “Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.” Apalagi lagu Adele “Someone Like You” masih tetap mengisiku minggu ini. Ini masih minggu Pasifikku, minggu untuk merenung dan berdiam diri sembari merefleksikan diri tentang cinta dan hidup. Berharap mencari rekonsiliasi. Terasa berat sebenarnya.

Aku tak pernah bisa berbohong pada perasaanku, pada akhirnya ini akan selalu tentang dia. Sebaik apapun orang lain (baca: lelaki) yang dekat padaku, selucu atau seromantis apapun, pada akhirnya akan kembali pada dia; he’s my bittersweet man. Sahabatku bilang, “de tra pantas dapat ko”. Yang lain berkata, “U live in the past, siz. You’re in love with it. Lelaki Hujan is only one and unfortunately he’s not yours.” Ada juga yang bilang, “lanjutkan hidup. Jatuh cintalah pada orang lain.” Ya, mereka benar. Iya, karena sampai sekarang pun, masih tak ada seorang pun yang sanggup membuatku tertawa, jatuh cinta dan menangis pada saat bersamaan. Lelaki yang masih tetap mengisi mimpi – mimpiku, yang kerap muncul dalam benakku tiba – tiba kala hujan turun. Ah aku masih hidup di masa lalu. Saat ia meninggalkanku, waktu memang berhenti dan tidak pernah sama lagi.

Andai ia bisa membaca catatan ini, entahlah … selalu bertanya di dalam hati selama 3 tahun ini, “Kenapa ko tra bisa berjuang barang sedikit ka untuk tong pu cinta?” Pertanyaan yang semakin menjadi dan membuat dadaku terasa sesak kala menghadiri acara nikah seorang saudara jauh.

Kami masih sering bertemu, berpapasan dan selalu saja ada rasa yang pecah di hati. Pandangannya masih tetap sama, pandangan penuh cinta yang kutemukan pada sebuah malam di areal dermaga Manokwari. Entahlah, ia dan putri kecilnya, berlari riang. Tiap kali ia melihatku, ia akan menyuruh anaknya menjauh dan memandangiku. Biasanya aku memilih berpaling dan mengacuhkannya. Biasanya, saat ia selesai belanja, ia akan memilih nongkrong sebentar di luar dan menantiku keluar dan memantauku. Menatapku sekali lagi. Entahlah apa yang ia pikirkan. Semuanya sudah tak mungkin diulang lagi kan? He has two kids and a wife. A married man indeed. Tak akan pernah sama lagi.

Minggu ini tiga tahun lalu, aku memutuskan menerimanya kembali dengan segala kesalahan yang dibuatnya, mencabikku hingga benar - benar berdarah. Patah hati yang masih belum sembuh hingga tiga tahun ini. Aku ingin bisa melepaskan dia, jauh dari diriku, ingin berdamai dengan masa laluku. Manokwari hanya akan selalu menjadi pengingat. Pengingat dirinya, pengingat tentang cinta yang tak akan pernah kumiliki.

Ah dia cinta yang tak pernah bisa kumiliki, sekeras apapun kucoba. Aku tak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Sahabatku benar, “ia cuma satu, dan sayangnya ia bukan milikmu”.

Lelaki – lelaki yang datang setelah dia, baik dekat maupun jauh, pada akhirnya hanya menjadi penawar rasa sakit hatiku, yang datang hanya untuk semusim saja, ataupun sekedar menjadi malaikat tanpa sayap yang mengiburku, karena pada akhirnya … selalu hanya dia yang masih menjadi luka cair di hati. Tetap ada, karena kenangan kami selalu basah. Selalu ada … apalagi kala hujan turun di bulan September.

Hujan bulan September selalu sukses membuatku mengingat dia. Tahun lalu, di bulan ini, kami masih bersama, untuk menyamakan rasa dan persepsi. Pada akhirnya, semuanya berakhir juga. Entahlah … Jakarta dan Australia tak pernah bisa memalingkan hatiku dari dirinya. Aku hanya khawatir, bila tak juga bisa berdamai dan rekonsiliasi, hal ini akan semakin menjauhkanku dari mereka yang mungkin lebih peduli padaku.

Aku selalu berusaha menjauhkan perasaan ini, sebaik mungkin. Sayangnya, selalu lolos dengan mudah dan membuatku menangis dan sedih. Sesuatu yang dalam yang tak mungkin disembunyikan.

Sahabatku bilang, mungkin aku harus bertemu dengannya secara langsung dan mengungkapkan semua yang kurasakan karena masih ada unfinished business. Ya, kami tak pernah putus secara langsung, itupun aku yang memutuskan via SMS karena tampaknya ia masih saja plin –plan. Ya atau tidak, itu saja yang ingin kudengar kala itu.

Aku tahu ini salah. Aku masih merindukannya kadang – kadang di kala aku begitu tenang, memimpikannya, menginginkannya. Kalau ia tanyakan apa yang aku inginkan dari dirinya, aku pasti akan bilang, “I want YOU! A WHOLE you!” Begitu egois! Ya, tapi itu perasaanku sesungguhnya. Sayangnya, aku tak pernah bisa mengatakannya, bukan? Ada hal – hal yang tak mungkin bisa diperbaiki. He’s not mine. Itu saja.

Hal terburuk dalam sebuah hubungan cinta adalah saat dimana kita harus berpisah dengan pasangan kita BUKAN karena sudah tak ada cinta tetapi karena keadaan dan faktor keluarga. Tak seorangpun ingin ditinggalkan, bukan? Entahlah … mengapa pada saat itu hingga tahun kemarin, ia tak pernah bisa berjuang untuk cinta kami? Aku tak tahu.

Andai saja kau bisa membaca catatan ini, Al. Andai saja. Walau kutahu kau lelaki yang sangat cuek dengan apapun. Lelaki dengan wajah yang selalu bisa membuatku tertawa kala bertemu. Aku merindukan pandangan matamu, semua yang ada di dirimu. Selalu dan akan selalu. Kau masih belum tergantikan oleh siapapun, tidak juga oleh Jonathan. Jonathan bagaikan malaikatku, sangat baik tapi aku bahkan tak berani berfantasi atau membayangkan hal lain bersamanya, tidak juga ciuman. Tapi kau, kau masih tetap menjadi my bittersweet man. Yang tak akan pernah tergantikan. Lelaki yang selalu menjadi lelaki yang muncul di alam bawah sadar mimpiku.

Aku tak tahu apakah kau pernah merindukanku di tahun ini? Aku tak pernah berharap walau kuakui kuingin kau masih mengingatku. Itu saja. Entahlah …

Never mind, I’ll find someone like you atau yang lebih baik darimu.

Al, lelaki hujanku, di antara mimpi dan terjaga, disitulah aku akan selalu mencintaimu. Sangat mencintaimu!

Tapi semuanya sudah tak sama lagi, karna kau telah mencuri kunci ruang hatiku, Al. Aku masih butuh waktu untuk membongkar loker kenangan di benak, membersihkannya dan menatanya, untuk seseorang yang lain suatu hari.

Al, I wish nothing but the best for you. Just don’t forget me. Itu saja.
Tampaknya, aku harus mengakhiri catatan ini dengan memutar suara Adele dan Greenday di kepalaku.

Ya, ‘wake me up when September ends’ demi ‘someone like (OR better than) you’.

(270911; in the end, it’s always HIM)

0 comments: