Search This Blog

Loading...

Friday, 2 September 2011

Another friendship story

Malam ini sebenarnya suasana hatiku lagi tak nyaman. Bukan hanya rindu, tak nyaman dengan tak ada aktivitas karena menjelang hari raya, tapi juga entahlah … ada yang hilang tanpa bertemu para sahabat. Teman dekatku sejak umur 5 tahun sedang liburan ke kota lain dan aku tadi sore memutuskan berjalan – jalan dengan adiknya, si El. Tiap kali jalan dengan El, pasti saja ada teman – teman atau kenalan yang ‘pantau abis’ dan menerka – nerka apakah aku dan El pacaran. Ya, mereka kerap bertanya sih hehehe. Padahal …. Sio eee, kami sudah bersahabat dengan kecil, jadi kalau tak salah, sewaktu aku dan miss M baru pertama kali kenal, si El baru berumur 1 tahun =) Persahabatan dengan keluarga miss M dan El sudah berlangsung sejak 23 tahun, apalagi mamaku dan papanya si M memang sudah bersahabat sejak lama, dari tahun 1960an. Ya seperti keluargaku sendiri.

Betapa menyenangkan sebenarnya dikelilingi oleh orang – orang yang bisa menerima kita apa adanya, yang menyemangati, memberi saran dan kadang memarahi kita karena peduli. Persahabatanku dengan keluarga miss M mengajarkanku banyak hal, belajar untuk melihat dari sisi lain, belajar untuk menghargai keluarga dan menghargai persahabatan yang kami miliki. Aku bersyukur untuk kehadiran mereka.

Bercerita tentang persahabatan, entahlah … akhir – akhir ini aku malah merasa persahabatanku sedikit menjauh dengan beberapa teman dekat di lingkungan kerja. Aku tak mau menyebut siapa saja. Tapi aku merasa aku mulai menjauh dari mereka atau mereka yang menjauh dariku. Mungkin saat ini memang kami sedang menuju tahap “friend for a season” atau sekedar “a friend for a reason”. Entahlah … tapi mulai ada yang hilang. Kami masih tetap baik cuma ada chemistry yang mulai hilang. Entahlah … kau sebut itu apa. Tapi aku merasa ada yang hilang dan pada satu sisi, aku merasa kehilangan. Merasa kehilangan dan ada bagian hatiku yang sepi. Aku tak tahu. Moga aku bisa kuat kalau suatu hari akhirnya kami hanya akan menjadi ‘a friend for a season atau a reason’ ya.

Hal ini membuatku teringat kejadian beberapa minggu lalu, saat mengunjungi sahabatku semasa SMP. Entahlah … aku mungkin bukan sahabat yang baik yang bisa datang tiap hari ke rumahnya. Kadang tak enak saja mengganggu aktivitasnya yang harus mengurus dua balitanya sedang suaminya sudah selingkuh dengan perempuan yang lebih muda dan juga berulang kali minta cerai. Aku tak banyak bisa jadi teman yang menghiburnya, jadi ya cuma bisa meminjamkan beberapa majalah ‘inspirasi’. Tapi 2 minggu lalu, aku masih ingat ulang tahunnya jadi ya sekedar singgah sebentar dan mengantar kado dan kartu. Aku tahu ia sangat kaget dengan kedatanganku, karena dari matanya ada ucapan terima kasih tulus yang kulihat. Seminggu lalu, anaknya yang kecil ulang tahun, dan sahabatku ini mengundangku ke rumahnya untuk acara ‘makan – makan’. Berhubung hari itu aku harus berkemas – kemas dan menyelesaikan orderan mendadak yang dikejar deadline karna esok subuh aku harus berangkat ke Wasior, aku memutuskan singgah sebentar membawa kado. Saat itu keuanganku sedang menipis karena belum ada pembayaran jasaku yang masuk, dan aku memilih mengambil resiko membeli hadiah bantalan – bantalan gabus yang disusun menjadi karpet untuknya. Aku masih tak bisa lupa pandangan ceria bocah cilik itu di ulang tahunnya ke 3. Full smile mode: ON. Aku bahagia!!!

Mungkin itulah sebabnya aku tak pernah bisa kaya. Aku terinfeksi virus ‘bagi – bagi kado untuk bikin hati senang’. Aku selalu merasa bahagia ataupun tenang kalau bisa memberi hadiah atau kado untuk orang lain, TAPI asalkan jangan mereka yang minta duluan. Jadi harus atas inisiatifku sendiri. Sebaliknya, kalau orang lain meminta padaku, kayaknya seret banget mo ngasih dan rasanya bukan lagi bahagia tapi ‘terpaksa’. Jadi ya seperti itu. Sayangnya, kalau aku tak memberi sesuatu, aku merasa tak bahagia, tak nyaman dan tak tenang.

Mungkin itulah sebabnya kadang bantuanku dulu (aku rasa) sering dimanipulatif oleh beberapa orang tertentu termasuk seorang (mantan) sahabat sebut saja ‘miss Doa’ yang akhir – akhir ini sedang bermasalah dengan sahabatku yang lain untuk kedua kalinya. Ya, kami telah memaafkan dia TAPI kok kelakuannya yang rada ‘stab from the back’ itu tak menghilang juga. Rasanya lebih sakit daripada dikhianati pacar. Kali ini, ia ‘menyontek’ kerjaan sahabatku yang lain dalam sebuah tes yang menentukan masa depan. Entahlah …. Kami masih heran, apa memang ia tak pernah sadar bahwa yang dilakukannya itu salah? Bukankah ia sendiri yang kerap bicara tentang Firman Tuhan berulang kali dan aktif dalam ‘pelayanan’ gereja? Kami jadi ragu, apa ia bisa sadar kelak.

Dulu tahun 2007, kami kecewa plus sedih campur marah ia tak mau mengambil resiko dan menolak tawaran kerja yang sebenarnya bukan haknya dia. Maksudnya dulu ia sudah gagal dalam tahap 1 sebuah tes (dari rangkaian 4 tahap tes, mana hasil tiap tahap pasti tersebar di kalangan tempat kerja) sebuah pekerjaan yang bergengsi, tapi toh pada tahap terakhir sebelum hasilnya diumumkan, saat ditawarkan oleh seorang kerabatnya yang juga anggota penentu SIAPA yang lulus tes itu, ia OK – OK saja menerima keputusan sebagai ‘yang diluluskan’. Padahal ia tahu itu bukan haknya. Dia malah menganggap itu sebagai Mukjizat. Padahal saat yang bersamaan, ia dipanggil ke sebuah wawancara kerja yang bergengsi di kota lain tapi ia enggan pergi karna tak mau mengambil resiko. Ia bahkan dihubungi berulang kali untuk tawaran wawancara itu.

Kami ingat jelas bagaimana seorang cewek yang digagalkan demi Miss Doa ini. Cewek ini nilai tesnya tingginya dan lulus dengan sempurna pada tiap tes TAPI hanya karena faktor jenis rambut dan warna kulit, ia tak bisa dipilih. Kami ingat jelas bagaimana kisah si cewek ini yang menangis 2 hari 2 malam karena mendapat kecurangan. Apa boleh buat, di tempat kerja miss Doa, hanya karena si miss Doa berkulit gelap, berambut keriting dan jelas – jelas orang Papua dan berfam Papua makanya ia dipilih. Itu alasan utama; ungkap miss Doa pada kami dan juga bocoran dari beberapa panitia tes lainnya *tau kan aku Miss Gosip =D

Kadang hidup itu tak adil, menurutku (tapi tetap saja ada konsekuensi dari hasil tak jujur). Padahal kami tahu jelas bagaimana kemampuan miss Doa. Tak ada kapasitasnya dalam pekerjaan itu, tak heran banyak orang yang menjadi tanggungjawabnya curhat sana – sini ke kami; curhat mengeluh maksudnya hehehe. Tapi apa boleh buat, kami tak punya kapasitas. Sudah begitu, miss Doa kadang ‘mangkir’ dari tanggungjawabnya. Plus ia juga terkena penyakit yang membuatku tak bisa bekerja dengan maksimal. Alasan pemilihan miss Doa inilah yang membuat sahabatku dan aku memilih tak pernah mau bekerja pada tempat kerjanya miss Doa. Maaf, aku mungkin sombong dan terlalu idelias, tapi bagiku masih ada hati nurani untuk tak bekerja di tempat yang rasis. Iya, di tempat kerja miss Doa, bahkan politik kerja mereka adalah politik ras. Sayangnya, aku tak suka memilih berada di pihak mana dalam peta politik kantor, dan itulah sebabnya aku memilih menjadi pekerja lepas di mana – mana, pada siapa saja yang bisa membayar jasaku dan aku punya posisi tawar tinggi. Itu saja!!! Aku memilih bekerja dengan gaji yang kecil tapi aku bahagia dan tidak mengkhianati nuraniku, itu saja. As simple as that!!!

Malam ini entahlah, aku bersyukur kembali karena masih punya orang – orang yang mengasihiku dengan hati.

Malam ini aku juga memikirkan Q, entahlah …. Mungkin karena komentarnya yang tiba – tiba muncul di foto pesawat yang kutumpangi dalam kunjungan ke kota lain beberapa hari lalu dan baru kupasang kemarin di jejaring sosialku bersama dengan foto – fotoku dengan klienku yang ganteng dan supir kami yang juga manis. Komentarnya bernada ‘sinis’ dan kadang bikin emosi karena tiba – tiba muncul tanpa diharapkan. Tapi entahlah … aku memikirkannya malam ini, merindukan candaanya. Seingatku, ia hanya sekali pernah memuji dan bilang ‘thanx’ untuk catatanku hanya karena kata ‘Ophelia’ yang kupasang (aku tak tahu itu judul lagu ‘favoritnya’ dari band kegemarannya; L’arc en ciel). Anyway, aku baik – baik saja. Ini hanya sebuah rasa yang hinggap karena hujan yang turun beberapa hari ini. Entahlah, semoga besok pagi semuanya akan baik – baik saja. Ya semoga!

Anyway, malam ini aku juga baru selesai membaca bacaan Alkitab malamku, suara di dalam hati itu menyuruhku membaca di Mazmur 81, dan entahlah … seakan aku diingatkan tentang apa yang malam ini dipikirkan Tuhan; tentang rindunya Dia. Btw, aku suka ayatnya yang ke 5 bagian terakhir ini, “I heard an unknown voice …..”. Nah malam ini aku juga ingin bilang, ‘ia sa juga dengar unknown voice deep in my heart, tapi sa tahu kalo suara itu sayang sa’ … Iya, salah satu sahabat yang sa tahu tra akan mengkhianati sa, sayang sa, dan pastinya selalu rindu say a YESUS too.

Feel so much glad to have Jesus as my eternal friend lah …. Amen.

(Manokwari, 300811; I’ve got an eternal friend hehehe)

0 comments: