Kami baru saja selesai bertengkar malam ini karena sebotol minyak Zaitun. Seperti biasa, dadaku terasa sesak dan tak bisa menahan air mata yang terus mengalir. Ada bagian hatiku yang terluka, sangat terluka. Terdengar lucu dan konyol mungkin. Entahlah … sejak kepulanganku setahun lalu, aku merasa ia berubah. Lelaki yang kupanggil ‘bapa’. Entahlah … waktu telah mengikis semua ciri sosok yang pernah kukagumi dulu, dan mungkin aku masih terus terkurung dalam sosoknya yang dulu, yang kuidolakan dan kujagokan sebagai alasan untuk bertahan di rumah, alasan bertahan di kota ini. Tapi pertengkaran hari ini yang juga merupakan ke sekian kalinya, membuatku kembali lagi meninjau apa memang aku harus tetap bertahan di rumah seperti yang pernah kuikhtiarkan.
Memang sebotol minyak Zaitun bermerk Italia ukuran 1 L itu bisa diperoleh dengan mudah di toko di kotaku, seperti kata adik lelakiku usai pertengkaran kami. Memang ia bisa menjadi alternatif pengganti minyak untuk menggoreng potongan ikan kemarin siang. Pada sisi ini memang terasa konyol karna aku mempersalahkan kenapa sampai minyak itu dipakai dan mereka menganggapku ‘skakar’ dan konyol plus kekanak – kanakan. Aku hanya merasa sangat sayang pada minyak itu karna kupakai dari uangku yang pernah kudapatkan tahun lalu usai sebuah proyek ngajar dan kupakai perlahan – lahan, karna mungkin karena itu baru habis sebanyak 100 ml. Minyak ini juga selalu bertugas sebagai pemutar kepingan melodi indah kenangan tinggal di Australia; masa – masa terbahagiaku, mengingat kenangan tiap hari masak di dapur dengan menu yang kuanggap sehat, mengingat bagaimana bro J masak dengan menggunakan minyak ini dll. Ada banyak kenangan yang tersimpan dalam sebotol minyak Zaitun. Kenangan yang mungkin tak akan dipahami oleh para anggota keluargaku, orang – orang yang kuanggap dekat.
Alasan – alasan sentimental inilah yang membuatku memakai minyak ini hanya sebagai campuran minyak pembasuh bekas dandanan dan juga untuk salad sayur. Selebihnya kubiarkan karna toh masih lama masa kadaluarsanya. Aku hanya suka melihat minyak ini seperti itu. Jenis yang kupakai ini dengan bentuk botolnya benar – benar sama dengan yang kupakai sewaktu tinggal di Canberra, semua kenangan itu melebur manis dalam tetes – tetes minyak yang konon berasal dari daerah – daerah tandus di tepian Mediteranian sana. Alasan – alasan inilah yang membuatku sangat terluka malam ini, saat melihat sekitar 800 ml minyak itu tiba – tiba menghilang dan menjadi minyak jelantah penggoreng ikan. Alasan – alasan yang tak mungkin kuberitahu pada mereka bagaimana aku menghargai sebotol minyak Zaitun ‘Extra Virgin Oil’ bermerk Bertoli ukuran 1 L demi kenangan – kenangan manis yang pernah terjadi. Alasan yang mungkin hanya akan jadi bahan tertawaan dan kesekian kalinya mereka akan menganggap ada yang salah dengan ‘otak’ku, as they used to tell me, ‘macam gila – gila ka seno – seno saja’*sigh.
Tadi saat ku marah besar, karna sudah berulang kali kuberi peringatan pada smua anggota keluarga agar jangan menyentuh minyak itu, karna adik lelakiku pernah kutegur dan terpaksa menggantinya. Saat marah tadi, bapa tiba – tiba bilang, “Iyo sa ganti, tapi mulai saat ini jangan lagi makan di rumah ini, cari jalan sendiri”. Sempat terasa kaget berat, bukannya selama ini aku memang sering juga makan di luar, plus kalo memang begitu, kenapa saat kemarin mau pakai itu minyak, tak bertanya padaku apa aku bersedia membelikan minyak pengganti atau tidak, karna toh bila untuk seliter minyak goreng sawit bermerk terkenal, aku bisa membelinya di toko dekat rumah, atau sekalian ukuran 5 liter di pasar saat itu juga, asal jangan menyentuh minyak Zaitun itu. KONFIRMASI, mungkin hal terpenting yang mereka lewatkan!!! Kejadian yang sama pernah terjadi, hanya beda benda. Sama seperti dulu saat peralatan mandiku, bawaan dari Australia untuk ritual scrubbing dan luluran etc keluaran the Body Shop, harus dijadikan penggosok karang – karang bak mandi dan lantai kamar mandi hingga hancur berantakan (jangan tanya bagaimana reaksiku menangisi peralatan – peralatan itu berhari – hari … I do love small things *hiks)
Entahlah … masalah finansial adalah hal lain yang kerap menjadi masalah bila bertengkar dengan papa khususnya sejak kepulanganku. Mereka, khususnya ia, menganggapku sebagai beban besar di rumah, padahal aku juga mencari penghasilan walau tak seberapa kadang – kadang, tergantung orderan. Mereka selalu menginginkanku menjadi PNS di Manokwari. Menghitung kerjaanku dengan berapa banyak digit rupiah yang dihasilkan. Menginginkanku kerja di Manokwari. Jadi bila ada tawaran dari luar Manokwari terpaksa kutolak, demi sebuah utang budi pada orang tua. Tahun lalu pun berniat mendaftar PNS e diminta kerabat dekat ke Cina menemani keluarganya; kerabat dekat dari mama yang sering membantu urusan keuangan keluarga. Tentu saja sejak kepulanganku setahun lalu, aku semacam menjadi ‘penebus utang budi’ menjadi pengajar bagi sepupuku. Ya diharapkan seperti itu oleh keluargaku. Kadang – kadang sempat berpikir, kalo memang mau uang yang banyak, gampang. ‘Jual diri saja’ selesai, biar skalian kasi malu keluarga; sweet revenge.
Ada hal – hal yang kerap membuatku tak tahan bila disinggung urusan finansial. Entahlah … beberapa bulan lalu sempat pinjam duit ke bapa, tak banyak hanya sejuta rupiah karna orderanku biasanya dibayar bila bosku datang dari Australia, sedang kerjaan dikerjakan via e-mail, baik untuk terjemahan surat – surat resmi program REDD+ dan lain – lain, sedang saat itu harus membayar asuransi kesehatanku yang mendekati jatuh tenggat. Pelajaran meminjam ini sempat menimbulkan masalah, karna papa ibarat berubah menjadi rentenir. Karna walaupun anak sendiri, tetap kembalian harus disertai bunga 10% dari pinjaman plus juga kerap ditagih – tagih dan disinggung. Aku jadi mengerti bagaimana rasanya bila dikejar debt collector seperti di film – film Mandarin.
Padahal beberapa bulan sebelumnya, saat uang – uang proyek ngajarku sekitar 5 jutaan, plus juga waktu pulang dari Cina dapat angpau dll sebesar 7 jutaan dan ceperan lainnya yang lumayan cukup, harus kubagi – bagi ke rumah, mulai bantuin beli dan urusan pasang tegel di dapur, bantu biayai water tank dan menaranya, bantuin modalin adik cowok yang masih nunggu panggilan prajabnya dan punya 2 anak balita, bantuin urusan sana – sini dalam rumah, beli barang – barang dalam rumah dan lain – lain. Jadi berasa aneh deh. Apa tak ada dispensasi ya? Sebuah toleransi untukku?
Apalagi dipikir – pikir, selama ampir dua tahun lebih sekolah di Australia dulu, aku tidak lagi dibiayai kedua orang tuaku, bahkan masih sempat ngirim duit beberapa kali untuk bantu biayai membangun rumah; sesuatu yang kutahu tak dilakukan saudara – saudaraku yang lain. Hal yang sama juga kulakukan sebelum ke Australia. Kadang merasa tidak adil, makanya jangan heran kenapa kelar dapat ceperan kerjaan proyek or yang bunyinya di atas 1 juta, pasti kupakai untuk jalan – jalan ke tempat lain, perpuluhan dan bantuin uang sekolah anak seorang teman lama yang marjinal, tentu saja usai membeli beberapa barang untuk di dalam rumah. Hanya stress saja mikirnya. Entahlah … karna aku tak pernah mendengar bagaimana uang yang diberikan orang tuaku kepada saudara – saudara lelakiku dengan keluarga kecil mereka dikembalikan kepada orangtuaku, semuanya menjadi yang namanya HIBAH. Sedangkan bila aku yang meminta, maka itu menjadi yang namanya PINJAMAN.
Sebenarnya kadang tak percaya kok bapa dan mama memang rada ‘skakar’ ya dengan urusan finansial. Makanya jangan tanya mengapa aku mati – matian ngurusin urusan asuransi kesehatan, karena aku tahu, mereka tak peduli bila aku sakit. Itu kubuktikan dengan mereka tak pernah peduli bila aku harus ke klinik sendiri, mengantri obat dengan biaya sendiri dan lain – lain PLUS suka marah – marah kalau aku sakit. Entahlah … mereka berubah seiring waktu, dan aku hanya tak tahan bila disinggung – singgung; bukan hanya statusku yang belum menikah, punya anak dan lagi belum punya kerjaan tetap. Apalagi bukan rahasia lagi kalo sejak kepulanganku, aku tak pernah melihat mama mengeluarkan gajinya untuk biaya rumah tangga kami. Jangan harap ia membeli sabun mandi dan lain – lain, jadi kerap aku dan papa yang membeli urusan beginian.
Di rumahku hanya ada 4 orang (pa, ma, aku dan seorang adek), kedua saudara lelakiku yang sudah menikah (karna MBA) tinggal di rumah mereka masing – masing di sebelah rumah kami. Sayangnya, mereka masih juga dibiayai oleh orang tua. Mau urusan sekolah anak, biaya rumah tangga, listrik, dan lain – lain menjadi tanggungan keluarga. Belum termasuk dulu urusan melahirkan 4 keponakan itu yang harus nginap di kamar kelas elit di rumah sakit dulu, pokoknya semuanya diurusin orang tua. HERANNYA … mereka tak pernah disorot oleh orang tua untuk urusan keuangan bahkan bisa seenak jidatnya minta duit pada orang tua. Begitu juga biaya kuliah para istri mereka dan uang jajan juga dulu semuanya ditanggung orang tua, padahal tak sekalipun para ipar ini melakukan pekerjaan bagi kami di rumah induk, paling banter hanya istri adik yang kadang – kadang memasak dan berbagi walaupun anaknya juga dijaga oleh seorang tukang jaga anak kecil dibantu oleh kami.
Perbedaan ini, kadang membuatku berpikir, Apa karena mereka berdua lelaki dan punya anak? Itu salah satu alasan mengapa kadang aku merasa bagaimana bila peran ‘lelaki’ diagungkan dalam sebuah budaya, karna toh ini bukan kejadian baru. Sejak kecil, anak lelakilah yang diagungkan di rumah, semua barang baru, mau elektronik, furnitur atau apapun yang dibeli, pastilah dinyatakan milik saudara X, yang ini saudara Y, seperti itulah, padahal saat itu umurku hanya lebih muda 2 tahun dari kakak X dan lebih tua setahun dari adek Y. Entahlah … luka itu terlalu lama ada, terlanjur mengendap.
Pernah dulu berpikir buruk, apa harus juga menghamilkan diri biar diperhatikan? Tapi toh kuurungkan karna aku tahu aku tak punya keberanian membayangkan hukuman apa yang akan kuterima. Aku tahu bagaimana watak keluargaku. Aku tak mau cari mati dipukulin ataupun cowoknya dihajar ancur – ancuran. I know them very well. Jangan heran bagaimana dulu aku sempat memilih jalan yang sebenarnya tak lebih baik, mencari kompensasi di luar sana. Tapi toh akhirnya tersadar juga bahwa yang satu – satunya mengerti diriku dan juga menyayangi diriku apa adanya hanyalah diriku sendiri dan Tuhan* sigh.
Jangan heran bila dulu aku terobsesi kawin muda dan meninggalkan rumah secepat mungkin, menggantungkan hidup pada lelaki yang penting out dari rumah. Tapi toh semuanya sama saja, tak menyelesaikan masalah. Aku juga bukan orang yang mau menyusahkan para sahabatku bila ada masalah seperti ini dan pergi ke mereka apalagi menginap, tak ingin menyusahkan mereka bila keluargaku mencari. Ini masalahku dan kadang tak sanggup memikirkannya sendiri, dan sering keluar dalam tulisan – tulisanku. Menjadi lebih jujur walau mungkin dianggap sebuah bentuk ekspresi self-pity atau mengasihani diri sendiri. Tak tahulah, yang penting aku lega.
Padahal bila mereka, khususnya pa, memerlukan bantuan, misalnya bulan lalu, saat butuh banget biaya pendaftaran sekolah untuk keponakanku, aku didesak segera mencairkan duitku, yang ternyata pengembaliannya lumayan seret plus saat itu ternyata ada tagihan mendadak atas nama klienku di Australia yang harus kutangani karna jatuh tempo plus tagihan asuransi kesehatan semi investasiku dan lain – - lain. Gimana tak pusingnya mencari pinjaman bagi aku yang sangat malu harus meminjam dan berutang pada orang lain dalam jumlah besar sementara dari teman – teman dekatku yang bisa kuandalkan ternyata juga lagi kosong karna lagi musim bayar tagihan. Mana klienku baru akan membayarnya kalau balik dari Australia. Untung saja di rekening masih mencukupi untuk menutupi semua itu walau digit rekening terpaksa terjun ke titik limit dan terpaksa memotong biaya kebutuhanku sendiri dan mengikat pinggang lebih erat *sigh. Aku merasa beban ini bukan bebanku, itu saja. Padahal bila dipikir, bila para saudara dan keluarga bisa memikirkan langkah –langkah preventif dan menahan diri untuk tidak berbuat ‘kesalahan’ yang tidak perlu, ada banyak hal yang bisa mereka lakukan. Toh mereka punya pilihan dan tidak terjebak dalam sistem, bukan seperti kaum marjinal lainnya.
Entahlah … sejak pulang dari Australia, aku tak lagi merasa nyaman tinggal di rumah. Selalu saja ada urusan finansial yang dilimpahkan kepadaku, apa karena aku single. Mereka tak pernah sadar, bahwa aku juga punya banyak impian kelak yang tentu saja membutuhkan biaya yang banyak, walau menurut mereka kadang aku terlalu egois dengan impian –impianku padahal itu salah satu mekanisme diriku mencegah aku agar jangan sampai depresi dan bunuh diri; tindakan preventifku. Bukan salahku aku belum menikah sekarang, karna memang lagi tak siap. Apalagi harus mikir biaya nikahnya, karena orang tuaku sudah pernah bilang padaku kalau mau nikah, silahkan cari uang sendiri karna mereka tak akan membiayaiku karna tak ada duit. Hal yang kadang membuatku sedikit ogah memikirkan kata ‘nikah’ akhir – akhir ini, apalagi mengikatkan diri pada seorang lelaki yang entah akan memahamiku atau tidak.
Entahlah … jadi terheran – heran dengan sikap ortu karna mereka berdua bekerja tetap pada negara dengan golongan di atas 3 A dengan masa pensiun yang masih 5 – 10 tahun lagi, dengan gaji masing – masing di atas 3 jutaan namun terkena potongan kredit, karna kebiasaan mereka yang tak mau menabung atau punya perencaan finansial. Sedang kedua saudara lelakiku dibiayai penuh, padahal keduanya sudah PNS (yang satu masih menunggu pra jabatan) plus seorang adik perempuan yang sangat manja, yang bisa minta apa saja dan sayangnya selalu dikabulkan hanya karena ia anak bungsu dan sewaktu bayi pernah hampir mati. Iyalah adik bungsuku selalu gemar ganti – ganti HP, minta dibelikan notebook di tanggal tua dan dibelikan juga, karna ngancam mo bunuh diri, padahal nilainya jeblok di semester pertama dengan 2 D di KHS *sigh,
Bandingkan dengan perlakuan mereka pada diriku sewaktu kuliah yang minus perhatian orang tua, sering kena ‘ceramah’ padahal beberapa semester selalu penuh dengan taburan IPK 4.00; entahlah … aku tak tahu apa kesalahanku, itu saja. Mungkin karna pandangan rohaniku semasa akhir SMA yang liberal dulu …. Yang membuatku dipanggil SESAT. Jangan heran aku tak pernah mau tinggal lama di rumah sewaktu kuliah S1 dulu, lebih milih aktif jadi anak kampus yang sibuk organisasi dan kuliah, yang pergi pagi pulang malam, hanya untuk mandi dan mengerjakan tugas sampai subuh. Bangun pagi dan kabur lagi kampus, begitu terus, karna benar – benar tak nyaman di rumah.
Aku memang sejak tamat SMP tak tinggal di rumah, dipindahkan demi alasan tertentu yang lagi – lagi karena aku bukanlah sebuah pilihan utama dalam sebuah masalah. Waktu itu sejak kelas 4 SD hingga kelas 3 SMP, aku menjadi target dan korban pelecehan seksual (veyourims, eksibionism, dan teror dengan gambar – gambar porno di lemari pakaianku, membuatku tertekan dan depresi dan selalu waspada dengan lelaki karna takut diperkosa) yang dilakukan teman kakakku yang tinggal bersama kami di rumah dan dibiayai orangtuaku, dan sayangnya orang tuaku memilih tidak mengusir lelaki itu keluar dari rumah tetapi mempertahankannya dan membiayainya hingga tamat SMA hanya karena alasan yang baru kuketahui bertahun – tahun kemudian yaitu karena khawatir lelaki ini memukul kakak lelakiku di sekolah atau di luar rumah *sigh. Itulah kenapa hingga sekarang, aku benci sistem patriarki yang terlalu mengagungkan privilese lelaki.
Kedekatanku yang minus dengan suasana rumah semakin bertambah, kala sehabis break setahun tamat SMA karna aku sakit parah, kulanjutkan dengan kuliah di Unsrat di tahun pertamaku di Manado yang sayangnya waktu itu walau IPK rata – rataku di atas 3, 5 tapi harus pindah ke Manokwari karena alasan sama yang mereka pakai malam kemarin; EMBARGO EKONOMI dan tak dianggap anak plus kemungkinan tak mendapat warisan. Ancaman yang selalu sama agar aku mau tunduk dengan apa yang mereka inginkan. Alasan yang selalu membuatku berpikir bahwa aku harus kerja dan menjadi orang kaya hanya agar lepas dari tekanan ini. Menjadi terikat secara finansial itu menyesakan dada. Aku hanya perlu menunggu hingga tahun depan kukira, karna pembagian sertifikat dari bagian tanah mamaku baru akan dibuat tahun depan. Bila semua sudah beres, then we’ll wait and see!!!!
Entahlah .. pada bagian ini aku mungkin memang sedang mengasihani diri. Entahlah … tak tahu, hanya ingin mengeluarkan semua yang ada di dada. Mungkin karna aku perempuan dan pernah dulu sakit keras hampir mati hingga menyita waktu mereka berbulan – bulan. Entahlah .. aku selalu tak berdaya bila diungkit tentang urusan balas budi masalah kesehatan itu. Kompromi mungkin hal – hal yang terus kulakukan. Termasuk merelakan pandangan pendekatan kekristenan yang kuanut, merelakan melepaskan beberapa cowok yang tak mereka sukai, mengadakan banyak kompromi demi mereka. Dan sekarang aku semakin merasa kehilangan alasan untuk bertahan di rumah ini. Merasa kehilangan bagian diriku.
Ada yang hilang dan bagiku itu adalah menjadi ‘keluarga’; kumpulan orang – orang yang saling menguatkan dan menolong dan menyemangati. Entahlah … terlalu lama tak merasakannya di sini. Betapa tiba – tiba rindu mama Ipa di Australia, sahabat – sahabatku yang tersebar di mana – mana, dan bagian kenangan masa kecil yang terlanjur hilang; kegilaan bicara dengan pohon – pohon, tanaman dan bayanganku. Entahlah … mungkin memang saatnya kembali dengan diriku semasa SMP dulu; kelam, sendu dan introvert. Entahlah …
Aku hanya ingin pergi jauh, kemanapun, bekerja di manapun dengan keahlianku khususnya yang bisa membantu anak – anak dan remaja yang mengalami apa yang pernah kualami, bekerja untuk kaum marjinal, aku tak peduli dengan gajinya, selama ada yang bisa dipakai makan, untuk kesehatanku dan transportasi di saat emergensi …, yang penting TAK DI RUMAH, tak bersama mereka. Pergi jauh dari tekanan mendapatkan embargo ekonomi dan tekanan lainnya. Entahlah apakah aku masih kuat bertahan dan menepis jalan keluar instan yang ditawarkan alam bawah sadarku sejak SMP dulu; bunuh diri. Entahlah … bagiku kelaparan dan peperangan serta ketakutan diperkosa tak seberapa dibandingkan ketakutan akan rasa dibuang dan tak dicintai oleh orang – orang terdekat kita. Entahlah … hari ini aku belajar banyak!!!
(Manokwari, 060811, 11 p.m. something; in the middle of nowhere)
0 comments:
Post a Comment