Search This Blog

Loading...

Monday, 8 August 2011

Zaitun postwar

Selalu saja ada bagian diriku yang merasa bersalah bila menulis tentang apa yang terjadi di dalam keluargaku di dalam blog ini. Siang tadi usai memposting catatan di blogku tentang apa yang kurasakan usai ‘pertengkaran zaitun’, aku memutuskan tak mau menyimpan rasa itu walau memang masih terluka. Jadi dengan mata yang masih bengkak sisa menangis semalam (sebenarnya masih juga menangis hingga siang), usai dari warnet, kulanjutkan ke sebuah toko, membeli makanan kaleng, mi instan dan lain – lain, setidaknya lebih baik berjaga – jaga bila memang benar – benar disindir tak boleh makan di depan muka (aku pernah melihat adik perempuanku kena efek seperti ini dari saudara lelakiku). Bagiku, aku masih punya harga diri untuk bertahan dan jangan harap aku akan berkompromi bila aku mempercayai sesuatu sebagai ‘kebenaran’. Keras kepala; sifat yang kitahu kuwarisi dari mamaku karena keluarga besar dan sukunya terkenal sangat keras kepala atas sesuatu yang mereka percaya walaupun mungkin apa yang mereka percaya itu konyol, merugikan orang lain ataupun melanggar hukum.

Di toko, sembari belanja, aku pikir masalah utamanya adalah karna tak ada konfirmasi bahwa mereka membutuhkan minyak goreng, karena di rumah bagian belanjaku adalah bensin, toiletries, sabun cuci dan tagihan lain misalnya yang berkaitan dengan motor (oli, bayaran kredit dll) ataupun uang jajan keponakan dan stationeries untuk keponakan yang baru masuk TK; ia sangat suka mengeksplorasi alat tulis hingga dinding rumah pun kena imbasnya. Walau sempat kuberi tahu bahwa bulan terakhir ini aku sedang berkurang orderan karna dampak pemilukada plus juga karena ada tagihan yang harus kubayar (mau ikut tes ITP TOEFL dan biaya ekspedisi ke sebuah pulau), tapi tampaknya tetap saja ada yang tak bisa dipahami oleh mereka. Jadi siang tadi kuputuskan membeli 5 L minyak goreng lengkap di jerry can biar tak ada masalah. Menaruhnya langsung di dapur, tak perlu bilang pada siapapun kalau aku yang membelinya. Aku juga tak mau menjelaskan apapun tentang minyak Zaitun. It’s OVER dan yang penting aku jadi paham bagaimana situasi terkini di rumah, mengerti bahwa tak ada lagi sekutu yang bisa kuandalkan. Ini pertempuran diriku sendiri.

Mungkin alasan semalam aku down berat adalah sedikit terguncang untuk sadar bahwa sekarang ini aku benar – benar tak punya seorang pun yang kuanggap dekat untuk menopangku. Mungkin fakta inilah yang membuatku menangis semalam. Entahlah … mengingat malam – malam panjang yang kulewatkan sewaktu kuliah dulu di Canberra dan memikirkan dan merindukan suasana rumah yang hangat dan anggota keluarga, membuatku kuat dan bertahan untuk kuliah walaupun sudah sangat lelah hampir menyerah. Dan malam kemarin … ah kenyataan memang tak pernah manis, May. Kenangan dan persepsi kitalah yang selalu berusaha mepresentasikannya dalam salutan madu manis dan membingkainya dalam figura ‘kelembutan’. Padahal sedari kecil, tak akan ada yang berubah, tak akan ada. Bahkan mungkin akan lebih buruk lagi. Buktinya kakak lelakiku dan istrinya tahun lalu saja sudah pernah bercerita dan berkoar - koar ke beberapa tetangga apa yang akan mereka lakukan bila kedua orang meninggal; mengusir kami semua keluar dari tanah. Entahlah …. Kadang heran melihat mengapa manusia begitu serakah hanya karena urusan duniawi, padahal tanah yang kita butuhkan hanyalah seukuran kurang dari 2 x 1 Meter untuk makam ataupun kurang bila memilih jenazah kita dikremasi.

Malam ini yang kutahu, aku benar – benar sendiri dan paham bahwa hidup masih layak untuk kuperjuangkan. Hari ini harus menjadi hari ratapan terakhir karena 2 minggu ke depan, aku harus ikut tes TOEFL. Tak mau membuang 350 ribu itu secara percuma, karna skor bidikanku harus di atas 600. Mulai besok, rencanaku sudah jelas, mo ngopi dan belajar, analisa dan nongkrong di perpustakaan. Urusan makan lebih gampang, akan nongkrong di rumah yang harus kutunggui. Iya, selama sebulan ini aku harus bolak – balik mengontrol sebuah rumah kosong titipan kakaknya seorang sahabat, lumayan digaji ½ juta untuk urusan tuh rumah walau memang ketakutan setengah mati kadang – kadang kalau nginap di sana. Entahlah … chemistry rumah itu terasa beda, apalagi untuk orang sepertiku yang rada sensitif hahaha.

Aku memutuskan akan berjuang untuk tetap hidup, demi skor TOEFL tinggi agar bisa dipakai melamar program short-course 3 – 6 bulan di tahun depan. Aku lagi ingin mencari yang berbau pelatihan atau pendidikan alternatif untuk anak – anak kecil dan remaja, khususnya bagaimana pendidikan informal menjadi sarana pengekspresian diri dan menjadikan mereka lebih mandiri tetapi juga kritis melihat hal – hal di sekitar mereka. Satu cita – citaku yang masih belum kucapai adalah mencari sekolah lagi, bukan untuk S3 tapi mungkin lebih ke S2 lagi di bidang pendikan alternatif tapi ke pengembangan kurikulum bagi anak – anak di kawasan marjinal ataupun di daerah – daerah terisolir Papua tanpa harus ketinggalan perkembangan pendidikan yang menjadi standar bersama. ATAU kalau tidak mengambil yang berupa sejenis internship atau workshop yang bisa melibatkan dan juga mungkin terikat kerja langsung di daerah – daerah percontohan kaum marjinal ataupun daerah sulit sehingga bisa belajar studi kasus dan praktek langsung pengembangan. Mimpi – mimpi yang masih ada di kepala. Tapi setidaknya untuk skala jangka pendek, aku berharap bulan ini sudah ada jawaban kepastian menjadi relawan pengajar di sebuah komunitas marjinal yang difasilitasi LSM seorang teman, yang ternyata prosesnya rada rumit ya urusan menawarkan bantuan seperti ini, you know lah, urusan birokrasi etc *phew. Tapi semoga semuanya bisa berjalan lancar.

Kerjaan urusan privat untuk mahasiswa sedang break karna libur semester. Kerja relawan mengajar para keponakan perempuan dari keluarga besarnya mama juga kembang – kempis, bukannya aku yang mangkir tapi aku mulai merasa bahwa para perempuan kecil ini kekurangan motivasi karena berulang kali kutungguin pada jam yang ditentukan, kadang mereka tak datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, kadang datang sudah terlambat 1 jam, kadang juga datang pada saat aku ada kegiatan lainnya. Padahal beberapa kali aku mengecek langsung ke rumah mereka (kira – kira jarak dari pertigaan Brimob Kotaraja ke SMEA), mereka sedang bermain dan bilang kalau lupa. Jangan tanya metode SMS, telpon ataupun berulang kali konfirmasi ke para orang tua mereka. Tapi entahlah …. Apa memang orang di luar keluarga tuh biasanya memang lebih fokus ya? *pengalaman ngajar di tempat lain.

Pekerjaan bersama para teman – teman mahasiswa juga rupanya turun intensitasnya. Aku melihat para junior ini sedang kehilangan passion mereka, kecuali hanya pada bagian yang ada ‘aksi’, ataupun tindakan yang mengandung tantangan seperti menyelam, snorkeling dan lain – lain. Tak ada lagi semangat mendaur ulang, ataupun menghidupkan kembali klub menulis mereka ataupun diskusi kritis, sampai – sampai aku dan beberapa teman sampai terheran – heran dengan ‘anak – anak yang tak ada fighting spiritnya ini’. mungkin memang tindakan berkebun, mendaur ulang, dan kegiatan mengolah sampah menjadi bahan pakai tak terlalu menantang bagi mereka, seperti juga menulis dan berdiskusi. Entahlah … apalagi rencana dulu menjadi relawan pengajar di komunitas pesisir. Padahal aku sudah menerangkan berulang kali, tentang link – link yang bisa kuusahakan, namun tak mungkin bisa berjalan tanpa dukungan mereka. Entahlah … kata sahabatku, “anak muda sekarang lebih fragmatis, May. Mereka cenderung melihatnya dari segi nominal Rupiah yang bisa didapatkan.” Semoga masih ada yang bisa dilakukan. Pasti masih ada yang mau menjadi ‘orang gila’, batinku *crossed fingers.

Akhirnya …. Aku memilih malam ini untuk berjuang .. karna masih ada Tuscany dan Verona yang menanti. Someday, someway sa pasti akan tiba di dua kota di Italia ini, makan pasta sambil menikmati angin Mediteranian sambil tentu saja, mengecap salad dengan dressing ‘Extra Virgin Oil’ minyak Zaitun langsung di perkebunannya.

Italia, di sana ada banyak hal yang membuatku sedikit mendapatkan passion. Satu –satunya negara Eropa yang membuatku jatuh cinta setengah mati karena film – film dan manusianya adalah Italia. Apalagi sejak SMP aku penggemar berat Andrea Bocelli. Kegilaanku tambah gila sewaktu kuliah di Australia, tak sedikitpun aku melewatkan kopi Itali dan juga para lelakinya. Yang cewek Itali ataupun pernakan Itali saja .. busyet bagus apa … lelaki dan perempuannya benar – benar mama mia. Apalagi kompleks Italia di Melbourne sana yang kebetulan dekat dengan rumahnya si bro J. Menjadikanku betah berburu masakan Italia. Belum lagi tersihir film – film macam “Letters to Juliet”, “Under the Tuscan Sky” dan “When in Rome …” ataupun yang berkelas macam “The Life is Beautiful”.

Wait for me, Italia … karena sa akan terus berjuang!!!

(Manokwari, 070811; recovery process indeed)

0 comments: