Berbungkus – bungkus keripik keladi buatan mama sahabatku merayap masuk perlahan ke dalam tenggorokan. Tak luput pedasnya yang semakin bertambah menggerakkanku untuk menyesap sari asam Jawa hangat buatan sendiri dengan lega. Hari ini aku sedang menghitung jam menuju kerjaan hari pertamaku sebagai pengolah kata di sebuah perusahaan, yang tentu saja tak dapat kutuliskan dengan gamblang di sini, sama dengan kerjaan lainnya yang lepas kecuali kursus – kursus privatku yang memang tak apalah bila kutulis di sini karna toh memang aku yang menyelenggarakan jadi tak ada yang terlalu pribadi untuk diekspos.
Hari ini aku belajar banyak tentang hidupku. Usai serangkaian simpul emosi yang sangat menguras energi dan biaya (aku cenderung kompulsif kala sedang down, biasanya dengan membeli makanan dalam jumlah besar) khususnya usai down berat yang kemudian telah dituliskan dan dilepaskan, biasanya aku menjadi lebih segar, bebas dan tak terlalu berbeban. Walau titik lemahnya adalah di saat berat dan down itu, aku harus tetap kuat or at least ada sesuatu, kerjaan atau apapun yang harus bisa menahanku dari a simple act called suicide. Jam – jam menetralisir pikiran yang melenceng itu memang berat dan membuatku tertekan. Tapi aku bersyukur, kemarin itu, masih sempat kuingat perkataan seorang teman 3 tahun lalu untuk ‘memberi kesempatan meratapi diri sendiri’ TAPI waktunya harus sudah dialokasi dan tak boleh berlanjut karena bagaimanapun hidup harus selalu mengalir. Tak boleh berhenti pada satu momen.
Hari ini juga aku berkomitmen untuk diriku sendiri untuk mulai memikirkan cara kembali dengan gaya hidupku yang sempat kugadang – gadang sewaktu tinggal di Australia. Bukan hanya dengan menjalankan pola hidup yang sehat tetapi juga mulai memakai produk yang at least buatan sendiri ataupun yang minim rantai produksi yang terlalu panjang. Kalau makanan, aku memang sudah sangat jarang membeli makanan dari warung tetapi lebih banyak makan masakan rumah. Entahlah, lidahku semakin peka dengan makanan yang mengandung pengawet dan minyak berlebih.
Sudah beberapa hari aku memakai produk lulur mandi buatan sendiri dan ternyata hasilnya di kulit jauh lebih baik dibanding yang kubeli di supermarket. Idenya kukembangkan dari percakapan masa lalu dengan seorang staf di gerai the Body Shop Canberra. Aku memang gemar membelanjakan uang membeli produk perawatan di gerai ini, bukan hanya karena perusahaan the Body Shop yang didirikan oleh Alm. Anita Roddick menjadi salah satu donatur Greenpeace; LSM kampanye lingkungan hidup internasional yang sampai saat ini aku masih merasa berutang banyak kepadanya yang membentuk sisi idealismeku, tetapi juga karena produk – produknya dibuat dengan mengusung konsep fair trade dan berbahan alami. Terinspirasi dengan scrub mandi jaman duluku di Canberra yang ternyata isinya adalah campuran gula – garam dan buah mangga maka akupun mulai mengembangkan produkku sendiri dan ternyata hasilnya memuaskan. Selain itu, juga untuk menghemat duit agar dapat membeli buku baru koleksian plus juga mengurangi sampah dari bekas wadah plastik lulur mandi. Setahuku memang belum ada produk isi ulang lulur mandi yang tersedia di kotaku.
Produk scrub mandi alias lulur mandi ini hanyalah berisi campuran beberapa bahan dengan bahan dasar gula pasir dan garam halus dengan komposisi yang sama (misalnya kalo 3 sendok garam, maka tambahkan gula pasir dengan jumlah yang sama). Untuk wadahnya, kugunakan wadah plastik bekas lulur mandi merk Citra, alasannya simpel: memanfaatkan bahan bekas. Aku tak lupa menambahkan 2 sendok makan minyak Zaitun yang ‘Extra Virgin’ bermerk Bertoli buatan Italia, 2 sendok madu murni, satu sendok teh jeruk asam dan 100 ml sabun cair. Aku punya banyak alasan, karna menurut beberapa referensi yang kubaca, minyak zaitun baik bagi kulit, karena toh selama ini juga telah kupakai sebagai minyak pembersih penghapus kosmetik wajah (walaupun dapat juga memakai minyak wijen ataupun minyak kelapa masak). Madu sendiri telah terbukti sebagai obat jerawat dan pengganti betadin bila kulit luka. Selain itu, jeruk biasa kupakai untuk kulit berminyakku sebagai pengurang minyak wajah. Jadi gula dan sabun cair anggap saja bahan campuran perekat.
Aku ingin bereksperimen dengan bahan – bahan di sekitarku mulai sekarang. Bila produk ini telah habis, aku hendak mencoba dengan alpukat masak (yang biasanya hanya dipakai untuk bahan pijatan masker rambut) ataupun pisang ambon masak. Semuanya diblender dan dicampur dan tetap dicampur minyak zaitun dan madu. Aku juga sedang memikirkan memasukan beberapa rempah misalnya kayu manis dan pala bubuk, hanya untuk mendapatkan aroma yang menenangkan saat mandi.
Aku masih belum tahu ke depannya bagaimana, tapi aku bisa bilang scrub yang kupakai ini membuat pemakaian krim pelembab kulitku hanya sedikit, karena biasanya aku harus memakai dalam jumlah masak agar dapat meresap, dan itulah sebabnya aku kadang lebih suka body butter (yang sayangnya harga per 100 ml nya sudah 35 ribu Rupiah). Ternyata, usai memakai scrub beberapa hari ini, lotion hanya setengah dari jumlah biasa dan resapannya ternyata seperti body butter PLUS usai beberapa jam ternyata tak ada garis putih di kulit. Tahu kan? Goresan yang muncul bila kulit kita gores dengan kuku untuk menandakan kondisi kulit yang mongering.
My mission adalah … kalo sampai ini berhasil, maka harus disebarkan. Itulah sebabnya, aku sedang gencar meminta teman – teman dekatku untuk mencoba produk scrubku dan memberi respon dan tanggapan. At least bila mereka juga mengalami perubahan yang berarti, maka saatnya mengajarkannya untuk para perempuan yang tak mampu membeli produk scrub mandi ataupun berada di tempat yang tak ada toko yang menjual scrub, dapat membuat produk perawatan tubuh mereka sendiri. Tak ada minyak zaitun, maka diganti dengan minyak kelapa. Tak ada madu, maka diganti dengan alpukat ataupun daun lidah buaya. Dan aku percaya … Alam Papua masih punya banyak rahasia untuk ditawarkan bagi perawatan kulit dan hanya perlu dieksplorasi.
Pada akhirnya, aku juga sadar bahwa selain tubuhku yang membutuhkan scrub untuk mengikis kulit – kulit mati, hidupku juga membutuhkan banyak hal pahit dan tak menyenangkan yang menjadi scrub untuk membuat jiwaku lebih halus.
Saatnya bereksperimen!!!
(Manokwari, 090811)
0 comments:
Post a Comment