Di luar kamarku, hujan sedang bergemuruh deras menampar atap rumah dari bahan logam. Curahan hujan dari talang air juga berubah menjadi seperti tumpahan cair dari langit. Beberapa lagu menemaniku khususnya ‘something more’-nya ‘Second Serenade’. Entahlah … malam ini aku merindukannya. Merindukan Q. Rasa ini masih ada, ini baru hari ke 2 detox dan ia masih begitu lekat dalam ingatan, tawanya, candaannya …. Feel like in a deep sh**!!!
Sore tadi aku sudah berusaha bergabung dengan teman – teman di pondok, pada mereka aku tak bisa berbohong kalau aku sedang jatuh cinta yang juga patah hati. Sahabat cowokku sih sudah maklum jadi ia mengajakku pergi ke Pantura dan berenang. Menenangkan otak, katanya. Toh yang lain penasaran. Bahkan si kakak yang pendiam juga ikut – ikutan bertanya, “patah hati dengan siapa?”. Tumben!!! Guest what? Jam 5 kurang kami semua tiba di Mandopi, walau sempat nongkrong sebentar di jembatan Pami. Sore tadi, yang ada aku sudah berani menceburkan diri ke kali dengan cara melompat dari ketinggian dan melompat ke dalam kali yang dalam; sekitar 3,5 meter lah. Airnya lumayan dingin tapi menyegarkan. Pertama melompat, aku sedikit takut dan sempat mengalami panik. Tapi toh semuanya bisa kulalui dan bersenang – senang.
Sepulang dari sana dengan berkendara kencang, menyanyikan lirik “Pupus”nya Dewa di sepanjang jalan, setidaknya hatiku sedikit lebih lega walau … saat memandang mentari yang terbenam di ujung pantai sana, tiba – tiba ada rasa yang pecah di hati. Entahlah …. Mungkin benar. Kita baru merasakan arti kehadiran seseorang saat orang tersebut tak ada lagi. Dalam kasusku, ya tak ada lagi Q yang pasti mendengar curhat tak pentingku saat ini, semisal bercerita tentang mentari terbenam dan pengalaman mandi di kali yang FUN tadi … entahlah, I just lost a good guy I’ve ever known. Just totally miss him mungkin ungkapan yang tepat, entahlah apa aku masih pantas merindukannya? Tak tahu.
(Manokwari, 170811, 11:30 p.m.; mengingat Q … I just miss him)
0 comments:
Post a Comment