Search This Blog

Loading...

Friday, 12 August 2011

Pulai, "Wake me up when September ends"

Sebuah Catatan untuk Q ...

Akhir – akhir ini saya sedang tergila – tergila dengan beberapa kutipan, baik fiksi, faktual maupun lirik lagu yang pernah saya baca dan dengar beberapa tahun lalu, dari karya Gibran hingga Neruda, dari Eliza Handayani hingga Nova R. Yusuf, bahkan punyanya Natalia Imbruglia. Sering kali kutipan – kutipan ini muncul di saat – saat tertentu, yang mengingatkan saya pada sebuah momen, kejadian, ataupun orang- orang. Kala mengingat larik – larik kutipan ini, entahlah … ada kepingan, faset – faset hidup yang tercerabut keluar, sama dengan aroma bunga Alstonia Scholaris Sp. ‘Pohon kayu susu’ atau ‘Pulai’ yang sedang sibuk mekar di musim ini. Membuat bau tanah segar sehabis hujan bergelut dalam tarian minyak atsiri terpompa masuk ke dalam paru tanpa perlawanan. Memabukkan dan tentu saja … ah ada yang kembali pecah di hati. Entahlah … disebut apa rasa ini!

Mungkin si Yukako, tokoh ciptaan Nova Rianti Yusuf dalam novelnya “Mahadewa – Mahadewi’ yang dulu dikenalkan oleh seorang dosen saya sewaktu di Unipa; Ms Yanti, benar – benar tahu apa yang sedang saya rasakan akhir – akhir ini. Si tokoh berdarah Jepang yang berkuliah di Perth ini meringkas pikirannya dalam satu puisi berjudul “rasa dan masa”, seperti ini:

Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari

Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya

Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan

Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.


Kemarin saat hujan turun dengan deras di sore hari, kubiarkan titiknya menjilat kulitku dan dibalur aroma Pulai yang terbang, menemaniku perjalananku di ketinggian yang cukup untuk memandang teluk yang sendu. Entahlah ... tiba – tiba larik – larik kata Pablo Neruda dalam Sonetnya menari – nari dalam bayang hujan, seperti ia bernyanyi untukku dengan kata – kata yang tak teratur lagi :

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Karena hanya itulah cara yang kutahu untuk mencintaimu. Hingga kala kau tertidur, pelupuk matakulah yang tertutup.“


Tapi toh karna saya masih hidup di Manokwari yang sedang bergeliat bangkit menghancurkan benih – benih bumi yang tertanam di hutan - hutannya, seakan serenade kata sore penuh hujan itu hendak saya balas dengan deretan argumentasi cerdas Eliza V. Handayani lewat tokohnya di novel yang lagi – lagi diperkenalkan oleh dosen saya dulu, “Area X“ :

“Aku merasakan segala hal indah bersamamu. Tapi kurasa, aku takut untuk percaya bahwa semua ini nyata. Aku takut jika ternyata aku hanya sedang berkhayal. Aku takut untuk percaya kau nyata, padahal sebenarnya tidak. “


Hari ini saya kembali menekuri lembar – lembar kosong ini ditemani salah satu lagu favorit sejak masa remaja, “Torn“ milik Natalia Imbruglia , lagu yang dulu sempat membuatku sedikit tahu tentang Australia karena penasaran dengan mace ini, beberapa kutipan liriknya benar – benar seperti yang saya ingin percayai saat ini :

“ I’m all out of faith ... Illusion never changed into something real ... Now I can see the perfect sky is torn .... Inspiration has run dry ................ This is how I feel“


Akhirnya sor e ini saya harus kembali pada dunia nyata dan teringat dengan kutipan tanpa nama yang pernah saya temukan dalam kiriman surat elektronik:

“True love is not loving a perfect person but loving an imperfect person perfectly“


Dan saya tersadar benar bahwa saya sedang jatuh cinta, pada diri saya, pada hidup saya, dengan cara yang berbeda kali ini, seiring dengan musim kembang pulai setahun sekali. Kata – kata Kahlil Gibran entah di bagian mana karyanya seakan beresonansi di kepala saya, kata – kata yang juga membuat saya tersadar, ini hidup saya dan satunya – satunya hidup yang saya punya:

“Di musim gugur aku mengumpulkan semua kesedihanku dan menguburnya dalam kebunku.

Dan ketika April menjelang dan musim semi datang untuk menikahi bumi, tumbuh dalam kebunku bunga – bunga indah yang berbeda dengan bunga – bunga lain.

Dan para tetanggaku datang untuk menonton, dan mereka semua berkata kepadaku, “Ketika musim gugur datang lagi, pada saat penyemaian, maukah kamu memberi kami benih bunga – bunga ini agar kami memilikinya dalam kebun – kebun kami?““


Saya tak tahu apa yang Gibran pikirkan kala penanya menggoreskan larik – larik di atas. Saya juga tak peduli sebenarnya. Saya cuma ingin merenung apa yang dipikirkan tetangga – tetangganya Gibran dalam kutipan di atas bila mereka tahu asal ‘bunga – bunga indah‘ itu. Toh seperti kata Kathleen Hall Jamieson dan Paul Waldman dalam buku pengantar jurnalisme yang saya baca:

“In wartime, truth is so precious that she should always be attended by a bodyguard of lies“


Dan kembali lagi saya tersadar ... saya sedang berperang, berperang dengan hati saya sendiri, berperang dengan apa yang saya percayai, dengan rasa yang datang dan pergi ini, walaupun mungkin dalam tahap ini saya sebenarnya hanya sedang menutup ‘benih – benih bunga‘ diam – diam.


Entahlah .... yang saya tahu, saya ingin menyanyi satu lagu dari Greenday, “Wake me up when September ends“ kala musim gugur menyapa belahan bumi utara planet ini, kala 28 tahun akan saya jelang, dan pulai mungkin tak bersemi lagi, di sebuah kota bernama Manokwari.

Ya ... wake me up when September ends!!!

(Manokwari; 121108; dalam labirin bipolar)









0 comments: