Entahlah .. tulisan ini akan mengarah ke mana, yang aku tahu aku sedang galau. Kami tak lagi kontak sejak Sabtu kemarin, dan SMSnya dua hari lalu benar – benar mengubah semuanya. Aku sudah berusaha menjauh, menjauh agar bisa merasionalisasikan rasa ini, rasa yang seharusnya tidak ada, rasa yang akan menuju malam – malam panjang menahan rindu, rasa yang akan membunuhku pelan – pelan.
Iya, aku terlanjur jatuh cinta padanya, pada Q. Itu yang kusadari akhir – akhir ini. Tak seharusnya ada. Walau memang aku nyaman bercerita dengannya tapi toh rasa ini tetap salah. Tak boleh ada. Jangan pernah ‘take other people for granted’ walau mungkin ia memang hanya menganggapku teman dan kakak. Entahlah … mungkin satu – satunya cara terbaik adalah menjauhinya. No more pelarian!!! Itu yang kupelajari sejak lama.
Dulu usai putus dengan cinta pertamaku, aku bertemu beberapa kenalan. Tapi akhirnya usai hampir 2 tahun aku bertemu Abel dan saat itu rasa itu bukan lagi pelarian karna aku sudah siap jatuh cinta. Toh kami putus baik – baik karena alasan prinsip dan hingga kini aku dan istrinya berteman. Sayangnya, putus dari Abel sempat membuatku goncang karena ia sempat menjadi ‘lelaki terindah dalam hidupku’.
Akhirnya sejarah pelarian pun terjadi. Kembali ke mantan pacar pertama hanya agar tak merasa kesepian, toh usai 2 bulanan kami bubaran kali ini dengan ‘tanpa rasa’. Kembali lagi dekat dengan Abel tapi toh bubar lagi dalam hitungan bulan, kami berdua – berdua sama – sama kehilangan dan mencari bentuk, masih tak rela sebenarnya kala itu. Tak heran ia yang sempat bertunangan dengan seorang suster membatalkan pertunangan tetapi akhirnya mendapatkan istrinya yang sekarang dan mereka bahagia dengan seorang putri kecil. Abel lelaki yang cukup gentle, karena sebelum menikah, ia menelponku mengabarkan dan bercerita. Ia jugalah yang masih sempat sehabis putus, menghubungiku beberapa kali mengingatkan untuk jangan mencari lelaki yang hanya memandangku dari fisik, harus mencari yang benar – benar menyayangiku. Aku bahagia ia bertemu istrinya yang sekarang, perempuan yang akan menjaganya lebih baik dari aku.
Usai bertemu Abel, datanglah Lelaki hujan sebagai pelarian. Awalnya kami berdua hanya sama – sama mencari pelarian, toooh waktu berjalan dan kami berdua larut dalam cinta. Cinta terlarang sebenarnya saat itu. Perjalanan nasib membuat hidup kami berdua selama 3 tahun tak jelas. Putus sambung dikejar perasaan mengambang dan rindu – rindu yang tak terkatakan dan direstui. Toh semuanya harus berakhir. Lelaki hujan mungkin lelaki yang paling banyak menguras energi, cinta, dan biaya. Lelaki yang membuatku mencintai hingga terluka. Dua tahun lalu, putusnya hubungan kami secara parsial membuatku dekat dengan beberapa lelaki. Seorang teman di Australia yang sudah bertunangan menjadi teman curhat toh kami hanya berteman. Karena terlalu banyak sorotan dari teman – teman lain, padahal yang kami perbincangkan adalah masalah iman, pandangan hidup .. ah ia seorang teman dan saudara lelaki yang baik. Toh karena tak tahan dengan gunjingan teman – teman , aku memintanya untuk jangan menghubungiku lagi karena statusnya. Benar – benar tak nyaman padahal aku hanya ingin punya seorang teman lelaki yang murni sebagai teman dan saudara lelaki.
Dan aku kembali mencari pelarian dengan seorang psiko di Manokwari, lelaki yang menerorku dengan kata – kata cabulnya, hingga membuatku menutup akun facebookku. Seorang sex addicted. Untungnya kami putus usai 3 bulan pacaran. Hingga sekarang aku belum pernah bertemunya lagi. Ia mungkin pelarian. Ya, seorang pelarian. Aku hanya mengingatnya sebagai lelaki yang memanggilku bidadari.
Dan kembali lagi ke Manokwari, bertemu dengan lelaki hujan dan ya … kami sama – sama mencari rasa yang masih tersisa dan membereskan rasa yang pernah ada. Toh semuanya sudah diakhiri 2 bulan sejak aku pulang ke Manokwari. Tak ada lagi cinta yang tersisa, yang ada hanya luka dan kecewa. Tapi itulah hidup dan aku belajar banyak dan berjanji untuk menjaga cinta kelak, menjaga hati. Mencari yang menawarkan pernikahan.
Kaka di Jayapura pun masuk sebagai kekasih, walau sudah kukenal beberapa tahun sebelumnya. Dan sayangnya, awalnya aku menerimanya karena ia berjanji mau serius dengan hubungan, menuju pernikahan. Toh semuanya janji tinggal janji. Kami berdua hanyalah sesama pencari pembunuh sepi. Dan seperti biasa, kami berpisah baik – baik, walau aku sebenarnya tak ingin terlalu sering lagi berurusan dengannya. Terlalu menguras energi menghadapinya. Hubungan inilah yang paling membuatku menjadi lebih berani ngomong ke orang tuaku, toh usai ‘berkoar – koar’ e putus juga. Tak bisa menjaga rahasia.
Dan …. Datanglah Q. Teman curhat, joker dan orang yang selalu membuatku tertawa walau kadang membuat emosiku naik turun seakan sedang naik rollercoaster. Aku tak tahu perasaannya padaku, apalagi berdasarkan ‘riset’ dan ‘survei kecil – kecilan’ dari beberapa teman, mereka sedikit ragu dengan Q karena gayanya yang suka TTM, karena katanya dulu semasa kuliah ia pernah seperti itu pada seorang teman perempuannya. Gosipnya sih, versinya Q, ceweknya yang mengejar – ngejar Q sedang Qnya cool abis. Entahlah … tapi bagaimanapun juga, Q dulu pernah menolongku menghadapi pandangan kaka yang menyelidik karena acara pulang larut malam gara – gara reuni dengan Q dan Na di pantai. Sejak saat itu, Q sering menjadi tempat curhat. Apalagi aku sudah kenal dia sejak tahun 2003 karena ia sahabat teman sekelasku dan suka bergabung dalam acara himpunan kami; ya .. ia yang kerap menjadi fotografer kami.
Q yang lucu dan jail plus cerewet perlahan masuk dalam hidupku. Usai berbulan – bulan aku tersadar bahwa rasa yang aku punya tak lagi murni, rasa yang bukan untuk seorang teman, terlanjur suka. Terlanjur cinta mungkin. Terlanjur bergantung pada kehadirannya, tawanya dan candaannya. Kecanduan mungkin kata yang tepat. Dan aku tak ingin menjadikannya pelarianku. Itu saja! Walau mungkin aku sendiri hanya dianggapnya TEMAN. Tak lebih. Jadi sebenarnya lebih baik mundur daripada sakit. Kau tahu, rasanya seperti menjadi Tantalus dalam mitologi Yunani yang karna saking rakus makan dan mencuri Ambrosia – makanan para dewa, ia dihukum dibuang ke tempatnya Hades di neraka sana. Hukumannya tak hanya itu, di atas kepalanya, melayang – layang semua jenis makanan yang disukanya, tiap kali ia hendak menelan makanan – makanan itu …. ‘PLUP’, ‘BUZZ’ Hilang … dan melongolah Tantalus. Nah saat ini, aku merasa seperti Tantalus. I am like in deep shit banget deh! Tahu kan rasanya? Hahaha *sambil mendengar lagu ‘Pupus’nya Dewa.
Dia terlalu baik, terlalu baik untuk disakiti nantinya. Aku belajar dari semua hubungan yang pernah terjadi bahwa aku mempunya potensi merusak apapun yang kusentuh, semua rasa yang kujamah, dan semuanya tak pernah berakhir baik. Ada Nemesis dalam diriku yang jelas - - jelas tak punya sentuhan Midas. Entahlah … kemarin kami ‘bertengkar’ tepatnya. Bukan dengan kata – kata kasar. Tampaknya ia hanya tak terima kala aku memintanya untuk tidak mengontakku atau dekat lagi denganku. Begitu juga malam ini, kami bertengkar lagi walau ia sempat menelponku usai kami berkirim pesan, dan tiba – tiba ia pun membahas kenapa aku mengirim pesan seperti kemarin malam. Sayangnya, I am speechless .. dan reaksi spontanku adalah menutup telpon.
Jujur, sa nyali pecek kalo ditanya urusan begini. Padahal beberapa menit sebelumnya kami tertawa membicarakan selera musiknya si Arc yang cewek banget; AB Three boooo!!! Telpon yang terputus direspon Q dengan sebuah SMS yang singkat tapi menohok, “I HATE YOU”. Aku merasa bersalah!!!! Tentu saja kurespon dengan rangkaian SMS alasan dan lain – lain termasuk memberitahu bahwa sebuah catatan berjudul “Pulai, ‘wake me up when September ends’” sebenarnya untuk dia plus beberapa catatan di blog ini, walau aku tak yakin ia tahu alamat blogku *hehehe. At least sudah kuberitahu. Guess what? Ternyata aku juga baru tahu kalau ia juga suka lagu yang sama denganku untuk lagunya Greenday ‘Wake me up when September ends’, tak heran usai SMS – SMSku yang panjang lebar itu, ia cuma membalas kalo aku ingin bermain gitar (aku sempat keceplosan ngomong pas ditelpn kalo aku sedang belajar main gitar beberapa bulan ini, demi Greenday, demi pencapaian ultahku ke 28 bulan depan, demi lagu – lagunya India Arie), pakai saja chord gitar yang mudah untuk lagu itu.
SMS – SMS panjang dan berliku – liku itu sebenarnya tak bisa mencakup semua yang kurasakan. Sebenarnya kalau ada nyali (sayangnya, masih tak ada hihihihi) sa ingin bilang begini sama Q, baik lewat SMS ka telpon,, “Well, sebenarnya sa jatuh cinta sama ko, dan ini bukannya sa nembak ko sebagai sa pacar e apalagi calon suami, sa belum berpikiran ke sana, sa cuma mo bilang sa jatuh cinta bratz sama ko. Sa tra tau ko perasaan sebenarnya ke sa tuh bagaimana, jadi daripada nan tahu ko cuma anggap sa sebagai teman saja yang otomatis kalo sa dengar pasti sa akan sedikit emotionally breaking down, jadi lebih baik begini saja …sa menjauh saja ka ini dan mengagumi ko dari jauh. Plus sa juga tetap minder kalo memang jadian deng ko, ko terlalu shining begitu, talalu mengkilat. Sa macam berasa jadi Upik Abu deh n tra layak dapatkan ko. Entahlah …. Sa cuma merasa ko tuh seperti matahari yang terlalu bersinar cerah … sedang sa mungkin cuma anak burung hantu yang tra boleh dekat – dekat deng matahari dan lebih suka bergerak di kegelapan, orang belakang layar-lah untuk urusan perasaan. Tapi jujur …. Sa su terlanjur jatuh cinta dan rasa ini membunuhku.”
Sayangnya, sa bukan orang yang bisa ngomong tentang perasaan dengan baik. Ekspresi wajah di depan cowok yang sa suka saja sering sa tutupi mati mo ….. Jadi walaupun sa orangnya ekspresif, kalo urusan perasaan … I’m the best LIAR!!! Tra heran dulu sa suka mata kuliah drama, termasuk kapala susun skrip untuk pementasan. Call me a liar!!! Malunya itu lhooooo kalo sampai ketahuan. Tra bisa bayangkan. (Walau masalah ini pun dimulai karena salah kirim SMS tentang curhat perasaannya sa ke Q ke seorang sahabat dan nyasarnya ke Q, anjriiiiiiitttt!!! Untung sa tra bilang ‘cinta’ di SMS itu hahahaha, makanya sa menghindar terus dikonfirmasi sama dia, sa cuma SMS bilang, “ko hapus SMS yang tadi suda e, anggap saja trada. Itu untuk sa pu sahabat.” Bagaimana de tra penasaran, lah de pu nama ada pica di SMS itu hahahaha *malu pica skali eeeee).
Padahal jujur dalam hati, aku tahu aku sedang menipu perasaanku sendiri. Menipu rasa yang kupunya. Semuanya karena tak ada konfirmasi. Takut hanya berharap pada bayangan sedang racun candu memabukan terlanjur masuk. Tak ingin terluka sebenarnya.
Aku berani bilang pesan – pesan pendeknya sedikit bernada tegas kemarin, bahkan ada yang sempat membuatku kaget, kesediaannya untuk mendengar uneg – unegku face-to-face ataupun pada momen yang sangat personal yang aku tahu memang tak akan bisa membohonginya nanti karena aku tipe orang berkepribadian ENFJ kalau sampai face-to-face ditanyain, pada bagian ini, paling susah berbohong. Selama tidak dikejar pertanyaan, I’m the best LIAR in expressing my feeling.
Tapi urusan logika dan perasaan memang kadang tak sejalan dan aku memilih menggunakan logikaku dibanding mempertimbangkan perasaanku. Demi sebuah ego, sebuah harga diri dan juga tentu saja demi tindakan preventif dari racun cinta yang memabukkan. Aku sudah kerap kali patah hati dan kali ini aku memilih mempercepat prosesnya biar nanti tidak kronis di dalam benakku, menghemat rasa sakit, mengurangi nyeri perasaan. Intinya, mengosongkan rasa. Tapi ini sangat menyakitkan, sangat sakit.
Aku orang yang mudah jatuh cinta, sangat mudah. Dan Q benar – benar membuatku jatuh cinta. Padahal kupikir aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi terikat pada hubungan yang berbau cinta. Entahlah .. ia candu yang memabukkan. Perlahan masuk dalam hidupku tetapi sangat sulit dilupakan. Membuatku teringat lirik lagu Greenday “restless heart syndrome” dan lagu ini plus ‘Wake me up when September ends’ menemaniku selama 2 hari ini.
“I've got a really bad disease
It's got me begging on my hands and knees
So, take me to emergency
Cause something seems to be missing
Somebody take the pain away
It's like an ulcer bleeding in my brain
So send me to the pharmacy so I can lose my memory”
Andai saja dia tahu kalau aku terlanjur cinta … dan cinta ini sangat membunuhku!!!
(Manokwari, 140811; dikejar deadline, terjebak dalam labirin bipolar dan cinta ini membunuhku …. Sangat!!!)
0 comments:
Post a Comment